NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Malam Penghakiman

Empat tahun sudah Huang Shen duduk di atas genteng gudang tuanya untuk terakhir kalinya, merasakan angin malam yang sudah hafal bentuk wajahnya. Empat tahun merasakan dingin, lapar, diludahi, dipukuli, dan dianggap tidak ada. Semua itu adalah bahan bakar yang sudah lama tersimpan, menunggu api sang pemantik.

Gerbang di dadanya bergerak perlahan, merespon setiap kenangan yang melintas. Merah emas menyala di balik tulang dadanya.

Malam ini, api itu akan digunakan.

Bukan sekadar membunuh Wang Teng karena membunuh itu mudah. Yang dia inginkan adalah menghancurkan Wang Teng di depan semua orang yang selama ini tunduk padanya. Agar mereka yang tersisa tahu bahwa tidak ada yang benar-benar aman di balik kekuatan yang mereka banggakan.

Adapun rencana kemarin berjalan sempurna. Wang Teng mabuk kemenangan, menjadikannya lengah akan kepuasan. Sedangkan malam ini, kepuasan itu akan menjadi racunnya.

Kediaman Wang Teng di Distrik Utara malam ini berbeda dari biasanya. Cahaya lentera merah menggantung di sepanjang tembok luar, dan dari balik pintu gerbang yang terbuka lebar, suara tawa dan musik mengalir ke jalan seperti air dari bejana yang terlalu penuh.

Di dalam sana, puluhan orang sudah mabuk atau sedang dalam perjalanan ke sana.

Ruang utama dibuka seluruhnya, meja-meja panjang berjejer dengan hidangan yang bahkan namanya tidak pernah didengar para pemulung di Distrik Timur. Guci arak tersebar di setiap sudut. Belasan wanita penghibur berpakaian merah dan emas bergerak di antara tamu, sebagian sudah duduk di pangkuan para kultivator yang terlalu malas berdiri.

“Dengar, kemarin ada bocah pemulung berani-beraninya tantang Tuan Wang!” seloroh seorang tamu berjanggut merah, pipinya sudah semerah hidungnya. “Pemurnian Qi nekat melawan Jiwa Baru. Apa isi kepalanya, arak basi?”

Tawa pun meledak dari meja sekitarnya.

“Kudengar dia dipukul sampai jatuh berlutut,” cibir yang lain, kultivator bertubuh lebar dengan tanda sekte di dadanya. “Satu pukulan. Hanya satu! Anak itu beruntung Tuan Wang masih bermurah hati membiarkannya hidup.”

“Murah hati?” Wang Teng yang duduk di ujung meja kehormatan mengangkat cangkir araknya dengan gaya seorang raja. “Aku hanya tidak mau mengotori tanganku dengan darah sampah. Toh nanti ada juga orang lain yang membersihkan pecundang-pecundang semacam itu.”

Lantas gelak tawa jadi semakin keras.

Di sisi kanan Wang Teng, Mu Qingxue duduk dengan punggung tegak dan senyum yang sudah berlatih berjam-jam di cermin. Pakaian hijaunya rapi, rambutnya disanggul dengan tusuk konde giok warisan mendiang suaminya. Di tangannya ada cangkir arak yang belum menyentuh bibirnya.

“Nyonya Mu tidak minum?” tanya Wang Teng, matanya melirik ke arahnya dengan cara yang membuat kulitnya terasa tidak nyaman.

“Aku tidak terlalu kuat menahan arak, Tuan Wang,” jawab Mu Qingxue berusaha terdengar manis. “Aku tidak ingin memalukan diri sendiri di depan tamu terhormat.”

Wang Teng tertawa puas, seolah penolakan itu adalah pujian. “Wanita bijaksana.”

Di sekitarnya, para tamu terus berbicara tentang hal-hal yang membuat Mu Qingxue harus berusaha keras menjaga ekspresinya tetap datar. Kultivator berjanggut merah membanggakan budak-budaknya di ladang selatan. Yang lain menceritakan dengan bangga bagaimana dia membunuh kepala desa yang berani mengeluh soal pajak berlebih. Seorang wanita penghibur dipaksa melayani seharian penuh tanpa dibayar.

Dengan semua kekejian itu, Mu Qingxue hanya tersenyum dan menghitung waktu.

