NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31. Refleksi Pengkhianatan

Langkah kaki Aira bergema di koridor sunyi menuju kamar pribadinya di sayap timur The Velvet Manor. Meski ia tampak tenang dengan dagu yang terangkat tinggi, keringat dingin membasahi punggungnya di balik gaun sutra berat itu. Di balik jubah mewahnya, jemarinya yang gemetar mencengkeram sebuah benda bulat dan dingin yang ia selipkan ke dalam saku rahasia: Soul-Severing Mirror.

Logamnya terasa aneh, seolah-olah memiliki denyut nadi sendiri yang beradu dengan detak jantung Aira yang liar. Ia bisa merasakan aura jahat yang memancar dari benda itu, seolah ribuan jiwa yang pernah terperangkap di dalamnya sedang berbisik, memohon untuk dilepaskan atau justru menuntut mangsa baru.

"Kau terlalu tegang, Penipu," bisik suara Isabella asli. Suaranya tidak lagi berasal dari luar, melainkan bergema di dalam rongga tengkorak Aira, memantul samar dari permukaan vas porselen dan bingkai lukisan kuno yang dilewati Aira di sepanjang koridor. "Dante sedang menunggumu di depan pintu kamar. Dia bukan Valerius yang mudah dikelabui dengan halusinasi dan gertakan murah. Dia adalah predator yang tahu bau mangsanya bahkan sebelum mangsa itu menyadari kehadirannya."

Aira berhenti tepat di depan pintu kayu ek hitam kamarnya yang besar. Benar saja, sosok tinggi tegap Dante berdiri di sana, bersandar pada dinding dengan tangan bersedekap. Obor di dinding memberikan bayangan tajam pada wajahnya yang terpahat sempurna namun dingin, seolah-olah ia adalah patung malaikat maut yang menjaga gerbang neraka.

"Nyonya," suara Dante rendah, berat, dan bergetar seperti geraman harimau yang sedang mengintai. "Anda melakukan pertunjukan yang luar biasa malam ini. Sangat... teatrikal."

Aira memaksakan senyum tipis yang penuh racun, gaya yang ia pelajari dari sisa-sisa memori Isabella. "Aku hanya memberikan apa yang pantas ia dapatkan, Dante. Tidakkah kau puas melihat anjing istana itu meringkuk ketakutan dan memohon ampun di bawah kakiku?"

Dante tidak tersenyum. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Aira bisa mencium aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau samar besi dan darah yang selalu mengikuti pria itu. "Saya puas melihatnya menderita. Tapi ada satu hal yang mengusik pikiran saya, sesuatu yang membuat saya terjaga bahkan saat pedang saya sudah menyentuh leher musuh."

Mata biru Dante yang tajam menyempit, menatap langsung ke dalam manik mata Aira seolah ia bisa menembus raga itu dan melihat jiwa asing yang bersembunyi di dalamnya. "Dari mana Anda tahu tentang kejadian di hutan setahun lalu? Isabella yang saya kenal tidak pernah mengingat malam itu. Dia menghapusnya dari ingatannya karena terlalu menyakitkan, atau mungkin karena dia terlalu lemah untuk menghadapinya. Tapi Anda... Anda mengucapkannya seolah-olah Anda adalah saksi mata yang menikmati setiap tetes darahnya."

Jantung Aira berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak. Gunakan cerminnya, Aira! bisik Isabella dengan penuh nafsu jahat. Sentuhkan pada telapak tangannya saat dia mencoba meraihmu. Buat dia tunduk! Hancurkan jiwanya sebelum dia menghancurkan sandiwara kita!

Aira merogoh saku jubahnya, jemarinya menyentuh permukaan dingin Soul-Severing Mirror. Logam itu seolah menyedot panas dari tangannya. Namun, saat ia hendak menariknya keluar untuk mengakhiri kecurigaan Dante, ia melihat sesuatu yang tak terduga di mata pria itu. Itu bukan hanya kecurigaan; itu adalah luka yang mendalam, sebuah pengkhianatan yang dipendam selama bertahun-tahun. Dante mencintai Isabella, atau setidaknya, dia terobsesi dengan bayangan wanita yang ia sumpah untuk lindungi.

