NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Lorong Putih dan Pilihan Hati

​​Pendar lampu neon di lorong Rumah Sakit Stella Maris Makassar terasa begitu dingin saat Arkan dan Ziva melangkah terburu-buru. Aroma antiseptik yang menyengat seolah memacu adrenalin mereka. Di depan ruang perawatan kelas satu, sosok Pak Wijaya berdiri mematung, menatap pemandangan kota Makassar dari jendela besar di ujung lorong. Ia tidak lagi memegang tongkatnya; tangannya justru terlipat di depan dada, menunjukkan gurat kelelahan yang jarang ia perlihatkan.

​"Papa," panggil Arkan, suaranya parau namun tegas.

​Pak Wijaya berbalik. Matanya yang tajam sempat melirik Ziva yang masih gemetar di samping Arkan, lalu kembali menatap putranya. Tidak ada bentakan, tidak ada ancaman beasiswa yang dihapus seperti yang ia gertakkan di bandara tadi. Ternyata, gertakan itu hanyalah cara terakhir seorang ayah yang ketakutan kehilangan kendali atas masa depan anaknya.

​"Dia sudah stabil," ucap Pak Wijaya rendah. "Operasi ortopedinya berjalan lancar. Tim dokter bilang ayahmu hanya butuh istirahat total selama beberapa bulan ke depan."

​Ziva langsung menghampiri ibunya yang duduk di kursi tunggu. Tangis haru pecah di sana. Ziva mencium tangan mertua Arkan, lalu menatap pintu ruang perawatan dengan pandangan penuh syukur.

​Sisi Lain Sang Penguasa

​Arkan mendekati ayahnya, berdiri bersisian di depan jendela. "Kenapa Papa harus mengancam beasiswa Ziva? Papa tahu itu satu-satunya hal yang dia perjuangkan dengan keringatnya sendiri."

​Pak Wijaya menghela napas panjang, sebuah helaan yang terdengar sangat berat. "Karena aku tidak mau kamu hancur, Arkan. Aku melihatmu melepaskan segalanya di London—magangmu, studimu—hanya karena emosi sesaat. Di dunia bisnis, itu adalah kelemahan fatal."

​"Ini bukan bisnis, Pa. Ini keluarga," balas Arkan tenang.

​Pak Wijaya terdiam cukup lama. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan kembali kartu kredit Arkan yang tadi sempat ia ambil (meskipun Arkan sudah mematahkannya di bandara, ternyata Pak Wijaya menyimpan potongan itu).

​"Papa sudah membayar seluruh biaya rumah sakit ini atas nama pribadiku, bukan perusahaan. Anggap saja ini hadiah pernikahan yang tertunda untuk Ziva," ucap Pak Wijaya tanpa menoleh. "Dan soal beasiswa itu... Papa tidak pernah benar-benar mengirim draf pembatalannya. Papa hanya ingin melihat, seberapa jauh kamu berani bertaruh untuk istrimu."

​Arkan tertegun. Di balik topeng kaku ayahnya, ternyata masih ada sisa-sisa empati yang ia kira sudah hilang ditelan ambisi.

​"Pulanglah ke London setelah ayah Ziva benar-benar pulih," lanjut Pak Wijaya. "Papa akan siapkan jet pribadi agar kalian bisa kembali tepat waktu sebelum ujian semester dimulai. Tapi ingat satu hal, Arkan... kemandirianmu di London dengan uang magang itu, teruskanlah. Papa bangga melihat putra Wijaya tidak lagi bergantung pada kartu kreditnya."

​Reuni Singkat di Balik Pintu

​Ziva masuk ke dalam kamar rawat. Ayahnya sudah sadar, meski wajahnya masih pucat. Sebuah senyum lemah tersungging saat melihat putri satu-satunya ada di sana.

​"Ziva... kok pulang, Nak? Kuliahmu gimana?" suara ayahnya lemah, namun penuh kasih.

​Ziva memegang tangan ayahnya yang kasar, menciumnya berulang kali. "Ziva kangen, Pak. Kuliah bisa nunggu, tapi Bapak nggak bisa."

​Arkan masuk ke ruangan, menyalami mertuanya dengan hormat. "Bapak jangan khawatir soal biaya. Semuanya sudah diurus. Bapak fokus sembuh saja ya."

​Ayah Ziva menatap Arkan, lalu beralih ke Pak Wijaya yang berdiri di ambang pintu. Meskipun mereka berasal dari dunia yang berbeda—seorang pelaut Selayar dan seorang konglomerat Jakarta—tatapan mata mereka bertemu dalam satu pengertian: mereka berdua hanya ingin anak-anak mereka bahagia.

Keikhlasan dari Kejauhan

​Di lobi rumah sakit, Revan melihat Pak Wijaya keluar menuju mobil jemputannya. Revan yang tadinya ingin masuk, mengurungkan niatnya. Ia melihat melalui kaca pintu, Arkan dan Ziva sedang tertawa kecil di samping tempat tidur pasien.

​Revan tersenyum pahit, namun ada rasa lega yang tulus. Ia mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan singkat ke nomor Arkan.

​Revan: "Bokap Ziva udah aman, Ar. Gue cabut balik ke Sydney malam ini. Jaga dia baik-baik. Kalau lo bikin dia nangis lagi, gue nggak akan cuma ngirim pesan kayak gini. Selamat berjuang, Pak Ketos."

​Arkan membaca pesan itu dan melirik ke arah pintu lobi, namun Revan sudah menghilang di kegelapan malam Makassar.

​Malam yang Tenang di Pantai Losari

​Malam itu, Arkan dan Ziva duduk sebentar di teras rumah sakit yang menghadap ke arah Pantai Losari. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma garam yang akrab bagi Ziva.

​"Ar, makasih ya," bisik Ziva sambil menyandarkan kepala di bahu Arkan. "Makasih udah berani lawan Papa lo tadi. Dan makasih juga karena ternyata Papa lo nggak sejahat yang gue pikir."

​Arkan merangkul bahu Ziva, mencium keningnya. "Papa cuma punya cara yang salah buat nunjukin sayangnya, Ziv. Kita semua lagi belajar, kan? Belajar jadi suami, belajar jadi istri, dan Papa lagi belajar jadi orang tua yang lebih baik."

​Di bawah langit Makassar yang bertabur bintang, mereka menyadari bahwa badai kali ini bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memperkuat akar mereka. Mereka siap kembali ke luar negeri, menyelesaikan mimpi masing-masing, dengan keyakinan bahwa sejauh apa pun mereka terbang, mereka punya "rumah" yang selalu siap menyambut mereka pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!