NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Kehormatan sering kali disalahartikan sebagai sesuatu yang turun dari langit bersama garis keturunan, terbungkus dalam jubah sutra dan disahkan oleh stempel lilin merah. Padahal, kehormatan yang paling murni justru tumbuh dari butiran keringat yang jatuh di atas kayu mentah, atau pada getaran jemari yang berusaha menaklukkan kerasnya baja demi menciptakan sebuah bentuk. Arlo merasakannya pagi ini, saat ia berdiri di depan pintu Galangan D yang besar, tempat di mana aroma kayu cedar yang harum bertarung dengan bau amis laut yang pekat. Empat keping koin perunggu yang tersisa di sakunya terasa lebih hangat dari biasanya, seolah-olah logam itu memiliki detak jantungnya sendiri setelah ia menukarkan keping kelima untuk seutas tali rambut biru semalam.

Arlo menatap telapak tangannya yang kini tidak lagi dibalut perban. Minyak kayu putih dari Jono semalam benar-benar bekerja secara brutal; kulitnya terasa kaku dan kering, namun tidak lagi berdenyut perih saat ia mengepalkan jemari. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan posisi kerah kemeja katunnya yang sudah mulai menipis di bagian pundak. Di depannya, kesibukan Galangan D tampak jauh lebih tenang dibandingkan kegaduhan di bagian pemotongan kayu kemarin. Di sini, suara yang mendominasi bukan lagi dentuman balok jatuh, melainkan suara ketukan palu kayu yang presisi dan desis halus serutan kayu yang jatuh ke lantai.

Ia melangkah masuk, menyusuri jalan setapak di antara tumpukan kayu-kayu halus yang sudah dibentuk menjadi kerangka haluan kapal. Matanya mencari sosok Mandor Silas. Ia menemukan pria itu sedang berdiri di dekat sebuah meja panjang, menatap sebuah cetakan tanah liat berbentuk singa laut—lambang yang akan dipasang di hidung kapal patroli baru Solandis.

"Nomor 84," Silas bersuara tanpa menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepalanya. "Kau datang lebih awal. Bagus. Setidaknya kau punya gairah untuk tidak kelaparan."

Arlo berdiri di samping meja itu, tangannya secara otomatis ia simpan di belakang punggung—sebuah sisa kebiasaan dari protokol istana yang belum sepenuhnya luntur. "Pekerjaan apa yang harus saya lakukan hari ini, Mandor?"

Silas menunjuk ke arah tumpukan kayu oak pendek di sudut meja. "Para pemahat inti sedang fokus pada bagian ukiran utama. Tugasmu adalah melakukan pengasaran awal. Ikuti pola garis yang sudah kubuat di kayu itu dengan pahat lebar. Jangan terlalu dalam, jangan terlalu dangkal. Jika kau merusak seratnya, satu hari upahmu akan kupotong untuk mengganti bahan."

Arlo mengambil sebilah pahat baja dengan gagang kayu yang sudah menghitam karena sering dipakai. Berat alat itu terasa pas di tangannya. Ia juga mengambil palu kayu kecil, lalu berjalan menuju balok oak pertamanya. Ia meletakkan ujung pahat di atas garis arang yang sudah digambar Silas. Arlo menarik napas, memantapkan kuda-kudanya, dan memberikan ketukan pertama.

Tak.

Serpihan kayu oak yang keras terlempar, mengenai pipi Arlo. Ia tidak berkedip. Ia fokus pada tekstur kayu itu. Oak berbeda dengan jati; ia lebih padat dan seratnya lebih sulit ditebak. Arlo mulai memberikan ketukan-ketukan berikutnya secara berirama. Ia mencoba mengingat setiap gerakan tangan Kalea saat gadis itu membersihkan ukiran di Aethelgard. Ternyata, melihat dan melakukan adalah dua kutub yang sangat jauh berbeda. Setelah sepuluh menit, otot lengannya mulai terasa panas, bukan karena berat beban, melainkan karena keharusan menjaga presisi setiap gerakan.

Matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah atap galangan, menyinari debu kayu yang berterbangan seperti serbuk emas. Arlo menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju, matanya tetap terpaku pada kayu di depannya. Ia baru menyadari bahwa dalam pekerjaan ini, pikiran tidak boleh melayang ke mana pun. Satu detik saja ia memikirkan Helena atau ayahnya, pahatnya bisa meleset dan merusak kayu itu. Ini adalah meditasi yang melelahkan, sebuah cara untuk memaksa otaknya berhenti meratap dan mulai menciptakan.

"Terlalu kaku," sebuah suara berat terdengar dari samping.

Arlo menghentikan gerakannya. Seorang pria tua dengan kacamata tebal yang diikat tali kulit berdiri di sana. Ia memegang sebuah kikir kecil. Ini adalah Master Bram, pemahat kepala di Galangan D yang disegani bahkan oleh Silas.

