*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Kontraksi Asli
Hari ke-263.
Kehamilan Evelyn masuk minggu ke-31.
Masuk bulan ke-8.
Perutnya udah berat banget. Tidur miring kiri doang yang nyaman.
Relia makin aktif. Malam hari kayak lagi senam lantai di dalam.
Malam itu hujan deras lagi.
Jam 11 malam, Evelyn kebangun karena perutnya kencang.
Rasanya beda dari Braxton Hicks biasa.
Lebih sakit. Lebih teratur.
Dia diem dulu. Hitung jeda.
5 menit sekali.
Tahan 30 detik.
Terus hilang.
Terus datang lagi.
“Matthias...” bisiknya pelan.
Matthias langsung bangun.
Nggak nanya banyak.
Dia udah hafal tanda-tandanya dari buku kehamilan yang dia baca diam-diam tiap malam.
“Berapa menit sekali?”
“5 menit. Sakitnya di pinggang.”
Matthias langsung ambil ponsel.
“Gue telpon dr. Laras.”
---
Telepon diangkat.
Dr. Laras tenang kayak biasa.
“Bu Evelyn, coba jalan pelan 10 menit. Minum air hangat. Kalau jedanya makin pendek dan makin sakit, langsung ke RS. Bisa jadi kontraksi asli. Tapi bisa juga masih palsu.”
Telepon ditutup.
Matthias bantu Evelyn berdiri.
Pelan-pelan jalan di koridor lantai 2.
Evelyn genggam lengan Matthias erat.
Setiap kontraksi datang, dia berhenti. Napas dalam.
Matthias hitungin waktunya.
“30 detik. Bagus. Sekarang buang napas.”
10 menit lewat.
Jeda jadi 4 menit.
Sakitnya makin nendang.
Matthias nggak nunggu lagi.
“Gue ambil tas rumah sakit. Lo ganti baju. Kita berangkat sekarang.”
Evelyn ngangguk.
Tangannya dingin.
Tapi matanya tenang.
Karena Matthias nggak panik.
---
Perjalanan ke RS 20 menit.
Hujan makin deras.
Matthias nyetir pelan, satu tangan pegang tangan Evelyn.
“Takut nggak?” tanya Evelyn pelan.
Matthias ngelirik dia.
“Takut. Tapi lebih takut kalau lo sendirian.”
Evelyn senyum tipis.
“Gue nggak sendirian. Lo ada.”
Sampai di IGD, suster langsung bawa Evelyn ke ruang periksa.
Denyut jantung Relia dicek. 150. Normal.
Pembukaan: 1 cm.
Belum cukup buat melahirkan.
Tapi cukup buat bikin mereka nggak bisa pulang.
“Ini kontraksi asli, Bu. Tapi masih awal.
Kita rawat inap dulu. Kalau pembukaan maju, kita siapin. Kalau berhenti, besok pulang.”
Evelyn ngangguk.
Matthias genggam tangannya lebih erat.
---
Malam pertama di RS itu panjang.
Evelyn nggak bisa tidur.
Kontraksi datang tiap 4-5 menit.
Sakitnya kayak diremas dari dalam.
Matthias duduk di kursi samping ranjang.
Nggak tidur.
Tiap kali Evelyn meringis, dia pijit tangan Evelyn.
“Hitung sama gue. Satu... dua... tiga...”
Jam 3 pagi, Evelyn nangis.
Bukan karena sakit.
Tapi karena capek.
Capek nahan. Capek takut.
Matthias langsung duduk di pinggir ranjang.
Peluk dia pelan.
“Nangis aja, Sayang. Gue ada.
Relia kuat. Lo juga kuat.”
Evelyn nangis di bahunya.
“Gue takut nggak bisa jadi ibu yang baik.”
Matthias usap punggungnya.
“Lo udah jadi ibu yang baik sekarang.
Lihat, lo nahan sakit ini demi dia.”
---
Jam 5 pagi, kontraksi berhenti.
Evelyn akhirnya bisa tidur 1 jam.
Matthias ketiduran di kursi, kepala sandar ke ranjang.
Pagi harinya, dr. Laras cek lagi.
Pembukaan masih 1 cm.
Denyut jantung Relia bagus.
Keputusan: pulang sore, asal nggak ada kontraksi lagi.
Evelyn lega.
Matthias langsung nelpon Nyonya Alina.
“Ma, tenang. Belum waktunya. Tapi kita siap-siap aja.”
Nyonya Alina nangis di telepon.
“Alhamdulillah. Jaga mereka baik-baik ya, Mat.”
---
Siangnya, Evelyn boleh pulang.
Di mobil, dia diem.
Matthias ngeliat dia dari kaca spion.
“Kenapa diem?”
Evelyn senyum kecil.
“Gue baru ngerti...
Ternyata melahirkan itu nggak cuma soal sakit.
Tapi soal ngerti rasanya ditunggu.”
Matthias nggak jawab.
Dia cuma genggam tangan Evelyn pas nyampe rumah.
---
Malam itu, mereka tidur lebih awal.
Evelyn nggak bisa tidur nyenyak.
Tapi Matthias ada di sampingnya.
Tangan di perut.
Siap bangun kapan aja.
Jam 2 pagi, Relia gerak pelan.
Kayak bilang, “Gue masih di sini, Mama. Tunggu bentar lagi ya.”
Evelyn senyum.
Dia bisik ke Matthias:
“Dia bilang dia belum siap keluar.”
Matthias ketawa kecil.
“Bagus. Gue juga belum siap jadi bapak.
Tapi kita belajar bareng ya.”
Evelyn ngangguk.
Tidur di pelukannya.
---
Hari ke-270.
Kontrol kehamilan.
Pembukaan masih 1 cm.
Tapi dokter bilang, “Minggu ini bisa kapan aja.
Siapin tas. Jangan jauh-jauh dari RS.”
Evelyn pulang dengan perasaan campur aduk.
Takut. Senang. Lega.
Matthias lebih pendiam dari biasanya.
Di mobil, dia tiba-tiba ngomong:
“Evelyn.”
“Hmm?”
“Kalau nanti lo sakit banget, gue boleh pegang tangan lo terus kan?”
Evelyn ketawa.
“Boleh. Sampe biru juga boleh.”
Matthias senyum.
“Janji.”
---
Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis di diarynya:
_“Hari ini gue ngerasain kontraksi asli.
Sakit.
Tapi nggak sesakit waktu gue ngerasa sendirian 3 tahun lalu.
Karena sekarang, ada dia yang hitungin napas gue.”_
Dia tutup buku.
Matiin lampu.
Tidur di pelukan Matthias.
Di luar, dunia masih ribut.
Tapi di dalam, mereka udah siap.
Buat apa aja.
Asal bareng.
---
*[Bersambung –