"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Happy reading<<<<<<<<
"Iya Dok, lagi malas aja Dok." jawab Imlie berbohong.
"Lain kali harus sarapan ya. Karena itu baik untuk tubuh kita.. Kalau tidak sarapan maka Kamu akan lemas dan jatuh sakit kaya gini." ujar Sang Dokter.
"Iya Dok, terimakasih." jawab Imlie tanpa menatap Aryan yang menatapnya dari brangkar Imlie.
"Lo, kenapa nggak makan hah? Mau mati?" tanya Aryan tajam dan Viona menyembunyikan senyumannya.
"Ng-gak usah sok peduli." ujar Imlie malas membuat Aryan melotot.
"Lo.."
"Assalamualaikum.... Ya Gusti, My Baby bala bala.. Kamu kenapa sampai bisa seperti ini, kan Emak udah bilang jangan ngeyel Kamu." ujar Yoyo yang sekarang sudah menggantinya sebagai Emaknya Imlie setelah kemarin kemarin Bapaknya Imlie.
Yoyo memeluk Imlie dan itu terlihat jelas di pandangan Imlie.
"Jaga sikap Lo." ujar Aryan.
"Dih, buat apa? Ini kan Anak Gue.. Jadi, terserah Gue dong." ujar Yoyo tanpa takut jika melihat Sahabat sahabatnya berada di kondisi kaya gini.
"Lili.. Lo baik baik aja kan? Mana yang sakit, sini kita pijitin ya." ujar Emina. Sedangkan Wardah sudah mengusap kepalanya Imlie. Ya, Wardah dia memang tampak dewasa umurnya juga di atas mereka. Sehingga Imlie suka mengandu padanya seperti seorang Kakak.
"Makasih ya.... Btw, kenapa kalian bisa tau kalau Gue ada di sini?" tanya Imlie.
"Itu dari pangeran penyelamat Lo. Si Daffa tampan." ujar Wardah.
"Dih." ujar Imlie dan mereka tertawa bersama.
"Heh, Kalian bisa kecilin suara kalian tidak. Viona lagi sakit, nggak usah berisik." bentak Aryan.
"Oooh." ujar sahabatnya Imlie.
"Emak, bisa minta tolong tutup tirainya nggak?" ujar Imlie.
"Boleh dong Nak." jawab Yoyo.
"Imlieee." geram Aryan di samping brangkar Viona.
"Sorry, biar nggak ganggu kemesraan kalian." ujar Imlie sedangkan wajah Aryan sudah sangat dingin.
"Awas aja ya Lo." batin Aryan geram.
Akhirnya bel pulang pun terdengar, Imlie sudah agak baikan, tadi dia di suruh pulang tapi tidak mau. Jadi, berakhirlah dia mengikuti jam mata pelajaran. Padahal bagi semua orang akang senang jika di suruh pulang. Tapi, Imlie tidaaak, dia ingin berjuang mendapatkan nilai tinggi terus biar nanti mendapatkan beasiswa seperti sekarang dia bersekolah. Karena orang tuanya saja sudah tidak membiayai hidupnya lagi, palingan cuman tempat tinggal yang Imlie dapatkan.
"Ayo! Imlie semangat.. Kita cari kerja biar bisa buat makan." batin Imlie yang saat ini sedang duduk dengan sahabat sahabatnya saja. Karena pada murid sudah pulang.
"Lili, jadikan cari kerjanya?" tanya Emina.
"Iya dong.." jawab Imlie semangat.
"Kita temani ya." ujar Wardah.
"Beneran nih? Serius? Aaaa makasih Wawa. Makasih bestie bestie Gue." ujar Imlie memeluk Wardah dan Emina juga Yoyo bergabung, jadilah mereka saling pelukan.
"Eh, Li.. Maaf ya Emak nanya kaya gini, tapi kan Kamu anak orkay nih, kenapa harus cari kerja?" tanya Yoyo dan Imlie terdiam. Memang ketiga temannya ini tau masalah Imlie yang di benci keluarganya karena pada saat itu sempat ke rumah Imlie dan melihat Imlie di marahin habis habisan.
