NovelToon NovelToon
Alana : Wounds And True Love

Alana : Wounds And True Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hee_Sty47

Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

***

Alana perlahan membuka kedua mata nya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya. Wanita itu sampai mengerjapkan kedua matanya saat melihat wajah Rayan di hadapan nya.

Pria itu masih terlelap namun posisinya yang miring menghadap ke arahnya.

Alana terdiam, menelisik dengan sangat jelas pria di hadapannya saat ini . Alana baru menyadari jika Rayan , lebih tampan dari Bian. Dan lagi masih muda.

Seketika dia menggeleng kepala nya. Bisa bisa nya dia membandingkan Rayan dan Bian.

Alana menghela nafas pelan. Lantas bangun dari posisinya. Sekilas matanya melirik pada jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.

Alana menampakkan kaki nya pada lantai yang dingin. Lantas dia berdiri seraya memasang sendal rumahan.

Dengan langkah pelan Alana masuk ke walk in closet dan mengambil pakaian gantinya.

Beberapa saat kemudian dia kembali keluar dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Suara pintu tertutup membuat Rayan yang memang sudah lebih dulu terbangun membuka kedua matanya. Pria itu menghembuskan nafas lega.

Nyaris saja dia ketahuan oleh Alana sedang menatap wajah cantik istrinya itu.

Dia bangun setengah jam lebih dulu dari Alana. Namun Rayan memilih diam di sana. Menatap wajah Alana dengan pikiran yang bergelantungan di kepala nya.

***

"Vin." Papi Winowo buka suara membuat Rayan several menoleh.

"Iya Pak. "

"Papi." Sela Wibowo mengoreksi. Rayan mengangguk kepala. "Sekolah untuk Kevin sudah siap semuanya . "

"Sudah pi. Senin sudah bisa masuk dan mengikuti pelajaran. " Alana yang mendengar lantas menoleh pada kedua orang itu. Tidak menyangka sang papi dan Rayan sudah menguruskan sekolah Kevin. Baru saja Alana hendak membahas pada papi dan mami nya.

Papi Wibowo mengangguk kepala seraya kembali menikmati sarapannya. Namun hanya sebentar. Karena papi Winowo kembali buka suara. "Kamu hari ini papi bebaskan pekerjaan mu. "

Rayan mengangguk kepala. "Makasih pi. " Sahut nya. Yang di balas anggukan papi Wibowo.

Tak ada lagi perbincangan antara mereka. Karena kini fokus pada sarapan masing masing. Hingga akhirnya mereka selesai.

Papi Wibowo pamit pada mereka untuk berangkat bekerja. Rayang mengantar kepergian Wibowo sampai mobil. Dan memberikan arahan lain pada teman nya yang bertugas mendampingi sang mertua.

Rayan melangkah masuk ke dalam rumah itu. Bertepatan mami Marina dan Kevin yang hendak pergi.

"Ibu ma_" Suara Rayan terpoto g.

"Mami Vin. " Tegur mami Marina.

"Mami mau kemana ? " Tanya nya langsung

"Mami mau pergi ke butik teman mami. Mau ngukur baju buat Kevin. " Rayan mengangguk mengerti.

"Perlu aku antar mi." Tawar nya.

"Nggak perlu, kamu bisa meluangkan waktu dengan Alana. " Kata wanita tengah baya itu dengan mengulas senyum. Rayan lantas mengiyakan. Karena dia juga perlu bicara dengan Alana.

Kevin pamit pada sang daddy. Begitu pula mami Marina. Rayan kembali mengantar keduanya keluar sampai berada di dalam mobil.

Bebarapa saat kemudian pria itu masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga namun berpapasan dengan Alana.

"Mas Ray"

Rayan tertegun sesaat. Hati nya berdesir hebat mendengar suara Alana yang melantun dengan lembut, jantungnya sampai berdegup deram.

