Bercerita tentang sebuah perpisahan yang disebabkan oleh sebuah ketakutan yang menyelimuti. Hingga dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda dan jalan yang sama.
Jodoh tidak tertukar, begitulah banyak orang berkata. Dan memang benar adanya, meskipun mencoba berkelit dengan segudang alasan namun asa tetap terikat pada keduanya sehingga mampu menghela mereka menuju satu ikatan pernikahan.
wanita adalah tulang rusuk lelaki. maka tak ada istilah tulang rusuk yang tertukar selama ini.
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita"
(HR al-Bukhari dan Muslim).
®Mawarmay®
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ministerprestasi
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya."
[AL-KAHFI/18: 7]
---
Dinan meraih teh yang disesap Amira tadi, dia meneguk dengan cepat.
"Pelan-pelan, ingat sunah rasul. Minumlah dua atau tiga kali teguk." Amira mengingatkan Dinan yang menurutnya nampak aneh.
"Mas haus sekali." Dinan mengatakan itu kemudian menaruh teh yang terasa hangat di tenggorokan.
"Kamu sudah siap, Mas ganti baju dulu baru nanti kita berangkat." Dinan hendak berdiri namun dicegah oleh Amira.
"Mas tidak mau menjelaskan sekarang?" Amira menatap Dinan dengan serius. Dinan menghela napas kemudian dia mengelus puncak kepala Amira.
"Nanti ya," kata Dinan melepas tangannya kemudian dia berjalan menuju kamarnya.
"Apa yang kamu sembunyikan sebenarnya, Mas?" Amira menatap sendu punggung Dinan kemudian dia beranjak membersihkan sisa minumannya.
Amira menyusul Dinan menuju kamar, namun dia tidak menemukan keberadaan sang suami sehingga membuat dirinya merasa tergigit semut merah di ulu hatinya.
"Mas Dinan ke kamar Maura?" bisik Amira kemudian tanpa disangka dia menangis tersedu-sedu. Amira sungguh tidak mengerti mengapa dirinya sangat sensitif.
Amira merasakan pelukan dari belakang. Dia melihat tangan besar melingkar di dada dan perutnya. Dia tahu benar pemilik tangan itu, dia termangu karena dia merasa pintu kamar ada di depannya dan tak ada pergerakan tetapi bagaimana bisa Dinan memeluknya?
"Apa yang membuatmu terus menangis?" tanya Dinan dengan pelan, nampak sekali nada sendu yang melekat dalam butiran setiap huruf yang terucap.
"Mas Dinan," panggil Amira pelan. Amira merasakan bahwa tubuhnya semakin erat dipeluk. Amira salah menduga, dia kembali menangis tersedu-sedu hingga membuat Dinan membalikkan badannya dan panik.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Dinan bingung lalu mendudukkan sang istri di tepi tempat tidur.
"Katakan sesuatu, Miray. Jangan membuatku bingung." Amira menatap Dinan kemudian menangis tambah kencang. Dinan memeluknya kemudian berbisik. "Menangis lah dan setelah itu jangan menangis lagi. Kamu hanya boleh menangisi segala dosa-dosa bukan sekedar sebuah perasaan semata."
Dinan membaringkan Amira kemudian dia ikut berbaring, niat untuk pergipun seolah menghilang. Dinan memeluk tubuh sang istri dengan penuh perlindungan. Dinan memikirkan banyak hal tentang segala hal yang terjadi beberapa hari ini.
Sungguh jika manusia mampu menentukan maka Dinan tak akan memilih hal seperti ini. Tetapi Manusia hanya bisa berencana dan Allah yang menentukannya. Karena Allah tahu yang dibutuhkan hamba daripada yang diinginkan oleh hamba.
---
Amira membuka matanya, dia merasa asing dengan tempat yang dia gunakan untuk tidur. Bukan karena dia bermimpi akan tetapi ruangan bercat putih salju ini tampak agak asing oleh dirinya.
"Di mana ini?" Amira menoleg ke kanan dan kiri. Dia seorang diri, di mana Dinan?
