NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:47.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlempar ke Dalam Distrik Karat

Keheningan yang mengikuti kehancuran itu jauh lebih menyesakkan daripada gemuruh logam yang patah beberapa saat lalu. Genevieve terengah-engah, napasnya keluar dalam bentuk uap pendek dan tajam yang segera menghilang di udara yang berbau apak. Ia masih berada dalam posisi meringkuk, tubuhnya terikat pada kisi-kisi baja platform yang kini miring pada sudut yang berbahaya. Debu obsidian dan serpihan karat masih berjatuhan dari kegelapan di atas, mendarat dengan bunyi gemericik pelan di atas mantel bulu serigalanya yang kini kusam dan kotor.

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan denyut jantungnya yang liar melambat. Rasa sakit dari tulang rusuknya yang retak kembali menyerangnya dengan intensitas yang baru, seolah-olah benang bayangan *Shadow Stitch* yang menopangnya baru saja ditarik paksa.

"Laporan... status..." bisiknya parau. Kerongkongannya terasa seperti telah menelan segenggam pasir panas.

**[Status Fisik: Peringatan Trauma Benturan.]**

**[Energi Vital: 38 Poin (Menurun akibat penggunaan Shadow Stitch darurat).]**

**[Kondisi Lingkungan: Stratum Menengah - Zona Pertambangan Terbengkalai.]**

**[Peringatan: Terdapat keberadaan biologis manusia dalam radius 50 meter. Tingkat permusuhan: Belum teridentifikasi.]**

Genevieve membuka matanya. Ia melepaskan sisa-sisa energi bayangan yang mengikat tubuhnya ke platform. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhitungan, ia mulai merangkak menuju lubang besar di dinding poros lift yang baru saja ia hantam. Setiap inci pergerakannya adalah siksaan; otot-ototnya terasa seperti serat kain yang dipaksa meregang hingga nyaris putus.

Ia mencapai tepian lubang dan melongok keluar.

Pemandangan di hadapannya bukanlah kemegahan Kastil Ravenscroft, melainkan sebuah horor arsitektur bawah tanah. Ia berada di sebuah gua raksasa yang tampaknya merupakan persimpangan dari lusinan terowongan tambang kuno. Cahaya di sini tidak berasal dari kristal ungu yang anggun, melainkan dari lampu-lampu minyak murahan yang digantung pada tiang-tiang kayu yang sudah melapuk dan lumut fosfor kuning yang tumbuh menjalar di sela-sela bebatuan. Udara di sini terasa berat, dipenuhi oleh asap batu bara dan bau busuk dari limbah manusia yang tidak terkelola.

Di bawah sana, sekitar sepuluh meter di bawah posisi platformnya yang tersangkut, ia bisa melihat kehidupan yang berdenyut di dalam kegelapan. Puluhan gubuk kumuh yang dibangun dari tumpukan seng berkarat dan kain perca berdiri berdesakan di sepanjang dinding gua. Orang-orang dengan pakaian compang-camping bergerak seperti bayangan di antara gubuk-gubuk itu. Inilah Distrik Karat—tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap sampah oleh masyarakat Aethelgard.

Genevieve menarik kepalanya kembali ke dalam bayang-bayang platform. Pikirannya berputar cepat. Rencananya untuk menyusup ke kastil secara langsung telah hancur bersama rantai lift tersebut. Namun, seorang ahli strategi tidak akan meratapi kegagalan; ia akan mencari peluang baru di tengah reruntuhan.

*Jika ini adalah tempat pembuangan, maka di sinilah informasi yang paling kotor mengalir,* batinnya. *Gideon mungkin mengira aku sudah mati di dasar jurang, tapi jika ada orang dari kastil yang membuang 'sampah' ke sini, aku bisa memanfaatkannya.*

Ia meraba pinggangnya, memastikan belati *Nightfang* masih berada di tempatnya. Senjata itu kini menjadi satu-satunya aset paling berharga yang ia miliki. Ia juga harus menyembunyikan identitasnya. Mantel bulu serigala putih raksasa yang ia kenakan terlalu mencolok; di tempat seperti ini, barang semewah itu adalah undangan bagi para perampok untuk menggorok lehernya saat ia tidur.

Genevieve melepas mantel tersebut. Ia membaliknya, memperlihatkan bagian dalam kulit serigala yang telah mengering dan berwarna kecokelatan kusam. Ia menggunakan belatinya untuk menyayat beberapa bagian mantel agar terlihat lebih compang-camping dan tidak beraturan. Ia kemudian menggosokkan debu hitam obsidian dari lantai lift ke wajah dan rambut peraknya yang cemerlang, hingga ia terlihat tidak lebih dari seorang pengemis yang baru saja merangkak keluar dari lubang pembuangan.