"Kau ingin tahu siapa aku, Dante?" Aira melangkah mendekat, sengaja menepis jarak aman. Ia mengambil risiko terbesar dalam hidupnya. Ia menarik cermin itu keluar, namun tidak mengarahkannya pada Dante untuk menyerang. Ia justru menyerahkan gagang cermin itu kepada pria itu.

"Ini adalah Soul-Severing Mirror milik Valerius. Benda ini bisa mencabut jiwa siapa pun yang frekuensinya dianggap asing bagi raga ini," ucap Aira dengan suara yang bergetar namun penuh tantangan. "Jika kau sangat yakin aku adalah iblis yang merasuki raga tuanmu, sentuhkan cermin ini ke leherku sekarang juga. Cabut jiwaku dan biarkan raga ini kosong hingga Isabella-mu yang malang bisa kembali... jika memang dia masih ada."

Dante terpaku. Ia menatap benda terkutuk di tangan Aira. Ia tahu kekuatan benda itu dari legenda-legenda kuno; sekali sentuh, tidak ada jalan kembali. Jiwa akan terpecah dan terserap ke dalam kehampaan perak.

"Lakukan, Dante! Bukankah kau bersumpah untuk menjaga kemurnian The Velvet Manor dari segala bentuk kutukan?" tantang Aira lagi. Di dalam kepalanya, Isabella asli berteriak histeris, “Jangan gila, Aira! Dia akan benar-benar melakukannya! Kau akan menghancurkan kita berdua!”

Tangan Dante yang kasar dan penuh bekas luka perlahan meraih cermin itu. Permukaan peraknya berkilau jahat di bawah cahaya obor. Ia mengangkat benda itu, mendekatkannya ke leher jenjang Aira yang putih pucat. Udara di sekitar mereka seolah membeku, partikel debu berhenti di udara. Aira bisa merasakan hawa dingin ekstrem dari logam perak itu mulai menarik-narik kesadarannya, seolah ada tangan-tangan halus yang mencoba mencabut nyawanya melalui pori-pori kulitnya.

Namun, hanya satu inci sebelum logam itu menyentuh kulit Aira, Dante berhenti. Tangannya gemetar—sesuatu yang belum pernah dilihat Aira sebelumnya pada sang Panglima yang tak kenal takut itu.

"Kenapa kau berhenti, Panglima yang hebat?" bisik Aira parau, matanya berkaca-kaca namun penuh kemenangan.

Dante melepaskan cermin itu hingga jatuh ke karpet tebal dengan bunyi tumpul yang meredam kesunyian. Tiba-tiba, ia mencengkeram kedua bahu Aira dengan kekuatan yang hampir meremukkan tulang dan mendorongnya ke pintu kayu kamar, mengunci tubuh wanita itu dengan tubuhnya yang besar dan hangat.

"Karena Isabella yang asli tidak akan pernah punya keberanian untuk mati di tanganku dengan cara seperti ini," desis Dante tepat di telinga Aira, napasnya terasa panas di kulit Aira. Suaranya pecah antara amarah, keputusasaan, dan gairah yang tersiksa. "Kau adalah penipu. Kau adalah monster yang entah datang dari dimensi mana. Tapi demi neraka yang menungguku... kau adalah satu-satunya 'Isabella' yang membuatku merasa hidup kembali setelah setahun penuh kepura-puraan ini."

Dante menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aira—tempat yang seharusnya menjadi sasaran cermin pencabut nyawa tadi. Aira bisa merasakan napas berat pria itu, sebuah bentuk penyerahan diri yang mengerikan dari seorang pelindung kepada mangsanya.

"Jangan pernah berikan aku alasan untuk benar-benar harus membunuhmu," gumam Dante pelan, hampir seperti sebuah doa yang menyimpang. "Karena jika aku harus memilih antara menyelamatkan jiwamu atau kesetiaanku pada garis keturunan Velvet... aku takut aku akan memilihmu dan membiarkan dunia ini terbakar."

Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Dante melepaskan dekapannya. Ia tidak menatap mata Aira lagi. Ia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan koridor yang remang-remang, meninggalkan Aira yang masih terpaku, dadanya naik turun mencoba mencari oksigen di tengah atmosfer yang terasa sangat tipis.