Apa dia ditinggal seorang diri? Amira mulai cemas, kemudian dia menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. Dia berjalan menuju pintu tanpa mengenakan alas kaki.
"Marmernya dingin," kata Amira pada dirinya sendiri. Amira membuka pintu kemudian dia terdiam. Dia merasa tak asing dengan gaya rumah ini, akan tetapi dia tidak ingat karena apa.
Amira berjalan keluar kamar, dia langsung disuguhi dengan ruang keluarga yang cukup luas dengan sofa, karpet tebal dan layar Televisi beserta perlengkapannya. Dia berjalan ke kanan, dia masuk ke sebuah ruang makan yang bergabung dengan dapur juga ada beberapa pintu yang tertutup. Ada juga pintu kaca yang kordennya diikat sehingga tampak seperti jendela.
Amira membalikan badannya, dia terkejut dengan lelaki yang memberinya senyum indah. Dia mundur satu langkah kemudian menampilkan wajah cemberut.
"Ada apa?" tanya Dinan melewati Amira dan membuka lemari es. Amira mengamati Dinan yang saat ini sedang menuang air dingin ke dalam gelas dan dicampur air hangat dari depenser.
"Kita di mana?" tanya Amira duduk di kursi dekat sang suami.
"Di rumah kita." Dinan memberikan senyum indahnya.
"Rumah kita?" Dinan mengangguk. Amira menatap Dinan ada banyak hal yang dia rasakan saat ini dan rasa sesak itu tiba-tiba menghimpit dadanya.
"Jadi aku gak boleh tinggal di rumah Bunda?" tanya Amira dengan suara lirih.
Dinan menghampiri Amira kemudian mengajak Amira berjalan ke ruang keluarga. Dinan mendudukkan Amira di atas sofa kemudian Dinan sendiri memilih duduk di atas karpet tebal.
"Bukan tidak boleh, tentu saja boleh. Kita akan menginap di sana sesekali." Dinan menggenggam tangan Amira lembut.
"Di sana akan ada keluarga Bagus, Mas merasa tak nyaman apalagi Bagus memiliki adik lelaki Mas gak mau kamu merasa tak nyaman. Ada Bagus aja kamu sudah tak nyaman, apa lagi ada yang lainnya?" Amira meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa sering menangis?" Dinan menggunakan tangan kanannya untuk menghapus air matanya.
"Aku tidak tahu, dia keluar begitu saja." Dinan mengulum senyumnya mendengar nada Amira yang merajuk.
"Ada yang ingin kamu tanyakan? Kamu tahu bukan, Mas gak pandai bercerita kalau tidak ditanya." Amira merenggut kemudian mencibir, entah mengapa dia melakukan itu padahal dia tahu benar bahwa itu sungguh tindakan kekanakan dan tidak sopan.
"Tadi yang mau dibilang Bunda," kata Amira tak beraturan.
"Bunda mau menjelaskan kepindahan kita, jadi Mas larang. Mas ingin menjadi orang pertama yang memberitahukan kepada kamu. Walaupun Mas sudah menceritakan kepada kamu kepindahan kita tadi pagi." Dinan mengatakan itu dengan senyum tipis.
"Tapi ada yang mengganjal, kenapa kamu tadi pagi menangis? Kamu tidak ingin pindah rumah?" Amira menatap Dinan dengan mata bulat, dia tidak yakin pernah membicarakan tentang pindah rumah.
"Kapan Mas bilang mau pindah rumah?" tanya Amira.
"Tadi dini hari, waktu kamu bangun dan tanya mengapa Mas memasukan pakaian ke koper." Dinan menjawab dengan nada santai. Amira nampak membawa bola matanya yang ke atas tanda bahwa dia sedang mengingat sesuatu yang dia lupakan.
"Bukannya Mas bilang mau pindah ke kamar tamu?" Dinan menaikan satu alisnya, dia merasa gamang dengan ucapan Amira.
