Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tarian Pembunuh di Lantai Dansa
"Gaun merah marun itu benar-benar senjata paling mematikan yang pernah lo pakai."
Jace memecah keheningan di dalam kabin mobil sedan hitam mewah yang sedang melaju mulus membelah jalanan kota. Matanya melirik sekilas ke arah Riana yang duduk tenang di kursi penumpang sebelah kiri. Belahan gaun setinggi paha itu mengekspos kulit kaki Riana yang putih mulus setiap kali perempuan itu bergerak.
"Gue bawa lo ke sini buat jadi perisai dan mata-mata, bukan buat mengomentari pakaian gue, Jace," balas Riana tanpa menoleh dari jendela kaca mobil. Tangannya bertumpu santai di atas tas kecil tempat dia menyembunyikan kartu kredit platinum Aegis Corp.
"Gue cuma bicara fakta," Jace tertawa pelan, memutar kemudi membelokkan mobil memasuki pelataran luas Hotel Grand Valerius. "Banyak bos mafia yang bakal salah fokus melihat lo malam ini. Tugas gue memastikan tidak ada tangan kotor yang berani menyentuh lo."
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk utama hotel bintang lima tersebut. Jace turun lebih dulu dengan gerakan sangat elegan, mengitari kap depan mobil, lalu membukakan pintu untuk Riana. Pria itu menyodorkan lengannya.
"Gandeng lengan gue," bisik Jace dengan senyum miring yang sangat mempesona. "Pasangan eksekutif dunia bawah tanah tidak berjalan berjarak dua meter seperti orang asing."
Riana mendengus pelan, tapi dia tetap menyelipkan tangannya melingkari lengan berotot Jace. Sensasi kain jas mahal dan otot padat di baliknya langsung terasa di kulit Riana. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam lobi hotel dengan postur tegak sempurna, memancarkan aura pasangan penguasa yang tidak bisa diremehkan.
Di depan pintu ganda ruang aula utama, empat orang penjaga berbadan raksasa mencegat mereka. Riana dengan tenang mengeluarkan kartu undangan hitam berlambang tengkorak emas dari tas kecilnya. Salah satu penjaga memindai kartu itu, mengangguk hormat, lalu membukakan pintu untuk mereka.
Aroma cerutu mahal, parfum kelas atas, dan alkohol pekat langsung menyengat indra penciuman Riana.
Ruang aula itu luar biasa megah. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan. Alunan musik klasik mengalun lembut mengiringi puluhan pria berjas rapi dan wanita bergaun mewah yang sedang berkumpul. Namun, di balik senyum ramah dan denting gelas anggur itu, Riana bisa merasakan hawa membunuh yang sangat pekat. Setiap orang di ruangan ini adalah monster berdarah dingin yang memegang kendali atas kejahatan di kota ini.
"Target kita ada di meja bundar sebelah kiri panggung," Jace berbisik sangat pelan tepat di telinga Riana, membuat hembusan napas hangat pria itu menggelitik leher Riana. "Itu bos kartel dari wilayah utara. Mereka yang memegang akses pelabuhan tempat kontainer senjata Eropa Timur itu mendarat."
Riana mengarahkan pandangannya ke titik yang disebutkan Jace tanpa memutar kepalanya terlalu kentara. Di sana, seorang pria paruh baya berkepala plontos sedang berbicara serius dengan dua orang rekan bisnisnya. Tiga orang pengawal berdiri siaga menjaga jarak satu meter di belakang mereka.
"Jarak kita terlalu jauh buat menyadap pembicaraan mereka," analisis Riana cepat. Matanya menyapu sekitar. "Kalau kita berjalan mendekat ke arah meja itu tanpa alasan, pengawal mereka pasti langsung menodongkan senjata ke balik jas lo."
"Gue punya cara yang lebih halus buat memangkas jarak," Jace tersenyum penuh arti.
Pria itu meletakkan gelas anggurnya ke atas meja pelayan yang lewat. Tanpa memberikan aba-aba, Jace tiba-tiba memutar tubuh Riana menghadapnya. Tangan kanan Jace melingkar posesif di pinggang ramping Riana, menarik tubuh perempuan itu hingga menempel rapat dengan dadanya. Sementara tangan kirinya menggenggam jemari Riana dengan lembut namun kokoh.
