NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PERSIDANGAN BERDARAH

Hujan deras mengguyur Jakarta, seolah langit pun ingin mencuci dosa-dosa yang tertanam di aspal kota ini. Mobil SUV hitam yang membawa Saga melaju membelah kegelapan menuju Rumah Sakit Pengayoman, tempat Aris ditahan dalam sel isolasi medis yang dijaga ketat. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Saga menatap pantulan wajahnya di kaca jendela—pucat, namun matanya memancarkan ketenangan yang mematikan.

Sakti yang mengemudi sesekali melirik spion tengah. "Nona, ini bisa jadi jebakan. Aris adalah ular yang terluka. Ular yang terluka seringkali paling berbisa saat mereka merasa terpojok."

"Aku tahu, Sakti," jawab Saga pelan. "Tapi Aris juga seorang narsis. Dia tidak akan membiarkan dirinya hancur sendirian sementara ibunya, Agatha, tetap memegang kendali atas Dewan Waskita. Dia merasa dikhianati karena Agatha tidak menjemputnya dari sel ini. Dendam seorang anak yang dibuang adalah senjata paling tajam yang bisa kita gunakan."

Mereka sampai di fasilitas tersebut. Aroma karbol dan besi yang dingin menyambut Saga saat ia turun dari mobil. Dengan bantuan tongkat penyangganya, ia melangkah menyusuri lorong yang remang-remang, melewati beberapa lapis pintu baja hingga sampai di sebuah ruangan berkaca tebal.

Di balik kaca itu, Aris duduk di kursi roda. Bahunya masih dibebat, wajahnya tirus, dan matanya cekung. Tidak ada lagi jejak pemuda jenius yang angkuh; yang tersisa hanyalah bayangan pria yang hancur oleh ambisinya sendiri.

Saga duduk di kursi yang disediakan, memegang gagang telepon komunikasi. Aris mengangkat teleponnya di sisi lain.

"Kamu datang juga, Kakak," suara Aris terdengar serak, ada nada ejekan yang dipaksakan. "Aku pikir kamu terlalu sibuk menjadi 'Santa Claus' dengan yayasan barumu itu."

"Jangan membuang waktuku, Aris," Saga memotong dingin. "Sakti bilang kamu punya sesuatu tentang Agatha. Katakan, atau aku pergi sekarang."

Aris tertawa kecil, yang kemudian berubah menjadi batuk kering yang menyakitkan. "Agatha... dia selalu bilang aku adalah mahakaryanya. Tapi dia bohong. Aku hanyalah asuransi. Dia menyimpanku untuk memeras anggota Dewan Waskita jika suatu saat mereka mencoba mendepaknya."

Aris mendekatkan wajahnya ke kaca, suaranya merendah. "Kamu tahu kenapa Romo Waskita datang ke kantormu kemarin? Bukan karena dia peduli pada Agatha. Tapi karena Agatha memegang hard drive fisik berisi rekaman pertemuan 'Meja Bundar' tahun 2016. Di sana, mereka merencanakan pembunuhan Wirya Janardana dan bagaimana cara mencuci uang hasil proyek infrastruktur nasional."

Saga menegang. "Di mana hard drive itu?"

"Agatha tidak membawanya. Dia menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah disangka oleh siapa pun. Bukan di bank, bukan di awan digital," Aris menyeringai tipis. "Dia menyembunyikannya di dalam peti mati ibumu, Ratna, yang sudah dipindahkan secara diam-diam sebulan sebelum rumah Bogor terbakar."

Saga merasa dunianya berputar. Kemarahan yang luar biasa membuncah di dadanya. Agatha telah menodai peristirahatan terakhir ibunya untuk menyimpan bukti kejahatannya.

"Kenapa kamu memberitahuku ini sekarang?" tanya Saga, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.

"Karena Agatha berjanji akan mengeluarkan aku dari sini dalam tiga hari. Tapi tadi pagi, aku mendengar lewat radio panggil sipir bahwa pengacaranya hanya mengajukan pembelaan untuk Agatha sendiri. Dia membiarkanku membusuk di sini sebagai kambing hitam," mata Aris berkilat penuh kebencian. "Jika aku hancur, dia harus hancur lebih hebat dariku. Ambil hard drive itu, Saga. Hancurkan dia di persidangan besok. Tunjukkan pada dunia bahwa Ratu Waskita adalah iblis sejati."

Saga menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berbalik dan berjalan keluar dengan langkah yang terburu-buru, mengabaikan rasa sakit di bahunya.

"Sakti! Kita harus ke pemakaman keluarga di Bogor. Sekarang!"

