Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Pagi dan Fitnah yang Sia-Sia
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai sutra di kamar utama Edward. Eleanor mulai menggeliat di balik selimut tebal yang aromanya sangat maskulin—campuran sandalwood dan mask yang sangat ia kenali sebagai aroma tubuh Edward.
Masih dalam keadaan setengah sadar dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Eleanor merasakan kehangatan yang luar biasa di sampingnya. Ia merasa sangat nyaman, jauh lebih nyaman daripada tidur di kamarnya sendiri. Secara refleks, Eleanor bergeser mendekat ke sumber panas itu, melingkarkan lengannya ke pinggang sesuatu yang keras namun hangat, dan menyurukkan wajahnya ke dada bidang di depannya.
"Emmm... nyaman sekali," racau Eleanor pelan sambil semakin mengeratkan pelukannya.
Namun, saat tangannya meraba kulit yang halus namun berotot, mata Eleanor tiba-tiba terbuka lebar. Ia mengerjap beberapa kali. Pemandangan pertama yang ia lihat bukanlah bantal atau guling, melainkan dada bidang Edward Zollern yang tidak tertutup sehelai benang pun.
Eleanor mendongak perlahan, dan jantungnya hampir copot saat melihat Edward sudah terbangun, bersandar di kepala tempat tidur sambil memandanginya, menatapnya dengan seringai yang sangat menyebalkan namun tampan.
"Selamat pagi, Eleanor. Nyaman?" Tanya Edward dengan suara berat khas bangun tidur.
Eleanor terpekik pelan dan langsung melepaskan pelukannya, mencoba menjauh hingga hampir terjatuh dari tempat tidur jika Edward tidak segera menangkap pinggangnya.
"Kenapa... kenapa saya di sini?! Dan kenapa Anda tidak pakai baju?!" Teriak Eleanor, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut hingga hanya menyisakan matanya yang melotot.
"Pertama, kau tertidur sangat lelap di mobil kemarin, jadi aku membawamu ke kamarku agar aku bisa menjagamu. Kedua, aku memang tidak terbiasa memakai atasan saat tidur di rumahku sendiri," jawab Edward santai, kembali membuka bukunya seolah tidak terjadi apa-apa. "Dan ketiga, kau sendiri yang merangkak masuk ke pelukanku tadi. Aku hanya diam menjadi bantalmu."
Eleanor ingin sekali menghilang. Bayangan dirinya yang memeluk Edward dengan sukarela tadi pagi benar-benar menghancurkan harga dirinya yang tersisa. "T-tapi ini melanggar perjanjian! Kita harus beda kamar!"
"Kau yang melanggar perjanjiannya dengan memelukku duluan, Calon Istri," goda Edward.
Sementara itu, Lyodra sedang duduk dengan penuh percaya diri di depan seorang jurnalis. Ia mencoba melemparkan fitnah murahan untuk merusak citra Eleanor.
"Tulis saja kalau Eleanor Lichtenzell sebenarnya punya hobi mengoleksi pria-pria kencan butanya untuk main-main," ucap Lyodra dengan nada pedas. "Tulis kalau dia punya sisi liar yang sangat tidak pantas untuk keluarga bangsawan."
Si jurnalis mengerutkan kening, tangannya berhenti mengetik. "Nona Lyodra, kami butuh bukti. Foto, saksi, atau setidaknya rekaman. Jika tidak ada, ini hanya fitnah dan keluarga Lichtenzell maupun Zollern bisa menuntut kami hingga bangkrut dalam satu malam."
"Gunakan imajinasimu! Buat saja rumor anonim!" Bentak Lyodra.
Namun, si jurnalis justru menggeleng. "Maaf, Nona. Kabar yang kami dapat justru sebaliknya. Semua pria kencan butanya mengaku lari karena Eleanor terlalu pintar dan tegas, bukan karena liar. Dan pagi ini, kami mendapatkan foto Tuan Edward yang menggendong Nona Eleanor dengan sangat lembut masuk kedalam Mension pribadinya. Publik justru akan menganggap mereka pasangan paling romantis di Inggris tahun ini."
Lyodra ternganga. Fitnah yang ia bangun dengan penuh amarah hancur berantakan bahkan sebelum dipublikasikan karena tidak ada satu pun bukti yang mendukung omong kosongnya.
Kembali ke Kamar Edward. Eleanor yang masih bersembunyi di balik selimut, tiba-tiba mendengar ponsel Edward berdering. Edward menjawabnya singkat, lalu menatap Eleanor dengan ekspresi yang berubah serius.
"Ada apa?" Tanya Eleanor penasaran.
"Hanya lalat kecil yang mencoba menyebarkan rumor sampah tentangmu, tapi tenang saja, mereka bahkan tidak berani mencetaknya," ucap Edward. Ia mengulurkan tangan, mengacak rambut Eleanor yang berantakan dengan gemas. "Sepertinya reputasimu sebagai calon pengantin yang suci di mata publik terlalu kuat untuk dihancurkan oleh model yang sudah kehilangan panggungnya."
Eleanor terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ia tidur dengan tenang, Edward telah memasang perisai yang begitu kuat untuk melindunginya dari segala sisi.
"Kenapa kau melakukan semua ini, Edward?" Tanya Eleanor pelan.
Edward menutup bukunya, menatap Eleanor dengan tatapan yang membuat jantung wanita itu berdesir. "Karena kau adalah milikku, Eleanor. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau menghina milik Edward Zollern, bahkan dengan kata-kata sekalipun."