"Kapan Mas ada bilang begitu? Mas kan bilang kalau kita akan pindah karena sementara waktu Maura tinggal di rumah Bunda." Amira menatap Dinan dengan melotot kemudian berdecih, dia tidak suka nama Maura keluar dari bibir Dinan. Sungguh itu membuatnya sangat kesal. Kemudian dia segera beristighfar karena tingkahnya.
"Tadi pagi Mas berbenah pakaian, kamu bangun dan bertanya tentang tujuan Mas berbenah. Lalu Mas jawab kalau kita akan pindah rumah karena Maura akan tinggal di rumah Bunda karena kondisinya yang membutuhkan pengawasan. Dan tahu apa reaksi kamu? Kamu menangis kemudian tidur dan dalam tidur kamu mengigau dan demam." Amira menatap Dinan dengan penuh tanya.
"Mas yakin? Hanya itu yang kita bicarakan?" Dinan menatap Amira dengan seksama.
"Iya, kamu ingat sesuatu?" Amira menggeleng kepala, bukan tidak ingat akan tetapi karena apa yang dia ingat berbeda dengan yang diceritakan oleh Dinan.
"Mas kemarin harus membereskan rumah ini, oleh sebab itu Mas pulang malam. Rencananya mau pulang pagi, tapi karena Mas pikir lebih baik segera mengatakan tentang kepindahan kita kepada kamu jadi mas dini hari tadi membangunkan Bunda untuk membukakan pintu." Amira mengangguk.
"Nanti Mas akan sering di rumah Bunda atau di sini?" tanya Amira pelan.
"Kenapa tanya begitu?" tanya Dinan tidak mengerti.
"Kan di sana Mas juga ada tanggung jawab." Dinan mengangguk.
"Mas akan sering di sini bersamamu." Dinan mencium punggung tangan Amira.
"Bagaimana bisa begitu, Mas harus adil aku tak mau menjadi istri yang dzolim." Amira berseru dengan cukup keras. Entah, dia memang tidak rela jika Dinan menikah lagi. Akan tetapi semua itu sudah terjadi jadi mau tidak mau Dinan harus berlaku adil dan dia akan belajar menerima keadaan ini. Terlebih lagi kondisi Maura yang sedang hamil.
"Siapa yang bilang kamu istri yang dzalim. Kamu istri Sholehah, istri terbaik yang dimiliki oleh Ardinan seorang." Dinan menciumi tangan Amira.
"Tapi Mas Dinan punya tanggung jawab di sana yang kedudukannya sama." Dinan mengangguk.
"Mas memang punya tanggung jawab, tapi bukan berarti kamu istri dzalim. Kamu tidak boleh mengatakan hal itu lagi." Dinan menggenggam tangan Amira.
"Bunda ridho dengan apa yang Mas lakukan saat ini. Bahkan Bunda yang mengurus semua surat-surat yang Mas perlukan, jadi tidak ada masalah bukan selama Bunda rela. Apa lagi, Bunda yang memberi ide untuk Mas segera memiliki rumah sendiri. Karena kata bunda kamu mungkin tidak akan nyaman jika tinggal bersama mertua, jadi supaya kamu nyaman sebaiknya kita punya rumah sendiri. Bundahnpernah menjadi anak mantu oleh sebab itu Bunda mencoba memahami menantunya." Dinan menatap Amira dengan lembut.
"Mas memang milik ibu Mas. Tapi selama ibu Mas ridho dengan keputusan Mas maka semua ini bukan sebuah kesalahan, Sayang." Dinan membelai lembut wajah Amira.
"Lalu Maura?" tanya Amira serupa dengan cicitan tikus terjepit pintu.
"Ada apa dengan Maura?" tanya Dinan bangun dari duduknya dan berdiri menjulang di depan Amira.
"Bukankah Bunda mengurus surat pernikahan Mas Dinan dengan Maura?" Amira mendongak menatap lekat wajah sang suami yang nampak bingung. Tak lama kemudian Dinan tersenyum dan tertawa terbahak. Amira merasa heran dengan tindakan sang suami, yang menurutnya aneh.
"Mas," panggil Amira pelan. Dinan langsung memeluk Amira.
