Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Terobosan dan Tekanan
Huang mulai melarutkan perlahan-lahan khasiat Pil Pembentukan Fondasi, memusatkannya ke dantiannya. Energi itu berputar lembut, bercampur dengan energi spiritual yang terus dia serap dari formasi di bawah bantalan kultivasi.
Energi spiritual di dalam tubuhnya terus bergerak mengikuti jalur meridian. Sedikit demi sedikit, kabut energi di dantiannya mulai memadat. Putaran energi menjadi semakin lambat, namun tekanannya semakin berat. Huang mempertahankan napasnya tetap stabil. Wajahnya tenang, meskipun seluruh tubuhnya terasa panas.
Tiga hari kemudian, Huang merasakan perubahan besar di dalam dantiannya. Kabut spiritual yang sebelumnya tersebar kini mulai memadat membentuk fondasi yang kokoh. Energi spiritual di tubuhnya bergetar pelan. Huang membuka sedikit matanya, lalu berbicara dengan suara rendah.
"Terobos."
Dumm!
Energi spiritual di tubuh Huang langsung melonjak. Tekanan spiritual menyebar keluar dari kamar kultivasi. Formasi di lantai menyala terang sesaat sebelum kembali redup. Aliran energi di meridiannya menjadi jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Setelah fluktuasi itu mereda, Huang membuka matanya perlahan. Dia menatap kedua tangannya. Energi spiritual yang mengalir di tubuhnya kini jauh lebih padat dan kuat. Jika sebelumnya energi spiritualnya seperti aliran sungai kecil, kini aliran itu terasa lebih berat dan stabil.
"Ranah Fondasi Tahap Awal..." gumam Huang pelan.
Namun wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan berlebihan. Dia kini berada di Sekte Yunwu bagian dalam. Tempat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan sekte luar. Di tempat ini, Dhu Yan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menekannya tanpa harus bergerak secara terang-terangan.
Huang menyipitkan matanya. "Aku harus memperkuat diriku terlebih dahulu."
Dia segera mengeluarkan seratus batu roh tingkat rendah dari cincin ruangnya. Batu-batu roh itu menumpuk di depannya, memancarkan cahaya spiritual redup. Huang mulai menyerap energi spiritual di dalamnya tanpa ragu.
Wusss...
Energi spiritual mengalir deras ke tubuh Huang. Kecepatan penyerapannya jauh lebih besar dibandingkan saat dia masih berada di Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung. Ditambah lagi, energi spiritual di wilayah sekte bagian dalam memang sangat padat. Kombinasi itu membuat energi spiritual terus masuk ke tubuhnya seperti arus deras.
Hari pertama berlalu dengan cepat. Huang terus memadatkan fondasinya. Dia tidak terburu-buru menaikkan tahap kultivasi. Fondasi yang baru terbentuk harus diperkuat terlebih dahulu. Energi spiritual di dantiannya terus berputar dan memadat.
Waktu terus berlalu.
Enam hari kemudian, Huang membuka matanya perlahan. Dia bisa merasakan fondasinya sudah sangat stabil. Namun dia juga merasakan sesuatu... batas berikutnya sudah dekat.
Di depan Huang, seratus batu roh tingkat rendah telah berubah menjadi debu kusam. Seluruh energinya telah diserap habis.
Huang tidak ragu. Dia mengangkat tangan dan mengeluarkan lima batu roh tingkat menengah dari cincin ruangnya. Cahaya spiritual dari batu roh tingkat menengah jauh lebih pekat dibandingkan batu roh rendah.
"Lima batu roh tingkat menengah tersisa lima belas," gumam Huang pelan.
Dia kembali menutup mata dan mulai menyerap energi spiritual dari batu roh tersebut.
Energi spiritual kali ini jauh lebih liar dan murni. Dantiannya bergetar pelan menerima aliran energi dalam jumlah besar. Huang terus memandu energi itu tanpa berhenti.
Lima hari kemudian...
Pada dini hari, tubuh Huang tiba-tiba bergetar keras. Energi spiritual di sekitarnya tersedot masuk ke tubuhnya dengan cepat.
Dumm!
Fondasi di dalam dantiannya kembali memadat. Energi spiritualnya meningkat beberapa kali lipat dibandingkan sebelumnya. Tekanan dari tubuh Huang menyebar ke seluruh kamar kultivasi.
Huang perlahan membuka matanya.
"Ranah Fondasi Tahap Menengah."
Dia tidak berhenti. Huang kembali bermeditasi untuk memantapkan kultivasinya.