"Ada yang mau saya bicarakan Alana. " Pasangan suami istri saling pandang, yang berada di tengah tengah tangga.

Alana mengangguk. " Mau bicara di mana mas. Di kamar atau di ruang keluarga. "

"Di samping saja, di gazebo. " Tentu Rayan sangat tahu seluk beluk kediaman papi Wibowo. Jadi Alana tak heran . Wanita itu mengangguk mengerti. Lantas Rayan memutar badannya dan kembali menuruni anak tangga. Di ikuti oleh Alana yang mengekori punggung tegap Rayan.

"Mas." Panggil Alana, Rayan langsung berhenti dan menoleh pada wanita itu.

"Mas Ray mau kopi?" Tawar Alana

"Boleh."

"Mas duluan, saya buatkan kopi dulu. " Pria iu tersenyum tipis seraya mengangguk kepala.  Senyum yang membuat Alana jadi gugup. Lantas Alana melengos dari sana.

Beberapa saat kemudian Alana melangkah dengan membawa nampan berisi kopi, minuman untuk nya serta toples kue kering.

Rayan yang mendengar suara derap langkah lantas menoleh singkat sebelum akhirnya kembali menatap ponsel nya.

"Maaf lama mas. "

"Santai aja. " Sahut Rayan seraya meletakkan ponselnya di atas meja. Alana mengangguk dan meletakkan secangkir kopi hangat tepat di hadapan sang suami .

Rayan menyesap kopi usai meniupnya.

"Alana." Panggil Rayan sambil meletakkan kopinya kembali.

"Ya mas. " Alana yang semula menatap kolam renang lantas menoleh.

"Kamu sudah tanggung jawab saya. Karena saya sudah menjadi suami kamu. Rencana saya akan membawa kamu dan Kevin ke rumah saya sendiri, rumah kita. " Alana meremat tangannya di atas pangkuannya. "Apa kamu setuju Alana. Kamu tidak perlu khawatir. Rumah ini saya bangun empat tahun yang lalu. Itu bukan rumah saya bersama mantan istri saya." Jelas Rayan takut Alana berpikir demikian.

"Saya ikut mas Ray kemana pun, karena saya sudah menjadi istri mas." Sahut Alana

Sebenarnya dia hendak lama tinggal di kediaman papi, mami nya. Mengingat 10 tahun lamanya dia tak tinggal bersama di rumah ini. Namun dia bisa apa. Tidak mungkin dia menolak dan justru membuat Rayan kecewa. Bagaimana pun memang dirinya sudah tanggung jawab pria itu.

Rayan mengangguk, namun di dalam hatinya merasa lega karena Alana tidak menolak.

"Rumah nya tidak jauh dari sini kok. Mau liat bersama. " Alana mengangguk kepala tanda dia setuju.

"Ok , kita tunggu Kevin pulang ya."

Arumi tersenyum dan mengangguk. Rayan benar benar tak melupakan Kevin. Padahal bisa saja jika Rayan membawa nya saja.

"Mas, mmm saya akan mulai mengajar di salah satu Universitas senin ini." Beritahu Alana.

Rayan mengangguk meskipun dia sudah tahu lebih dulu dari papi Wibowo. Namun dia menghargai Alana yang memberitahu. "Nggak apa apa kan mas jika saya bekerja?" Tanya Alana kembali dengan hati hati lantaran takut Rayan merasakan jika dirinya tak mampu menghidupi kebutuhan dia bersama Kevin. Bukan itu, Alana yakin gaji Rayan besar dan pria itu mampu menghidupi kebutuhannya. Hanya saja dia sudah menginginkan pekerjaan ini.

"Saya mengijinkan kamu Alana. Nggak masalah bagi saya. Dan kamu perlu tahu saya mungkin akan jarang berada di rumah, seperti yang kamu tahu kesibukan papi seperti apa. "

"Iya mas saya mengerti. "

***

"Oh ini cucu kamu jeng. Tampan sekali." Mami Marina mengembangkan senyuman nya.

