Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Provokasi Koki Elit
Pagi itu, Dapur Luar Sekte Awan Mengalir terasa seperti sebuah kuil Zen yang didedikasikan untuk dewa sayur-mayur. Cahaya matahari pagi mengalir lembut melalui celah-celah atap kayu, menerangi partikel tepung spiritual yang melayang di udara bagai serbuk peri.
Tidak ada lagi teriakan kasar. Tidak ada lagi bunyi bantingan wajan. Wang Ta, pria gempal yang dulunya adalah tiran dapur, kini berdiri di depan talenannya dengan mata setengah terpejam. Tangannya yang memegang pisau daging bergerak memotong lobak putih dengan ritme yang sangat pelan, lambat, dan penuh penghayatan, seolah-olah ia sedang membelah rahasia alam semesta. Setiap irisan lobak jatuh tanpa suara ke keranjang anyaman di bawahnya.
Di sudut barat laut, di balik tirai sutra biru yang kini dijaga oleh dua murid pelayan yang berdiri tegak bak patung penjaga kuil, terdengar harmoni alam yang sesungguhnya.
Kreeet... kreeet... zzzzz...
Lin Fan sedang menguji batas maksimal dari "Kursi Goyang Energi Qi"-nya. Ia berbaring dengan sebelah kaki menggantung santai, sebuah bantal sutra es menutupi sebagian wajahnya untuk menghalau sinar matahari, dan tangannya menggaruk perutnya sesekali. Udara di sekitarnya berputar lambat, memancarkan gelombang Qi hijau keemasan yang membuat sayuran di dapur itu terlihat lebih segar dan lebih renyah hanya dengan berada di dekatnya.
Namun, kedamaian mutlak ini adalah sesuatu yang terlalu indah untuk bertahan lama di dunia kultivasi yang penuh dengan ego dan ambisi.
BRAAAK!
Pintu ganda Dapur Luar yang terbuat dari kayu oak padat ditendang terbuka dengan kekuatan yang sangat brutal. Engsel besinya menjerit putus asa sebelum salah satunya patah, membuat sebelah daun pintu menggantung miring. Gelombang angin panas yang membawa bau rempah menyengat dan niat bermusuhan menyapu ke dalam ruangan, menerbangkan partikel tepung dan memadamkan beberapa tungku kecil.
Harmoni dapur seketika hancur. Wang Ta tersentak hingga pisaunya nyaris memotong jarinya sendiri. Zhao Er, yang sedang menyapu lantai, menjatuhkan sapunya dengan gemetar.
Tiga sosok melangkah masuk menembus debu kayu yang beterbangan. Di depan mereka adalah seorang pria paruh baya bertubuh tinggi kurus layaknya sebatang bambu kering. Hidungnya bengkok seperti paruh elang, dan matanya menyipit memancarkan arogansi yang membakar. Ia mengenakan jubah koki berwarna putih bersih yang disulam dengan benang emas membentuk pola naga api—seragam resmi Kepala Koki Dapur Dalam.
Di belakangnya, dua asisten koki yang tak kalah angkuhnya membawa kotak-kotak kayu berlapis perak yang berisi peralatan masak tingkat tinggi.
"Jadi ini tempatnya," suara pria jangkung itu terdengar tajam dan melengking, memotong udara seperti pisau cukur. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra. "Kandang babi yang tiba-tiba mengklaim memiliki seekor naga. Bau kemiskinan dan kebodohan di sini membuat meridianku kram."
Wang Ta buru-buru meletakkan pisaunya dan berlari kecil menghampiri pria itu. Wajah gempalnya basah oleh keringat dingin. "Koki Kepala Yan! Apa... apa yang membawa Yang Mulia dari Dapur Dalam ke tempat kotor kami ini?"
Yan mendengus keras, melirik Wang Ta dari ujung matanya seolah melihat seekor cacing yang gemuk. "Diam kau, Wang Ta. Aku tidak datang untuk berbicara dengan koki rendahan sepertimu. Berita telah menyebar ke seluruh Puncak Utama. Su Qingxue, jenius kebanggaan sekte, menolak membiarkan Dapur Dalam memproses Urat Naga Tanah miliknya, dan malah membawanya ke sini! Terlebih lagi, aku mendengar rumor konyol tentang seorang 'Master' di tempat ini yang berlatih Dao Kekosongan."
