NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Restu Sang Ibu

Kemenangan telak di ruang rapat pleno dewan komisaris tidak hanya membersihkan Alfarezel Group dari sisa-sisa parasit politik, tetapi juga mengukuhkan posisi Anya di puncak hierarki sosial yang baru. Di bawah koridor Menara Alfarezel, ia bukan lagi sekadar karyawan administrasi yang beruntung; ia adalah wanita yang kecerdasannya diakui langsung oleh sang patriark, Kakek Bramanta.

Namun, bagi Anya, kepuasan terbesar bukanlah mundurnya Hendra Wijaya atau rasa hormat yang mendadak ditunjukkan oleh rekan-rekan kerjanya. Kepuasan terbesarnya adalah surat resmi dari pengadilan yang datang tiga hari kemudian: nama baik mendiang ayahnya telah dipulihkan sepenuhnya, dan seluruh catatan kriminal palsu yang dibuat oleh Karina dinyatakan tidak sah demi hukum.

Di dalam ruang kerja CEO sore itu, jendela kaca besar menampilkan pemandangan langit Jakarta yang perlahan berubah jingga. Devan berdiri di balik meja kerjanya, memperhatikan Anya yang sedang menatap surat pengadilan itu dengan mata yang berkaca-kaca.

"Semuanya sudah selesai, Anya," ucap Devan, suaranya melembut saat ia berjalan mendekat dan berdiri di belakang wanita itu, menyandarkan dagunya dengan lembut di pundak Anya. "Keadilan yang tertunda selama sepuluh tahun akhirnya kembali ke tangan keluargamu."

Anya membalikkan tubuhnya, menatap Devan dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki. "Terima kasih, Devan. Aku... aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membalas semua yang sudah kau lakukan."

Devan meraih pinggang Anya, menariknya lembut hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Kau tidak perlu membalas apa pun. Cukup berdiri di sampingku saat kita mengucapkan janji suci bulan depan. Kakek sudah tidak sabar; dia bahkan sudah memesan gedung dan desainer terbaik untuk pernikahan kita."

Mendengar kata 'pernikahan', kebahagiaan di wajah Anya mendadak surut, digantikan oleh gumpalan kecemasan yang baru. "Pernikahan... Devan, ada satu hal yang belum kita selesaikan."

Devan menyipitkan matanya. "Apa itu?"

"Ibuku," bisik Anya lirih. "Beliau baru saja keluar dari rumah sakit di Bandung kemarin sore.

Selama ini, beliau hanya tahu aku bekerja sebagai asisten biasa di sini. Beliau tidak tahu tentang kontrak kita, tentang skandal dengan Karina, atau tentang rencana pernikahan kilat ini. Ibu sangat mengenal sifatku, Devan. Beliau pasti tahu ada yang tidak beres jika aku tiba-tiba menikah dengan seorang konglomerat dalam waktu sesingkat ini."

Devan terdiam sesaat, ekspresinya kembali serius. "Kalau begitu, kita akan menemuinya akhir pekan ini. Aku akan meminta restunya secara langsung sebagai seorang pria, bukan sebagai CEO Alfarezel."

Hari Sabtu tiba dengan cuaca yang cerah namun sejuk di daerah pinggiran Bandung. Sebuah rumah minimalis dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman hias menjadi tujuan Mercedes-Benz hitam milik Devan.

Rumah itu adalah tempat di mana ibu Anya, Ibu Rahayu, menghabiskan masa pemulihannya setelah menjalani operasi besar yang seluruh biayanya diam-diam telah dilunasi oleh Devan melalui asisten Randi beberapa bulan lalu.

Ketika mobil mewah itu berhenti di depan pagar, beberapa tetangga mulai melirik dengan penasaran. Anya turun dengan jantung yang berdegup kencang, diikuti oleh Devan yang mengenakan kemeja kasual rajut berwarna abu-abu tua pakaian yang sengaja ia pilih agar tidak terlalu mengintimidasi ibu Anya.

"Ibu..." panggil Anya saat melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sederhana namun rapi.

Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sebagian mulai memutih dan wajah yang menyiratkan sisa-sisa keletihan fisik bangkit dari sofa. Matanya yang teduh seketika berbinar melihat putrinya. "Anya... anakku," ucap Ibu Rahayu, memeluk Anya dengan erat.

Namun, pelukan itu terlepas ketika pandangan Ibu Rahayu jatuh pada sosok pria tegap yang berdiri di ambang pintu. Aura Devan, meskipun ia telah berusaha tampil sekasual mungkin, tetap tidak bisa menyembunyikan status dan wibawanya yang besar.

"Anya, siapa... siapa anak muda ini?" tanya Ibu Rahayu, suaranya mengandung nada ragu dan selidik.

Devan melangkah maju dengan sopan. Ia membungkuk hormat, lalu meraih tangan Ibu Rahayu untuk mencium punggung tangannya sebuah gestur yang membuat Anya tertegun karena ia tidak pernah melihat seorang Devan Alfarezel merendahkan tubuhnya sedemikian rupa di depan orang lain.

