cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35_Kampung ghaib part 4
Tanah di bawah tubuh Raka semakin terbuka.
Krek...
Krek...
Retakan hitam menjalar ke segala arah seperti urat-urat raksasa.
Raka menatap lubang menganga di bawahnya dengan wajah pucat.
"Tidak... jangan..." bisiknya gemetar. Kedua tangannya mencengkeram tanah, sementara seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Tiba-tiba, sebuah tangan hitam muncul dari dalam lubang. Disusul tangan kedua. Ketiga. Keempat.
Puluhan tangan merangkak keluar dan berusaha menarik tubuh Raka ke dalam kegelapan.
"Tolong!" teriak Raka panik. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara kedua tangannya berusaha mencari sesuatu untuk berpegangan.
Makhluk bertanduk itu tertawa pelan.
"Jangan melawan, Raka..." ucapnya berat. Kepalanya sedikit miring, sementara kedua matanya yang merah menyala menatap Raka tanpa berkedip.
"Aku tidak akan menyerahkan diriku!" bentak Raka. Wajahnya berubah penuh keberanian meskipun tubuhnya masih gemetar.
Makhluk itu terdiam. Lalu tertawa.
"Hahaha... semua manusia mengatakan hal yang sama sebelum mereka mati." ucapnya dingin. Senyumnya semakin lebar, sementara tongkat hitam di tangannya mulai mengeluarkan asap.
Raka menoleh ke arah ayah, ibu, dan adiknya.
"Ayah! Ibu! Siska! Bertahanlah!" teriak Raka keras. Matanya dipenuhi air mata, tetapi sorotnya mulai menunjukkan tekad.
Pak Hendra menggeleng kuat.
"Raka, dengarkan Ayah!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara akar hitam semakin erat melilit tubuhnya.
"Apa, Yah?" balas Raka terburu-buru. Wajahnya penuh kebingungan.
"Jangan percaya apa pun yang mereka tunjukkan kepadamu!" jawab Pak Hendra tegas. Tatapannya tajam, seolah sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
Raka terdiam.
"Maksud Ayah?" tanyanya bingung. Dahinya berkerut, sementara napasnya tersengal.
Pak Hendra menarik napas panjang.
"Semua yang kau lihat sejak masuk ke kampung ini... sebagian hanyalah ilusi." ucapnya berat. Wajahnya dipenuhi kesedihan, sementara matanya berkaca-kaca.
Raka membelalak.
"Ilusi?" ulang Raka tidak percaya. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Bu Ratna tiba-tiba berteriak.
"Raka! Jangan dengarkan suara mereka!" teriak Bu Ratna keras. Air matanya mengalir deras, sementara akar hitam masih membelit tubuhnya.
"Ibu!" balas Raka panik. Wajahnya dipenuhi harapan.
Bu Ratna menatap putranya.
"Yang asli hanya satu..." ucap Bu Ratna lirih. Tatapannya penuh kasih meskipun tubuhnya hampir tidak berdaya.
"Apa?" tanya Raka cepat. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
Bu Ratna menunjuk ke dada Raka.
"Hatimu..." bisiknya. Senyumnya muncul tipis, sementara air mata terus membasahi pipinya.
Raka terdiam.
"Jangan biarkan mereka membuatmu membenci keluargamu sendiri." ucap Bu Ratna lembut. Wajahnya menunjukkan keteguhan seorang ibu.
Mendengar itu, Raka menatap Siska.
"Siska!" panggil Raka keras. Wajahnya dipenuhi harapan.
Siska mengangkat kepalanya.
"Kak..." jawab Siska lirih. Air matanya membasahi wajah, sementara tangannya masih terulur.
Raka memperhatikan sesuatu. Ada yang aneh. Seragam Siska memang berlumuran darah. Namun...Tidak ada satu pun luka di tubuhnya.
Raka menyipitkan mata.
"Siska, lihat Kakak!" teriak Raka. Wajahnya mulai dipenuhi keyakinan.
Siska menatapnya.
"Ya, Kak..." jawab Siska lirih. Wajahnya masih tampak ketakutan.
"Kamu masih ingat apa yang Ibu katakan sebelum kita masuk hutan?" tanya Raka. Tatapannya tajam, sementara pikirannya berusaha mengingat semuanya.
Siska mengangguk.
"Ibu bilang... jangan pernah mengikuti suara orang yang kita kenal kalau suaranya datang dari tempat gelap." jawab Siska pelan. Wajahnya mulai berubah bingung.
Mata Raka langsung membesar.