Yan melangkah maju, sepatu bot kulit naga tanahnya berderit di lantai batu. "Dapur Dalam adalah jantung nutrisi dari Sekte Awan Mengalir. Kehormatan kami telah diinjak-injak oleh rumor murahan dari tempat sampah ini! Aku, Yan Lie, datang untuk menantang 'Master' palsu itu dalam Duel Dao Kuliner! Jika dia kalah, aku akan memotong tangannya dan membakar dapur ini sampai rata dengan tanah!"
Udara di ruangan itu mendadak terasa hampa. Duel Dao Kuliner bukanlah kompetisi memasak biasa; ini adalah pertarungan di mana koki memasukkan Qi mereka ke dalam makanan. Pihak yang kalah biasanya akan mengalami serangan balik energi yang menghancurkan meridian mereka selamanya. Yan Lie adalah kultivator Pemurnian Tubuh Tingkat 8 yang berspesialisasi dalam elemen api liar!
Di balik tirai sutra, Lin Fan menghela napas panjang dari balik bantalnya.
Berisik sekali, batin Lin Fan kesal. Baru saja aku menemukan sudut kemiringan kursi yang sempurna untuk tulang punggungku, sekarang ada tukang masak sombong yang berteriak-teriak soal potong tangan. Apakah di sekte ini tidak ada aturan tentang jam tenang?
Wang Ta merentangkan kedua tangannya yang gemuk, berusaha menghalangi jalan Yan Lie menuju sudut barat laut. "Koki Yan, tolong! Anda tidak mengerti! Master Lin sedang bermeditasi! Jika Anda mengganggu ketenangannya, konsekuensinya—"
"Menyingkir, babi gemuk!"
Yan Lie mengibaskan lengan bajunya. Sebuah gelombang Qi elemen api yang panas menghantam dada Wang Ta, membuat pria gempal itu terlempar mundur dan menabrak tong berisi air beras hingga basah kuyup. Zhao Er berteriak ngeri dan segera berlari membantu Wang Ta.
Yan Lie tidak peduli. Matanya tertuju pada tirai sutra biru muda di sudut ruangan. Niat bertarungnya membara. Dengan satu gerakan tangan yang dramatis, ia melepaskan embusan angin panas yang merobek tirai sutra itu menjadi serpihan-serpihan kecil yang berjatuhan bagai hujan daun layu.
"Keluarlah, penipu!" raung Yan Lie.
Debu sutra perlahan turun. Pemandangan di baliknya membuat Yan Lie dan kedua asistennya mematung.
Alih-alih seorang master dengan aura menakutkan yang sedang duduk bersila, mereka melihat seorang pemuda berjubah kumal sedang berbaring di atas kursi rotan. Bantal sutra es yang tadi menutupi wajah pemuda itu telah merosot, memperlihatkan mata yang setengah terbuka, memerah karena kurang tidur, dan ekspresi yang begitu bosan hingga nyaris terlihat seperti orang mati.
Lin Fan menatap Yan Lie. Ia tidak bangun. Ia bahkan tidak menarik kakinya yang menggantung. Ia hanya mengangkat sebelah tangannya, mengorek telinganya dengan jari kelingking, lalu meniup ujung jarinya.
"Pintu kayu itu harganya lima keping tembaga, dan tirai itu harganya dua keping perak," suara Lin Fan terdengar serak, pelan, dan sama sekali tidak memiliki fluktuasi emosi. "Kau yang membayarnya, atau aku harus meminta tagihan ke Puncak Utama?"
Wajah Yan Lie berubah menjadi merah padam. Urat-urat hijau menonjol di lehernya yang kurus. Ini adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima! Seorang pelayan tidak repot-repot berdiri saat dihadapannya, malah menagih biaya ganti rugi perabotan rongsokan!