"Selamat siang, Ibu. Nama saya Devan. Devan Alfarezel," ucap Devan dengan suara baritonnya yang mantap namun penuh kelembutan. "Saya adalah atasan Anya di kantor, dan... saya datang ke sini untuk meminta restu Ibu untuk menikahi putri Ibu bulan depan."

Mendengar pengakuan yang begitu tiba-tiba, suasana di ruang tamu langsung membeku. Ibu Rahayu menatap Devan dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu beralih menatap Anya dengan tatapan yang tajam, tatapan seorang ibu yang tahu ketika anaknya sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.

"Menikah?" Ibu Rahayu mengulang kata itu dengan nada berat. Ia kembali duduk di sofa, mengisyaratkan agar Devan dan Anya ikut duduk di hadapannya. "Anya, kau baru bekerja di perusahaan itu beberapa bulan. Dan seingat Ibu, kau tidak pernah bercerita tentang memiliki kekasih, apalagi seorang pria dari keluarga Alfarezel yang namanya sering Ibu lihat di televisi."

Ibu Rahayu menatap Devan dengan tatapan menyelidik yang dalam. "Nak Devan, saya memang orang tua yang sakit-sakitan dan miskin, tapi saya tidak buta. Keluarga Anda adalah pemilik salah satu konglomerasi terbesar di negara ini. Mengapa pria seperti Anda tiba-tiba ingin menikahi anak saya yang hanya seorang gadis biasa dari keluarga yang pernah hancur?"

Anya meremas jemarinya di bawah meja, bersiap untuk berbohong sesuai skenario lama, namun Devan mendahuluinya. Pria itu menatap langsung ke arah mata Ibu Rahayu dengan kejujuran yang murni.

"Ibu, saya tidak akan membohongi Ibu," ucap Devan, membuat Anya menoleh dengan cemas. "Hubungan kami pada awalnya memang dimulai karena sebuah kesepakatan profesional di kantor.

Saya membutuhkan seseorang yang bisa saya percayai di tengah konflik internal keluarga saya, dan Anya membutuhkan bantuan untuk memulihkan nama baik mendiang ayahnya serta biaya pengobatan Ibu."

Ibu Rahayu menarik napas pendek, wajahnya menegang. "Jadi... pernikahan ini hanya settingan? Hanya sandiwara bisnis?"

"Awalnya iya," jawab Devan tanpa ragu, memotong kekhawatiran Ibu Rahayu.

"Tapi itu dulu. Selama beberapa bulan hidup bersama dan menghadapi setiap badai di perusahaan, saya menyadari satu hal. Anya bukan sekadar rekan kerja bagi saya. Kejujurannya, ketangguhannya, dan ketulusannya telah mengubah hidup saya yang tadinya dingin dan penuh dengan kepalsuan.

Saya mencintai putri Ibu bukan karena kontrak, melainkan karena dia adalah satu-satunya wanita yang membuat saya merasa menjadi seorang pria seutuhnya."

Devan perlahan meraih tangan Anya di atas meja, menggenggamnya erat di depan pandangan Ibu Rahayu. "Malam ini, di hadapan Ibu, saya berjanji demi nama saya sendiri, saya akan menjaga Anya dengan taruhan hidup saya.

Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi, dan saya ingin membangun masa depan yang nyata bersamanya. Saya mohon, restuilah kami, Ibu."

Anya tertegun, air mata perlahan mengalir di pipinya mendengar pengakuan Devan yang begitu berani di depan ibunya. Itu bukan lagi skoring akting; itu adalah janji suci yang keluar langsung dari lubuk hati Devan yang paling dalam.

Ibu Rahayu menatap genggaman tangan kedua anak muda di hadapannya. Sebagai seorang wanita yang telah kenyang makan asam garam kehidupan, ia bisa melihat perbedaan antara pria yang sedang bersandiwara dengan pria yang sedang menyerahkan hatinya secara utuh.

Keheningan malam di ruang tamu itu terasa begitu panjang, hingga akhirnya Ibu Rahayu menghela napas panjang dan seulas senyum tipis yang hangat terukir di wajah tuanya.

"Nak Devan..." ucap Ibu Rahayu dengan suara yang bergetar lembut. "Uang dan kekuasaan Anda tidak bisa membeli restu saya.

Tetapi, pandangan mata Anda saat melihat anak saya... itu adalah pandangan seorang pria yang siap melindungi.

Selama sepuluh tahun ini, Anya telah memikul beban yang terlalu berat untuk ukuran gadis seusianya. Jika Anda berjanji untuk menjadi tempatnya bersandar dan berbahagia, maka... saya tidak punya alasan untuk menolak. Saya restui pernikahan kalian."

Anya langsung berhambur ke dalam pelukan ibunya, menangis bahagia karena beban terakhir dalam hatinya kini telah runtuh. Di seberang meja, Devan menatap mereka dengan senyum lega yang teramat sangat sebuah perasaan damai yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!