NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Masa cuti pernikahan kami yang sangat singkat—karena Arkan Mahendra beralasan bahwa Mahardika Group akan runtuh jika dia meninggalkan kursi kebesarannya lebih dari tiga hari—akhirnya berakhir. Pagi ini adalah hari pertama kami kembali menginjakkan kaki di kantor pusat sebagai sepasang suami istri yang sah, baik secara agama, hukum, maupun di mata ribuan pasang mata karyawan yang masih syok dengan berita pernikahan kilat bos besar mereka.

Cahaya matahari pagi baru saja menyusup malu-malu dari balik tirai kamar apartemen saat aku berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja sutra putih yang kumasukkan ke dalam rok pensil hitam selutut kesayanganku. Sebagai Manajer Pemasaran yang harus selalu tampil representatif, rok ini adalah seragam kebanggaanku. Potongannya rapi, elegan, dan memberikan siluet profesional.

Namun, sayangnya, suamiku yang tsundere itu memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai standar mode.

Arkan, yang baru saja keluar dari *walk-in closet* dengan setelan jas *navy* yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, menghentikan langkahnya tepat di belakangku. Mata elangnya menatap tajam pantulan diriku di cermin. Rahangnya yang tegas langsung mengeras.

"Ganti rokmu, Naura," titahnya dengan nada bariton mutlak, layaknya sedang mengeluarkan fatwa pemecatan di ruang rapat.

Aku menoleh, menatapnya dengan sebelah alis terangkat menantang. "Ganti kenapa? Ini rok pensil andalanku, Arkan. Potongannya sangat pas dan tidak melanggar aturan berpakaian perusahaan sedikit pun."

"Rok itu melanggar aturan keselamatan kerja," kilah Arkan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia melangkah maju, tangannya dengan posesif melingkar di pinggangku dari belakang, menahan tubuhku agar tetap menempel padanya. "Potongannya terlalu ketat. Setiap kali kamu melangkah, rok itu mencetak jelas kakimu. Saya tidak akan membiarkan staf pemasaran laki-laki di divisimu gagal fokus bekerja hanya karena menatap kaki istri CEO mereka."

Aku mendengus geli, memutar tubuhku untuk berhadapan langsung dengan dada bidangnya. Tanganku terangkat merapikan dasi sutranya yang sebenarnya sudah terpasang sempurna. "Mas Bos, staf di divisiku itu orang-orang profesional. Mereka lebih takut pada ancaman potong gaji daripada memikirkan hal-hal aneh. Lagipula, rok ini sangat nyaman dipakai berlarian kalau aku harus mengurus vendor."

"Kalau kamu harus berlarian mengurus vendor, itu artinya Hadi yang tidak becus bekerja, dan saya akan memecatnya hari ini juga," balas Arkan dengan logika bengkoknya yang luar biasa diktator. Dia menundukkan kepala, mengunci pandanganku dengan mata elangnya yang intens. "Ganti dengan celana panjang bahan, atau saya sendiri yang akan merobek rok ini sekarang juga dan memastikan kamu tidak bisa keluar dari kamar ini sampai besok pagi."

Ancaman itu diucapkan dengan suara rendah yang serak, membuat aliran darahku berdesir cepat dan bulu kudukku meremang seketika. Semburat panas langsung menjalar ke kedua pipiku.

"D-dasar bos arogan gila hormon!" rutukku pelan, memukul dadanya dengan tenaga seadanya sebelum melepaskan diri dari pelukannya. "Baiklah! Aku ganti celana panjang! Puas?!"

Arkan tersenyum miring—sebuah senyuman tipis yang memancarkan kemenangan absolut. "Sangat puas, Istriku."

Setelah perdebatan konyol tentang pakaian itu selesai, kami turun menuju *basement*. Di sinilah perang gengsi ronde kedua dimulai. Aku bersikeras ingin membawa mobilku sendiri atau setidaknya naik taksi *online*, demi mempertahankan sisa-sisa profesionalisme dan menghindari gosip panas di lobi kantor.

"Arkan, kumohon. Biarkan aku jalan di belakangmu atau datang sepuluh menit lebih lambat," bujukku saat Hadi membukakan pintu mobil Maybach hitam untuk kami. "Aku ini Manajer Pemasaran. Kalau aku masuk bersama CEO dengan mobil yang sama, wibawaku di depan tim bisa luntur! Mereka akan mengira aku memanfaatkan nepotisme tingkat tinggi!"

Arkan yang baru saja duduk di kursi belakang menatapku dengan ekspresi datar yang sangat menyebalkan. "Naura, kita menyebar dua ribu undangan VIP. Semua media bisnis menjadikan pernikahan kita sebagai berita utama. Gosip apa lagi yang kamu takutkan? Fakta bahwa kamu menyuapku dengan guling stroberi setiap malam?"