"Maaf kalau Mas tidak melibatkan kamu dalam mengambil keputusan. Maaf, bukan hal ini yang Mas inginkan semua ini sangat mendadak jadi, Mas berpikir yang menurut Mas terbaik buat kamu tanpa berpikir tentang perasaan kamu. Maafkan Mas." Dinan memeluk Amira seraya membelai lembut punggung Amira.
Dinan mengurai pelukannya, kemudian mengecup bibir sang istri.
"Mas janji, setelah ini kita akan mendiskusikan semuanya. Tapi sebelumnya mas mau menyentil keningku dulu." Dinan langsung menyentil kening sang istri tanpa bisa dihindari oleh Amira.
"Mengapa otak cantikmu itu selalu berpikir negatif?" tanya Dinan saat melihat wajah kesal Amira.
"Sakit Mas," seru Amira.
"Kenapa pikiran kamu ke poligami terus?" tanya Dinan.
"Kan memang itu yang Mas lakukan." Amira menyahut dengan ketus, dia masih kesal karena keningnya yang menjadi sasaran tangan Dinan.
"Dari sisi mana kamu menyimpulkan? Bukan karena Maura tinggal di rumah Bunda terus aku dan Maura menikah. Sungguh pemikiran yang sangat cerdas." Dinan mengatakan itu dengan nada menyindir.
"Kok Mas Dinan jadi nyinyir aku?" Dinan terkekeh dengan sifat sensitif Amira.
"Baiklah, jelaskan dari mana kamu menyimpulkan semua itu." Dinan duduk di samping Amira dan menggeser duduk Amira sehingga menghadap ke arahnya.
"Saat pak Doni menelpon, kata Pak Doni Mas ada di rumah sakit."
"Memang, terus kenapa gak bilang kalau kamu pingsan?"
"Aku gak mau ganggu Mas Dinan yang sedang bersama mantan."
"Kamu tahu, Mas ke rumah sakit mengambil surat yang diurus Bunda." Amira merenggut kesal.
"Jangan disela." Amira mengatakan dengan nada ketus, Dinan menaikan satu alisnya dengan sorot mata menggoda akan tetapi sang istri membuang muka.
"Lanjutkan!"
"Terus pas pulang bik Tutik cerita tentang mengurus surat. Jadi aku berpikir bahwa Mas Dinan mengurus surat nikah, apa lagi kata bunda Mas tidak pulang malam itu ya sudah semakin mengerucut." Dinan membawa dagu Amira menoleh ke arahnya.
"Kamu tidak percaya pada suamimu?" Amira menggeleng kemudian mengangguk. Bukan tersinggung tetapi Dinan justru terkekeh karena wajah menggemaskan sang istri.
Dinan menarik tubuh Amira sehingga masuk kedalam pelukannya.
"Kamu harus yakin bahwa Mas akan selalu berusaha menepati janji yang Mas ucapkan kepadamu. Kamu tahu, Mas sangat mencintai kamu, hingga tak ada sedikitpun celah untuk wanita lain." Amira menangis terisak-isak saat mendengar ucapan Dinan. Dia selalu berspikulasi sendiri tanpa berpikir atau membicarakan dengan Dinan. Dia salah, jelas dia yang salah.
"Maaf," bisik Amira pelan di tengah isakan.
"Tidak ada yang salah, mungkin kita harus lebih memperbaiki komunikasi diantara kita berdua." Dinan merasakan tubuh Amira memberi jawaban. Dinan mengecup pucuk kepala Amira.
"Sudah jangan menangis, lebih baik kamu sholat asar. Pasti belum." Amirao segera melepaskan pelukannya.
"Astaghfirullah," kata Amira beranjak dan tunggang langgang meninggalkan Dinan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya dia tidak percaya jika istrinya memiliki sisi kekanakan juga.
----
dari sekian banyak novel yang ku baca ceritamu yg paling dalam mengadu perasaanku
👑 dari ku untukmu
🏕 di alam terbuka biar othor punya inspirasi lebih banyak lagi,dan bisa membuat pembaca jungkir balik lagi
👌👋👋👋
# geramku