NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Tidak butuh waktu lama, kami sudah sampai karena warung lesehan langganan kami itu dekat dengan rumah. Rasanya yang mantap, harganya pun bersahabat, membuat warung itu tak pernah sepi pengunjung karena tempatnya juga nyaman.

Setelah memesan menu, kami melangkah ke mini gazebo yang ada di salah satu pojok halaman warung.

"Sebenarnya ada apa, Dek?" tanyaku pada Azka saat kami sudah duduk dengan posisi yang nyaman.

"Putri..... " Dia terdiam sejenak.

Akupun hanya diam, memberi waktu untuknya bicara. Karena aku yakin saat ini dia sedang butuh di dengarkan.

"Putri ngambek, dia minta ijin kerja. Tapi aku nggak ngasih. Mikir nggak sih dia itu lagi hamil tua lhoo Mbak. Aku tuh khawatir kalau nanti sampai kenapa-kenapa. Pasti aku nanti yang disalahin sama semuanya."

"Dan yang lebih bikin aku jengkel, dia itu mau kerja di tempat mantan nya yang sekarang buka sablon itu. Padahal dia sendiri dulu yang minta buat mutus kontak sama semua yang berbau mantan."

Jelas Azka menceritakan semua yang terjadi. Aku berusaha ada di pihak yang netral. Tidak memihak siapapun.

Maksud Azka memang benar, dia berusaha menjaga istri dan calon anaknya. Mungkin pula bahasa dia saat berdiskusi dengan Putri ada yang kasar, karena Azka terkadang tanpa sadar dia adalah sosok menyebalkan dengan kata-kata yang tanpa sadar itu menyakitkan.

"Coba kamu jemput Putri, obrolin baik-baik dengan kepala dingin. Nggak pakai nge gas. Kamu maunya gimana, Putri maunya gimana." ucapku memberi saran.

"Ya... Mbak emang belum berumah tangga, mungkin kamu punya pikiran gampang kalau cuman modal ngomong tapi nggak ikut merasakan. Tapi, komunikasi itu penting dalam sebuah hubungan. Coba deep talk sama dia. Bicara dari hati ke hati. Ingat, kalian bukan lagi pacaran lhoo. Sebentar lagi kalian juga bakal jadi orang tua. Harus sama-sama belajar."

"Iya, Mbak. Habis ini aku jemput itu Tuan Putri." jawabnya sambil tersenyum.

Tidak lama kemudian, pelayanan warung datang mengantar pesanan kami. Karena perut benar-benar lapar, tanpa basa basi lagi kamu langsung menyantap menu yang ada di hadapan kami.

Ditengah-tengah makan, ponselku berbunyi. Dengan tangan kiri kuambil ponsel yang tadi aku letakkan di atas meja. Rupanya Bang Rengga video call.

Setelah ku usap icon warna hijau di layar datar si setan gepeng yang selalu kubawa kemanapun, akhirnya sambungan itu terhubung.

"Assalamu'alaikum... Bang!" ucapku saat muncul wajak lelaki di layar datar itu.

"Wa'alaikumsalam... Lagi dimana, Dek? Kayaknya bukan di rumah itu."

"Lagi keluar makan sama Azka." jawabku sambil mengalihkan fokus kamera ponsel ke arah Azka.

Azka hanya melambaikan tangan sambil tersenyum lalu melanjutkan makan.

"Jahat ih, Abang nggak di ajak."

"Nunggu Abang lama, keburu demo cacing dalam perut." jawabku.

"Itu lagi makan dimana? Abang nyusul ya... Laper belum makan."

"Diih, kayak deket rumah Abang nggak ada warung aja."

"Warung banyak, Neng. Cuma yang nemenin makan belum ada."

"Buruan nikah atuh, biar ada yang nemenin makan."

"Bukan cuma makan kali, Dek. Kalau udah nikah mah bobo' juga da yang nemenin. Nikah  sama kamu ya... " ucapnya sambil memainkan alisnya.

"Buruan Bang! Sat set wes....!" ujar Azka yang tiba-tiba saja ikut bicara.

"Hahahhaha... " Bang Rengga tertawa, senang sepertinya dapat pendukung. "Share lock ya sayang, Abang kesana."

"Udah hampir habis nih Bang, mau pulang juga habis ini."

"Dah, aku share lock in habis ini, Bang. Datang aja. Aku pesenin sekarang ya, biar nanti Abang tinggal makan." Ucap Azka.

"Oke, pesenin ayam aja ya... Terserah mau bakar kah, goreng kah... Sama minumannya yang anget aja ya... "

"Siap Bang!" jawab Azka lalu beranjak pesan makanan lagi ke kasir karena dia sudah selesai makannya.

"Buruan share lock ya, Sayang! Assalamu'alaikum!"

Lalu panggilan terputus begitu saja. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Beberapa belas menit kemudian, Bang Rengga yang kebetulan memang tinggal di salah satu kawasan perumahan dekat rumah, datang.

Azka tampak melambaikan tangan sambil memanggil Bang Rengga, Bang Rengga tersenyum pada kami. Ya, mereka berdua memang terbilang lumayan akrab karena beberapa waktu belakangan ini Bang Rengga sering main ke rumah di waktu senggang nya.

Tak jarang keduanya main game online bersama.

"Wuiih... Mbak.... Bos e wes datang nih.... Alamat isi dompet aman ini... " ucap Azka bercanda.