Aku menganga tak percaya, wajahku merah padam menahan kesal sekaligus malu. Hadi yang berdiri di dekat pintu mobil langsung pura-pura terbatuk keras untuk menyembunyikan tawanya, menatap langit-langit *basement* seolah ada konstelasi bintang di sana.

"Masuk, Manajer Naura, sebelum saya menggendongmu paksa di depan seluruh satpam gedung ini," ancam Arkan santai.

Skakmat. Jika sudah diancam dengan tindakan memalukan tingkat dewa, aku hanya bisa menyerah kalah. Dengan bibir mengerucut sebal, aku masuk ke dalam mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan, tangan besar Arkan tak sedetik pun melepaskan genggamannya pada jemariku, seolah aku ini tahanan negara yang akan melarikan diri kapan saja. Anehnya, meskipun aku kesal, rasa hangat dari telapak tangannya sukses membuat debaran di dadaku sedikit lebih tenang.

Tiga puluh menit kemudian, mobil Maybach perlahan berhenti tepat di depan lobi utama gedung Mahardika Group.

Benar saja dugaanku. Begitu kaki kami menginjak lantai marmer lobi, suasana seketika berubah layaknya adegan film *slow-motion*. Ratusan karyawan yang sedang terburu-buru menuju *lift* mendadak menghentikan langkah mereka. Karyawan wanita menahan napas, sementara karyawan pria menunduk dalam-dalam. Keheningan total menyergap. Jalur menuju *lift* utama terbuka lebar secara otomatis, seolah laut merah baru saja dibelah oleh tongkat Musa.

Aku berusaha menarik tanganku yang masih digenggam erat oleh Arkan agar bisa berjalan dengan jarak yang wajar di belakangnya. Namun, suamiku ini rupanya punya agenda lain. Bukannya melepaskan, Arkan malah mempererat kaitan jari-jari kami, menarikku hingga aku berjalan tepat di sisinya, sejajar dengannya.

"Tegakkan kepalamu, Naura. Jangan menunduk. Kamu bukan karyawan magang yang baru dimarahi HRD," bisik Arkan pelan namun tajam tepat di telingaku. "Kamu Nyonya Mahendra. Tunjukkan pada mereka bahwa posisi ini memang pantas untukmu."

Kata-kata itu bagaikan sihir yang mengembalikan kepercayaan diriku. Gengsiku sebagai wanita karier yang gigih kembali menyala. Aku membusungkan dada, mengangkat daguku, dan menyejajarkan langkahku dengan langkah panjang nan penuh wibawa milik Arkan. Kami berjalan melintasi lobi dengan aura dominasi yang membuat semua orang menatap takjub.

"Selamat pagi, Bapak Direktur. Selamat pagi, Ibu Direktur," sapa Kepala Keamanan dengan suara lantang dan sikap hormat sempurna saat kami melewati posnya.

Langkahku nyaris tersandung mendengar panggilan 'Ibu Direktur' tersebut. Sejak kapan posisiku naik drastis melampaui Dewan Komisaris?! Namun, senyum tipis di wajah Arkan membuktikan bahwa pria itu sangat menikmati panggilan tersebut.

Bencana sesungguhnya terjadi pada pukul sepuluh pagi, di ruang rapat divisi pemasaran.

Hari ini aku dijadwalkan mempresentasikan rancangan kampanye produk kosmetik terbaru Mahardika. Biasanya, rapat divisi ini hanya dihadiri olehku dan tim inti pemasaran. Namun, entah angin badai dari mana yang menerjang, pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka lebar, dan masuklah Sang Diktator tertinggi kita, Arkan Mahendra, didampingi Hadi yang membawa setumpuk dokumen.

Sontak, seluruh staf pemasaranku melompat berdiri dari kursi mereka seolah pantat mereka baru saja disengat lebah. Wajah mereka pucat pasi membayangkan akan ada pemecatan massal atau pemotongan anggaran tahunan.

"Lanjutkan saja," ucap Arkan dengan nada santai yang sama sekali tidak sesuai dengan auranya yang membekukan. Dia menarik kursi di ujung meja—posisi kehormatan—lalu duduk sambil menyandarkan punggungnya santai, menyilangkan kakinya dengan gaya maskulin yang luar biasa mengintimidasi. "Saya hanya ingin meninjau langsung kinerja istri—maksud saya, Manajer Pemasaran kita."

Aku menelan ludah dengan susah payah. *Istri? Dia baru saja nyaris memanggilku istri di tengah rapat formal?!*

Dengan tangan sedikit gemetar karena gugup, aku berdiri di depan layar proyektor. Aku mulai menjelaskan konsep kampanye, alokasi dana, dan target pasar untuk produk kosmetik terbaru tersebut. Sepanjang presentasi, aku berusaha menatap layar atau stafku, mati-matian menghindari kontak mata dengan ujung ruangan tempat di mana Arkan duduk.