"Ya cucu saya, anak nya Alana."

"Oh jadi Alana sudah balik jeng."

"Iya, kontrak pekerjaan nya di sana sudah habis." Wanita itu mengangguk.

Lalu membawa Kevin untuk mengukur fostur tubuh putra dari Alana itu.

Hampir setengah jam berada di sana. Akhirnya mami Marina pamit.

"Capek banget ya nungguin oma berbincang."

Kevin mengulas senyum, "Tidak apa apa oma, Kevin sama sekali tidak capek." Mami Marina lantas merangkul cucu nya karena gemes.

Wanita itu mengulas senyum dan keluar dari butik. Namun senyum itu pudar kala seseorang menegurnya.

"Tante Rina. "

"Caca." Kaget mama Marina. Caca mengulas senyum sambil melirik ke arah Kevin yang nampak tak asing di mata nya.

"Apa kabar tan. " Caca lantas nyapa

"Baik Ca, sama siapa ? " Tanya mami Marina sambil mengedarkan pandangannya.

"Sendiri tan, mas Bian ke kantor. " Jawab Caca yang mengerti dengan aksi mami Marina. Mama Marina menghela nafas lega. Wanita itu menetral perasaanya yang sempat cemas.

Mama Marina mengangguk. "Siapa tan?. " Tanya Caca sambil menatap Kevin.

"Ahh, cucu saya. Anak nya Alana. "

"Alana, ahh tampan sekali. Pantas seperti tak asing wajahnya tan. Alana sudah kembali tan" Mama Marina ketar ketir. Wanita mengangguk mengiyakan.

"Sayang, sapa tante Caca. "

"Kevin tante. "

"Tante Caca " Tangan Caca yang menganggur bahkan mengusap pucuk kepala Kevin singkat.

"Ya sudah ya Ca, kami duluan." Pamit mami Marina.

"Iya tan hati hati. " Mami Marina mengangguk seraya membawa Kevin menjauh dari sana.

Caca menatap nanar kepergian mobil mami Marina. Lantas sesaat kemudian dia memutar tubuh nya dan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam butik.

***

Rayan , Kevin dan Alana melangkah masuk ke dalam rumah dua lantai minimalis modern. "Maaf tidak sebesar rumah papi." Kata Rayan buka suara.

Tidak besar, tapi ini mewah.  Batin Alana.

"Saya suka mas. Sangat nyaman. Bahkan ini besar untuk di tinggali oleh kita bertiga. "  Sahut Alana, tak ingin suaminya merendahkan seperti itu.

"Bagimana dengan mu boy. "

"Bagus dad, Kevin suka." Rayan mengulas senyum dan merangkul Kevin membawa ke duanya berkeliling. Dengan Alana yang tersenyum melihat kedekatan keduanya.

Wanita itu mengekori keduanya sambil ikut melihat rumah yang sudah lengkap dengan segala perabotan.

"Nah ini kamar kamu boy. "

"Kevin sangat suka dad, suasana baru dengan kehidupan baru kita." Serunya semangatnya.

Hati Alana terenyuh.

Alana sebenarnya saat ini di landa resah dan gelisah. Mami nya tadi memberitahu jika bertemu dengan Caca di butik. Jujur Alana belum siap jika sampai Bian melihat Kevin saat ini. Dia belum siap dengan segala macam sesuatu yang akan terjadi. Apa lagi Caca menatap Kevin dengan begitu intens.

"Alana " Wanita itu tersentak saat Rayan menyentuh lengan dan memanggil namanya. Dia lantas mendongak untuk menatap sang suami.

Rayan dapat melihat keresahan di dalam raut wajah Alana saat ini.

"Ayo kita ke bawah, liat kamar utama. Kamar kita. " Alana lantas mengangguk saja, belum sepenuhnya merespon dengan benar.

"Dad, mom, Kevin di sini aja nanti nyusul kebawah. "

"Ok boy. " Sahut Rayan.

Alana kembali mengekori Rayan. Pikirannya yang berisik hingga tak menyadari langkahnya sendiri.

Brukk!

Alana menabrak punggung kekar Rayan, membuat wanita itu mengaduh.

Rayan langsung membalikan tubuhnya tangannya bergerak mengusap kening Alana.

"Apa ada masalah. Kenapa jalan sambil melamun? " Tanya Rayan . Sementara Alana terpaku di tempat.

Jantungnya berdegup tak menentu. Bahkan dia sampai tak bernafas dengan baik, posisi sedekat ini dengan Rayan, membuat aroma tubuh bercampur parfum pria itu langsung menguar dalam indra penciuman Alana.

"Maaf mas. " Dengan suara pelan nyaris berbisik.

"Sakit nggak? " Tanya nya terlihat sekali rasa khawatir nya.

"Sedikit mas. Udah nggak kok." Kata Alana lantas mundur, agar Rayan menghentikan aksi mengelus keningnya. Sungguh dia tak ingin Rayan mendengar jantungnya yang berdetak dengan menggila.

Sementara Rayan diam sesaat. Namun pria itu langsung meluruhkan kedua tangannya.

Pria itu tanpa bicara langsung membalikan tubuhnya dan melangkah ke kamar utama.

Alana mengigit bibirnya singkat, lantas menyusul Rayan.

"Ini kamar kita." Alana mengangguk saja. "Kamu tidak suka? "  Tanya Rayan saat melihat raut wajah sang istri yang nampak biasa biasa saja.

"Suka mas, mmm mas. " Alana sedikit meragu. " Apa kita harus sekamar." Kata nya hati hati.

Rayan yang semula menatap ke arah lain lantas kembali menatap Alana . "Apa kamu ingin pisah kamar? " Tanya Rayan, alih alih menjawab pertanyaan wanita di hadapan nya saat ini dia justru melemparkan pertanyaan.

Glek!

Wanita itu meneguk ludah nya susah payah. "Mmm itu. " Alana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Suara Rayan benar benar seperti mengintimidasi dirinya. Terkesan dingin.

"Baiklah jika kamu ingin pisah kamar." Putus Rayan tanpa mendengar ucapan Alana yang belum sama sekali terlontar dari wanita itu. Tapi dia sudah bisa menyimpulkan jika Alana tak ingin satu kamar.

Rayan melengos begitu saja keluar dari kamar utama dengan suara yang jauh lebih dingin dengan ucapan nya barusan.

Alana membeku di tempat.

1
tia
kasihan nasib u rayan 😁
Ameliaputri Putri
pepet terus ray pasti tdk lama lg aluna akan jtuh d pelukanmu krn dia udah cinta kamu
tia
lanjut thor ,,,jgan sampe ada pelakor
Ameliaputri Putri
makin seru lanjut thor
Ameliaputri Putri
komunikasi suami istri itu penting, begitulah jadinya kalau miscom, alana salah knp g terus terang aja selalu kalau ada apa² d pendam d hati g mau ngungkapin
RnStar
Salah paham lagi pasti nih. Yang satu lemot, yang satu cepat menyimpulkan
Dwi Retno
lanjuutt thorrr
RnStar
gas Alana.
RnStar
Sweet, lanjut dong Thor 🙏
RnStar
bouwlehh🤣
RnStar
ulat bulu mulai nongol nih huh
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
RnStar
Alana kalau nggk mau sama Rayan, biar sama aku aja 🤣
RnStar
Bagus, seru
RnStar
lanjut Thor double 🙏
RnStar
Sepertinya Alana mulai ada perasaan.
RnStar
seneng deh, Rayan mode sat set
RnStar
Ketebak kan, ktmu ma Bian. Move on Alana, ada Rayan yang sudah cinta sama kamu
RnStar
Curiga nanti ktmu ma Bian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!