"Sistem," panggilnya lagi. "Cari jalur turun yang paling minim risiko getaran suara."

**[Memproses Pemetaan... Jalur Terdeteksi: Rangkaian pipa uap tua di sisi kiri dinding poros. Integritas struktural: 60%.]**

Genevieve mengangguk kecil. Ia menyelipkan belatinya ke balik baju, lalu mulai merayap keluar dari platform yang miring itu menuju pipa-pipa besi besar yang menempel di dinding gua. Besi itu terasa panas dan berminyak, namun ia mencengkeramnya dengan kekuatan yang dipaksakan. Dengan bantuan *Shadow Stitch* yang ia gunakan secara tipis pada ujung jari dan sepatunya untuk meningkatkan daya cengkeram, ia mulai menuruni dinding gua tersebut.

Setiap gerakan membuat napasnya tersengal. Rasa sakit di rusuknya kini menjadi pendamping setianya. Namun, tatapannya tetap dingin dan fokus pada tumpukan sampah di bawah yang akan menjadi pendaratan pertamanya.

Tepat saat kakinya menyentuh tumpukan kain dan kayu busuk di bawah, sebuah suara serak menghentikan gerakannya.

"Kau jatuh dari atas, ya?"

Genevieve membeku. Tangannya secara instingtif bergerak menuju gagang *Nightfang*, namun ia menahan diri untuk tidak menghunusnya secara terang-terangan. Ia perlahan menoleh ke arah sumber suara.

Di balik bayang-bayang tumpukan peti kayu, duduk seorang pria tua dengan satu mata yang tertutup selaput putih. Pakaiannya adalah campuran dari kulit hewan yang sudah menghitam dan rantai besi kecil yang melilit pinggangnya. Ia sedang mengasah sebilah pisau tulang dengan batu kali.

"Lift kuno itu jarang bergerak," lanjut pria itu tanpa menatap Genevieve. "Biasanya hanya membawa mayat atau orang yang cukup bodoh untuk mengira ada jalan keluar di bawah sana. Kau tidak terlihat seperti mayat... meskipun baumu seperti kematian."

Genevieve mengatur suaranya agar terdengar lemah dan gemetar, memainkan peran sebagai korban yang baru saja selamat dari maut. "Aku... aku tidak tahu di mana aku berada."

Pria tua itu tertawa, sebuah suara kering yang terdengar seperti gesekan amplas. "Kau berada di dasar perut Aethelgard, Nak. Tempat di mana harapan datang untuk mati. Namaku Jaxon, pemulung di Distrik Karat. Dan kau..." ia akhirnya mendongak, matanya yang sehat menatap Genevieve dengan rasa ingin tahu yang tajam. "...kau punya bau yang sangat aneh untuk seorang pemulung. Bau darah monster dan... sesuatu yang kuno."

Genevieve memicingkan matanya. Pria ini bukan pemulung biasa. Cara dia memegang pisaunya dan ketenangan dalam suaranya menandakan bahwa dia telah bertahan hidup di tempat ini cukup lama untuk mengetahui segala hal yang tidak beres.

"Aku hanya ingin bertahan hidup," jawab Genevieve pendek.

"Di sini, bertahan hidup adalah pekerjaan penuh waktu yang tidak memberikan upeti," kata Jaxon sambil berdiri. Tubuhnya pendek namun tegap, dipenuhi bekas luka bakar di lengannya. "Lihatlah sekelilingmu. Kau punya mantel bulu yang bagus, meskipun kau mencoba mengotorinya. Kau punya sepasang mata yang tidak terlihat seperti mata orang yang sudah menyerah. Dan kau baru saja turun dari poros lift yang dijaga oleh legenda horor."

Jaxon melangkah mendekat, namun ia berhenti pada jarak tiga meter, menghormati ruang pribadi Genevieve—atau mungkin dia merasakan *Aura of the Predator* yang memancar tipis dari tubuh Genevieve.

"Dengar, Nak. Aku tidak peduli siapa kau di dunia atas. Di sini, kau hanyalah daging baru. Dan daging baru biasanya akan dimakan oleh 'Tikus-Tikus Tanah' dalam waktu satu malam jika tidak punya perlindungan."

"Siapa Tikus Tanah itu?" tanya Genevieve, otaknya mulai memetakan struktur kekuasaan di tempat ini.

"Geng yang mengontrol suplai air dan batu bara di distrik ini. Mereka bekerja untuk siapa pun yang punya koin emas di permukaan. Terutama orang-orang di Kastil Ravenscroft," Jaxon meludah ke tanah. "Gideon... nama itu sering terdengar di sini. Dia suka mengirim 'paket' ke bawah sini untuk dibersihkan."