Aira memungut Soul-Severing Mirror yang tergeletak di lantai. Permukaannya kini tampak kusam, seolah-olah cermin itu sendiri kecewa karena gagal menelan jiwa yang begitu kuat.

"Bodoh... benar-benar bodoh," desis Isabella dari balik cermin besar di dalam kamar saat Aira akhirnya masuk. "Kau mempertaruhkan eksistensi kita hanya untuk memenangkan hati seekor anjing penjaga? Kau seharusnya menghancurkan mentalnya, membuatnya menjadi budak tak berotak, bukan membuatnya terobsesi padamu!"

"Dia tidak jatuh cinta padaku, Isabella," jawab Aira sambil melangkah masuk dan mengunci pintu ganda kamarnya dengan tangan gemetar. "Dia hanya terjebak dalam lubang hitam yang kau ciptakan sendiri selama bertahun-tahun. Tapi sekarang, aku punya sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kesetiaan: Aku punya rahasianya."

"Kau yakin?"

Suara itu bukan berasal dari Isabella. Suara itu nyata, dingin, dan berasal dari dalam kamar.

Aira berputar cepat, tangannya secara insting mencari senjata. Di sudut balkon yang gelap, di mana tirai beludru biru tua berkibar ditiup angin malam, sesosok bayangan ramping sedang bersandar pada pilar. Cahaya bulan yang masuk menyinari ujung pedang tipis yang sedang dibersihkan dengan kain sutra putih oleh pemiliknya. Zane.

Zane tidak seperti Dante yang maskulin dan meledak-ledak. Zane adalah keanggunan yang mematikan, seorang pembunuh yang bisa membunuhmu sambil membacakan puisi.

"Zane? Apa yang kau lakukan di kamar pribadiku? Kau tahu hukumannya adalah eksekusi jika Dante menemukanmu di sini," suara Aira mencoba tetap berwibawa, meski ia merasa seperti dikepung oleh kawanan serigala dari segala sisi.

Zane melangkah maju dari bayang-bayang, gerakannya seringan kucing, nyaris tanpa suara di atas lantai kayu. Ia berhenti tepat di batas cahaya lampu minyak yang berkedip. Matanya yang berwarna abu-abu baja, dingin dan tanpa emosi, menatap lurus ke arah leher Aira—tepat di bekas tempat Dante menyembunyikan wajahnya beberapa saat lalu.

"Dante adalah dinding yang sangat kuat, Nyonya. Tapi dinding yang memiliki retakan rahasia akan runtuh hanya pada satu sentuhan yang tepat," ucap Zane datar, suaranya halus namun tajam seperti silet. "Saya melihat semuanya dari balik bayang-bayang langit-langit aula. Saya melihat bagaimana dia menatap Anda bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pria yang sedang tenggelam. Dan saya melihat bagaimana dia meninggalkan pintu ini tadi dengan tangan yang bergetar."

Zane berlutut di hadapan Aira, satu lutut menyentuh lantai, namun posisinya sama sekali tidak terasa seperti penghormatan seorang abdi. Ia meraih tangan kanan Aira yang masih memegang cermin perak itu dan mencium punggung tangannya dengan bibir yang terasa sedingin es.

"Julian sedang sibuk di bawah sana, membedah pikiran Pangeran Valerius dengan obat-obatannya. Kael sedang sibuk di aula, memastikan setiap tetes darah yang tumpah tidak meninggalkan noda pada marmer," bisik Zane sambil mendongak, menatap Aira dengan tatapan yang sangat intens, seolah ia sedang mempelajari anatomi mangsanya. "Tapi saya? Tugas saya adalah mengamati. Dan yang saya lihat sejak kepulangan Anda dari hutan bukanlah Isabella yang cengeng dan egois. Yang saya lihat adalah seorang wanita yang menggunakan wajah Nyonya saya sebagai topeng, namun memiliki api di matanya yang tidak pernah dimiliki oleh garis keturunan Velvet."

