"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tom and jary
Kelopak mata Aratala terbuka perlahan dengan napas yang masih memburu dan dada naik-turun tak beraturan. Pandangannya yang awalnya kabur karena sisa air mata perlahan-lahan memfokus, hingga detik berikutnya, netra tajamnya langsung bertumbukan dengan sepasang mata kelam milik Elio yang menatapnya lekat.
Tidak ada jarak. Wajah pria itu berada sangat dekat, dan ia mendapati dirinya tengah mendekap erat kemeja Elio seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar di dunia.
Aratala langsung menegang. Sisa-sisa mimpi buruk yang mencekam seketika berbenturan dengan kenyataan memalukan ini—ia, sang wanita manipulatif dan provokatif yang selalu membanggakan harga dirinya, kini tertangkap basah sedang menangis histeris dan menempel manja dalam pelukan sang CEO dingin.
"Lepas..." bisik Aratala parau, suaranya bergetar hebat antara sisa ketakutan dan rasa gengsi yang langsung melonjak tinggi. Namun, bukannya mendorong, jemarinya justru tanpa sadar semakin mencengkeram kain kemeja Elio saat bayangan mimpi itu kembali melintas di kepalanya.
Protes dan titah dingin Aratala untuk melepaskan diri sama sekali diabaikan oleh pria itu. Alih-alih mundur, Elio justru semakin mempererat rengkuhannya, membawa tubuh Aratala yang masih lemas tersandar sepenuhnya dalam dekapan hangatnya. Satu tangan kekar pria itu melingkar erat di pinggang mungilnya, menahan tubuh itu agar tidak bergeser sedikit pun, sementara tangan lainnya dengan lembut mengusap punggung Aratala yang masih naik-turun karena sisa isakan.
"Diam dan istirahat, Aratala," bisik Elio rendah, suaranya terdengar begitu mutlak namun tanpa ada nada ancaman seperti biasanya—hanya ada ketegasan yang menyiratkan perlindungan. "Kamu nggak harus sok kuat terus di depanku."
Aratala menegang, giginya menggigit bibir bawahnya sendiri demi menahanerbuan rasa gengsi yang luar biasa hebat. Ingin sekali ia melontarkan kalimat sarkas atau menendang pria itu agar enyah dari hadapannya, tetapi kehangatan yang menjalar dari dekapannya malam ini terasa begitu asing dan telanjur meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang susah payah ia bangun
Sentuhan lembut di pinggangnya dan dekap hangat yang mengurung tubuhnya perlahan-lahan berhasil menjinakkan badai kecemasan dalam diri Aratala. Napas gadis itu berangsur-angsur tenang, menyatu dengan detak jantung Elio yang berirama konstan di balik kemejanya. Kelelahan fisik dan emosional yang teramat sangat akhirnya mengambil alih, membuat kelopak mata Aratala kembali berat hingga ia benar-benar jatuh dalam lelap—kali ini tanpa mimpi buruk yang menghantui.
Di tengah temaramnya lampu tidur, Elio masih bertahan dalam posisinya. Pria itu menunduk sejenak, memperhatikan wajah Aratala yang kini tampak begitu damai dalam dekapannya, meringkuk nyaman seolah menemukan tempat paling aman di dunia.
Untuk pertama kalinya sejak mereka terikat dalam kontrak pernikahan yang dingin, ranjang king-size itu tidak lagi terasa sepi. Keduanya terlelap dalam satu dekapan yang sama, menutup malam panjang penuh ketegangan dengan kehangatan baru yang perlahan meleburkan batas di antara mereka berdua.
🌴🌴🌴
Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah tirai kamar, memantul lembut di dinding ruangan. Aratala perlahan mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya yang mulai benderang. Namun, kesadarannya langsung ditarik paksa begitu ia merasakan sesuatu yang berat dan hangat melingkar di pinggangnya—tangan kekar Elio masih bertengger manis di sana, seolah enggan bergeser sedetik pun sejak semalam.
Aratala menahan napasnya sesaat, merutuki situasi absurd ini di dalam hati. Sial, kenapa aku malah betah banget dipeluk kulkas dua pintu ini?! batinnya menjerit protes.
Alih-alih panik, meronta, atau bergeser menjauh seperti wanita pada umumnya, mode "cegil" Aratala mendadak aktif dalam sepersekian detik. Seringai licik terukir di bibirnya. Tanpa ragu, ia memajukan wajahnya, lalu mengecup pipi Elio dengan gerakan kilat dan suara yang sengaja dibikin nyaring.
Chup!
Seketika itu juga, mata kelam Elio langsung terbuka lebar. Pria itu tersentak kaget dari lelapnya, netra tajamnya langsung mendelik turun menatap makhluk manipulatif dalam dekapan yang kini malah memandangnya dengan senyum tanpa dosa.
"Selamat pagi, suami" sapa Aratala dengan suara manja yang sengaja dibuat semanis racun, tangannya bahkan dengan santainya menepuk-nepuk dada bidang Elio. "Tidur nyenyak? Wah, nggak nyangka pa Elio yang terhormat ternyata suka banget meluk-meluk anak. Mau minta bayaran ganti rugi pelukan, atau mau aku tagih biaya sewa peluk?"
Alih-alih terpancing emosi atau membalas dengan tatapan tajamnya yang biasa, Elio justru mengembuskan napas panjang—terdengar begitu lelah dan pasrah. Pria itu sama sekali tidak punya tenaga untuk meladeni aksi usil istrinya pagi ini.
Tanpa sepatah kata pun, Elio perlahan menarik tangannya dari pinggang Aratala, lalu membalikkan tubuhnya 180 derajat hingga kini memunggungi wanita tersebut.
