Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Kekasih Farris
...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...
Sudah seminggu sejak aku mencium Cherry di solarium. Walaupun aku sudah membuat keputusan, aku belum pulang ke rumah sejak saat itu.
Pekerjaan membuatku sibuk banget. Lalu kekasih Farris diculik. Masalah datang satu per satu.
Tadi malam aku sempat bertemu pacar Farris di pertunjukan balet. Dari situ aku bisa lihat betapa dalam dia mencintai wanita itu. Dia sudah jatuh cinta. Kalau kita gak berhasil membawanya kembali, aku gak tahu apa yang akan terjadi pada Farris.
Para penyelundup yang menculik Eva tepat di bawah hidung kami pasti sangat bodoh atau sangat berani. Aku gak mengenal Eva.
Aku, Remy, dan Farris duduk di dalam helikopter sementara Vloo menerbangkan kami menuju sebuah yacht tempat para gadis akan dijual sebagai budak seks.
Farris berhasil mendapatkan informasi dari pasar gelap. Aku bisa lihat temanku hampir kehilangan kendali. Satu-satunya hal yang masih menahannya adalah otoritasku atas dia.
Saat Vloo mendaratkan helikopter di helipad yacht yang sangat besar itu, Remy keluar lebih dulu, lalu Farris menyusul. Aku yang terakhir turun ke dek dan melihat seorang pria berjalan mendekati kami.
"Kami gak ada rombongan ke empat," kata pria itu.
Vloo berdiri di sampingku dengan pistol sudah di tangan. Dia menyilangkan tangannya di depan tubuhnya.
"Kami datang sukarela," gumam Farris dengan nada penuh ketidaksabaran.
Semyon Lee naik dari tangga bersama dua penjaga bersenjata, dan aku langsung merasa gelisah.
Pedagang manusia itu bahkan gak repot melihat Remy dan Farris. Matanya langsung tertuju padaku.
"Apa yang dilakukan Marunda di sini? Ini bukan wilayah kalian."
Sial.
Memang bukan.
Bajingan itu menjual gadis-gadis dekat pantai Utara Jakarta dan sedang bermain-main dengan mencolok. Suatu hari nanti aku harus mengurus anak anjing ini.
Aku bisa merasakan tatapan Farris ke arahku saat dia bertanya, "Kamu kenal dia?"
"Semyon," gumamku. "Suplayer pelacur. Biar aku yang urus."
Merasa lelah, aku melangkah maju. "Aku di sini untuk salah satu gadis."
"Kami gak angkut siapa pun yang milik Marunda," jawab Semyon.
Aku ingin cepat menyelesaikan ini.
"Tunjukin ke kami para gadisnya, lalu kami pergi."
"Cuma kamu. Yang lain tunggu di sini," katanya setuju.
Saat aku mulai berjalan, Vloo langsung berada di sampingku. Aku bisa merasakan ketegangan dari tubuhnya. Aku tahu dia gak akan ragu bertindak kalau situasinya berantakan.
Di tangga, salah satu penjaga menggeleng pada Vloo. Aku langsung menatap tajam bajingan itu. "Ke mana aku pergi, dia bakal ikut."
"Biarkan dia ikut," teriak Semyon dari bawah tangga.
Aku turun dan mengikuti Semyon menuju sebuah ruangan. Dia membuka pintu, dan aku melihat lima gadis muda di dalamnya. Mereka terlihat seperti dibius dan gak sadar sepenuhnya.
Rasa jijik merayap di kulitku. Tapi tanpa menunjukkan emosi di wajah, aku berbalik dan berjalan kembali ke helipad.
Saat aku mendekati Farris, dia langsung menatapku dengan pertanyaan di wajahnya. aku menggeleng.
"Ayo. Kita cuma buang-buang waktu di sini."
Kami semua kembali ke helikopter. Saat lepas landas, aku memijat pelipis karena sakit kepala yang berdenyut.
HPku mulai berdering. Aku kira itu salah satu anak buahku, jadi aku langsung mengeluarkan HP. Nomornya gak aku kenal.
Aku menjawab panggilan itu dan menempelkan HP ke telinga.
Aku kaget saat mendengar suara Cherry.
"Cavell? Kamu di sana?"
Hanya dengan mendengar suaranya, sebagian ketegangan di bahuku langsung berkurang. Reaksi itu bahkan membuatku sendiri terkejut.
Saat aku menciumnya untuk menguji ketertarikan di antara kami, hampir saja aku jatuh karena intensitasnya. Aku gak pernah mencium wanita sejak usia dua puluhan. Merasakan bibir Cherry bergetar di bibirku hampir membuatku kehilangan kendali.
Aku harus memaksa diri menghentikan ciuman itu dan pergi sebelum aku benar-benar menidurinya di solarium.
Sial.
Aku juga masih harus mencarikan dia pelatih menembak. Kalau dia akan menjadi istriku, dia harus tahu cara menggunakan senjata.
Karena gak ingin berbicara dengannya di depan Remy dan Farris, aku berkata pelan, "Aku lagi sibuk."
Dia terdengar khawatir.
"Kita bisa bicara tentang apa yang terjadi di antara kita?"
"Gak."
"Serius?" Nada suaranya menegang. "Baiklah. Jadi kamu mau ngirim aku balik ke orang tuaku?"
Sial.
Aku bisa merasakan Remy dan Farris menatapku.
Aku harus mengakhiri panggilan ini.
"Gak."
"Kalau begitu kita bicara soal ciuman itu," tuntutnya.
Aku gak ingin dua pria di helikopter ini tahu apa yang kami bicarakan.
"Gak."
"Cavell," katanya. "Kamu gak bisa bikin aku nunggu seperti ini. Bicara sama aku."
Aku menahan napas panjang. "Gak."
"Ini sulit buat aku. Aku gak bisa terus digantung seperti ini."
Sial.
Aku bahkan gak memikirkan perasaannya.
Rasa penyesalan tiba-tiba memenuhi dadaku. Perasaan yang aneh dan gak aku inginkan.
"Aku tahu," kataku akhirnya.
"Tolong," pintanya. "Bilang apa yang Kamu rencanain buat aku."
Cherry seharusnya gak pernah memohon pada siapa pun. Dia seharusnya mengangkat dagunya dan menyuruhku pergi ke neraka.
"Sial, aku gak punya waktu buat ini," bentakku. "Jangan telepon aku lagi."
Aku langsung menutup panggilan dan memasukkan HP kembali ke saku.
"Siapa itu?" tanya Remy.
"Bukan siapa-siapa," gumamku. "Vloo, bawa kita kembali ke daratan."
"Kita gak punya pilihan," kata Vloo pelan. "Kita harus mengisi bahan bakar kalau mau terus mencari mereka."
"Aku harus masuk ke sistem aku di rumah," kata Farris. "Kita buang waktu di sini."
Selama penerbangan kembali ke daratan, aku menyingkirkan masalah pribadiku dan fokus mencari wanita milik Farris.
Setelah semua kekacauan ini selesai, aku akan memberi tahu Cherry kalau aku memutuskan untuk menikahinya.
Baru setelah itu aku akan merasa cukup nyaman memberi tahu empat bos Marunda lainnya tentang keberadaannya.
Setidaknya Mama akan senang mengetahui aku akan menikah.
Dan aku?
Cherry itu gadis kecil yang cantik dan berapi-api. Paling gak dia akan membuatku tetap waspada.
Sudut bibirku terangkat memikirkan itu. Hanya sebentar, tapi cukup memberi aku sedikit kelegaan dari semua tekanan yang menumpuk di bahuku.