"Benar..." bisiknya. Wajahnya dipenuhi kesadaran.
Ia menoleh kepada Pak Hendra.
"Ayah!" panggil Raka.
Pak Hendra menatapnya.
"Ya!" jawab Pak Hendra keras. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
"Ayah juga bilang sesuatu sebelum kita masuk ke hutan." ucap Raka cepat. Tatapannya semakin tajam.
Pak Hendra mengangguk.
"Ayah bilang, apa pun yang terjadi, kita harus tetap bersama." jawabnya tegas. Wajahnya menunjukkan keyakinan.
Raka tersenyum tipis.
"Tapi sejak awal..." ucap Raka perlahan. Wajahnya mulai menunjukkan kecurigaan.
Ia menatap nenek tua.
"...mereka selalu berusaha membuat kami terpisah." lanjut Raka tegas. Tatapannya penuh keberanian.
Nenek tua mendadak diam. Senyumnya menghilang.
Makhluk bertanduk juga berhenti tertawa.
Raka akhirnya memahami semuanya.
"Kalian takut..." ucap Raka pelan. Wajahnya berubah penuh keyakinan.
Makhluk bertanduk itu menggeram.
"Diam!" bentaknya keras. Tubuhnya bergetar karena marah, sementara udara di sekitarnya mendadak terasa panas.
Raka justru tersenyum.
"Kalian takut kami bersatu." ucap Raka mantap. Wajahnya dipenuhi keberanian yang semakin besar.
"Mustahil!" teriak makhluk bertanduk itu. Kedua matanya menyala terang, sementara tongkat hitamnya menghantam tanah.
Duar!
Gelombang hitam menyebar. Namun Raka tidak lagi mundur. Ia memejamkan mata.
"Ayah..." panggilnya lirih. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
"Ya, Nak." jawab Pak Hendra lembut. Tatapannya berubah penuh harapan.
"Ibu..." panggil Raka.
"Ibu di sini." jawab Bu Ratna lirih. Wajahnya dipenuhi kasih sayang.
"Siska..." panggil Raka.
"Aku di sini, Kak." jawab Siska sambil menangis. Wajahnya menunjukkan keberanian kecil yang mulai tumbuh.
Raka menarik napas dalam-dalam.
"Kita pulang bersama." ucap Raka tegas. Wajahnya dipenuhi tekad.
Seketika...Cahaya putih muncul dari dada Raka. Awalnya kecil. Namun semakin lama semakin terang.
Makhluk-makhluk di sekitar mereka mulai menjerit.
"Apa itu?!" teriak salah satu penghuni kampung. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Matikan cahaya itu!" teriak yang lain. Tubuhnya mulai mundur ketakutan.
Nenek tua menjerit.
"Jangan!" teriaknya histeris. Wajahnya mendadak berubah ketakutan.
Raka membuka matanya.
"Aku tidak akan takut lagi." ucap Raka tegas. Tatapannya memancarkan keberanian.
Cahaya putih semakin membesar. Akar hitam yang membelit Pak Hendra mulai terbakar.
"Ahhh!"
Akar-akar itu menjerit seperti makhluk hidup. Pak Hendra terjatuh ke tanah.
"Ayah!" teriak Raka panik. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Pak Hendra segera bangkit.
"Ayah tidak apa-apa!" jawab Pak Hendra tegas. Wajahnya menunjukkan rasa lega.
Di sisi lain, akar yang membelit Bu Ratna ikut terbakar.
"Ibu!" panggil Raka.
Bu Ratna terjatuh.
"Jangan khawatir, Nak." jawab Bu Ratna lembut. Wajahnya dipenuhi senyum tipis.
Kemudian tangan-tangan hitam yang mencengkeram Siska mulai menghilang.
Siska berlari.
"Kak!" teriak Siska sambil menangis. Wajahnya dipenuhi rasa lega.
Raka mengulurkan tangan.
"Sini!" teriak Raka. Wajahnya dipenuhi harapan.
Siska langsung memeluk kakaknya.
"Aku takut sekali..." bisik Siska. Tubuhnya masih gemetar.
Raka memeluknya erat.
"Jangan takut. Kakak ada di sini." ucap Raka lembut. Wajahnya dipenuhi kasih sayang.
Pak Hendra dan Bu Ratna akhirnya berhasil berdiri. Namun makhluk bertanduk itu masih belum menyerah. Ia mengangkat tongkatnya.
"Jangan kira kalian bisa keluar dari sini!" bentaknya marah. Wajahnya berubah mengerikan, sementara tanduk di kepalanya memancarkan cahaya merah.