"Hussh... "

"Hahahha... Nggak papa, Dek. Santai aja." jawab Bang Rengga sambil meminum lemon tea hangat. "Sekalian pesan bungkus buat yang di rumah gih!" imbuhnya sambil menatap Azka.

"Nggak usahlah, Bang. Nggak ada yang makan ntar... Udah malam ini." jawabku.

"Udah, Ka. Pesen sana gih! Nggak usah dengerin Mbak kamu. Bisa disimpan buat besok kan!" Ujar Bang Rengga.

"Siap, Bang." Jawab Azka.

"Bang, nggak usah gitu juga kali... Aku jadi nggak enak sama Abang."

"Kasih kucing aja Dek kalau nggak enak," jawab Bang Rengga santai sambil menikmati ayam bakar di hadapannya.

Tak lama kemudian, Azka kembali ke tempat duduknya. Ditangannya ada tiga box nasi.

"Bang, Aku langsung pulang nggak papa kan? Mau jemput Putri di rumah neneknya."

"Iya, nggak papa. Mbak mu biar Abang aja yang antar pulang. Minta tolong bilangin sama Ibu ya, Mbak nya masih nemenin Abang makan."

"Siap Bang. Mbak, aku duluan ya!"

"Iya, inget pesen Mbak tadi, Ka!"

"Beres, ya udah, aku balik dulu. Assalamu'alaikum." Ucap Azka lalu beranjak pergi. Semoga saja permasalahan nya dengan  Putri lekas selesai.

Setelah beberapa saat Bang Rengga selesai makan, kami akhirnya memutuskan pulang. Tak lupa kami mampir di kasir untuk membayar tagihan makanan yang sudah kami nikmati tadi.

Saat aku mengulurkan uang ke kasir, Bang Rengga menepis pelan. "Biar Abang aja yang bayar, Dek," ucapnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa menghembuskan nafas pelan, terserah dia sajalah batinku. Tidak enak juga jika harus debat di depan kasir. Anggap aja rezeki anak sholehah.

Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di rumah. Rumah tampak sepi, mungkin Bapak dan Ibu sudah istirahat.

"Aku nggak nawarin mampir ya, udah malam juga. Nggak enak sama tetangga."

"Iya, Abang paham. Kamu cepet istirahat ya, besok Abang jemput jam tujuh ya." Ucapnya.

"Iya, Abang hati-hati pulangnya. Jangan ngebut."

"Ya.... Nti nyampe rumah Abang kabari ya. Sekarang kamu masuk dulu gih! Kalau kamu udah masuk baru Abang pulang."

"Iya, aku masuk ya, Bang. Makasih traktiran nya. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam," jawabnya.

Gegas aku masuk ke rumah. Tak lupa aku mengunci pintu, aku melihat Bang Rendra dari balik jendela sambil melambaikan tangan. Dan tentu saja Bang Rendra bisa melihat itu semua karena lampu rumah belum di matikan. Setelah itu terdengar deru motor keluar dari halaman.

"Hah.... Capek banget.... Bersih-bersih, terus tidur aja lah." Ucapku bergumam sambil melangkah masuk kamar dan mematikan lampu ruang tamu.

*****

Terdengar bunyi alarm dari ponsel yang kuletakkan di atas nakas samping tempat tidurku. Terdengar suara orang mengaji dari musholla dekat rumah. Aku bangun dari tidur dan bersandar pada dinding. Tidak lama kemudian aku segera bangkit dan pergi ke kamar mandi. Bersih-bersih dan mengambil air wudhu, setelah itu segera menunaikan kewajiban ku di pagi hari.

Lepas sholat subuh, aku langsung saja ke dapur membantu Ibu menyiapkan sarapan.

"Mbak, jadi ikut Bang Rengga motoran?"

"Iya, Bu. Nanti jam tujuh katanya Bang Rengga mau jemput."

"Mbak,... Pacaran sama Bang Rengga?" Tanya Ibu sambil menyiapkan bumbu untuk masak.

"Bang Rengga nggak bilang mau ngajak pacaran, Bu! Tapi ngajaknya langsung ke KUA! Sakit kan tuh orang!"

"Husss.... Nggak boleh gitu Mbak. Mbak tuh harus bisa menghargai niat baik seseorang."

"Lah... Dikenalin sama orang tuanya aja belum lho, Bu. Ini main langsung ajak ke KUA saja. Iya kalau nanti orang tuanya ngijinin anaknya nikah sama aku. Kalau nggak.... Gimana coba. Mbak yakin, Bu. Bang Rengga itu bukan dari kalangan orang biasa macam kita."

"Mbak itu cuma takut aja, Bu. Makanya sampai sekarang Mbak juga belum kasih jawaban apapun sama Bang Rengga."

"Nanti, kalau Bang Rengga nya ngomong yang menjurus kesana, Mbak langsung aja bicarakan apa yang jadi beban pikiran Mbak. Jangan memberi harapan palsu sama anak orang, Mbak. Sakit kan rasanya?" Pesan Ibu.

"Njeh, Bu. Mbak ngertos niku." (Iya, Bu. Mbak paham itu)

Tidak lama kemudian, semua masakan telah siap dan sudah tertata di atas meja.

"Mbak siap-siap dulu njeh, Bu. Sampun jam enam."

"Iya, Mbak." Jawab Ibu. Setelah itu aku segera bersiap. Jangan sampai Bang Rengga datang, aku masih belum siap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!