Aira membeku. "Zane, jika kau mencoba mengancamku dengan identitas itu—"

"Mengancam?" Zane memberikan seringai tipis yang jarang ia tunjukkan, sebuah ekspresi yang membuat wajah tampannya tampak sangat jahat. "Sama sekali tidak. Jangan salah paham. Saya justru berterima kasih. Isabella yang asli adalah majikan yang membosankan, lemah, dan mudah ditebak. Tapi Anda... Anda adalah sebuah teka-teki berdarah yang sangat menarik untuk dipertahankan hidup-hidup."

Zane berdiri, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aira. Bau parfum melati Aira bercampur dengan bau minyak pelumas pedang milik Zane.

"Dante mungkin akan melindungimu sekarang karena dia memiliki delusi bahwa dia bisa 'menyelamatkan' jiwamu. Tapi jika suatu saat dia sadar bahwa kau benar-benar telah memusnahkan Isabella kesayangannya... dia akan menjadi orang pertama yang membelah dadamu untuk mencari sisa-sisa jiwa wanita itu," Zane berbisik dengan nada memperingatkan.

Zane kemudian merogoh ikat pinggangnya dan mengeluarkan sebuah belati kecil bergagang hitam yang dihiasi permata obsidian. Ia menyelipkannya ke pinggang Aira dengan gerakan yang sangat hati-hati, memastikan jari-jarinya tidak menyentuh kulit Aira secara langsung.

"Gunakan ini jika Dante mencoba melampaui batasnya lagi. Perak di ujung belati ini telah direndam dalam racun yang bisa melumpuhkan saraf bahkan seekor beruang," kata Zane. "Dan ingat satu hal, Nyonya gadungan... di Velvet Manor ini, dinding memiliki telinga yang lapar, dan bayangan memiliki mata yang tak pernah terpejam. Saya akan terus mengawasimu, bukan karena saya setia, tapi karena saya ingin melihat bagaimana akhir dari komedi berdarah ini."

Dengan satu lompatan ringan yang mustahil secara fisik, Zane melompat keluar melalui jendela balkon dan menghilang ke dalam kegelapan malam hutan yang mengepung mansion, seolah-olah ia memang bagian dari bayangan itu sendiri.

Aira berdiri sendirian di tengah kamar yang luas namun terasa menyesakkan. Di tangannya ada cermin terkutuk yang bisa menghancurkan jiwanya, dan di pinggangnya ada belati dari seorang pembunuh yang tahu rahasia terbesarnya.

Ia berjalan ke arah cermin besar dan menatap pantulannya. Isabella asli tampak menatapnya balik dengan seringai kemenangan yang mengerikan.

"Kau pikir kau sudah mengendalikan mereka, Aira?" bisik bayangan itu. "Lihatlah dirimu. Kau tidak sedang memimpin mereka. Kau sedang berdiri di tengah-tengah jaring laba-laba, dan mereka semua adalah laba-laba yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menggigitmu."

Aira mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Jika aku harus menjadi mangsa, maka aku akan menjadi mangsa yang akan meracuni siapa pun yang berani memakanku."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia tiba di dunia ini, Aira tidak tidur. Ia duduk di kursi kerjanya, menatap Soul-Severing Mirror yang kini ia letakkan di tengah meja, menyusun rencana untuk babak selanjutnya: Menyingkirkan Pangeran Valerius secara permanen sebelum utusan istana datang, sembari memastikan Dante dan Zane tidak saling bunuh demi rahasia yang ia bawa.

Permainan baru saja dimulai, dan di The Velvet Manor, satu-satunya cara untuk menang adalah dengan kehilangan kemanusiaanmu sedikit demi sedikit setiap malamnya.

——————————

Halo guys, terima kasih banyak sudah support novel ini. Sebagai bentuk rasa syukur aku, atas dukungan dan antusias kalian untuk novel ini. Aku berikan 2000 kata untuk bab ini🥳

Jangan lupa like, komen, subscribe dan berikan vote/gift buat Aira, Dante, Kael, Zane dan Julian👋

1
Irsyad layla
si kael dimana thor?
Senja_Puan: next bab dia muncul kak😍
total 1 replies
Irsyad layla
kael mana?
Senja_Puan: Kael lagi jaga perbatasan hutan dan melindungi gerbang utama kak
total 1 replies
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!