NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batasan

Keheningan yang menyergap setelah pertanyaan polos Laras seolah membekukan waktu di dalam apartemen mewah itu. Laras bisa merasakan suhu tubuh Elang yang meningkat drastis, dan deru napas pria itu yang kini terdengar lebih berat di dekat telinganya. Wajah Laras yang tadinya merona merah karena gairah, kini berubah menjadi pucat pasi karena menyadari betapa "berbahaya" situasi yang ia ciptakan sendiri.

Laras menunduk, tidak berani menatap mata Elang yang gelap. Ia merasa sangat bodoh. Bagaimana mungkin ia, seorang wanita dewasa, bisa seceroboh itu menanyakan hal yang begitu intim dan memalukan di tengah suasana yang sedang memuncak?

"Tuan... saya... saya minta maaf," bisik Laras, suaranya bergetar hebat. Ia mencoba bergerak untuk turun dari pangkuan Elang, merasa bahwa keberadaannya di sana hanya akan memperburuk keadaan. "Saya benar-benar tidak bermaksud... saya hanya... maafkan saya."

Namun, tangan Elang yang besar tidak membiarkannya pergi. Alih-alih melepaskan, Elang justru mempererat pelukannya di pinggang Laras, menahan wanita itu agar tetap menempel pada tubuhnya.

Laras memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa dadanya sakit. Ia merasa bersalah karena telah merusak momen, dan lebih bersalah lagi karena ia merasa telah memancing sisi predator Elang yang paling liar.

Di luar dugaan Laras, Elang tidak marah. Pria yang biasanya meledak-ledak dan penuh otoritas itu justru mengeluarkan suara yang sangat jarang didengar Laras: tawa. Bukan tawa mengejek yang dingin, melainkan tawa rendah yang tulus dan sarat akan kegemasan yang tak tertahankan.

"Laras, Laras..." Elang menggelengkan kepalanya, masih dengan sisa tawa di tenggorokannya. Ia menjauhkan wajahnya sedikit agar bisa menatap wajah Laras yang kini sedang menunduk dalam-dalam. "Kamu benar-benar bidadari yang jatuh dari langit tanpa buku panduan tentang pria, ya?"

Elang mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Laras dan mengangkatnya perlahan agar mata mereka bertemu. Melihat mata Laras yang berkaca-kaca karena malu dan rasa bersalah, hati Elang yang sekeras baja itu mendadak melunak. Posesifitasnya yang tadi membara karena nafsu, kini berganti menjadi rasa ingin melindungi yang jauh lebih dalam.

Cup.

Elang mendaratkan sebuah ciuman lembut di pipi kanan Laras yang masih panas. Ciuman itu tidak menuntut, tidak liar seperti semalam. Itu adalah ciuman yang sangat menenangkan.

"Jangan minta maaf karena kamu polos, Laras," bisik Elang, suaranya kini kembali lembut namun tetap dalam. "Justru kepolosanmu inilah yang membuatku merasa... gila. Kamu tidak tahu betapa jarangnya aku menemukan sesuatu yang sejati di dunia ini."

Elang mengusap sisa air mata yang hampir jatuh dari sudut mata Laras dengan ibu jarinya. "Aku ingin menjagamu. Itulah alasanku melakukan semua ini. Aku ingin memastikan bahwa keindahan dan kepolosanmu tidak dirusak oleh tangan-tangan yang salah di luar sana. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang memiliki hak untuk melihat setiap inci dari dirimu."

Detak jantung Laras semakin tidak karuan. Kata-kata Elang terasa seperti mantra yang mengunci jiwanya. Ia merasa sangat kecil di hadapan pria ini, namun di saat yang sama, ia merasa sangat berharga.

Elang menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya sendiri yang masih terpengaruh oleh posisi Laras di pangkuannya. Ia menatap Laras dengan tatapan yang sangat serius, sebuah tatapan yang memancarkan kejujuran yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

"Tapi aku mohon padamu, Laras," suara Elang kini berubah menjadi nada memohon yang sangat kontras dengan sosoknya yang perkasa. "Jangan pernah lagi melanggar aturanku. Jangan pernah lagi berbohong atau pergi tanpa seizinku."

Tangan Elang yang tadi mengusap pipi Laras kini beralih memegang kedua bahu wanita itu dengan mantap. "Kamu tidak tahu seberapa besar aku berjuang untuk tidak melewati batas saat aku marah. Saat aku melihatmu di gudang tadi... saat aku tahu kamu membohongiku... ada bagian di dalam diriku yang ingin menghancurkan segalanya. Aku takut, Laras."