"Keparat sombong!" Yan Lie menarik sebuah pisau daging raksasa dari punggungnya. Bilah pisau itu berwarna merah menyala, memancarkan hawa panas yang membuat udara di sekitarnya beriak. Itu adalah 'Pisau Pemotong Magma', pusaka tingkat menengah.
"Aku menantangmu! Sekarang juga! Kita akan membuat satu hidangan! Pihak yang masakannya mengandung energi spiritual lebih rendah harus berlutut, mematahkan tangannya sendiri, dan merangkak keluar dari sekte ini!"
Pada detik itu, suara mekanis yang dingin berdenting di kepala Lin Fan.
[Ding! Terdeteksi provokasi dari elit pekerja keras yang mengancam jam tidur Host.]
[Misi Harian: Menangkan Duel Dao Kuliner melawan Yan Lie. Syarat mutlak: Host dilarang keras berdiri, dilarang menyentuh alat masak apa pun, dan dilarang menggunakan energi api.]
[Hadiah Misi: Pengalaman Kultivasi +1000, 'Tungku Keabadian Malas' (Benda spiritual pasif yang akan memasak bahan apa pun menjadi lezat tanpa perlu dijaga atau diaduk).]
Mendengar hadiah misi tersebut, mata Lin Fan yang sayu sedikit berbinar. Tungku yang memasak sendiri? Ah, ini adalah benda suci yang lebih berharga daripada pedang dewa mana pun.
Lin Fan sedikit memperbaiki posisi kepalanya di bantal. "Baiklah. Duel diterima. Tapi mari kita buat cepat. Aku punya jadwal tidur siang kedua yang tidak bisa ditunda. Mulailah duluan, Koki Yan. Aku akan menonton."
Yan Lie tertawa sinis, tawa yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Kau akan menyesali kesombonganmu!"
Yan Lie segera beraksi. Asistennya melempar sebuah wajan hitam raksasa ke udara. Yan Lie melompat setinggi tiga meter, kakinya menendang udara, dan tangannya mengalirkan Qi api merah yang membakar bagian bawah wajan itu hingga bersinar menyilaukan.
Ia mendarat dengan kuda-kuda yang kokoh. Tangannya bergerak secepat kilat. Potongan daging burung unta spiritual, berbagai rempah api dari selatan, dan kaldu tulang naga bumi dimasukkan ke dalam wajan.
WOOOSH!
Api merah menyala setinggi dua meter dari dalam wajan. Yan Lie mengayunkan pisaunya, memotong sayuran di udara yang langsung jatuh tepat ke dalam masakannya. Keringat bercucuran dari wajahnya, otot-otot lengannya menegang ekstrem saat ia mengaduk makanan itu menggunakan Qi apinya. Ruangan dapur terasa seperti di dalam kawah gunung berapi. Aroma pedas dan gurih yang luar biasa kuat menusuk hidung siapa pun yang menciumnya, memaksa air liur keluar tak terkendali.
"Lihat ini, dasar sampah!" teriak Yan Lie di sela-sela napasnya yang terengah-engah. "Ini adalah teknik 'Burung Phoenix Mandi Api'! Dibutuhkan konsentrasi sempurna dan pengeluaran Qi tingkat delapan untuk menyatukan elemen api liar ke dalam daging!"
Di seberang ruangan, murid-murid Dapur Luar menelan ludah ketakutan. Mereka belum pernah melihat teknik memasak sebrutal dan sekuat itu. Wang Ta menggigit bibirnya hingga berdarah, merasa putus asa untuk Master Lin.
Bagaimana Lin Fan akan membalas ini? Master Lin bahkan tidak punya alat masak di dekat kasurnya!
Lin Fan, di atas kursi goyangnya, hanya menguap panjang. Matanya yang diperkuat 'Mata Persepsi Malas' melihat menembus api Yan Lie. Ia bisa melihat bahwa karena Yan Lie terlalu marah dan ingin pamer, aliran Qi di dalam wajannya sangat kacau. Dagingnya memang matang, tapi energinya saling bertabrakan dan agresif, persis seperti koki yang memasaknya.