Beberapa jam kemudian, tepat saat fajar mulai menyinari paviliunnya, Huang membuka mata sekali lagi.
Kini kultivasinya benar-benar stabil.
Dalam lima belas hari, dia telah menerobos dari Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung menuju Ranah Fondasi Tahap Menengah. Peningkatan seperti ini sangat jarang terjadi di Sekte Yunwu.
Huang berdiri perlahan lalu merenggangkan tubuhnya. Tulang dan ototnya mengeluarkan suara ringan.
"Ini cukup memuaskan..." ucapnya pelan. "Namun sepertinya tidak mungkin terus naik hanya dengan batu roh. Sumber daya saja tidak cukup. Aku membutuhkan sesuatu lain untuk melunakkan kultivasiku."
Dia berjalan keluar dari kamar kultivasi, lalu membuka pintu depan paviliunnya.
Begitu pintu terbuka, Huang langsung melihat dua sosok berdiri di halaman.
Seorang wanita cantik dengan wajah cemberut sedang bersandar di pohon pinus sambil menatapnya sinis. Di sampingnya berdiri seorang pria muda berjubah biru tua dengan tangan terlipat di dada.
Huang menyipitkan matanya pelan.
Dia bisa merasakan tekanan kultivasi dari keduanya. Ranah Fondasi Tahap Akhir.
Wanita itu mendengus pelan. "Akhirnya kau keluar juga, anak baru."
Pria di sampingnya tersenyum tipis. "Dalam lima belas hari, dari Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung menuju Ranah Fondasi Tahap Menengah..." Dia menggeleng perlahan. "Kecepatan seperti ini hanya akan membuat serigala semakin buas."
Huang menangkupkan kedua tangannya dengan sopan. "Kalau boleh tahu, siapa kedua senior ini?"
Wanita itu berjalan mendekat perlahan. Langkahnya ringan. Saat melewati Huang, aroma harum samar tercium dari tubuhnya. Dia memutari Huang sekali sambil mengamatinya dari atas hingga bawah.
"Nama tidak penting," ucap wanita itu datar. "Yang penting, kami tahu siapa dirimu. Huang... pemenang kompetisi murid luar."
Pria itu juga melangkah mendekat. Tatapannya tajam.
"Sejak kemunculanmu di sekte luar, Dhu Yan terus memperhatikanmu."
Mata Huang sedikit menyipit.
Wanita itu berhenti tepat di depan Huang. "Dan orang yang terlalu diperhatikan Dhu Yan biasanya tidak akan hidup tenang."
Huang tetap tenang. "Senior datang hanya untuk mengatakan hal seperti ini?"
Pria berjubah biru tertawa kecil. "Tentu tidak. Kami datang untuk melihat apakah dirimu benar-benar pantas membuat Dhu Yan begitu terganggu."
Selesai berbicara, pria itu langsung bergerak.
Wush!
Tangannya melesat cepat ke arah bahu Huang. Energi spiritual Ranah Fondasi Tahap Akhir menyelimuti telapak tangannya.
Huang langsung mundur setengah langkah sambil mengangkat tangan menahan.
Buk!
Benturan energi spiritual membuat lantai batu halaman retak tipis.
Huang merasakan lengannya sedikit bergetar. Perbedaan satu tahap kultivasi bukan sesuatu yang kecil. Namun wajahnya tetap tenang.
Wanita itu tersenyum miring. "Lumayan."
Dia ikut bergerak.
Wush!
Pedang gagang hijau tiba-tiba muncul di tangannya, kemudian tanpa ragu menusuk ke arah rusuk Huang.
Huang menghindar cepat ke samping. Pedang peraknya langsung muncul dari cincin ruang.
Trang!
Percikan api keluar saat pedang Huang menangkis pedang wanita itu.
Namun pada saat bersamaan, pria berjubah biru sudah muncul di belakang Huang. Tinju yang diselimuti energi spiritual menghantam punggung Huang.
Bughh!
Tubuh Huang terdorong beberapa langkah ke depan. Darah tipis keluar dari sudut bibirnya.
Wanita itu terkekeh pelan. "Kau memang kuat untuk ukuran murid baru. Tapi terlalu lemah jika dibandingkan murid dalam lama."
Huang menghapus darah di bibirnya dengan punggung tangan. Tatapannya perlahan menjadi dingin.
"Kalian menyerang tanpa alasan..." ucap Huang pelan. "Apa ini perintah Dhu Yan?"
Pria itu menyeringai. "Kalau memang iya, lalu kenapa?"