"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran meriam energi
Udara di pelataran barat Kastil Obsidian terasa seperti bara api yang dihirup paksa ke dalam paru-paru. Asap hitam dari ledakan sebelumnya menyelimuti medan tempur, menciptakan jarak pandang yang buruk—sebuah kondisi yang biasanya merugikan pasukan konvensional, namun bagi Sylus Qinche, ini adalah kanvas sempurna untuk taktik gerilya manusia yang ia bawa dari Bumi.
"Formasi baji! Luke, kau puncaknya!" suara Sylus membedah riuh rendah dentuman meriam.
Luke, sang ksatria raksasa yang kini mengenakan rompi antipeluru di balik jirah peraknya yang retak, meraung kencang. Ia menerjang maju sebagai ujung tombak formasi segitiga yang tajam. Di belakangnya, para ksatria Orde Bayangan bergerak dalam sinkronisasi yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya: bukan lagi menyerbu secara acak dengan keberanian buta, melainkan bergerak dalam kelompok-kelompok kecil yang saling melindungi—sebuah manuver perlindungan silang (cross-cover) yang diajarkan Sylus selama latihan singkat di Jakarta.
Pasukan infanteri faksi pengkhianat yang berjaga di gerbang barat tampak bingung. Mereka terbiasa menghadapi ksatria Aetheria yang akan menantang duel satu lawan satu dengan kehormatan. Namun, pasukan Sylus bergerak seperti hantu. Saat pasukan pengkhianat mencoba meluncurkan panah energi, ksatria Orde Bayangan di sisi kiri akan mengangkat tameng untuk melindungi rekan di sisi kanan, sementara rekan tersebut membalas dengan lemparan belati atau tembakan busur silang ke titik buta lawan.
"Apa yang mereka lakukan?! Mereka tidak bertarung seperti prajurit!" teriak salah satu kapten infanteri musuh saat melihat pasukannya terjebak dalam penyergapan sudut yang mematikan.
Sylus bergerak di tengah kekacauan itu seperti bayangan maut. Ia menggunakan teknik room clearing yang dimodifikasi untuk medan terbuka. Saat melewati pilar-pilar batu yang runtuh, ia tidak langsung menerjang; ia menyisir sudut-sudut tajam, memastikan tidak ada musuh yang bersembunyi sebelum memberikan kode tangan kepada Luke untuk maju. Logika militer Bumi—yang mengutamakan efisiensi gerakan dan minimalisasi risiko—membuat pasukan pengkhianat yang jauh lebih banyak secara jumlah mulai kocar-kacir karena tidak bisa memprediksi arah serangan.
Di atas balkon yang menghadap pelataran barat, tiga moncong meriam energi raksasa milik faksi The Silent Hand terus memuntahkan bola api ungu ke arah jantung kastil. Setiap tembakan membuat getaran yang bisa dirasakan hingga ke dalam sumsum tulang.
"Evelyne, sekarang!" Sylus berteriak sambil memberikan tembakan perlindungan dengan pistol taktisnya ke arah penjaga tangga.
Evelyne, yang dikelilingi oleh lima penyihir Orde yang tersisa, berlari mendaki menara pengintai di sisi kiri meriam. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kantong kulit berisi sisa bubuk kristal Void yang dikumpulkan dari Bumi—sumber energi yang sangat tidak stabil jika bertemu dengan katalis sihir murni Aetheria.
"Fokuskan energi kalian pada inti meriam pertama!" perintah Evelyne. Para penyihir Orde merapalkan mantra sinkronisasi, menciptakan jembatan cahaya ungu yang menghubungkan telapak tangan Evelyne dengan tangki energi meriam musuh.
Evelyne melemparkan bubuk kristal Void ke dalam aliran energi tersebut. Reaksinya instan dan mengerikan. Bubuk dari dunia fana itu bertindak seperti virus bagi sistem sihir Aetheria. Energi meriam yang seharusnya ditembakkan ke luar justru tersedot kembali ke dalam intinya, menciptakan pusaran gravitasi yang terbalik.
BOOOM!!!
Meriam pertama meledak, serpihan besinya menghantam meriam kedua di sampingnya. Ledakan berantai itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan seluruh balkon pertahanan musuh. Asap tebal berwarna lavender membubung tinggi, melumpuhkan lini belakang faksi pengkhianat dan memberikan celah bagi pasukan Sylus untuk merangsek masuk lebih dalam.
Di tengah runtuhnya balkon meriam, sesosok pria raksasa dengan jirah yang terbuat dari lempengan batu granit muncul dari balik kepulan asap. Ia adalah Teragan, salah satu dari tiga komandan utama faksi pengkhianat yang dikenal memiliki sihir elemen tanah tingkat tinggi.
