NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : SIAPA NAMA AYAH MU?

***

<<< flashback >>>

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan beban yang menghimpit dada Andika. Alih-alih mengenakan seragam putih biru miliknya, Dika justru menyembunyikan pakaian itu di balik tumpukan kain kumuh di pojok lemari. Ia mengenakan kaos hitam pudar dan celana kargo yang sudah banyak tambalan.

"Dika... kamu nggak sekolah?" suara Dita terdengar lemah dari balik selimut tipis. Wajahnya pucat pasi, hampir sewarna dengan bantalnya.

Dika menoleh, memaksakan senyum yang tidak sampai ke mata. "Guru-guru lagi rapat, Dit. Aku mau ke perpustakaan kota saja cari buku. Kamu istirahat ya, jangan banyak gerak. Obatnya sudah Kak Dinda siapin di meja."

Dita hanya mengangguk pelan. Gadis kecil itu tidak tahu bahwa kakaknya sedang berbohong demi mencari uang tambahan untuk biaya pengobatannya yang membengkak akibat leukemia.

***

Pukul 09.00 WIB, pasar induk sudah riuh rendah. Dika berdiri di antara kerumunan pria dewasa, menunggu truk sayur datang. Tubuh remajanya yang belum sempurna tumbuh dipaksa memikul karung-karung berisi kentang dan wortel seberat 20 hingga 30 kilogram.

"Woi, bocah! Kuat nggak lu? Kalau nggak kuat, pulang aja!" teriak salah satu kuli senior.

Dika tidak menyahut. Ia mengusap keringat yang bercucuran di pelipisnya. Setiap karung berarti lima ribu rupiah. Sepuluh karung berarti satu botol suplemen untuk Dita, batinnya berulang-ulang seperti mantra.

Namun, sekitar pukul 11.00, langkah Dika tiba-tiba terhenti. Dadanya terasa sesak, bukan karena beban yang ia pikul, melainkan karena sebuah firasat buruk yang mendadak menghujam jantungnya. Pikirannya melayang pada Dita yang ia tinggalkan sendirian di kontrakan.

"Dika! Fokus! Hampir saja kakimu tertimpa!" bentak seorang sopir truk.

"Maaf, Bang. Saya... saya harus pulang sekarang," ucap Dika tiba-tiba. Ia melepaskan karung di pundaknya, mengabaikan upah yang belum dibayar penuh, dan berlari sekencang mungkin menuju rumah.

*

Sesampainya di gang kontrakan, Dika langsung mendobrak pintu kayu rumahnya.

"Dita?!"

Hening. Ia menemukan Dita tergeletak di lantai dingin di samping tempat tidurnya. Tangannya masih memegang gelas plastik yang pecah. Sepertinya ia mencoba mengambil air, namun tubuhnya tidak sanggup lagi menahan serangan penyakit itu.

"Dita! Bangun, Dit! Jangan bercanda!" Dika mengguncang tubuh kembarannya. Kulit Dita terasa dingin dan sangat pucat.

Dalam kepanikan, Dika menggendong Dita keluar. "Tolong! Pak RT! Bu Siti! Tolong adik saya!"

Beruntung, beberapa tetangga segera datang. Dengan bantuan mobil tua milik salah satu warga, Dita dilarikan ke puskesmas lalu dirujuk ke rumah sakit daerah. Di sana, Dika hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu ruang tindakan, melihat dokter dan perawat sibuk memasang berbagai selang ke tubuh kecil adiknya.

"Keluarga Anindita? Kondisinya sangat tidak stabil. Sel darah putihnya menyerang tubuhnya sendiri. Kita butuh persetujuan tindakan segera dan biaya administrasi awal," ujar seorang perawat dengan nada terburu-buru.

Dika gemetar. Uang di sakunya hanya ada beberapa puluh ribu. "Sus, tolong selamatkan adik saya dulu. Saya... saya akan panggil Kakak saya."

Tanpa pikir panjang, Dika berlari keluar rumah sakit. Tujuannya hanya satu: PT. Ryuga Corp. Tempat kakaknya mempertaruhkan nyawa setiap hari.

*

Gedung PT. Ryuga Corp tampak seperti benteng yang tak tertembus bagi remaja seperti Dika. Di depan gerbang besi setinggi tiga meter, dua orang satpam bertubuh tegap berdiri menghalangi jalannya.

"Heh, mau ke mana kamu?! Anak sekolah dilarang masuk sini!" bentak salah satu satpam.

"Saya cari Kakak saya! Adinda Maheswari! Adik saya kritis di rumah sakit, saya harus bicara sama dia!" teriak Dika, napasnya tersengal-sengal.

"Alasan klasik! Setiap hari ada saja orang yang mau masuk pakai alasan keluarga. Pulang sana! Jangan bikin keributan di depan kantor Tuan Allandra!"

