Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Menyesal
Zara tertawa pelan saat mengingat apa yang ia lakukan pada michele dan teman teman nya tadi, ia tak pernah merasa sepuas ini sebelumnya.
Sore ini ia berjalan sendiri sepulang sekolah, tak ada yang aneh sebelum ia melihat bayangan seseorang di depan sana.
Zara mendengus malas, Leon lagi, apa yang sebenarnya pemuda itu inginkan?
Zara berbalik arah untuk menghindarinya, namun Leon tampak mengejar dan menghadang jalan nya.
"Zara!" Panggilnya kuat.
Zara menatap malas saat Leon berada di depan nya, pemuda itu terlihat berantakan seperti biasa.
"Gue manggil lo, budeg apa?" Sarkasnya.
"Gue gak budeg, cuma gue gak mau berurusan sama modelan jamet kaya lo! minggir!" Zara mendorong Leon untuk menyingkir dari jalan nya, namun Leon kembali menghadang.
"Siapa yang lo panggil jamet, gini gini banyak yang suka sama gue! mantan kapten futsall, mantan kandidat OSIS, mantan model sekolah, apalagi ya prestasi gue" Sombongnya sambil pura pura berfikir.
"Bangga banget lo! gitu doang! anyway kenapa semuanya jadi mantan? gara gara lo bandel kan? miris gue liatnya!"
"Bad boy! bukan bandel"
"Lo belajar bahasa inggris gak sih? badboy tuh ya cowok nakal artinya bandel, oon lo!" Makinya.
Leon menggeleng seolah tak percaya bahwa gadis yang ada di hadapan nya ini adalah Zara, bagaimana mungkin Zara yang dulunya sangat pendiam dan takut padanya kini ahli dalam memaki dan mengumpat.
Leon meletakkan telapak tangan nya di dahi Zara tanpa izin.
Plakk.
Zara memukul tangan Leon kuat. "Apaan sih?!" Sungutnya tak Terima.
"Lo aneh tau gak? jangankan buat maki gue dulu lo jawab gue aja gak berani, lo kenapa sih? kesurupan?"
"Kalo iya kenapa? mau gue jadiin tumbal? dah lah gue mau balik jangan ganggu gue lagi!"
"Ntar dulu! gue masih penasaran!" Leon mencekal tangan Zara untuk berhenti.
"Apasih anjing?!"
"Gue ngeliat lo dateng ke kelas michele tadi, dan kalian ber empat berantem" kata Leon.
"Terus kenapa?"
"Lo sadar gak sih lo siapa?" Tanya Leon mengingatkan.
"Maksud lo?"
"Maksud gue kenapa lo milih berurusan sama orang kaya, kalo mereka lapor ke orang tua mereka terus lo ada dalam masalah lo gak takut?"
"Yang salah bukan gue, mereka yang mulai duluan, lagian kalian semua stop berfikir kalo orang miskin harus selamanya ngalah dan tunduk, gue gak mau!" Kata Zara.
"Gila nih cewek, keras banget pemikiran nya" Batin Leon.
"Jalan yuk!" Ajak Leon tiba tiba.
"Hah?!"
"Ya j-jalan, ke mall atau... nonton" Balasnya gugup.
Zara memicingkan bibirnya memasang raut wajah jijik melihat Leon yang terlihat salah tingkah padanya.
"Ogah! lo pikir gue tertarik sama lo!" Tolaknya.
Zara mendorong bahu Leon menyingkir dan pergi meninggalkan nya.
Leon berdecak, ia merutuki dirinya sendiri, apa yang baru saja ia lakukan adalah spontan saja.
"Perasaan cewek cewek banyak deh yang suka gue, terus dia nolak gue gitu aja?" Tanya Leon tak percaya.
...****************...
Zara yang masih memakai seragam nya menyusuri area persawahan dengan harapan menemukan amir, ia membawa dua cup minuman dingin yang akan di berikan nya pada pemuda itu.
Sudah hampir pukul 4 sore namun ia masih tak menemukan keberadaan amir, Zara memilih mendudukkan dirinya dipinggir sungai untuk beristirahat sebentar.