Setelah setengah dupa terbakar, Yan Lie membanting wajannya ke atas meja dengan bunyi Duaaar! yang memekakkan telinga. Di dalam piring giok, tersaji potongan daging yang memancarkan cahaya merah rubi, dikelilingi oleh saus kental yang mendidih. Gelombang energi panas merambat darinya, membuktikan bahwa hidangan itu memiliki kualitas penyembuhan elemen api yang tinggi.
Yan Lie terengah-engah, bersandar pada talenan karena kehabisan tenaga. Ia menunjuk Lin Fan dengan pisau yang gemetar. "Giliranku selesai. Sekarang, tunjukkan sihirmu, pemalas!"
Ribuan mata kini menatap Lin Fan yang masih berbaring. Tidak ada wajan, tidak ada pisau, tidak ada api.
Lin Fan menoleh ke kiri dengan lambat. Matanya menatap tumpukan abu sisa kayu bakar di tungku nomor tiga yang sudah dimatikan sejak semalam.
"Zhao Er," panggil Lin Fan dengan nada malas.
Zhao Er, yang masih gemetar, segera melangkah maju. "Y-ya, Tuan Lin?"
"Semalam, sebelum tidur, aku merasa sedikit lapar dan menjejalkan sebutir ubi jalar ungu ke bawah tumpukan abu tungku nomor tiga," suara Lin Fan mengalun lambat. "Aku terlalu malas untuk memakannya dan ketiduran. Tolong ambilkan itu. Jangan dicuci. Cukup tiup abunya sedikit."
Seluruh Dapur Luar hening. Bahkan suara napas Yan Lie terhenti.
Sebuah ubi jalar? Yang ditinggalkan di bawah abu sejak semalam? Itu bukan memasak! Itu adalah definisi dari membuang sampah!
Zhao Er, yang rasa hormatnya pada Lin Fan sudah mengalahkan akal sehatnya, segera berlari ke tungku nomor tiga. Ia mengais abu yang sudah dingin dengan tangannya, dan mengeluarkan sebuah ubi jalar yang kulitnya sudah hangus kehitaman, ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan anak kecil.
Zhao Er meniup abunya hingga wajahnya sendiri cemong, lalu membawanya dengan hati-hati ke meja di tengah ruangan, meletakkannya tepat di samping hidangan daging bercahaya milik Yan Lie.
Kontrasnya sangat menyedihkan. Di satu sisi, karya seni kuliner bercahaya api tingkat elit. Di sisi lain, bongkahan arang ungu yang terlihat seperti batu kali.
Yan Lie terdiam selama tiga detik sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang sangat keras hingga ia terbatuk-batuk.
"Hahahahaha! Ini?! Ini balasanmu?! Sebuah ubi sisa?!" Yan Lie memegangi perutnya. "Kau benar-benar gila! Kau bahkan tidak pantas disebut manusia, apalagi koki! Kau menghinaku!"
"Orang yang berisik biasanya adalah orang yang paling tidak mengerti," gumam Lin Fan, memutar bola matanya. "Cicipi saja. Atau lidah elitmu terlalu penakut untuk mencoba makanan rakyat jelata?"
Merasa ditantang, amarah Yan Lie kembali memuncak. "Baik! Aku akan mencicipinya, lalu aku akan menghancurkan kepalamu dengan wajanku setelah membuktikan bahwa ini hanyalah sampah!"
Yan Lie meraih ubi jalar berdebu itu dengan kasar. Kulitnya yang hangus terkelupas dengan mudah di tangannya, memperlihatkan daging ubi berwarna ungu pekat di dalamnya. Tidak ada asap yang keluar. Tidak ada cahaya spiritual.
Dengan wajah penuh rasa jijik, Yan Lie menggigit sebagian besar daging ubi tersebut, berniat untuk langsung meludahkannya kembali.
Namun, saat giginya menembus tekstur ubi itu... matanya tiba-tiba melebar hingga nyaris keluar dari rongganya.
Tidak ada rasa gosong. Tidak ada rasa hambar. Yang ada hanyalah ledakan rasa manis alami yang begitu murni, begitu mendalam, hingga rasanya menembus langsung ke jiwanya. Tekstur ubi itu tidak keras, melainkan selembut sutra es yang mencair seketika saat menyentuh lidah.
Tapi bukan itu yang membuat jantung Yan Lie seolah berhenti berdetak.
Energi.
Ubi jalar ini tidak memiliki elemen api, air, atau elemen agresif lainnya. Sebaliknya, ubi ini mengandung gelombang energi yang luar biasa tenang dan pasif. Malam tadi, saat ubi ini terkubur di dalam abu, ia secara konstan menyerap pusaran Qi "Dao Kekosongan" yang dipancarkan oleh kursi goyang Lin Fan dan teknik dengkurannya.
Saat Yan Lie menelannya, energi pasif yang sangat damai itu meledak di dalam tubuhnya seperti gelombang lautan yang sejuk, secara instan memadamkan seluruh amarah, kelelahan, dan Qi api liar yang tadi nyaris menghancurkan meridiannya akibat memasak terlalu keras.
Rasa lelah Yan Lie lenyap. Otot-ototnya yang tegang kembali rileks. Pikirannya yang dipenuhi kebencian mendadak terasa seringan awan. Ia merasa seolah-olah baru saja tidur nyenyak selama sepuluh tahun berturut-turut di pelukan seorang ibu.
Duk.
Sisa ubi jalar itu jatuh dari tangan Yan Lie, menggelinding di atas meja.
Yan Lie, Kepala Koki elit yang sangat ditakuti, tiba-tiba kehilangan semua tenaga di kakinya. Ia jatuh berlutut di lantai batu. Air mata—bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata pencerahan batin—mengalir deras dari matanya yang biasanya tajam.
"Harmoni..." bisik Yan Lie dengan suara serak, bibirnya bergetar. Ia menatap Lin Fan, yang masih menggaruk-garuk perutnya di atas kursi goyang. "Aku memaksakan elemen api... aku memperkosa bahan makananku dengan ego dan kekerasan... sementara Anda... Anda hanya membiarkan ubi ini menyerap kedamaian alam semesta. Ini... ini adalah puncak kuliner sesungguhnya. Tanpa api, tanpa pisau, tanpa keringat. Hanya... ketenangan absolut."
Wang Ta, Zhao Er, dan seluruh murid Dapur Luar ternganga, rahang mereka nyaris mencium lantai. Kepala Koki Dapur Dalam baru saja menangis tersedu-sedu karena memakan ubi jalar sisa semalam!
[Ding! Misi Harian Selesai! Mengalahkan elit tanpa menggerakkan satu jari pun.]
[Menerima Pengalaman Kultivasi +1000. Menerima 'Tungku Keabadian Malas'.]
Lin Fan mendesah, sama sekali tidak tersentuh oleh drama emosional di depannya.
"Kalau kau sudah selesai menangis, ambil daging ayam krispimu yang terlalu pedas itu dan pergilah. Aku tidak akan memotong tanganmu, itu terlalu kotor," ucap Lin Fan sambil menutup matanya kembali, memosisikan bantal sutra es ke atas wajahnya. "Zhao Er, sapu serpihan tirai itu. Dan tolong, Koki Yan... jangan banting pintu saat keluar. Engselnya sudah cukup menderita."
Yan Lie mengusap air matanya, bangkit berdiri, dan membungkuk sembilan puluh derajat ke arah Lin Fan dengan rasa hormat yang menyaingi pemujaan pada dewa.
"Saya, Yan Lie, telah belajar kebenaran hari ini. Master Lin, Dapur Dalam tidak akan pernah lagi berani menyombongkan diri di hadapan Dapur Luar!"
Dengan kepala tertunduk, ia membawa pasukannya keluar dari dapur yang kumuh itu, meninggalkan Lin Fan yang akhirnya bisa melanjutkan tidur siang keduanya, sementara legenda tentang "Ubi Jalar Pencerahan" mulai menyebar seperti api liar ke seluruh sekte.