"Ya.. Kalian tau lah. Seperti apa hidup Gue.. Kali ini Gue nggak di kasih uang jajan, makan.. Jadi, Gue harus kerja biar bisa makan." ujar Imlie pelan membuat Emina dan Wardah mengelus bahunya.
"Jahat banget ya." ujar Emina keceplosan.
"Eh, maaf maaf." ujar Emina sadar.
"Kenapa kaget, memang jahat kok.... Ada ya orang tua kaya gitu." ujar Yoyo.
"Tapi Gue Sayang sama mereka, bersyukur aja Gue walau nggak di kasih makan.
Alhamdulillah masih di kasih tempat tidur." ujar Imlie dengan senyuman khasnya.
"Nggak usah sok kuat. Kalau mau nangis nangis aja." ujar Wardah.
"Ng-gak ko-k hiks...."
Pecah sudah tangisan Imlie yang sejak tadi dia tahan Wardah membawa tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya di ikuti kedua sahabatnya yang juga memeluk Imlie memberikan ketenangan.
"Hiks.. Gue sayang banget sama kalian. Cuman Kalian yang Gue punya.. Hiks, Gue hiks mohon apapun yang terjadi, jangan hiks tinggalin Gue ya.. Cuman kalian alasan Gue bertahan hiksss.." tangis Imlie pecah.
"Hiks.. Hiks... Kita janji Li, Lo nggak bakal kehilangan Kita. Kita akan selalu ada buat Lo." ujar Emina dan Yoyo ikut menangis sedangkan Wardah hanya terdiam saja sambil mengepalkan tangannnya kuat kuat. Dia tidak bisa melihat sahabatnya rapuh seperti ini.
"Gue janji Li, Gue nggak bakal ninggalin Lo." batin Wardah menyeka sedikit air matanya.
"Hiks.. Kenapa kalian ikut nangis ih. Kan jadi lucu." ujar Imlie setelah pelukan itu terlepas.
"Hehhee hiks hiks.. Kita kan ikut sedih Li, Lo gimana sih nggak menghargai tangisan kita aja.. Hiks hiks.. Iya nggak Anjelin." ujar Emina pada Yoyo.
"Hik, hiks... Iya Nak, Emak sedih tauuuu.. Kamu mau jadi anak durhaka dengan tidak menghargai tangisan Emak yang luar biasa dan berharga ini Nak. Ingat! Surgamu ada di make Up Emak." ujar Anjelina dan suasana yang tadinya sedih malah kembali ceria dengan candaan mereka yang lucu.
"Sialan, apa yang Gue lewati." batin Aryan yang baru datang dan melihat Imlie menangis di pelukan sahabat sahabatnya.
"Cuman kalian yang Gue punya? Terus Gue di anggap apa sama ini gadis. Gue Cowoknya tapi kenapa dia nggak... Akhhh... Sialan." batin Aryan. Ck, nggak sadar diri ya Si Aryan ini.
Padahal dia sendiri yang membuat Imlie tidak menganggapnya sandarannya di saat gadis itu rapuh.
Dengan cepat Aryan langsung masuk ke dalam kelas keempat sahabat itu langsung kaget bukan main.
"Hm." jawab Imlie malas.
"Ikut Gue."
"Nggak Aku ada urusan." tolak Imlie.
"Urusan apa, hmm? Urusan nangis nangis?" tanya Aryan menatap tajam Imlie.
"Nggak, untuk hari ini Aku serius, Aku lagi sibuk..jadi, jangan ganggu dulu..sana Viona lebih membutuhkanmu." ujar Imlie dan Aryan mengepalkan tangannya.
"Ikut Gue." ujar Aryan dengan suara beratnya.
"Aku Mohon Kak, hari ini stop dulu tambah masalah. Aku lagi sibuk banget." ujar Imlie membuat mata Aryan melotot.
"Nambah masalah? Gue nambahin masalah Lo?" tanya Aryan tak terima.
"Bukan gitu.. Tapi... Aissh sudah lah mau ngomong apa Kak?" ujar Imlie mengalah.