"Lo ngapain?" desis Riana terkejut, matanya melotot tajam dari balik jarak wajah mereka yang kini hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Lantai dansa ada tepat di sebelah meja bos kartel itu," jawab Jace santai. "Ikuti langkah kaki gue, Kara. Kita menari ke arah sana."
Riana tidak punya pilihan selain mengikuti permainan Jace. Alunan musik waltz yang lambat dan mengalun indah menjadi pengiring langkah mereka. Jace menuntun Riana meluncur ke lantai dansa dengan gerakan yang luar biasa luwes. Setiap putaran dan tarikan Jace terasa sangat presisi, seolah pria ini memang dilahirkan untuk mendominasi lantai dansa.
Ketegangan romantis meledak begitu saja di antara dua pembunuh berbahaya tersebut.
Riana harus mendongak untuk menatap mata elang Jace. Dada mereka saling bersentuhan setiap kali Jace menarik pinggangnya lebih dekat. Riana bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi parfum musk dari tubuh Jace yang sangat memabukkan. Di balik jas hitam Vivaldi itu, jantung Jace berdetak dengan irama yang tenang dan teratur.
"Otot punggung lo tegang banget," goda Jace berbisik di telinga Riana sambil melakukan manuver putaran lambat. "Lo ahli mematahkan tulang orang, tapi lo kaku banget waktu diajak menari santai."
"Gue sedang menghitung titik buta pengawal di sudut ruangan, bukan sedang menikmati pelukan lo," balas Riana sinis, meski dia sama sekali tidak menolak saat Jace mempererat pelukannya di pinggang Riana.
Mereka berdua berdansa memutar, perlahan tapi pasti bergeser semakin dekat ke arah meja bos kartel wilayah utara. Gerakan mereka terlihat sangat natural layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, sama sekali tidak memancing kecurigaan para pengawal yang berdiri di sekitar meja tersebut.
Begitu jarak mereka hanya tersisa sekitar dua meter, Riana menajamkan pendengarannya. Suara percakapan dari meja bundar itu mulai masuk ke telinganya menembus alunan musik klasik.
"Buka penawaran kontainer itu di angka seratus miliar. Jangan kasih kesempatan buat perwakilan Aegis Corp menyentuh barang itu," ucap bos berkepala plontos itu sambil menyesap cerutunya. "Gue dengar Direktur Keuangan Aegis baru saja mati di basement mereka sendiri. Perusahaan itu lagi kacau. Ini kesempatan kita buat memonopoli senjata berat."
Riana tersenyum miring mendengarnya. Dia mengangkat wajahnya, berniat memberikan isyarat kepada Jace bahwa informasi itu sudah cukup dan mereka harus bersiap untuk sesi pelelangan.
Namun, sesuatu yang sangat aneh tiba-tiba terjadi.
Telapak tangan Jace yang berada di pinggang Riana mendadak mencengkeram kain gaun merahnya dengan luar biasa keras hingga Riana meringis pelan. Tubuh Jace yang tadinya luwes dan santai kini berubah kaku seperti balok es. Irama detak jantung pria itu yang tadinya tenang kini memacu sangat cepat dan tidak beraturan.
Riana langsung mendongak menatap wajah rekan aliansinya. Senyum arogan yang selalu menghiasi wajah tampan Jace luntur tidak tersisa. Mata elang pria itu menatap lurus melewati bahu Riana ke arah meja bundar lain yang berada di sudut gelap ruangan, tepat berseberangan dengan lantai dansa.
Wajah Jace seketika memucat. Rahangnya mengeras parah menahan gejolak emosi dan kepanikan murni.
"Jace? Ada musuh?" bisik Riana waspada, tangannya otomatis bersiap merogoh pisau lipat di balik belahan gaun paha kanannya.
Jace menundukkan wajahnya dengan cepat, menyembunyikan profil wajahnya di perpotongan leher Riana, membuat mereka terlihat seolah sedang berpelukan mesra di tengah lantai dansa. Napas pria itu terasa memburu tidak karuan menerpa kulit leher Riana.
"Jangan menoleh," bisik Jace dengan suara parau yang penuh tekanan mematikan, menyalurkan teror murni yang jarang sekali dia tunjukkan. "Paman kandungku dari Diwantara Group ada di meja nomor tujuh. Kalau dia melihat wajahku ada di pihak Aegis, kita berdua mati malam ini juga."
semoga aj mereka Selamat ,,
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