Bram mengambil pahat dari tangan Arlo. "Kau memukul seolah-olah sedang menghukum kayu itu. Kayu ini punya perasaan, Nak. Kau harus mendengarkan suaranya. Lihat arah seratnya. Jika kau melawannya, dia akan pecah di ujung."

Bram mendemonstrasikan satu ketukan yang sangat lembut namun bertenaga. Kayu itu terkelupas dengan sangat rapi, mengikuti garis arang tanpa ada cacat sedikit pun. Arlo memperhatikan dengan saksama, merekam setiap detail gerakan pergelangan tangan Bram.

"Coba lagi," Bram menyerahkan kembali alatnya.

Arlo mencoba mengikuti saran itu. Ia sedikit merilekskan bahunya, membiarkan palunya jatuh dengan berat alaminya sendiri tanpa perlu ditekan secara paksa. Hasilnya berbeda. Suara ketukannya berubah menjadi lebih dalam, dan kayu yang terangkat tampak lebih mulus. Bram mengangguk kecil sebelum berlalu menuju bagian ukiran yang lebih rumit.

Waktu seolah hilang dalam setiap serutan kayu. Arlo tidak lagi merasakan lapar atau haus. Ia hanya merasakan hubungan antara tangannya, baja pahat, dan serat oak. Di istana, ia selalu merasa waktu adalah musuh yang mengejarnya dari satu agenda ke agenda lain. Di sini, waktu adalah teman yang memberinya ruang untuk menyempurnakan sebuah garis.

Saat jam istirahat tiba, Arlo duduk di pinggir dermaga galangan, kakinya menjuntai di atas air laut yang hijau tua. Ia mengeluarkan bekal roti gandum yang dibungkus kain oleh Kalea tadi pagi. Roti itu sudah agak keras, namun saat ia mengunyahnya, rasanya jauh lebih nikmat daripada jamuan daging rusa di perjamuan perburuan. Ia menatap telapak tangannya. Serpihan kayu halus masuk ke sela-sela kuku dan pori-pori kulitnya. Arlo tersenyum kecil. Noda kayu ini jauh lebih terhormat daripada noda tinta di jarinya saat menandatangani dokumen pajak yang mencekik rakyat.

"Kau belajar dengan cepat, pangeran pelarian."

Jono muncul dengan ember catnya, duduk di samping Arlo. Pria tua itu tampak selalu tahu di mana Arlo berada. Ia memberikan sebotol air dingin pada Arlo.

"Master Bram bilang kau punya tangan yang sabar," lanjut Jono. "Itu jarang ditemukan pada anak muda yang biasa hidup senang. Kebanyakan dari mereka ingin cepat selesai dan segera mendapatkan koin."

Arlo meneguk air itu dengan rakus. "Aku punya alasan untuk bersabar, Jono. Aku sedang membangun sesuatu yang nyata, bukan hanya sekadar menyelesaikan tugas."

Jono melirik ke arah tangan Arlo yang dipenuhi debu kayu. "Kalea pasti senang melihatmu tidak lagi terlihat seperti manekin toko baju. Gadis itu... dia bekerja sangat keras di bengkel kursi. Kudengar dia menyelesaikan pesanan hotel dalam waktu rekor semalam."

Mendengar nama Kalea, Arlo merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Ia teringat bagaimana tali rambut biru itu melingkar indah di rambut Kalea tadi pagi. Hadiah kecil itu seolah menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya Solandis, ada sebuah rasa yang patut dijaga.

Pekerjaan sore hari terasa lebih menantang. Silas memberikan balok kayu kedua dengan pola yang lebih melengkung. Arlo harus menggunakan pahat yang lebih kecil dan melengkung pula. Tantangannya adalah menjaga konsistensi kedalaman ukiran agar saat diamplas nanti, permukaannya rata. Arlo berkali-kali harus menghentikan napasnya saat bagian-bagian sulit, memastikan tangannya tidak bergetar sedikit pun.

Saat matahari mulai terbenam, mewarnai langit Solandis dengan warna jingga yang dramatis, Arlo menyelesaikan tiga balok pengasaran. Tubuhnya pegal, pinggangnya terasa kaku karena terus membungkuk, namun ia berdiri dengan perasaan bangga. Ia membersihkan meja kerjanya dengan sapu lidi, mengumpulkan serpihan kayu oak yang jatuh.

Silas datang memeriksa. Ia membawa penggaris kayu, mengukur presisi pekerjaan Arlo. "Tidak buruk. Garismu bersih. Kau punya bakat untuk menjadi lebih dari sekadar pembantu galangan jika kau terus konsisten."

Silas meletakkan enam keping koin perunggu di meja Arlo. "Dua koin tambahan karena Master Bram terkesan dengan kesabaranmu. Jangan kau habiskan untuk berjudi di pelabuhan."