Tatkala Wang Teng mulai berbicara dengan lebih lambat dan tawanya lebih keras dari sebelumnya, tangannya mulai bergerak ke arah bahu Mu Qingxue, menuruninya dengan liar menuju bagian dada. Sementara wanita itu menahan dorongan untuk berdiri dan memukul wajah jelek pria itu.

Jangan menolak. Besok malam semuanya akan selesai.

Suara itu masih bergema di kepalanya.

Lalu di saat yang sama penerangan utama pun padam.

Tidak ada jendela yang terbuka, tidak ada pintu yang bergerak. Qi di seluruh ruangan seperti disedot oleh sesuatu yang sangat lapar, meninggalkan kegelapan yang benar-benar pekat.

Lantas keributan segera pecah. Gelas jatuh, seseorang bersumpah serapah.

“Siapa yang berani—” hardik Wang Teng.

“Aku.”

Suara dari kegelapan yang entah kenapa menembus semua kebisingan dan membuat satu per satu orang terdiam.

“Liu Han. Kau pernah menendang seorang anak yatim dari tangga sekte hanya karena dia menghalangi jalanmu. Kau ingat?”

Ruangan seakan membeku dalam bisu.

“Zhao Min. Kau pernah merampas semua hasil panen keluarga petani di Distrik Selatan lalu membakar rumahnya karena mereka berani menangis.”

Seseorang di sudut mengeluarkan suara tidak jelas.

“Dan yang terakhir bernama Wang Teng.”

Suara langkah kaki terdengar semakin jelas dari arah yang tidak bisa ditentukan karena kegelapan merata di seluruh ruangan.

“Kau membunuh suami seorang wanita yang tidak pernah menyakitimu. Kau membangun kerajaanmu di atas orang-orang yang tidak punya cara untuk melawan.”

Tentu saja Wang Teng bangkit dari kursinya, Qi Jiwa Baru meledak ke luar, cukup untuk membuat lantai bergetar dan beberapa wanita penghibur menjerit. “Keluarkan dirimu! Pengecut!”

Penerangan berbentuk kristal di atas mereka menyala kembali. Semuanya sekaligus.

Huang Shen berdiri di tengah ruangan.

Bajunya masih sama. Tidak ada jubah sekte, tidak ada senjata terhunus. Matanya merah seperti yang pernah Mu Qingxue lihat di gang gelap itu, tapi kali ini lebih dalam, lebih tenang dan berbahaya.

Dalam satu umpatan Wang Teng menyerang.

Pukulan Jiwa Baru yang cukup untuk merobohkan tembok meluncur ke arah Huang Shen. Tangan kiri Huang Shen terangkat, menangkap pergelangan tangan Wang Teng di udara.

Dan Gerbang mulai menyedot.

Wang Teng merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan dalam hidupnya. Qi-nya, kekuatan yang dibangunnya selama puluhan tahun, mulai mengalir keluar dari tubuhnya seperti air dari bejana yang retak. Dia mencoba menarik kembali, memperkuat sirkulasi dalam tubuhnya, tapi tiap pori-porinya sudah terbuka dan Gerbang itu menyerap lebih cepat dari yang bisa dia tutup.

“Arghh!! Apa ini—” erangnya. Suaranya, yang tadi menggetarkan lantai, sekarang terdengar seperti anak kecil yang kebingungan.

“Ini balasan atas semua perbuatanmu,” tutur Huang Shen begitu datar. “Aku perlihatkan padamu bagaimana dunia menghormati yang kuat, dan menindas yang lemah.”

Cakar Iblis menembus dada Wang Teng sampai merogoh ke bagian paling vital diantara organ dalamnya.

Tulang berderak. Wang Teng terpaksa berlutut sambil melotot sementara Huang Shen tidak berhenti. Dengan tangan kanan yang masih memegang pergelangan Wang Teng, dia menekan telapak kirinya ke dada lelaki itu dan mendorong Qi Gerbang ke dalam, merobek lapisan pelindung dari dalam.

Darah mengalir begitu banyaknya sebelum jantung Wang Teng terlihat oleh semua orang di ruangan itu.

Masih segar dan berdetak.

