NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Kekuasaan

Dio mendorong pintu besar. Hans berjalan tepat di belakangnya, bergerak dengan tenang dan penuh percaya diri.

Dio langsung meninjau seluruh penjuru ruangan dan mengamati setiap orang yang ada di sana. Ia mengenali wajah-wajah itu. Mereka duduk berjejer rapi di kursi tua. Tidak ada yang berbicara, namun sorot mata mereka penuh kecurigaan, sedang menyalahkan sesuatu.

Baimm Rachmandi berdiri di tengah ruangan dengan penuh wibawa. Ia menatap Dio tajam, sama seperti cara Dio menilai semua orang di tempat itu. Dio merasakan tekanan dari tatapan tersebut, namun ia tetap bersikap santai dan tenang, memastikan tidak ada sedikit pun kelemahan yang terlihat.

Ia melewati Gustavo, yang memiliki bekas luka panjang di wajahnya, itu tanda pengabdian dari pertempurannya. Di sebelahnya terdapat Lukke, yang selalu tampil dengan ekspresi meremehkan.

Di sudut ruangan duduk Orion, penanggung jawab keuangan kelompok itu. Pria itu cerdas, dan kecerdasannya sama berbahayanya dengan senjata tajam. Pandangan mereka sempat bertemu sebentar, dan Dio langsung menyadari bahwa Orion tidak memercayainya.

Dio berjalan menuju kursi kosong yang disiapkan untuknya, posisinya agak ke tengah dan tepat berhadapan dengan Baimm. Ia duduk dengan santai, tidak peduli apa pun yang terjadi. Hans duduk di sebelahnya dengan ekspresi yang sama tenangnya. Mereka berada di wilayah lawan, tetapi tidak boleh terlihat takut atau ragu sedikit pun.

Dio telah menempatkan anak buahnya di gedung-gedung sekitar, dengan senjata yang diarahkan tepat ke ruangan ini. Sebagian lagi bersembunyi di atap, siap turun melewati dinding dan masuk melalui jendela-jendela besar yang mengelilingi ruangan. Jelas sekali orang-orang di sini tidak memiliki pelatihan militer setingkat dirinya dan Hans. Dulu keduanya pernah bertugas di pasukan khusus, begitu juga anak buah yang setia mengikuti Dio sejak masa dinas militer.

“Jadi, apa lagi?” tanya Dio, dia ingin urusan ini cepat selesai.

“Kami menemukan mayat Gumm Bahtiar,” kata Baimm membuka pembicaraan.

“Dan kepalanya ditembak,” sambung Lukke dengan nada sinis.

“Ada yang mau kamu jelasin, Walisang?” tanya Gustavo menutup introgasi.

“Banyak deh. Contohnya, tempat ini baunya terlalu kayak orang tua banget. Dan aku nggak ngomongin perabotannya, ya,” jawab Dio santai.

“Nah, bener banget!” seru Hans dari sampingnya. “Aku dari tadi mikir, ini bau apa sih? Ternyata baunya kayak di panti jompo, bau minyak urut.”

Dio hampir tersenyum mendengar ucapan sepupunya. Bukan berarti Hans tidak menyadari bahwa mereka bisa dibunuh kapan saja. Memang begitulah sifat Hans, ia benar-benar tidak memiliki rasa takut. Hal yang paling berbahaya justru adalah memiliki teman secerdas Hans, yang merasa tidak ada lagi sesuatu yang bisa hilang dari hidupnya.

“Kayaknya kamu nggak ngerti seberapa serius masalah ini,” kata Baimm dengan nada dingin.

“Aku paham banget kok. Udah, ayo selesain aja. Emangnya kalian maunya apa dari aku?” tanya Dio balik.

“Ngaku aja kalau kamu yang bunuh Bahtiar,” tegas Baimm.

“Oke. Aku yang lakuin,” jawab Dio sambil berdiri dan mengancingkan jasnya. “Kalau kalian cuma tahu itu, aku masih ada urusan lain yang harus diselesain.”

Salah satu pria langsung mencabut pistol dan mengarahkannya ke kepala Dio. Dio melihat wajah mereka semua penuh gengsi.