Enam koin perunggu.

Arlo menggenggam koin-koin itu. Beratnya terasa nyata. Ia berjalan keluar dari galangan dengan langkah yang lebih mantap. Solandis di waktu senja tampak begitu hidup; lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di sepanjang dermaga, menciptakan pantulan cahaya yang menari di permukaan air. Ia melewati pasar lagi, namun kali ini ia tidak berhenti untuk membeli barang. Ia ingin segera sampai di penginapan.

Sesampainya di kamar, Arlo menemukan suasana yang berbeda. Pak Elara sudah duduk di kursi dekat jendela, menatap ke arah pelabuhan dengan wajah yang terlihat lebih segar. Kalea sedang berada di meja, sedang mengoleskan cat dasar pada sebuah kotak kayu kecil pesanan khusus.

Arlo meletakkan enam koin perunggu itu di atas meja dengan bunyi klotak yang menyenangkan. "Enam koin hari ini, Kalea. Master Bram memberiku bonus."

Kalea berhenti mengecat. Ia menatap koin-koin itu, lalu menatap Arlo yang wajahnya dipenuhi serpihan kayu halus. Ia tersenyum—senyum yang membuat Arlo merasa seluruh kelelahannya hilang seketika. "Master Bram? Kau bertemu dengan pemahat legendaris itu?"

"Dia yang mengajariku cara mendengarkan suara kayu," jawab Arlo sambil duduk di lantai di dekat Kalea.

Kalea mengambil handuk basah, seperti ritual mereka setiap malam, dan mulai menyeka wajah Arlo. "Kau benar-benar beruntung. Orang-orang membayar mahal hanya untuk bisa melihat Bram bekerja, dan kau malah dibayar untuk diajari olehnya."

Kalea menyentuh alis Arlo, membersihkan serpihan kayu yang tersangkut di sana. "Besok, ayah ingin mencoba berjalan ke dermaga sebentar. Dia bilang dia merindukan bau laut tanpa harus melihatnya dari balik jendela."

"Aku akan membantunya besok sore setelah pulang kerja," janji Arlo. Ia menatap tangan Kalea yang masih memegang handuk. Tangan itu kini berbau minyak cat, namun bagi Arlo, itu adalah wangi yang paling indah.

Arlo meraba saku kemejanya, memastikan koin-koin itu aman. Ia menyadari satu hal; di Aethelgard, ia tidak pernah tahu apa itu rasa syukur yang sesungguhnya. Ia hanya tahu rasa memiliki karena hak waris. Di sini, setiap keping perunggu adalah doa yang terjawab, dan setiap noda kayu adalah bukti bahwa ia sedang berjuang untuk masa depan yang ia pilih sendiri.

"Kau tahu, Kalea..." bisik Arlo saat gadis itu masih sibuk membersihkan lehernya. "Aku baru menyadari bahwa mahkota emas itu benar-benar tidak ada harganya dibandingkan dengan rasa bangga saat Silas memberiku koin-koin ini."

Kalea menatap mata biru Arlo, jarak mereka sangat dekat hingga Arlo bisa melihat pantulan cahaya lampu minyak di iris mata cokelat Kalea. "Itu karena koin ini tidak punya hutang darah atau kebohongan di dalamnya, Arlo. Ini murni milikmu."

Kalea tiba-tiba mencium dahi Arlo—sebuah kecupan singkat yang penuh dengan penghargaan. Arlo terpaku, jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik. Itu adalah bentuk pengakuan yang jauh lebih agung daripada pelantikan raja mana pun.

"Makanlah supmu. Aku membelikan ikan segar hari ini dari koinmu kemarin," ucap Kalea sambil berbalik kembali ke pekerjaannya, mencoba menyembunyikan pipinya yang memerah.

Malam itu, Arlo tidur dengan perasaan yang sangat penuh. Ia tahu besok ia akan menghadapi kayu yang lebih keras. Ia tahu tangannya akan semakin kapalan. Ia tahu hidup di Solandis akan tetap penuh tantangan. Namun di balik semua itu, ia merasa sangat merdeka.

Ia bukan lagi "Satu Menit Sebelum Mahkota". Ia adalah Arlo, sang asisten pemahat di Galangan D, yang sedang belajar memahat takdirnya sendiri bersama gadis tukang cat yang ia cintai.

Retakan itu kini telah menjadi ukiran yang indah di dalam jiwanya. Dan Arlo Valerius siap untuk terus memahatnya, satu ketukan pahat demi satu ketukan pahat, sampai seluruh kebohongan masa lalunya benar-benar hilang dan menyisakan sebuah kenyataan yang abadi.

Di luar jendela, Solandis tetap berbisik dengan nyanyian pelaut dan suara ombak, seolah-olah sedang ikut merayakan kelahiran kembali seorang pria yang baru saja menemukan harga dirinya di antara serpihan kayu oak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!