Huang Shen menatap ruangan satu kali, memastikan semua orang melihat. Lalu meremasnya dengan kuat.

Wang Teng tidak berteriak. Suaranya sudah tidak punya tempat untuk keluar. Dia ambruk ke depan, mata terbuka, mulut menganga, dan tidak ada lagi yang bergerak di dadanya.

Darahnya mengalir ke Gerbang milik Huang Shen seperti sungai ke lautan.

Di dalam tubuh Huang Shen, sesuatu yang sudah lama menunggu di ambang pintu akhirnya melangkah melewatinya. Dia mengalami terobosan jauh.

Pembentukan Dasar: Tahap Pertama.

Adapun seorang tamu di sudut muntah. Yang lain pingsan di kursinya. Kultivator berjanggut merah yang tadi tertawa paling keras sekarang bersandar ke dinding dengan wajah yang kehilangan semua warnanya.

Huang Shen berdiri, memandang mereka satu per satu.

“Aku tidak datang untuk membunuh kalian semua malam ini,” desisnya. “Tapi aku akan ingat setiap wajah yang ada di sini.”

Dia berjalan ke pintu tanpa ada yang menghalangi.

Setelah kejadian itu, Mu Qingxue kembali ke Paviliun Qingxue dengan langkah yang masih membawa getaran malam itu di setiap sendinya. Tangannya dingin dan napasnya belum sepenuhnya normal saat dia mendorong pintu masuk.

Lampu minyak menyala di ruang tamu.

Huang Shen duduk di kursi kayu dekat jendela, kain putih di tangannya, menyeka darah yang sudah hampir kering. Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan rutin.

“K-kau sudah di sini?” cetus Mu Qingxue, lebih kepada dirinya sendiri.

“Sudah dari tadi.”

Dia duduk di kursi seberang. Jarak antara mereka cukup untuk sebuah meja kecil dan satu pertanyaan besar yang belum berani dia ucapkan.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya.”

Mu Qingxue menghembuskan napas panjang. “Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Dendamku belum selesai.” Huang Shen melipat kain putih yang sudah merah itu. “Masih ada Liu Kun. Wang Bao. Zhang Wei. Dan Sekte Iblis Hitam.”

Nama terakhir itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Lebih pelan dan berat.

Sementara Mu Qingxue menatap tangannya sendiri di atas lutut. “Sejujurnya… aku ingin membalas budi. Uang, tempat tinggal, koneksi pedagang, apa pun yang kumiliki… .”

“Tidak perlu.”

“Tapi—”

“Aku tidak butuh balas budi,” tandas Huang Shen. Dia berdiri. Meraih jaketnya yang tergantung di sandaran kursi.

“Jangan pergi.”

Suaranya tidak keras. Justru karena itu Huang Shen berhenti.

Mu Qingxue berdiri, melangkah maju, dan memegang tangannya dengan kedua telapak tangannya sendiri. Matanya tidak menunduk. “Aku akan melakukan apa pun. Apapun yang kau minta. Hanya jangan pergi begitu saja seperti aku tidak pernah ada. Aku tidak suka berhutang pada siapapun.”

Membisu beberapa saat sebelum Huang Shen menarik napas perlahan. “Kalau begitu rawat aku,” ucapnya. “Beri aku rumah. Sampai aku benar-benar siap.”

Mu Qingxue menatapnya. “’Siap’ untuk apa?”

Huang Shen tidak menjawab dan Mu Qingxue memilih untuk mengangguk. Dia tidak perlu mengerti semua jawabannya malam ini.

“Baik,” pungkasnya, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, senyumnya tidak dipaksakan.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
DanaBrekker: Memang di novel ini sengaja aku buat bertahap penjelasan kultivasinya, mengikuti perjalanan Huang Shen 😄

Tapi kalau mau lihat urutan lengkapnya bisa lihat di bawah ini ;

1. Pemurnian Qi
2. Pembentukan Dasar
3. Inti Emas
4. Jiwa Baru
5. Pembentuk Jiwa
6. Transformasi Jiwa
7. Manusia Abadi
8. Emas Keabadian
9. Keabadian Agung
10. Dewa Purba
11. Puncak Keabadian

Huang Shen saat ini di Inti Emas level 8. Terima kasih atas pertanyaannya. 👍
total 1 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!