Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang tak Terlihat
Hari-hari berlalu…
Namun tidak ada yang benar-benar berubah di bengkel kecil itu.
Ryan tetap bekerja seperti biasa.
Memperbaiki motor, menerima pelanggan, menjalani hidup yang sama seperti sebelumnya.
Semua terlihat normal.
Tapi hanya di luar.
Di dalam—
ada sesuatu yang hilang.
Sudah hampir seminggu.
Arini tidak datang.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Tidak ada jejak.
Seolah pertemuan mereka selama ini… tidak pernah terjadi.
Ryan berdiri di depan bengkel, memandang jalanan yang ramai.
Namun di matanya—
semuanya terasa kosong.
“Ya memang begini harusnya,” gumamnya pelan.
Seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun hatinya tidak sepenuhnya setuju.
Di sisi lain kota—
Arini berdiri di depan jendela kamarnya.
Rumah besar itu terasa lebih seperti sangkar.
Pagar tinggi.
Penjagaan ketat.
Dan mata-mata yang selalu mengawasi setiap langkahnya.
Ia tidak bisa keluar dengan bebas lagi.
Ponselnya pun diawasi.
Semua karena satu hal—
Ryan.
Arini menggenggam tirai jendela dengan erat.
Tatapannya jauh.
Ke arah jalan yang bahkan tidak mengarah ke bengkel itu.
Namun pikirannya tetap di sana.
“Kenapa… harus seperti ini…” bisiknya pelan.
Pintu kamar terbuka.
Seorang wanita paruh baya masuk.
Wajahnya lembut, tapi sorot matanya penuh kekhawatiran.
“Ibu…” ucap Arini pelan.
Wanita itu mendekat.
“Arini, kamu masih memikirkan dia?”
Arini tidak menjawab.
Namun itu sudah cukup.
Ibunya menghela napas panjang.
“Dengar, Nak… Ayahmu melakukan ini untuk kebaikanmu.”
Arini langsung menoleh.
“Baik menurut siapa?”
Ibunya terdiam.
Arini melanjutkan,
“Aku tidak pernah minta hidup seperti ini.”
Suaranya mulai bergetar.
“Aku cuma… ingin memilih sendiri.”
Ibunya menatapnya sedih.
“Kamu belum mengerti dunia kita.”
Arini tersenyum pahit.
“Kalau dunia itu membuat aku tidak bisa bahagia… untuk apa?”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Namun kali ini…
tidak ada jawaban.
Malam datang.
Di bengkel, Ryan masih duduk sendirian.
Lampu kecil menyala redup.
Ia tidak langsung pulang.
Seperti ada sesuatu yang menahannya.
Di tangannya, ia memutar kunci inggris pelan.
Pikirannya kosong.
Atau mungkin… terlalu penuh.
Tiba-tiba—
suara langkah kaki terdengar.
Ryan menoleh.
Seorang kurir berdiri di depan bengkel.
“Ryan?” tanyanya.
Ryan mengangguk.
“Iya.”
Kurir itu menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Titipan.”
Ryan mengernyit.
“Dari siapa?”
Kurir itu menggeleng.
“Tidak tahu. Saya cuma diminta mengantar.”
Ryan menerima amplop itu.
Perasaannya tiba-tiba tidak tenang.
Ia membuka perlahan.
Di dalamnya—
hanya ada selembar kertas.
Tulisan tangan.
Dan Ryan langsung mengenalinya.
Arini.
Tangannya sedikit menegang.
Ia membaca perlahan.
Ryan…
Aku tidak tahu apakah ini akan sampai ke kamu atau tidak…
Aku tidak bisa datang lagi.
Mereka tidak mengizinkan aku keluar…
Aku mencoba melawan, tapi… aku tidak bisa.
Aku minta maaf.
Terima kasih untuk semua hal kecil yang pernah kamu berikan.
Tempat itu… adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa menjadi diriku sendiri.
Dan kamu… adalah alasan itu.
Tulisan itu berhenti di sana.
Namun ada satu kalimat terakhir di bawahnya.
Maaf… aku tidak sekuat yang aku kira.
Ryan terdiam.
Lama.
Tangannya masih memegang kertas itu.
Matanya membaca ulang…
sekali lagi…
dan lagi.
Namun kali ini—
ia tidak tersenyum.
Ia tidak marah.
Ia tidak menangis.
Ia hanya… diam.
Perlahan, ia melipat kembali kertas itu.
Menyimpannya di saku.
Lalu menatap bengkel kecil itu.
Tempat di mana semuanya dimulai.
Dan mungkin…
juga tempat di mana semuanya berakhir.
“Memang begini akhirnya…” gumamnya pelan.
Namun kali ini—
tidak ada lagi penyangkalan.