Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khubaib
Kemudian Ashim bin Tsabit maju menyerang para pengepung dari Bani Luhayan dan suku Hudzail, diikuti oleh dua sahabat lainnya, yaitu Martsad Al-Ghanawy dan Khalid Al-Laitsy. Mereka bertiga bertempur dengan gagah berani hingga akhirnya gugur satu per satu di jalan Allah.
Adapun tiga sahabat yang tersisa, Abdullah bin Thariq, Zaid bin Datsinah, dan Khubaib bin Ady, akhirnya menyerahkan diri kepada kaum Hudzail. Namun tak lama setelah itu, mereka dikhianati dengan cara yang sangat keji dan tidak manusiawi.
Pada awalnya, orang-orang Hudzail tidak mengetahui bahwa salah satu korban yang mereka bunuh adalah Ashim bin Tsabit. Namun begitu mereka menyadarinya, kegembiraan besar memenuhi hati mereka. Mereka membayangkan hadiah melimpah yang akan mereka dapatkan.
Bagaimana tidak? Bukankah Sulafah binti Sa’ad pernah bernazar akan meminum khamr dari batok kepala Ashim bin Tsabit sebagai pelampiasan dendam atas kematian anak-anak dan suaminya dalam Perang Uhud di tangan Ashim?
Bahkan Sulafah telah mengadakan sayembara. Siapa saja yang berhasil membawa kepala Ashim bin Tsabit kepadanya akan diberi harta sebanyak apa pun yang diminta.
Tak lama setelah peristiwa pembantaian para sahabat itu, kaum Quraisy di Makkah pun mengetahui kematian Ashim bin Tsabit. Mereka segera mengirim utusan kepada Bani Hudzail untuk meminta kepala Ashim demi memenuhi sumpah Sulafah dan mengobati dendamnya yang membara.
Utusan itu membawa harta yang sangat banyak sebagai imbalan.
Orang-orang Hudzail pun bergegas menuju jasad Ashim bin Tsabit untuk memisahkan kepalanya dari tubuh mulia tersebut.
Namun ketika mereka mendekat, mereka dikejutkan oleh sekawanan lebah dan serangga yang mengerumuni jasad Ashim dari segala arah.
Setiap kali mereka mencoba mendekat, lebah-lebah itu langsung menyambar-nyambar wajah, mata, dan tubuh mereka tanpa ampun. Seolah-olah Allah mengutus pasukan kecil untuk menjaga jasad hamba-Nya yang mulia.
Berkali-kali mereka mencoba, namun selalu gagal. Hingga akhirnya sebagian dari mereka berkata, “Biarkan saja sampai malam tiba. Jika malam datang, serangga-serangga itu pasti pergi dengan sendirinya.”
Mereka pun menunggu di tempat yang agak jauh, namun kuasa Allah berada di atas segala-galanya.
Menjelang malam, langit tiba-tiba berubah gelap. Awan hitam bergulung memenuhi cakrawala. Petir menyambar-nyambar di angkasa, lalu hujan deras turun mengguyur bumi dengan sangat hebat.
Air mengalir dari bukit-bukit, lembah-lembah meluap, dan dataran rendah dipenuhi banjir. Hujan itu begitu dahsyat hingga menyerupai banjir besar Sailul Arim di Yaman.
Keesokan paginya, orang-orang Hudzail kembali menuju tempat jasad Ashim berada, namun jasad itu telah hilang.
Mereka berpencar mencari ke berbagai tempat, tetapi tak menemukan jejak sedikit pun.
Air bah yang Allah turunkan telah membawa jasad Ashim bin Tsabit ke tempat yang tak pernah diketahui manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Ashim. Allah menjaga jasadnya yang suci agar tidak dihinakan oleh musuh-musuh-Nya. Allah melindungi kepalanya yang mulia agar tidak dijadikan tempat minum khamr oleh orang-orang kafir.
Dan Allah tidak memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai hamba-hamba-Nya yang beriman.
Masih dalam tragedi yang sama, tersisa dua sahabat Nabi yang masih hidup: Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinah. Keduanya ditawan oleh orang-orang Hudzail, lalu dibawa ke Makkah untuk dijual kepada kaum musyrikin Quraisy.
Bani Harits bin Amir membeli Khubaib bin Ady, karena Khubaib adalah salah satu sahabat yang pernah membunuh Al-Harits dalam Perang Badar.
Kini Khubaib menjadi tawanan keluarga yang telah bersepakat untuk membunuhnya. Ia dikurung di rumah Bani Al-Harits dalam keadaan tangan dan kakinya dibelenggu rantai besi.