"Berisik. Masih pagi, Aratala. Kalau mau cari ribut, nanti dulu," gumam Elio dengan suara serak khas baru bangun tidur, matanya kembali terpejam rapat di atas bantal, jelas enggan membuka hari dengan drama pagi buatan istrinya.
Aratala yang tadinya sudah menyiapkan segudang kalimat provokatif mendadak terpaku. Ia mengerjap-ngerjap, menatap punggung bidang Elio dengan rasa tidak percaya.
Hah? Digituin malah dibelakangin?!
merasa harga dirinya sebagai wanita manipulatif yang ulung mendadak diinjak-injak oleh sikap acuh tak acuh.
Harga diri Aratala sebagai seorang ratu drama dan wanita manipulatif langsung meronta hebat. Diabaikan begitu saja setelah kemarin mencium nya dan tadi malam memeluk nya? Oh, sama sekali bukan gaya Aratala untuk membiarkan pria itu menang mudah pagi ini.
Tanpa rasa berdosa sedikit pun, sudut bibir Aratala kembali terangkat membentuk seringai licik. Ia tidak butuh tenaga Elio untuk membalas; ia yang akan membuat pria itu terpaksa membuka mata.
Dengan gerakan cepat dan seringan kucing, Aratala merangsek maju, merayap di atas ranjang, lalu menaikkan tubuhnya tepat di atas punggung bidang Elio. Ia menengkurapkan tubuhnya di atas punggung sang CEO, menjadikan punggung pria itu sebagai tumpuan empuk, sementara dagunya ia tumpukan santai di atas bahu lebar Elio.
"Ih, kok malah dibelakangin? Sombong banget ya, mentang-mentang semalam udah meluk-meluk manja," bisik Aratala tepat di samping telinga Elio, suaranya sengaja dilirihkan dengan nada mengejek yang paling menyebalkan sedunia.
Mata kelam Elio sontak terbuka lebar, rasa kantuk yang tadinya pekat langsung menguap seketika digantikan oleh gelombang keterkejutan yang luar biasa. Beban tubuh ringan yang tiba-tiba menindih punggungnya, ditambah bisikan provokatif tepat di dekat telinganya, sukses membuat sistem saraf pria itu siaga penuh.
Elio menegang kaku di atas bantal. Baru saja ia berniat menarik napas panjang untuk menegur, Aratala justru semakin menjadi-jadi; wanita itu menggeser posisinya sedikit lebih ke atas, membuat helai rambut panjangnya yang masih beraroma vanila menyapu lembut leher Elio.
"Turun, Aratala," desis Elio dengan suara baritonnya yang tertahan, separuh mengancam namun kini terdengar jauh lebih rapuh karena ia tahu betul siapa yang sedang ia hadapi. "Kamu benar-benar cari mati pagi-pagi gini, ya?"
Alih-alih takut, tawa renyah lolos dari bibir Aratala. Ia semakin merapatkan posisinya, menikmati betul momen langka di mana sang CEO dingin kini berada di bawah kendalinya sepenuhnya. "Cari mati gimana? Aku kan cuma mau membangunkan suami teladan aku supaya nggak telat ngantor. Atau... mau aku bangunin pakai cara lain, nih?" tantang Aratala dengan mata menyipit penuh kemenangan.
Jemari lentik Aratala dengan sengaja mulai bergerak, menelusuri garis otot dada bidang Elio yang masih terbalut kameja yang kancing dua depannya terbuka. Gerakannya pelan, ringan, namun terasa sangat menyiksa karena menciptakan sensasi geli sekaligus panas yang menjalar cepat di kulit Elio.
Elio sontak menahan napasnya. Otot-otot di balik punggung Aratala langsung mengeras seketika, dan tangannya refleks mencengkeram seprai ranjang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aratala..." panggil Elio dengan suara yang kini terdengar jauh lebih rendah dan serak, menyiratkan peringatan keras yang mulai di ambang batas kesabaran. "Jangan main-main kalau kamu nggak mau menyesal."
Bukannya ciut, seringai di bibir Aratala justru semakin melebar. Ia menundukkan sedikit wajahnya, tepat di dekat telinga Elio, lalu berbisik dengan nada menantang yang paling memprovokasi, "Siapa juga yang main-main? Emangnya Pak Elio berani bikin aku menyesal, hm?"
Elio Langsung berusaha bangkit
Gerakan Elio untuk membalikkan tubuh dan membalikkan keadaan langsung terhenti saat melihat gelagat Aratala. Tepat sepersekian detik sebelum tangan kekar pria itu berhasil mengurungnya, Aratala buru-buru melompat turun dari punggungnya dengan gerakan secepat kilat.
Bugh!
Tanpa membuang waktu, gadis itu langsung berlari ngibrit, meninggalkan tawa renyah penuh kemenangan yang menggema di kamar luas tersebut.
Cklek!
Pintu kamar mandi langsung dibanting dan dikunci dari dalam dengan kecepatan maksimal.
"Wleee! Nggak kena,!" seru Aratala dari balik pintu, suaranya terdengar jelas mengejek meskipun teredam oleh tebalnya kayu pintu kamar mandi.
Sementara itu, Elio yang baru saja bangkit dengan napas memburu dan mata menyalang tajam hanya bisa menatap nanar pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Pria itu mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin—bukan karena takut, melainkan karena menahan gejolak emosi luar biasa menghadapi kelakuan istrinya yang benar-benar di luar nalar.
Sialan. Wanita itu benar-benar tahu cara menguji batas kewarasannya pagi-pagi buta begini.
tepat saat Elio berbalik masih tersampit handuk aratala pada tempat nya.
Elio tersenyum lebar.
" liat aja pembalasan ku aratala "
gumam Elio sambil menahan senyum jail.
🌴🌴🌴
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu