TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* *BAB 9: EKSEKUSI SANG PENGUASA*
*TOXIC AND CONTROL*
*BAB 9: EKSEKUSI SANG PENGUASA*
Pagi hari di SMA Garuda Nusantara dimulai dengan ketegangan yang tidak kasatmata namun terasa mencekik.
Rian Pradifta berjalan melewati koridor utama sekolah dengan langkah tegap. Seragamnya sengaja tidak dikancing rapi, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya. Di belakangnya, Rama dan Rangga mengekor dengan ekspresi wajah yang tidak kalah dingin.
Sebelum bel jam pelajaran pertama berbunyi, Rian berhenti di lorong lantai dua yang sepi. Dia meraba saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang berisi lembaran kertas dokumen.
Di dalamnya tercetak foto, nama, kelas, hingga profil lengkap latar belakang keluarga dari setiap murid cowok yang berani mendekati Kinara Jose. Mulai dari kapten tim futsal, ketua klub debat, hingga anak-anak kelas sebelas yang sering bertingkah genit.
Rian menyodorkan amplop itu kepada dua orang siswa berbadan besar yang merupakan kaki tangannya di area sekolah.
"Hajar mereka sepulang sekolah nanti di gudang belakang," perintah Rian, suaranya terdengar sangat datar namun sarat akan kekejaman mutlak.
"Pastikan mereka tidak bisa masuk sekolah besok. Dan beri peringatan keras: satu langkah lagi mereka berani menatap atau mendekati Kinara Jose, sampaikan pada orang tua mereka untuk bersiap-siap melihat perusahaan keluarga mereka bangkrut dalam waktu semalam."
Kedua kaki tangan Rian itu mengangguk patuh tanpa banyak tanya. Mereka tahu betul bahwa ancaman Rian bukanlah bualan kosong.
Dengan gurita bisnis Pradifta Group yang memegang kendali finansial di kota ini, menghancurkan bisnis kelas menengah milik keluarga murid-murid itu hanyalah perkara membalikkan telapak tangan bagi seorang Rian Pradifta.
Eksekusi brutal itu pun berlangsung tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi.
Satu per satu murid cowok yang ada di dalam daftar itu diseret paksa oleh anak buah Rian ke area belakang sekolah yang sepi. Suara hantaman fisik, pukulan mentah, dan rintihan kesakitan menggema tertahan di sudut-sudut gelap gudang tua. Mereka dihajar tanpa ampun hingga wajah mereka babak belur dan tubuh mereka tersungkur di lantai berdebu.
"Ini peringatan terakhir buat kalian," desis salah satu kaki tangan Rian sembari mencengkeram rambut kapten tim futsal yang sudah tidak berdaya.
"Jauhi Kinara Jose. Kalau kalian masih nekat mendekatinya, bukan cuma tubuh kalian yang hancur, tapi seluruh masa depan keluarga kalian juga akan tamat atas perintah Tuan Muda Rian."
Keributan besar itu tentu saja tidak luput dari perhatian para guru yang masih berada di area sekolah. Beberapa guru piket bahkan sempat melihat langsung momen saat murid-murid malang itu diseret dan dihajar.
Namun, tidak ada satu pun guru yang berani melangkah maju untuk menegur, apalagi memberikan hukuman kepada anak-anak buah Rian. Mereka semua hanya bisa membuang muka, berpura-pura tidak melihat kekejaman yang sedang terjadi di depan mata mereka.
Di SMA Garuda Nusantara, hukum tertinggi bukanlah peraturan sekolah, melainkan kehendak dari keluarga Pradifta sang pemilik yayasan.
Sementara itu, Kinara Jose sedang berjalan di dekat area belakang sekolah untuk mengambil jalan pintas menuju gerbang samping. Langkah kakinya mendadak terhenti kaku saat pendengarannya menangkap suara hantaman keras disusul erangan kesakitan yang sangat familier.