Suatu hari, Khubaib meminjam pisau kecil kepada salah seorang wanita dari keluarga Al-Harits untuk merapikan kumisnya. Wanita itu meminjamkannya.
Namun tanpa disadari ibunya, anak kecil wanita itu mendekati Khubaib dan duduk di pangkuannya, sementara di tangan Khubaib tergenggam pisau tajam.
Sang ibu terkejut setengah mati, wajahnya pucat penuh ketakutan. Khubaib memahami ketakutan wanita itu, lalu berkata lembut, “Apakah engkau takut aku akan membunuh anakmu? Demi Allah, aku tidak akan melakukannya.”
Wanita itu kemudian berkata, “Demi Allah, aku belum pernah melihat tawanan yang lebih baik daripada Khubaib. Demi Allah, suatu hari aku melihatnya memakan setangkai anggur, padahal kedua tangannya terbelenggu besi, sementara saat itu di Makkah tidak sedang musim buah. Sungguh itu adalah rezeki yang Allah anugerahkan kepadanya.”
Begitulah pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan bertakwa.
Hari demi hari berlalu hingga akhirnya Bani Al-Harits membawa Khubaib keluar dari tanah haram untuk dibunuh. Saat itu, Khubaib mengajukan satu permintaan terakhir. “Berilah aku kesempatan untuk shalat dua rakaat.”
Mereka mengizinkannya.
Khubaib pun berdiri menghadap Allah dengan hati yang tenang. Ia menunaikan dua rakaat terakhirnya dengan penuh kekhusyukan.
Setelah selesai, ia berkata, “Demi Allah, seandainya kalian tidak mengira aku takut mati, niscaya aku akan memperpanjang shalatku.”
Kemudian Khubaib berdoa, “Ya Allah, hitunglah jumlah mereka satu per satu. Musnahkanlah mereka seluruhnya, dan jangan Engkau sisakan seorang pun.”
Lalu ia melantunkan syair dengan suara yang tenang, “Aku tidak peduli bagaimana aku mati, selama aku mati dalam keadaan muslim. Semua itu karena Allah. Dan jika Dia menghendaki, Dia akan memberkahi setiap potongan tubuhku yang tercerai-berai.”
Tak lama kemudian, Uqbah bin Harits maju untuk membunuh Khubaib.
Khubaib bin Ady menjadi orang pertama dalam Islam yang melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum dieksekusi.
Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah menerima wahyu tentang apa yang sedang terjadi pada Khubaib.
Di antara orang-orang yang menyaksikan penyiksaan Khubaib hari itu, terdapat seorang pemuda Quraisy bernama Sa’id bin Amir Al-Jumahi.
Saat itu ia belum memeluk Islam, usianya masih muda, namun keberaniannya membuat ia berhasil berdiri di barisan depan bersama para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb dan Shafwan bin Umayyah.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana Khubaib digiring menuju tempat eksekusi dalam keadaan terikat.
Kaum Quraisy ingin melampiaskan dendam mereka kepada Rasulullah melalui tubuh Khubaib, mereka memotong anggota tubuhnya, tangan dan kakinya saru-persatu tanpa ampun.
Mereka menyiksa tubuhnya dengan kejam, namun di tengah luka dan darah yang mengalir, Khubaib tetap teguh.
Salah seorang Quraisy berkata, “Apakah engkau ingin Muhammad berada di tempatmu sekarang, lalu engkau bebas bersama keluargamu?”
Khubaib menjawab tanpa ragu, “Demi Allah, aku tidak rela berada bersama keluargaku dalam keadaan aman sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertusuk duri.”
Jawaban itu membuat kaum Quraisy berteriak marah, sedangkan Sa’id bin Amir membeku di tempatnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat seseorang mencintai Rasulnya melebihi dirinya sendiri.
Ia melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit lalu berkata, “Ya Allah, binasakan mereka satu per satu. Jangan Engkau biarkan seorang pun hidup dengan aman.”
Tak lama setelah itu, Khubaib menghembuskan napas terakhirnya, tubuhnya syahid di tangan orang-orang kafir Quraisy.
Orang-orang Quraisy pulang dan melupakan tragedi itu seiring berjalannya waktu, namun tidak bagi Sa’id bin Amir.
Peristiwa itu terus menghantuinya, ia melihat wajah Khubaib dalam tidurnya, ia mendengar doa-doanya dalam kesendiriannya, ia teringat ketenangan Khubaib ketika berdiri shalat di depan kematian.
Dan sejak hari itu, hati Sa’id bin Amir mulai berubah. Allah membukakan dadanya untuk menerima cahaya Islam.