Jantung Genevieve berdenyut kencang saat mendengar nama Gideon. Jadi benar, Gideon memiliki koneksi dengan dunia bawah ini. Distrik Karat bukan hanya tempat pembuangan; ini adalah tempat di mana Gideon melakukan pekerjaan kotornya yang tidak bisa dilakukan di atas tanah.

"Aku butuh tempat tinggal," kata Genevieve, suaranya kini lebih stabil. "Dan aku butuh informasi."

Jaxon menatapnya lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah Genevieve layak untuk dibantu atau hanya akan menjadi beban. "Informasi di sini harganya mahal. Dan tempat tinggal... yah, kau bisa tidur di gudang pemulunganku kalau kau bisa membantuku mengurus satu masalah."

"Masalah apa?"

"Malam ini, Tikus Tanah akan datang untuk mengambil 'upeti' bulanan. Mereka mengambil lebih banyak dari yang kami punya. Aku sudah terlalu tua untuk berkelahi, tapi kau..." Jaxon menatap tangan Genevieve yang kotor. "...kau punya gerakan yang sangat tenang untuk seseorang yang sedang terluka parah. Bantu aku menyingkirkan pengawas mereka tanpa menimbulkan keributan, dan aku akan memberitahumu segalanya tentang bagaimana Gideon berkomunikasi dengan orang-orang di sini."

Genevieve terdiam. Ini adalah tawaran yang berbahaya, namun juga peluang yang sempurna. Jika ia bisa menghancurkan koneksi Gideon di sini, ia bisa mulai memutus "tangan" pria itu dari bawah.

"Aku akan membantumu," kata Genevieve. "Tapi aku butuh obat untuk tulang rusukku."

Jaxon menyeringai, memperlihatkan beberapa gigi yang hilang. "Kau cerdas, Nak. Datanglah. Aku punya sisa minyak salamander yang bisa membantumu."

Genevieve mengikuti Jaxon melangkah melewati labirin gubuk-gubuk seng. Bau asap batu bara semakin menyengat, menutupi aroma *Shadow Stitch* miliknya. Ia berjalan dengan punggung yang dipaksa tegak, meskipun rasa sakit terus menghantamnya.

Sambil berjalan, ia kembali berkomunikasi dengan Sistem secara diam-diam.

*Sistem, kumpulkan semua data tentang 'Tikus Tanah' dari percakapan di sekitar. Aku ingin tahu jumlah dan persenjataan mereka.*

**[Memulai Penyadapan Akustik... Memproses Data Lingkungan...]**

Genevieve menatap punggung Jaxon. Ia tahu pria ini mungkin saja sedang menjebaknya, namun di dunia ini, sekutu yang berbahaya lebih baik daripada tidak punya sekutu sama sekali. Ia akan memainkan peran ini perlahan-lahan. Ia akan membiarkan mereka meremehkannya. Dan ketika saatnya tiba, ia akan menggunakan kegelapan Distrik Karat ini untuk membungkam semua orang yang pernah mencoba melenyapkannya.

Malam itu, di bawah pendaran cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, Lady Genevieve yang terbuang mulai menyusun jaring laba-labanya yang pertama di perut bumi Aethelgard. Ia bukan lagi seorang Duchess; ia adalah hantu yang sedang belajar cara menghantui musuh-musuhnya dari tempat yang tidak pernah mereka bayangkan.

Langkah pertama balas dendamnya tidak akan dimulai dengan teriakan, melainkan dengan keheningan di kegelapan bawah tanah.

1
Memyr 67
𝗃𝗂𝗄𝖺 𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉 𝖺𝗀𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝗂𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗍𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖾𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺𝖺𝗇, 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎, 𝗍𝗎𝗆𝖻𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉𝖺𝗇, 𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗈𝗅𝗎𝗍.
Endang Sulistia
keren
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗍. 𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝗎𝖺𝗋 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝗂𝗇𝗂
Yue Li MZy
Manarik juga~
Putri Amalia
kak author ini serius kan gak Hiatus? please smpe end
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗊 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝗎𝖻𝗎𝗁 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗎𝗁 𝗋𝖺𝖼𝗎𝗇 𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋?
Memyr 67
𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗍𝗎 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺? 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗄𝗎 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗈𝗆𝖺 𝖻𝗎𝗌𝗎𝗄. 𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝖾 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗂𝗇𝗍𝖾𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗌𝗄𝗋𝗂𝗉𝗌𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗇𝗀𝖾𝗋𝗂𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗅𝖺𝗆𝗂 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗄𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗄𝖾𝖻𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Endang Sulistia
nahan nafas bacanya ...
Memyr 67
𝖽𝖾𝗇𝖽𝖺𝗆 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗀𝗎𝖺𝗌𝖺 𝗄𝖾𝗀𝖾𝗅𝖺𝗉𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗃𝗎𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗂𝗍𝖺𝗆 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗆𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!