Laras tertegun. "Tuan... takut?"

"Aku takut aku akan menyakitimu," aku Elang jujur. "Aku takut jika kemarahanku meluap, aku akan melakukan hal-hal yang akan membuatmu membenciku selamanya. Aku takut aku akan memaksamu, mengurungmu di ruang gelap, atau melakukan apa pun agar kamu tidak bisa lepas dari genggamanku. Aku tidak ingin menjadi monster itu di depanmu."

Laras terdiam, hatinya terasa sesak mendengar pengakuan Elang. Ia baru menyadari bahwa aturan-aturan ketat yang selama ini ia anggap sebagai penjara, sebenarnya adalah cara Elang untuk melindungi Laras dari kegilaan Elang sendiri. Elang sedang membangun dinding agar monster di dalam dirinya tidak bisa menyentuh Laras saat ia kehilangan kendali.

Laras kembali melingkarkan tangannya di leher Elang, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tulus dan penuh pengertian. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Elang, membiarkan rambutnya yang harum menyentuh kulit pria itu.

"Saya berjanji, Tuan Elang," bisik Laras lirih. "Saya tidak akan berbohong lagi. Saya tidak akan pergi tanpa izin Anda. Saya... saya hanya ingin menari. Dan jika menari untuk Anda adalah satu-satunya cara agar Anda tenang, maka saya akan melakukannya."

Elang memejamkan matanya, menikmati janji yang keluar dari bibir Laras. Ia merasa sebuah beban besar terangkat dari pundaknya. Ia menciumi puncak kepala Laras dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Laras Maheswari," gumam Elang. Ia menyebut nama lengkap Laras dengan nada yang begitu sakral. "Ingatlah, setiap kali kamu merasa tertekan oleh aturanku, itu karena aku terlalu mencintaimu dengan cara yang mungkin tidak akan pernah kamu pahami. Kamu adalah satu-satunya hal yang paling berharga yang pernah aku miliki dalam hidupku yang kelam ini."

Laras tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mempererat pelukannya. Di dalam ruangan yang remang itu, di atas pangkuan pria yang paling ditakuti di kota ini, Laras merasa ia telah menemukan sebuah rumah—sebuah rumah yang mungkin memiliki pagar yang sangat tinggi dan penjaga yang sangat ketat, namun di dalamnya terdapat sebuah api yang menghangatkan jiwanya.

"Tuan... " Ucap Laras lirih.

"Iya?"

"Tuan tidak bertanya apakah aku.... Juga mencintai Tuan?"

Elang menghela nafas pelan.

"Dengan apa yang kamu lakukan sekarang, apakah itu tidak cukup? Atau kamu melakukannya hanya karena kewajibanmu?"

Laras terdiam.

Elang kemudian mengangkat Laras dengan lembut, memindahkan wanita itu dari pangkuannya kembali ke sofa. Ia tahu, jika ia membiarkan Laras di sana lebih lama, ia benar-benar akan melewati batas yang sedang ia bicarakan.

"Sekarang, tidurlah," ucap Elang sambil berdiri. "Aku akan meminta pelayan membawakan pakaian ganti yang lebih nyaman untukmu. Besok pagi, aku sendiri yang akan mengantarmu ke yayasan. Dan soal Maya..."

Laras menatap Elang dengan penuh harap.

"Dia tetap dilarang menjadi manajermu," tegas Elang, tak memberi ruang untuk tawar-menawar. "Tapi aku akan membiarkannya tetap tinggal di apartemenmu sebagai teman. Asal dia tidak lagi mencampuri urusan pekerjaanmu. Itu adalah batas toleransi terakhir dariku."

Laras tersenyum tipis, merasa sangat lega karena Maya tidak diusir sepenuhnya. "Terima kasih, Tuan Elang. Terima kasih banyak."

Elang menatap senyum Laras dan merasa seluruh dunianya kini berpusat pada bibir mungil itu. Ia segera memalingkan wajahnya sebelum ia kembali kehilangan akal sehatnya. "Tidurlah, Laras. Sebelum aku berubah pikiran."

Laras berbaring di sofa besar dengan selimut yang diberikan Elang, menatap punggung pria itu yang berjalan menuju balkon untuk mendinginkan kepalanya. Laras menyadari bahwa meskipun hidupnya kini penuh dengan batasan, ia merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Ia berada di bawah sayap Sang Elang, dan ia tahu, selama ia tetap patuh, ia akan selalu menjadi bidadari yang paling dipuja di dunia pria itu.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!