Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kamar Cyan, 23:47.
Gadis itu baru selesai mandi dengan rambut yang sedikit lembab. Piyama satin sudah ia kenakan dan lampu kamar sengaja dibuat redup. Sudah cukup menandai akhir hari dan awal waktu istirahat malamnya. Namun, nyatanya ia masih duduk di tepi ranjang. Diam mematung menatap kosong ke arah jendela. Tanpa sadar, ia menatap tangannya sendiri.
Bibir mereka yang tadi saling bertaut tanpa disengaja, tetapi ia menikmati ketidaksengajaan itu sebagai bagian dari restu semesta. Tangannya yang digenggam Magenta, membuat kombinasi perasaan tarik-menarik seperti kapal raksasa terombang-ambing di tengah lautan. Cyan menghela napas panjang, lalu cepat-cepat menggeleng, mengusir ingatan itu hanya dengan gerakan kepala.
“Fokus, Cyan,” gumamnya pelan.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar. Tiga langkah ke kiri, berbalik, empat langkah ke kanan, kemudian berhenti, dan menghela napas lagi. Sejenak ia bertanya-tanya, mengapa hangatnya masih terasa?
Cyan mengangkat tangannya lagi, membuka dan menutup jemari, seperti orang bodoh yang berharap ingatan itu hilang sendiri. Sayangnya tidak, ia bukan tokoh sinetron yang mendadak amnesia karena kecelakaan atau kepala terantuk batu. Dan semakin berusaha melupa, ingatan tadi justru semakin jelas.
Cyan bersandar di pintu, hanya berdiam diri selama dua detik dan tiba-tiba ....
“AAARGH!”
Teriakan itu pecah di kamarnya sendiri. Cyan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya semakin memburu deru karena otaknya selalu memutar ulang satu adegan yang sama berkali-kali.
Ya, mungkin bisa dibilang agak berlebihan. Hanya satu genggaman tangan. Sekali lagi, hanya satu, tapi sudah cukup membuat Cyan salah tingkah sendiri. Jingkrak-jingkra seperti anak kecil yang mendapat hadiah permen dari orang favoritnya.
Dan apakah Magenta adalah orang favorit Cyan sekarang?
“Anjir, gue kenapa, ya? Ini pasti cuma sugesti, kan? Kok gue jadi salah tingkah gini?”
“Kenapa, sih rasanya kayak ....”
“AH, STOP, CYAN! Lo udah gila!”
Cyan kemudian menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan. Ia mendecakkan lidah, melangkah sedikit jauh dari pintu. Baru beberapa jalan beberapa langkah, Cyan menghentikan langkahnya.
“Gila banget, sumpah gila. Gak masuk akal,” batinnya bermonolog. Ia berputar di tempat, lalu tiba-tiba jongkok di samping tempat tidurnya.
“Coba jelasin ke gue! Kenapa harus ada adegan ciuman dan pegangan tangan segala? Kenapa?”
Otak Cyan tidak membantu sama sekali. Bukannya move on dari kejadian tadi, benaknya malah semakin liar memutar adegan kecil tambahan yang sempat terlewat. Sial memang, seolah dari dalam sana ada yang mengejeknya.
Terngiang jelas nada suara Magenta saat berkata, “Ada aku di sini. Kamu nggak harus menghadapi semuanya sendirian.” Begitu sopan masuk di telinganya, menjadi melodi abadi yang mustahil lepas dari ingatan. Sejauh apa pun melangkah, sekuat tenaga ia mencoba, gulungan memori itu terus menghantui seluruh hidupnya.
Belum lagi tatapan pria itu, terlalu mendominasi, tetapi sangat lembut dan mengayomi. Seseorang yang sudah paham dan yakin tentang segala hal yang dilakukan. Bahkan jika di depannya hanya tanah dilapisi pecahan kaca, ia rela melewatinya demi cinta.
Cyan berdecak sekali lagi, menggeleng cepat lagi.
“Ini cuma pura-pura, Cyan. Ingat, sandiwara doang. Jangan baper, tapi ....”
Dia berdiri mendadak.
“TAPI KENAPA DEG-DEGAN, SIH?!”
Beberapa menit kemudian, Cyan menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit. Detik dan menit berlalu, tapi otaknya menolak diam.
“Ada aku di sini.”
Suara Magenta kembali muncul, membuat Cyan memejamkan matanya kuat-kuat.
"Stop, Cyan,” katanya pada dirinya sendiri.
Dua detik kemudian, tangannya sudah meraih ponsel. Layar ponsel menyala, cahayanya memantul tipis di wajah Cyan. Nama Magenta muncul di daftar chat paling atas, tak tertimbun oleh chat siapa pun, seperti sengaja menunggu seseorang untuk mengetik pesan di sana.
Cyan menatap layar itu lama, otaknya mendadak buntu, seluruh kosakata di ingatannya memudar. Apa ini? Tiba-tiba ia menjadi bodoh karena salah tingkah tadi?
Jemarinya berhenti beberapa sentimeter di atas layar, berniat mengirimkan beberapa kata. Namun, karena ragu yang tak berkesudahan, ia berulang kali maju mundur.
@ItsMeCyan :
[Makasih, ya, tadi.]
Ia berhenti, napasnya ikut tertahan. Dibaca ulang, masih ragu haruskah dikirim atau tidak perlu.
“Apa sih, Cyan? Gak jelas banget. Sumpah gak jelas.” Ia merutuki diri sendiri karena untuk pertama kalinya tidak bisa tegas mengambil keputusan sederhana ini.
Hapus, kemudian Cyan mengetik lagi.