Dika mengepalkan tangannya. Rasa takut kehilangan Dita mengalahkan rasa takutnya pada hukum. Saat sebuah truk logistik masuk melewati gerbang, Dika memanfaatkan celah itu. Ia berlari masuk dengan kecepatan penuh, melewati kolong truk.

"Woi! Berhenti!"

Dika terus berlari. Ia melihat papan penunjuk arah bertuliskan 'Area Produksi'. Ia tidak tahu di mana tepatnya kakaknya berada, namun ia terus berteriak, "KAK DINDA! KAK DINDA!"

*

Di dalam pabrik, suasana mendadak tegang saat Dika berhasil menerobos masuk ke ruang utama. Ia melihat kerumunan orang di kejauhan, dan di tengah-tengah mereka, ia mengenali punggung kakaknya.

"Kak Dinda! Pulang, Kak! Dita kritis!"

Teriakan itu menghentikan segalanya. Dinda, yang saat itu sedang berhadapan dengan Alan, merasa jantungnya berhenti berdetak. Kabar itu menghantamnya lebih keras daripada mobil yang menabraknya semalam. Tubuhnya yang memang sudah luka dan lemas mendadak kehilangan keseimbangan.

"Dita..." Dinda bergumam lemah sebelum matanya berputar dan tubuhnya ambruk.

Beruntung, tangan Alan bergerak lebih cepat. Ia menangkap tubuh Dinda sebelum menyentuh lantai. Alan menggendong Dinda dengan gaya bridal style, wajahnya yang biasanya tenang kini memancarkan aura otoritas yang menakutkan.

"Buka jalan!" perintah Alan pada semua karyawan yang terpaku.

Dika sampai di depan mereka, napasnya memburu. Saat ia melihat kakaknya pingsan di pelukan pria kaya yang ia temui semalam, amarahnya memuncak.

"Lepaskan Kakakku! Apa yang kamu lakukan padanya?!" Dika mencoba menarik kakaknya dari pelukan Alan.

Alan menatap Dika. Untuk kedua kalinya, ia terpaku. Mata itu... kemarahan itu... sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal di masa lalu. Namun, Alan segera menepis pikiran itu.

"Kalau kamu mau kakakmu dan adikmu selamat, jangan banyak bicara. Ikut saya sekarang!" Alan berjalan lebar menuju mobilnya yang terparkir di lobby utama.

Alan meletakkan Dinda di kursi belakang mobil mewah miliknya. Ia memberikan isyarat agar Dika masuk ke kursi di sebelah Dinda.

"Aku nggak mau naik mobil ini! Aku bisa naik ojek!" tolak Dika ketus. Ia merasa tidak sudi menerima bantuan dari pria yang ia curigai memiliki niat buruk pada kakaknya.

"Jangan bodoh, Andika," suara Alan dingin dan tajam. "Setiap detik yang kamu buang untuk gengsi bisa membunuh adikmu di rumah sakit. Masuk!"

Dika terdiam. Nama adiknya disebut, dan itu adalah titik lemahnya. Dengan perasaan sangat terpaksa dan benci, ia masuk ke dalam mobil.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam kabin mobil terasa sangat dingin. Dika memeluk kepala kakaknya yang masih pingsan, membiarkan kepala Dinda bersandar di bahunya. Tangannya terus mengusap rambut Dinda, seolah ingin memberikan kekuatan lewat sentuhan.

Alan sesekali melirik dari spion tengah. Ia memperhatikan cara Dika melindungi kakaknya. Sikap dingin remaja itu, caranya menatap dunia dengan penuh kecurigaan, semuanya terasa sangat familiar bagi Alan.

"Kenapa kamu menatapku terus?" tanya Dika tiba-tiba, menyadari tatapan Alan dari spion. Suaranya penuh permusuhan.

"Kamu sangat menyayangi kakakmu," ucap Alan datar, mengabaikan ketidaksopanan Dika.

"Dia satu-satunya yang aku punya. Dan aku tidak akan membiarkan orang kaya sepertimu menyentuh atau menyakitinya," ancam Dika dengan nada yang sangat serius untuk anak seusianya.

Alan terdiam sejenak, lalu bertanya, "Siapa nama ayahmu?"

Dika mengernyitkan dahi. "Apa urusanmu? Fokus saja menyetir. Kalau terjadi apa-apa pada Kak Dinda atau Dita karena kamu lambat, aku akan menuntutmu!"

Alan tidak bertanya lagi. Namun, tangannya yang memegang kemudi semakin erat. Ia tahu, ada teka-teki besar yang sedang terbuka. Wajah Dika adalah cerminan dari seseorang yang seharusnya sudah menghilang dari sejarah keluarga Ryuga.

Mobil itu melaju kencang, membelah kemacetan Jakarta dengan sirine darurat yang dinyalakan asisten Alan di depan. Di belakang, Dinda mulai merintih dalam pingsannya, menyebut nama Dita berulang kali, sementara Dika terus membisikkan kata-kata penenang yang getir.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!