Namun, instingku sebagai wanita merasakan tatapan tajam yang tak kunjung lepas dariku. Saat aku memberanikan diri mencuri pandang ke arah Arkan, lututku mendadak lemas.

Pria itu sama sekali tidak melihat ke arah layar proyektor maupun salinan dokumen di tangannya. Arkan menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap lurus ke arahku dengan senyuman kecil—sangat kecil, namun bagi standar seorang Arkan Mahendra, itu adalah senyuman yang menyilaukan. Matanya memancarkan kebanggaan, kekaguman, dan sedikit... gairah tersembunyi yang membuat pipiku seketika terasa seperti direbus hidup-hidup.

Di sekeliling ruangan, aku bisa melihat staf-stafku berkeringat dingin. Mereka saling lirik dengan wajah horor. Bagi mereka, melihat CEO Mahardika Group—yang terkenal sebagai monster pemakan rancangan kerja berhati dingin—kini tersenyum di tengah rapat adalah sebuah anomali alam semesta yang menakutkan.

"Bapak CEO kesurupan apa?" bisik Rina, asistenku, dengan suara bergetar nyaris menangis kepada teman di sebelahnya. "Senyumnya menakutkan sekali. Apa beliau berencana memecat kita semua setelah rapat ini selesai?"

Presentasiku akhirnya selesai. Aku menutup sesi dengan napas memburu, bersiap menghadapi kritikan pedas yang biasanya akan dilontarkan Arkan untuk menguji mentalku.

Arkan menegakkan duduknya. Ruangan menjadi begitu hening hingga suara lalat terbang pun mungkin akan terdengar.

"Luar biasa," suara bariton Arkan mengalun mantap, memecah kesunyian yang mencekam. Dia melempar dokumen di tangannya ke atas meja dengan ringan. "Analisis pasar yang tajam dan strategi yang sangat efektif. Anggaran kampanye ini saya setujui sepenuhnya tanpa pemotongan satu rupiah pun. Hadi, proses pencairannya hari ini juga."

Mata seluruh orang di ruangan itu nyaris melompat keluar dari tempatnya. Hadi, yang sudah terbiasa dengan keanehan bosnya akhir-akhir ini, hanya bisa menghela napas pasrah sambil mencatat instruksi tersebut.

Aku terdiam kaku di depan layar proyektor. Arkan Mahendra menyetujui anggaran tanpa revisi? Ini pasti pertanda kiamat sudah dekat.

Rapat dibubarkan dengan kecepatan cahaya karena seluruh stafku buru-buru mengevakuasi diri dari ruangan, takut bos besar mereka tiba-tiba berubah pikiran dan kembali ke setelan pabrik.

Tinggallah aku dan Arkan berdua di dalam ruang rapat yang mendadak terasa sempit.

Aku mematikan proyektor, merapikan laptopku dengan gerakan sedikit kasar demi menutupi salah tingkahku. "Kamu sengaja membuat seluruh timku kena serangan jantung berjamaah, ya?"

Arkan berdiri dari kursinya, berjalan perlahan menghampiriku layaknya predator yang mengunci mangsa. Langkah kakinya yang tenang di atas lantai karpet sukses membuat napasku tercekat.

Dia berhenti tepat di hadapanku. Jarak kami begitu dekat hingga ujung sepatu kulit mahalnya menyentuh ujung sepatuku. Tangan kanannya terulur, menyelipkan helaian rambutku yang terlepas dari ikatan ke belakang telingaku. Sentuhan hangat jemarinya di kulit leherku mengirimkan sengatan listrik kecil ke seluruh sistem sarafku.

"Saya hanya mengapresiasi kinerja luar biasa dari manajer andalan saya," bisik Arkan pelan, suaranya serak dan memabukkan. "Dan juga... saya tidak bisa berkonsentrasi melihat angka-angka di dokumen itu saat pemateri di depan sana terlihat luar biasa cantik hari ini, meskipun dia menolak memakai rok pensil."

Gengsiku yang sedari tadi kubangun setinggi dinding beton seketika runtuh menjadi debu. Jantungku berdetak liar tak keruan. Tidak peduli seberapa sering suamiku ini bersikap arogan dan diktator, kemampuannya melempar kalimat manis dengan wajah datar benar-benar kelemahan terbesarku.

"Pak CEO," cicitku pelan, menundukkan wajah untuk menyembunyikan senyumku yang sudah tak tertahan. "Ingat, kita sedang di ruang rapat. Dinding ini punya kaca transparan."

"Biarkan saja seluruh gedung ini melihat," balas Arkan tanpa rasa peduli sedikit pun. Dia menunduk, mengecup kilat ujung hidungku, membuatku membelalak kaget. "Biarkan mereka tahu bahwa CEO yang sangat mereka takuti ini... telah resmi takluk di tangan Manajer Pemasarannya."

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!