“Pasti gara-gara cewek sialan itu,” gumam Baimm pelan.

Dio menoleh ke arah Hans. Sepupunya hanya tersenyum tipis. Dio mengangkat tangan kanannya, lalu menjentikkan jari.

Satu detik kemudian, pria itu langsung jatuh ke lantai dengan lubang di lehernya, tersedak darahnya sendiri.

Hans langsung bertepuk tangan dengan antusias.

“Aku suka banget kalau kamu main sulap, Sepupuku. Ughhhh ... Kamu emang pesulap beneran.”

Baimm menatap Dio tajam, matanya penuh amarah. Sebenarnya Dio ingin menjentikkan jari sekali lagi dan membunuh semua orang di ruangan itu, namun ia menahan diri. Bukan begitu cara meraih kekuasaan.

Ia menarik napas panjang, lalu berbicara dengan tenang kepada calon mertuanya itu. “Aku tau ini bukan cara benar buat nyelesain masalah. Tapi dia udah menghina aku, dan lebih parah lagi, dia menghina putrimu! Jadi aku nggak bakal minta maaf karena udah membunuh dia.”

“Walisang, kamu bakal mati!” desis Gustavo dengan nada mengancam.

Hans ikut menjentikkan jarinya. Semua orang langsung menunduk ketakutan, namun kali ini tidak ada peluru yang melesat. Titik merah justru muncul di dahi setiap pria di ruangan itu. Mereka saling menengok ke kiri dan kanan dengan panik.

“Aku nggak yakin tim pembersih bakal nemuin mayatku di sini,” ucap Dio santai.

“Ada saksi dari masalah ini, orangnya lagi di jalan menuju ke sini,” kata Baimm sambil mematikan ponselnya. “Kita tunggu dia dateng dulu baru mutusin nasib kamu, Dio.”

Dio melihat dengan jelas adanya rasa tertarik di mata Baimm. Awalnya pria itu mungkin bermaksud menghukumnya, tetapi kini ia menyadari betapa berbahayanya Dio dan betapa berharganya orang yang memiliki kemampuan seperti itu.

Kekuasaan.

Itu satu-satunya tujuan bagi orang seperti Baimm. Namun ada satu hal yang tidak akan pernah ia pahami. Anak buah Dio setia bukan karena dibayar, melainkan karena rasa setia kawan. Nilai yang mungkin tidak pernah dirasakan Baimm sama sekali, selain untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dio menggerakkan tangannya sedikit, dan seketika itu juga seluruh titik merah di dahi mereka lenyap. Meski begitu, rasa takut masih tampak jelas di wajah sebagian besar orang di sana.

Mereka semua adalah bagian dari Bataviarch generasi lama. Sudah tua dan keras kepala, enggan melepaskan sedikit pun kekuasaan yang dimiliki. Padahal jika penerus mereka semuanya sama seperti Bahtiar yang telah meninggal, apa jadinya organisasi itu?

“Menurutmu siapa saksinya?” tanya Hans pelan, hanya Dio yang bisa mendengar.

“Nggak tau. Mungkin pelayan, atau ada orang yang lihat lewat rekaman cctv.”

“Nggak masuk akal deh. Aku udah cek, nggak ada kamera di tempat kita, apalagi di sekitar situ. Pas kejadian juga banyak pelayan yang ada deket kita.”

“Berarti kemungkinan besar mereka nyogok orang buat bicara bohong.”

“Bener juga. Terus menurutmu Baimm beneran pengen bunuh kamu?”

“Beberapa menit lalu mungkin iya. Tapi sekarang cara dia natap aku ... beda banget.”

“Kamu sadar kan dia keliatan terkesan banget pas lihat aksi kamu tadi?”

Dio tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala. Seseorang pun masuk ke ruangan untuk mengangkat mayat pria yang tadi berani mengancamnya. Noda darah di karpet itu pasti akan sangat sulit dibersihkan.

Setengah jam kemudian, pintu terbuka kembali. Dio sangat terkejut melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan.

“Apa yang calon istriku lakuin di sini?” tanyanya ketus, jelas ia kesal sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!