"Tapi Nona, ini sudah tengah malam dan badai sedang terjadi—"

"Sekarang, Sakti!"

Perjalanan ke Bogor terasa seperti selamanya. Di tengah guyuran hujan badai, mereka sampai di pemakaman yang kini tampak angker. Sakti dan dua orang pengawalnya membawa peralatan penggali. Mereka menuju makam Ratna Pratiwi yang baru.

Di bawah guyuran hujan yang membutakan, mereka mulai menggali. Tanah yang basah dan berat membuat pekerjaan itu memakan waktu lama. Saga berdiri di bawah payung hitam, memandangi nisan ibunya dengan hati yang hancur. "Maafkan aku, Ibu... aku harus melakukan ini agar namamu benar-benar bersih."

Setelah menggali cukup dalam, peti mati itu terlihat. Sakti membuka bagian sudut atas peti dengan hati-hati. Di sana, terbungkus plastik kedap air yang diselipkan di antara lapisan kain dalam peti, terdapat sebuah kotak baja kecil berlogo Waskita.

Saga mengambilnya dengan tangan gemetar. Ia membukanya dan menemukan sebuah hard drive militer berwarna hitam. Inilah "bom" yang akan meledakkan seluruh kekaisaran Waskita.

Keesokan paginya, suasana di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyerupai medan perang. Ratusan wartawan berdesakan dengan demonstran bayaran Agatha. Polisi anti-huru-hara membentuk barisan pagar betis untuk memberikan jalan bagi mobil tahanan.

Agatha Waskita keluar dari mobil tahanan dengan tangan terborgol, namun ia masih mengenakan setelan jas putih yang rapi dan kacamata hitam. Ia berjalan dengan angkuh, seolah ia sedang menuju podium penghargaan, bukan kursi pesakitan.

Di dalam ruang sidang yang penuh sesak, Saga duduk di baris terdepan, didampingi oleh Yudhistira dan Sakti. Saat Agatha masuk, matanya bertemu dengan mata Saga. Agatha tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang seolah berkata, "Kamu tidak punya apa-apa untuk mengalahkanku."

Sidang dimulai dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum. Namun, di tengah persidangan, kuasa hukum Agatha, seorang pengacara kondang yang dikenal licin, mengajukan keberatan.

"Yang Mulia, semua bukti yang diajukan oleh Saudari Saga Anindita adalah bukti digital yang bisa direkayasa. Klien kami adalah korban dari konspirasi perebutan aset perusahaan yang sah," ujar sang pengacara dengan lantang.

Hakim ketua menoleh ke arah Saga. "Saudari Saksi Mahkota, apakah Anda memiliki bukti tambahan yang lebih konkrit daripada sekadar catatan digital?"

Saga berdiri perlahan, memegang tongkatnya. Ia melangkah menuju kursi saksi. Suasana ruang sidang mendadak sunyi senyap. Semua kamera menyorot ke arahnya.

"Saya memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar catatan digital, Yang Mulia," ujar Saga dengan suara yang jernih dan berwibawa. "Saya memiliki rekaman langsung dari 'Meja Bundar' Dewan Waskita. Rekaman yang menjelaskan secara rinci bagaimana Agatha Waskita memerintahkan pembunuhan terhadap Wirya Janardana dan bagaimana ia memalsukan seluruh sejarah keluarganya untuk menguasai ekonomi negara ini."

Wajah Agatha mendadak pucat. Ia mencoba tetap tenang, namun jemarinya yang memegang pulpen mulai bergetar.

"Keberatan! Dari mana saksi mendapatkan bukti tersebut?" teriak pengacara Agatha.

"Saya mendapatkannya dari tempat yang paling suci bagi saya, yang telah dinodai oleh klien Anda," jawab Saga, ia menoleh ke arah Agatha dengan tatapan menghunus. "Dari dalam peti mati ibu saya."

Gumam kaget memenuhi ruangan. Hakim mengetuk palunya berkali-kali untuk menenangkan suasana.

Saga menyerahkan hard drive itu kepada petugas pengadilan. Tim ahli IT pengadilan segera menghubungkannya ke sistem proyektor ruang sidang. Sebuah video hitam-putih muncul di layar besar.

Di sana terlihat Agatha muda duduk bersama Romo Waskita dan beberapa pria berseragam militer.