@ItsMeCyan :
[Udah sampe?]
Berhenti lagi. Alisnya berkerut, tangannya ragu.
“Kenapa makin gak jelas, Cyan?” gumamnya kesal pada diri sendiri.
Hapus lagi, mengetik lagi.
@ItsMeCyan :
[Aku udah sampai kamar. Soal tadi ....]
Tidak selesai. Ia mendesah, kemudian menghapus semuanya dengan satu gesekan cepat. Akhirnya Cyan memilih menjatuhkan ponsel ke kasur, lalu menutup wajahnya dengan bantal.
“Please, ini gak masuk akal banget. Lo itu atasan dia. Harusnya lo dewasa, lo nggak mungkin salting cuma gara-gara pegangan tangan dan ciuman doang, ‘kan?” ucap Cyan menunjuk dirinya sendiri di cermin.
Cyan menutup kedua matanya, tapi sebenarnya itu adalah satu kesalahan karena adegan di lobby tadi kembali terputar di pikirannya.
Cara Magenta sedikit mendekat, nada suaranya yang sengaja direndahkan, dan menggenggam tangan Cyan untuk meyakinkan Cyan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Cyan menutup mata lebih erat.
“Jangan senyum, Cyan. Jangan.”
Dia membuka mata dan menyadari bibirnya sudah naik sendiri. Otomatis, sama sekali tidak direncanakan.
“ISH!” Cyan bangkit, beralih dari posisi berbaring menjadi duduk.
“Oke. Fokus, Cyan. Kirim satu aja, habis tuh selesai.”
Belum sempat Cyan kembali mengetik pesan, satu notifikasi muncul di ponselnya, membuatnya tersentak ringan.
Dari Magenta.
Cyan langsung menegakkan punggungnya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan tanpa pikir panjang, ia membuka chat itu dengan tergesa-gesa, seolah takut kalau pesan itu akan menghilang sebelum sempat dibaca.
@Magenta :
[Aku udah sampe rumah. Kamu aman, kan?]
Cyan menatap pesan itu tidak begitu lama. Detik itu juga, semua kalimat yang susah payah disiapkan pun buyar seketika.
“Tenangin diri lo, Cyan. Dia duluan yang chat, okay?”
Jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh layar, tapi kali ini dia sengaja tidak peduli.
@ItsMeCyan :
[Aman.]
Terlalu dingin untuk seukuran atasan tinggi sepertinya. Jangan sampai ia menyesal karena menyia-nyiakan peluang manis ini. Hening pun mengisi ruang, sebelum akhirnya ia menambahkan sesuatu.
@ItsMeCyan :
[Aku udah ngerasa baikan sekarang.]
Tiga detik kemudian, ponselnya bergetar lagi, menandakan pesan masuk.
@Magenta :
[Syukurlah.]
Hanya satu kata, tapi itu cukup membuat Cyan senyum-senyum sendiri lagi. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya dia kembali mengetik. Meski perasaan ragu dan gugupnya belum hilang sepenuhnya.
@ItsMeCyan :
[BTW, makasih ya buat hari ini.]
Mulus, lancar seperti jalan tol. Kali ini tidak dihapus. Membiarkan dirinya mengikuti bagaimana cara alam bekerja. Cyan menahan napas sebentar, menunggu balasan. Detik demi detik terasa melambat, dan layar ponsel masih menunggu notifikasi di sana.
Balasan datang cepat, lebih cepat dari yang ia duga. Dan dari situ, senyum Cyan melebar lagi.
@Magenta :
[Sama-sama, sayang.]
“SAYANG? Dia manggil gue SAYANG? Ngapain anjir?!”
Cyan melempar diri ke kasur, sambil ketawa sendiri. Yups, Cyan meninggalkan otak perfeksionis dan rasionalnya dan sekarang malah lagi ketawa-tawa sendiri sambil guling-guling nggak jelas. Percis kayak orang lagi kesurupan.
@Magenta :
[Ingat ya, jangan pernah ngerasa sendiri. Kalau ada yang bikin kamu overthinking, kabarin aku. Aku ada di sini. Sekarang kamu tidur, ya. Besok harus kerja lagi.]
Cyan terpejam, menghela napas gusar. Kalimat yang Magenta ucap bukan sekadar kalimat romantis yang berlebihan. Sebuah kalimat yang menandakan bahwa dirinya siap menemani di situasi apa pun, asal itu bersama Cyan. Kata-kata yang terlalu dalam, menembus jauh ke bagian dirinya yang jarang disentuh orang lain.
Anak pertama perempuan yang jarang diperhatikan sakit dan tangisnya, kini berhasil mendapat perhatian dari seseorang yang tidak diduga.
Cyan menghela napas panjang, membiarkan senyum tipis tertinggal di bibirnya. Kejadian singkat di lift dan perhatian di lobby yang tadi begitu nyata, mungkin sudah berlalu. Namun, efeknya? Masih tertinggal, masih terasa, masih mengalir di ujung bibir, bahkan di dalam hatinya yang biasanya terlalu beku menyambut hangatnya cinta.
Cyan menatap langit-langit kamar sebentar, mencoba menangkap bayangan diri sendiri dalam cahaya redup. Dan dalam hening itu, Cyan menyadari sesuatu.
Terkadang, hal-hal kecil yang mungkin tampak sepele bagi orang lain, justru bisa menyentuh bagian terdalam dari diri seseorang.
Ia bisa merasa hangat dan aman hanya karena satu genggaman tangan, satu kata, bahkan satu momen sederhana. Dan ciuman itu?
“Aihhh… gue bener-bener mau gila rasanya, dasar Magenta sialan!”