"Silas!" Teragan menggeram, suaranya seperti batu yang bergesekan. "Kau kembali hanya untuk mati sebagai manusia lemah! Lihatlah, tubuhmu bahkan tidak bisa menahan getaran tanahku!"
Teragan menghentakkan kakinya ke lantai batu. Gelombang kejut tanah membuat lantai di bawah kaki Sylus retak dan mencuat tajam. Sylus melompat mundur, berguling di atas beton yang kasar, merasakan perih di lengan manusianya yang tergores. Tanpa keabadian, setiap hantaman ini bisa menjadi akhir baginya.
Teragan tertawa, tangan batunya membentuk tinju raksasa yang dilapisi energi Aether cokelat pekat. "Kau lambat, Panglima!"
Namun, Sylus Qinche tidak sedang mencoba memenangkan adu kekuatan. Ia menggunakan kelincahan fisik puncak yang ia asah di Jakarta. Ia berlari secara melingkar, memanfaatkan puing-pohon jati yang terbawa dari Bumi (dalam bentuk peralatan kayu taktis) sebagai pijakan untuk melakukan manuver parkour cepat.
Setiap kali Teragan menyerang dengan tinju batunya, Sylus menghindar di detik terakhir, membuat Teragan menghantam pilar-pilar bangunannya sendiri. Sylus sedang melakukan pengalihan, memancing Teragan untuk terus mengeluarkan energi besar demi menghancurkan target yang lincah.
"Di sini, batu besar!" ejek Sylus sambil melemparkan sebilah pisau komando kecil ke arah mata Teragan.
Teragan menangkisnya dengan mudah, namun saat itulah ia menyadari bahwa Sylus telah berada di belakangnya, berdiri di atas tumpukan reruntuhan yang lebih tinggi. Sylus melihat celah kecil di tengkuk jirah Teragan—titik di mana lempengan batu tidak menutup sempurna karena kebutuhan mobilitas leher. Sylus melompat dari reruntuhan, mencabut pisau komando berlapis Void miliknya. Dengan berat tubuhnya sendiri dan momentum terjun bebas, ia menancapkan bilah baja hitam itu tepat ke celah tengkuk Teragan.
CRACK!
Energi Void pada pisau itu seketika mematikan aliran sihir yang mengikat jirah batu Teragan. Lempengan-lempengan granit berat itu mendadak rontok, membebani tubuh Teragan sendiri hingga ia jatuh berlutut. Sebelum Teragan sempat membalas, Sylus menghantamkan pangkal pistol taktisnya ke titik saraf di pelipis sang komandan, membuatnya pingsan seketika di tengah reruntuhan zirahnya sendiri.
Sementara itu, di dimensi lain, kesunyian menyelimuti gudang nomor 12 di Pelabuhan Tanjung Priok. Sisa-sisa ritual pembukaan gerbang masih menyisakan bau ozon yang tajam di udara.
Reza berdiri di depan panel kendali yang telah gosong, napasnya mulai teratur. Kepercayaan dirinya perlahan kembali. Ia bukan lagi korban yang gemetar; ia adalah pria yang baru saja membantu menyelamatkan sebuah kerajaan di dimensi lain. Ia mulai membersihkan peralatan, memastikan tidak ada jejak teknologi yang bisa dilacak oleh pihak otoritas.
Namun, saat ia berjalan menuju pintu keluar, Mephisto—yang ternyata meninggalkan sehelai bulu hitam yang berpendar di lantai—mulai bergetar. Reza membungkuk untuk mengambilnya, namun indranya yang kini lebih sensitif terhadap "hal aneh" menangkap sebuah pergerakan di balik tumpukan kontainer gelap di ujung gudang.
Sebuah bayangan bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk seorang manusia.
Reza membeku, tangannya meraba saku jaketnya, menemukan sebuah pisau lipat kecil yang tertinggal. Di sana, di bawah cahaya lampu pelabuhan yang remang, berdiri seorang pria berpakaian kasual namun dengan tato tangan retak yang familiar di lehernya. Seorang agen The Silent Hand yang tidak ikut masuk ke gerbang, tetap tinggal di Jakarta untuk memastikan tidak ada jalan pulang bagi Sylus.
"Permainan belum selesai di dunia ini, Tuan Muda Reza," desis sang pembunuh sambil menarik seutas kawat baja tipis.
Reza tidak lari. Ia menegakkan punggungnya, teringat kata-kata dingin Sylus tentang menjadi berguna. "Gudang ini milikku," ucap Reza, suaranya tidak lagi bergetar. "Dan di duniaku, kaulah yang seharusnya takut."
Konflik sekunder di Bumi baru saja dimulai, tepat saat kemenangan pertama di Aetheria berhasil diraih.
Bersambung