"Ikut Gue." ujar Aryan.
"Guys, kalian tunggu sebentar sini dulu ya. Nanti Gue balik lagi." ujar Imlie.
"Nggak, suruh mereka pulang aja. Gue yang bakal antar Lo pulang." ujar Aryan Imlie berbalik pada teman temannya dan memberikan kode versi geng mereka ini. Dan kemudian tangannya di tarik Aryan.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Imlie.
"Roftoop." jawab Aryan singkat sesampai di depan tangga menuju rooftop Aryan malah menggendong Imlie.
"Aaaa Kak, turunin Aku. Aku bisa jalan sendiri." ujar Imlie yang kaget.
"Diam." ujar Aryan tajam dan membuat Imlie terdiam.
Ceklek
"Kak, ini udah sunyiii.. Aku mau pulang." ujar Imlie setelah Aryan menurunkannya.
Grep
Tiba tiba saja Imlie di peluk erat oleh Aryan membuat Imlie kaget.
"Balas pelukan Gue Sayang." ujar Aryan Imlie terdiam tapi balik memeluk Aryan.
"Kenapa Lo nggak cerita sama Gue, soal keadaan Lo sekarang. Apa yang terjadi lagi, hmm? Kenapa sampai Lo terlihat rapuh di depan sahabat sahabat Lo? Sedangkan Gue yang sebagai Cowok Lo. Di abaikan." bisik Aryan kemudian beralih mengecup rambutnya Imlie.
"Nggak ada." jawab Imlie pelan. Membuat Aryan melepaskan pelukan itu.
"Jangan bohongin Gue bangsat." sudah Aryan kembali mengumpati Imlie.
Dengan cepat Imlie mendorong Aryan sehingga mereka berjarak.
"Sayang." ujar Aryan dengan suara beratnya.
"Nggak, jauh jauh Kak. Aku takut Kamu sakitin Aku lagi malau sedang emosi kaya gini. Aku kan udah bilang hari ini jangan dulu tambahin masalah Aku." ujar Imlie menunduk.
"Siapa yang mau nambahin. Gue cuman mau Lo cerita biar Gue bisa bantu Lo." ujar Aryan dan kembali membawa Imlie ke pelukannya.
"Mereka apain Kamu lagi, hmm? Cerita sama Gue." ujar Aryan.
"Bukan mereka, tapi Kamu Kak. Kakak yang sudah buat Aku kaya gini. Kakak yang sudah buat Aku merasa Kalau Kakak nggak ada di samping Aku lagi." ujar Imlie yang memang ini adalah unek uneknya yang juga ingin ia keluarkan.
"Gue minta maaf, tapi Viona sangat membutuhkan Gue." ujar Aryan sungguh Imlie sangat muak dan memberi jarak dengan Aryan.
"Iya, Viona sangat membutuhkan Kakak dan Aku tidak. Kak, Viona masih punya keluarga yang sayang banget sama dia. Walaupun mereka nggak ada waktu untunya. Tapi, setidaknya orang tuanya Viona sangat menyanyanginya. Sedangkan Aku? Hehehe Aku cuman gadis yang di benci keluarga Aku sendiri Kak. Dan di saat Kakak yang Aku jadikan rumah untuk Aku pulang. Tapi, malah Kakaklah yang membuat Rumah itu tak nyaman untuk Aku Kak. Dan yang bisa Aku andalkan sekarang cuman sahabat sahabat Aku. Miris banget ya Aku sangat gila kasih sayang... Aku sangat gilaaaaa." ujar Imlie frustasi. Membuat Aryan terdiam.
"Maaf, maaf Sayang." ujar Aryan ingin membawa Imlie ke pelukannya.
"Nggak, jangan minta maaf Kak. Aku yang seharusnya minta maaf, karena sudah mengekang Kakak untuk menyayangi gadis yang gila kasih sayang ini Kak." ujar Imlie menahan sesak yang luar biasa.
Grep
"Shuuut, udah Sayang. Lo nggak gila kasih Sayang, Lo pantas mendapatkan semua itu." ujar Aryan mengusap bahu Imlie yang bergetar.