Ada yang mengganjal pikiran nya ketika kemarin amir pulang dalam keadaan kesal, rupanya amir lumayan berpengaruh pada pikirannya.
"Zara?" Panggil amir pelan.
Zara menoleh ke belakang saat mendengar suara yang sangat ia kenali, ia tersenyum lebar saat menemukan keberadaan amir di sana.
"Hai?" Sapanya.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya amir berjalan mendekat.
"Nyari lo" Jawab Zara jujur.
"Ngapain nyari aku?"
"Nih buat lo! gue beliin" Zara menyerahkan minuman berwarna coklat itu pada amir.
"Makasih" Balasnya sembari mengambil pemberian Zara.
"Gue kira lo marah sama gue, lo kerja dimana sih? tadi gue muter muter di sini gak nemu" Kata Zara.
"Kerjaku kan pindah pindah, nunggu orang nyuruh aja, lagian kenapa aku marah sama kamu?"
"Ya gue kira, soalnya kemaren lo pulang kaya kesel gitu"
"Ya kesel dikit, tapi gak marah" Katanya.
"Sorry ya?" Kata Zara.
"Gak masalah" Balas amir.
"Gue beneran kok, gue gak nyuri, itu uang gue, gue harap lo percaya sama gue, kalo enggak ya emang gak apa apa, cuma gue gak mau lo ngeliat gue kaya pencuri" Kata Zara.
"Ya aku percaya, cuma ya sebagai anak miskin yang tau susahnya cari uang aku emang gak setuju sama gaya hidupmu, atau emang kita udah beda level makanya aku mikir kaya gitu, tapi kalo kamu seneng dengan apa yang kamu lakuin sok aja lakuin, gausah mikirin perasaan orang lain" Kata amir.
"Dulu gue emang kebiasaan hidup kaya gitu sih, jadi ya mungkin gue kebawa sampek sekarang" Kata Zara
"Iya aku ngerti"
Zara menoleh menghadap penuh pada amir dan membuat pemud itu menautkan alisnya heran.
"Jadi lo percaya gue bukan zara?"Tanya nya.
"Iya, Zara yang aku kenal bukan kaya kamu, dia juga gak punya banyak uang dan gak sombong" Kata amir jujur.
Kayla tersinggung, tapi apa yang di katakan oleh amir adalah benar, tapi itu bukan lah hal penting, yang terpenting adalah ada setidaknya satu orang yang percaya siapa dirinya.
"Sejak pertama aku ketemu kamu setelah sekian lama kita gak ngobrol aku udah ngerasa aneh sama kamu, kamu inget pas aku bilang kamu amnesia? " Tanyanya.
Zara mengangguk.
"Ya gitu deh, tiba tiba saja kamu bilang aku bego lah apa lah, lagian Zara itu kalo ngomong pakai aku kamu, seingatku sih" Ungkap amir.
Zara tampak terkekeh pelan, ia menyadari gaya bicara nya dan Zara yang asli memang sangat berbeda.
"Kalo di pikir ya mana mungkin juga orang bisa bertukar peran gini, tapi pas liat kamu aku jadi percaya, jadi sebenernya kamu ini siapa?"
"Nama gue Kayla dan tubuh gue ada di rumah sakit waktu itu, gue sama Zara bertukar peran, gue gak tau gimana, tapi waktu itu gue cuma berniat baik dan nolongin Zara yang di lecehin orang, tiba tiba aja dia lompat ke sungai, dan dengan bodohnya gua juga lompat, sadar sadar gue udah di tempat bu sita" Ungkap nya.
Amir mengangguk anggukan kepalanya mengerti dengan apa yang di katakan Zara.
"Kamu gak bodoh, kamu cuma punya hati nurani, kamu baik" Balas amir.
"Ya coba aja waktu itu gue gak lompat, mungkin sekarang gue gak bakalan ada di sini, mungkin gue masih sama papi gue dan segala kehidupan gue yang sempurna itu" katanya menyesal.