Dengan jantung berdegup kencang, Kinara mengintip dari balik dinding koridor tua dan membelalakkan matanya. Di sana, giliran Randy yang sedang dihajar habis-habisan oleh dua kaki tangan Rian. Sudut bibir Randy sudah robek mengeluarkan darah, namun dia masih mencoba bertahan dari pukulan bertubi-tubi.
Melihat kakak kelasnya yang baik itu disiksa dengan kejam, Kinara tidak bisa tinggal diam. Paranoianya sesaat kalah oleh rasa kemanusiaan. Kinara berlari keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung pasang badan, mencoba untuk menolong Randy.
"Hentikan! Jangan pukul Kak Randy lagi!" teriak Kinara sembari merentangkan kedua tangannya di depan tubuh Randy yang sudah terduduk lemas.
Kedua bawahan Rian itu seketika menghentikan pukulan mereka. Mereka menatap tajam ke arah gadis di depan mereka dengan pandangan meremehkan.
Karena selama ini mereka hanya menerima dokumen berupa nama .photo korbannya. tanpa pernah tahu wajah asli kinara jose orang yang harus di jauhi korbannya. mereka sama sekali tidak tahu kalau gadis jelek yang sok jadi pahlawan di depan mereka ini adalah Kinara Jose—gadis yang dimaksud oleh tuan mereka sekaligus alasan utama mengapa mereka diperintahkan menghajar Randy.
"Menyingkir, Cupu! Jangan ikut campur atau kamu mau sekalian kami hajar?!" bentak salah satu pria berbadan besar itu dengan kasar.
Tanpa perasaan, pria itu mengayunkan tangannya dan mendorong pundak Kinara dengan sangat kuat. Tubuh kecil Kinara tidak mampu menahan dorongan itu hingga dia terhempas keras ke lantai semen yang kasar.
Rasa perih seketika menjalar di kaki bawahnya akibat lututnya yang lecet dan berdarah karena tergesek lantai.
Akibat hempasan keras itu, kacamata tebal berbingkai hitam milik Kinara ikut terlepas dan jatuh beberapa sentimeter di depannya. Belum sempat Kinara meraihnya, sepatu gunung milik salah satu pria itu dengan sengaja menginjak kacamata tersebut.
`Krek!`
Suara lensa dan bingkai kacamata yang hancur berantakan di bawah sol sepatu terdengar begitu nyata. Kinara tersentak, perlahan mendongakkan kepalanya dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
Tanpa adanya penghalang kacamata tebal yang selama ini menutupi separuh wajahnya, kecantikan mutlak, kulit putih bersih, dan sepasang mata jernih yang indah milik Kinara langsung terekspos begitu saja di bawah sinar matahari sore.
Melihat wajah polos Kinara yang sangat cantik tanpa kacamata, Randy yang tadinya setengah sadar langsung bengong menatapnya. Dia terpaku, tidak menyangka bahwa adik kelas cupu yang sering dia beri tiket nonton ternyata memiliki wajah sejelita itu.
Namun, situasi berbahaya belum selesai. Merasa kesal karena Kinara masih menghalangi jalan, cowok berbadan besar itu mengepalkan tinjunya. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap untuk melayangkan hantaman keras tepat ke arah wajah Kinara.
"Jangan sentuh dia!"
Melihat bahaya yang mengancam Kinara, sisa tenaga Randy mendadak bangkit oleh insting protektif. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Randy langsung berlari maju dan mendekap tubuh Kinara, memosisikan punggungnya sendiri untuk menerima hantaman keras yang semula diarahkan pada Kinara.
`Bugh!`
Pukulan telak mendarat di tengkuk Randy. Cowok basket itu langsung mengerang pendek sebelum akhirnya ambruk ke dada Kinara dan pingsan, kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
Melihat kondisi Randy yang sudah tidak sadarkan diri dengan luka-luka yang cukup parah, kedua bawahan Rian itu saling pandang. Merasa tugas mereka sudah lebih dari cukup untuk memberikan pelajaran, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat kejadian.
Mereka melangkah lebar meninggalkan gudang belakang, membiarkan Kinara yang masih gemetar memeluk tubuh Randy yang pingsan di atas tanah berdebu.
*
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk