"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Menuju Kerajaan Slyph
Aroma tanah bercampur bau hangus sangat terasa di perbatasan timur Kerajaan Flameheart. Ashura memperhatikan luasnya dataran tanah yang membentang didepan sana.
"Di depan sana adalah wilayah Earthborn. Ada gerak-gerak mencurigakan di sini yang telah diselidiki olehku dan Kakek Magnus-" Kaira batuk pelan dan kembali melanjutkan, "Maksudku Raja Sihir Keempat."
"Apa ini berhubungan dengan Organisasi Seven Deadly Sins?" Ashura bertanya untuk menggali informasi.
"Bukan mereka, tetapi orang-orang jahat yang membunuh Pangeran Earthborn dan memanipulasi Raja Earthborn." Kaira menjelaskan.
"Kita akan menunggu Raja Sihir Keempat disini. Aku rasa dia tidak lama lagi datang."
Beberapa menit kemudian, tanah subur yang mereka pijak seperti bergetar. Terlihat dedaunan berjatuhan dan pepohonan pun seperti bergoyang.
Bebatuan dan tanah yang di depan mereka membentuk sebuah kastil tua yang terbentuk dari mana.
"Wow, sihir milik siapa ini?" Onyx terkejut melihat apa yang sedang terjadi dihadapannya.
"Aku rasa itu adalah sihir milik Raja Sihir Keempat!" Serlin memperhatikan kastil tua yang bergerak seperti golem tanah menuju ke arah mereka.
"Bukankah Kakak Serlin yang memberitahuku jika sihir api dan angin adalah keahlian utama Raja Sihir Keempat. Aku rasa itu bukanlah sihir miliknya." Yuna berpendapat dan tak lama seorang kakek tua berambut putih muncul di depan mereka.
"Maaf membuat kalian menunggu lama. Semalam aku minum bersama Bocah Earthborn." Kakek tua yang memegang sebotol minuman keras itu adalah Magus Magnus, Sang Raja Sihir Keempat Flameheart.
"Bocah Earthborn? Siapa yang dimaksud Kakek pemabuk ini?" Ashura dengan wajah tenangnya menunjuk Magus Magnus, saat yang lain bersujud memberi hormat.
"Ashura, dia adalah Magus Magnus. Raja Sihir Keempat Flameheart!" Serlin menegur dan memaksa Ashura bersujud.
"Aku sudah pensiun dan sekarang aku hanya menikmati masa tuaku." Magus Magnus menatap Ashura dalam.
"Jadi kau orang yang diselamatkan oleh Leon..."
Kemudian Magus Magnus berteriak kearah kastil tua tanah tersebut.
"Pangeran, kecilkan wujudmu dan bawa kami masuk!" teriak Magus Magnus.
Tak lama kastil tua yang besar itu memancarkan cahaya berwarna coklat. Ukurannya menjadi sekecil semut dan hampir tidak terlihat oleh mata.
Tak lama tubuh Ashura dan yang lainnya tertarik kedalam kastil tua itu. Ashura terkejut melihat teknik sihir ini dan menyadari betapa luasnya dunia sihir.
"Selamat datang di kastil bumi..." Sosok pria yang tidak terlalu tinggi, terlihat duduk meminum secangkir kopi di sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang makan.
Sosok pria itu menggunakan sihir tingkat tinggi yang bernama, "Terra Aegis!"
Kekuatan sosok pria dihadapan mereka tentu membuat semuanya takjub. Pria yang bernama Thorin Earthborn dan merupakan Pangeran Kerajaan Earthborn ini merupakan anak dari Raja Thordin Earthborn.
Ashura menatap Thorin Earthborn tajam, karena bagaimanapun dia masih heran kenapa kastil tua yang berukuran besar bisa berubah menjadi sangat kecil dan yang lebih aneh mereka semua bisa masuk kedalamnya.
"Perkenalkan semuanya, namaku adalah Thorin Earthborn. Aku disini untuk memberitahu kebenaran tentang kematianku..."
Saat sinar matahari menyinari wajahnya, Ashura dan yang lain terkejut melihat setengah wajah Thorin memiliki bekas luka bakar.
"Ayahku telah dibunuh oleh Serpens dan Vipera. Mereka berdua bekerjasama untuk mendapatkan kekuatan keabadian dari Iblis." Thorin memberitahu.
Hal ini cukup membuat Ashura terkejut. Ashura pernah mendengar nama Serpens dan ternyata telah bekerjasama dengan Vipera.
"Apa maksud Yang Mulia Thorin mereka ingin mendapatkan kekuatan keabadian Iblis?" Yuna Starfell bertanya kepada Thorin.
"Panggil saja aku Thorin."
"Kalau begitu, aku akan memanggil Tuan Thorin."
Thorin tersenyum canggung sebelum memberitahu mereka tentang tujuan Serpens dan Vipera.
"Mereka ingin Kerajaan Earthborn dan Kerajaan Flameheart berperang. Tujuan mereka adalah menanamkan benih iblis di benua ini dan membuat mereka berdua berubah sepenuhnya menjadi True Demon."
Thorin memberitahu mereka, namun Ashura, Serlin, Yuna dan Onyx terlihat belum memahami.
"Pangeran Earthborn, sebaiknya kita memberitahu mereka sejak awal dan alasan mengapa aku membentuk Nightmare," ucap Magus Magnus memberitahu Thorin.
"Hahaha, sebaiknya seperti itu. Tapi aku pikir Tuan Kaira sudah memberitahu mereka." Thorin menatap Kaira yang tersenyum dan menggaruk kepalanya.
"Aku tidak memberitahu mereka dan hanya menjelaskan Nightmare adalah pasukan bayanganku yang bertugas melindungi kerajaan dari bayang-bayang." Kaira kelihatan jelas telah berbohong.