"Wirya mulai banyak tanya tentang aliran dana dari Bank Sentral ke rekening yayasan kita," suara Agatha dalam rekaman itu terdengar sangat dingin. "Dia sudah tidak bisa dikendalikan. Buat seolah-olah itu kecelakaan atau bunuh diri karena depresi bisnis. Pastikan istrinya, Ratna, dibuat gila agar dia tidak bisa bersaksi. Anak mereka? Biarkan dia hidup, dia akan menjadi pion yang bagus untuk mengikat Janardana ke dalam silsilah kita."

Ruang sidang meledak dalam kekacauan. Wartawan mulai memotret dengan gila-gilaan. Agatha berdiri dari kursinya, wajahnya merah padam karena amarah dan ketakutan.

"ITU REKAYASA! ITU PALSU!" teriak Agatha histeris.

"Itu adalah suaramu, Agatha," ujar Saga tenang. "Dan di dalam sana juga terdapat sidik jari digitalmu yang tidak bisa dihapus."

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar ruang sidang. Duar! Duar!

Panik melanda. Orang-orang merunduk di bawah kursi. Sakti segera menerjang maju untuk melindungi Saga, menjatuhkannya ke lantai di belakang meja saksi.

"NONA, TIARAP!"

Sekelompok pria bersenjata dengan masker hitam menyerbu masuk ke dalam ruang sidang melalui jendela samping. Mereka bukan polisi, mereka adalah tim pembersih Dewan Waskita yang dikirim oleh Romo untuk memusnahkan semua bukti—dan semua orang yang mengetahuinya.

"Ambil hard drive-nya! Bunuh saksinya!" teriak salah satu penyerbu.

Sakti membalas tembakan dengan pistol yang ia sembunyikan di balik jasnya. Baku tembak pecah di dalam ruang suci keadilan tersebut. Saga merangkak di lantai, mencoba menyelamatkan laptop pengadilan yang berisi data tadi, sementara debu dari dinding yang terkena peluru memenuhi udara.

Di tengah kekacauan itu, Saga melihat Agatha mencoba melarikan diri melalui pintu belakang hakim, dipandu oleh salah satu pengawal bayarannya.

"Sakti! Jangan biarkan dia pergi!" teriak Saga.

Sakti melepaskan tembakan yang mengenai bahu pengawal Agatha, namun Agatha berhasil masuk ke lorong belakang. Saga, dengan sisa tenaganya, bangkit dan mengejar Agatha. Ia tidak mempedulikan peluru yang berseliweran di sekitarnya. Dendam sepuluh tahun ini memberinya kekuatan yang tidak masuk akal.

Ia sampai di lorong belakang pengadilan. Agatha sedang mencoba membuka pintu keluar darurat yang terkunci.

"Sudah berakhir, Agatha!" teriak Saga.

Agatha berbalik, wajahnya yang tadinya cantik kini tampak seperti monster yang terpojok. Ia mengeluarkan pisau kecil dari balik jasnya. "Kamu seharusnya mati bersama ibumu, Sasmita! Kamu telah menghancurkan segalanya!"

"Bukan aku yang menghancurkannya, Agatha. Keserakahanmu sendiri yang melakukannya," Saga melangkah maju, memegang tongkatnya sebagai senjata.

Mereka bergelut di lorong sempit itu. Agatha menyerang dengan liar, namun Saga berhasil menangkisnya. Ia memukul pergelangan tangan Agatha dengan tongkatnya hingga pisau itu terlepas. Saga kemudian mendorong Agatha ke dinding dan menekan tongkatnya ke leher Agatha.

"Berikan aku satu alasan kenapa aku tidak harus membunuhmu sekarang," desis Saga.

Agatha terengah-engah, matanya membelalak ketakutan. "Karena... karena jika aku mati... kamu tidak akan pernah tahu di mana ayahmu yang sebenarnya dikuburkan. Wirya bukan ayahmu, dan Hendra juga bukan. Ayahmu masih hidup, Sasmita... dan dia adalah alasan kenapa Dewan Waskita ingin kamu mati."

Saga tertegun. Tekanannya pada leher Agatha sedikit mengendur. "Apa maksudmu?"

Sebelum Agatha bisa menjawab, suara ledakan kecil terdengar dari arah ruang sidang utama, diikuti oleh teriakan polisi yang mulai menguasai keadaan. Tim taktis Brimob menyerbu lorong tersebut.

"ANGKAT TANGAN! JANGAN BERGERAK!"

Polisi meringkus Agatha dan menyeretnya kembali ke ruang sidang. Saga berdiri terpaku di lorong itu, jantungnya berdegup kencang. Kata-kata Agatha berputar-putar di kepalanya seperti badai.

Ayahnya masih hidup? Wirya dan Hendra bukan ayah biologisnya?

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!