"Kaira, apa kau menjebak ku agar bergabung dengan kelompok yang tidak jelas ini?!" Ashura menatap tajam Kaira dan ingin memukul wajah pria itu.
"Aku sama sekali tidak berniat begitu. Sebaiknya kau dengarkan penjelasan Pangeran Thorin terlebih dahulu, Ashura." Kaira mengelus kepala Ashura dengan ekspresi tidak bersalah.
"Aku bahkan tidak mengetahui ini..." Serlin menghela nafas panjang.
Sementara itu Yuna dan Onyx juga terlihat tidak mengetahui apapun.
"Ras Iblis, aku kira mereka hanya ada dalam dongeng..." Onyx bergumam pelan dan mengerutkan keningnya membayangkan bentuk seorang Iblis.
"Dunia ini penuh misteri. Diriku ini merupakan salah satu misteri tersebut. Aku telah berumur 20 tahun, tetapi tubuhku seperti bocah." Yuna menanggapi ucapan Onyx dengan ekspresi santai.
"Kau memang bocah aneh-" Onyx belum menyelesaikan ucapannya, Yuna sudah menendang kakinya hingga Onyx terjatuh dan meringis kesakitan.
"Aduh! Kau menendangku!"
Yuna menjambak rambut Onyx dan menatapnya tajam, "Apa perlu ku lepas kedua matamu itu?! Atau kau lebih memilih mulutmu itu kuhancurkan?!
Melihat kemarahan Yuna membuat Onyx menelan ludah ketakutan, "Maaf... Maafkan aku..."
"Onyx, Yuna, sudah cukup. Dengarkan perkataan Pangeran Thorin tentang alasan terbentuknya Nightmare."
Setelah suasana tenang, Thorin menatap Magus Magnus yang mengangguk tanda setuju untuk memberitahu mereka.
"Jauh sebelum Kakek Magnus menjadi Raja Sihir, mungkin saat Flameheart berada di pemerintahan Raja Sihir Ketiga, beliau sudah mencurigai banyak kejadian janggal di Benua Maple."
Peperangan di Benua Maple tidak pernah berhenti selama ratusan tahun. Tidak seperti manusia yang berumur pendek, Dwarf dan Elf berumur lebih panjang, sehingga ada kecurigaan jika ada praktik sihir terlarang di Kerajaan Flameheart.
Kegiatan itu pertama kali diketahui oleh Magus Magnus saat menjadi Raja Sihir Keempat sekitar enam puluh tahun lalu.
Banyak orang-orang yang terbunuh dengan dalih perampokan atau diserang bandit. Namun setelah mencari tahu lebih jauh lagi, Magus Magnus mengetahui jika semua itu adalah ulah Raja Sihir Ketiga yang melakukan pembunuhan secara rutin untuk teknik terlarang yaitu Keabadian Iblis.
Awalnya Magus Magnus menemukan kasus pembunuhan secara acak, namun setelah ia menjabat sebagai Raja Sihir Keempat, Magus Magnus mengetahui jika setiap sepuluh tahun sekali, sekitar seribu orang terbunuh oleh serangan bandit atau perang sipil.
Hingga tiga puluh tahun lalu, Magus Magnus menemukan anaknya telah mempelajari sihir terlarang itu. Anaknya melakukan hal yang sama dengan Raja Sihir Ketiga dan membuat penduduk Flameheart menderita.
Banyak dari mereka yang terbunuh demi penyempurnaan jurus tersebut. Semakin kuat jurusnya, maka semakin banyak jiwa yang harus dikorbankan.
Hingga akhirnya pembantaian Klan Vengeance terjadi di Flameheart sekitar lima tahun lalu, dan hanya menyisakan Ark Vengeance.
Magus Magnus mengetahui anaknya sendiri yaitu Serpens Magnus terlibat. Magus Magnus tidak sanggup membunuhnya dan ia menanggung beban dosa itu seumur hidupnya.
Seletah beberapa tahun terlewati dan melihat beberapa kejadian yang sama di dunia ini, Leon Leywin menemui Magus Magnus, Thordin Earthborn dan Raja Slyph untuk membicarakan masa depan Benua Maple dan ancaman nyata orang-orang yang mencoba menanam benih iblis di benua ini.
Dari pembicaraan itu, akhirnya ketiga raja sepakat untuk berdamai dan hidup berdampingan. Mereka membentuk sebuah pasukan khusus yang dihuni penyihir paling berbakat di Kerajaan untuk melawan musuh dari luar benua ini.
Pasukan khusus itu diberi nama 12 Nightmare. Setiap kerajaan memiliki empat anggota, namun beberapa bulan lalu empat anggota Nightmare dan Raja Thordin terbunuh oleh Serpens dan Vipera.
"Ada satu hal penting yang harus ku beritahu kalian semua..." Thorin menatap mereka semua dan mengepalkan tangannya.
Tatapannya tiba-tiba datar, kosong, dipenuhi kemarahan yang tersembunyi.
"Serpens menyebut dirinya merupakan bagian dari Seven Deadly Sins dan menjadi mata-mata di Zodiak!"
Magus Magnus menghela nafas panjang dan kedua matanya dipenuhi penyesalan.
"Selanjutnya kalian berempat akan menuju Slyph. Disana kalian berempat akan berlatih hingga pantas disebut pasukan terkuat Benua Maple."
Magus Magnus memimpin perjalanan bersama Ashura, Thorin, Serlin, Onyx dan Yuna, sedangkan Kaira kembali ke Flameheart untuk menenangkan situasi yang sedang terjadi karena kematian Vipera, salah satu Tetua Ignis.
Selanjutnya Ashura akan menuju negeri dongeng yang dihuni oleh ras tertinggi yang dicintai oleh mana.