Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau bercanda ya pak tua
Jika bukan karena keluarga besarnya yang repot dengan pernikahan dan banyak perempuan untuk di jodohkan padanya. James Arthur Oceanus, bertekat mencari anak saja untuk menghindari pernikahan itu dan pusing dengan perempuan.
Semuanya ia lakukan bukan karena ia tak perlu perempuan tapi, ia benar-benar akan mengurus anak saja dan tidak perlu menikah lagi pula jika hanya mengurus anak itu akan mudah.
"Tuan anda terus menolak semua anak yang saya berikan, ini sudah ke sembilan puluh sembilan panti asuhan di negara ini kita datangi dan semuanya anda menolaknya." Silva viridis. Asisten sekaligus orang mengurus semua kebutuhannya dari awal ia di tetap sebagai pewaris utama keluarga Oceanus.
Yaa anggaplah keluarga itu aneh atau putra keluarga ini yang aneh ya, James adalah yang Silva maksud.
Silva adalah seorang pria yang usianya tak jauh beda dengan James yang sekarang sudah hampir kepala tiga.
James santai dengan umurnya tapi, Silva sudah memiliki istri dan anak laki-laki yang masih balita, sedangkan Tuannya sibuk mencari anak untuk menghindari pernikahan.
"Kau buta."
Apa ini, ia bicara saja di maki ia diam di maki, salah terus Silva ya.
"Tuan?"
"Kau tak lihat mereka semua menangis melihat wajahku bahkan mereka yang baru aku sapa, hai... Langsung menangis... Kau kemana saat aku berhadapan dengan mereka?"
Kenyataan itu memang Silva melihatnya secara langsung tapi, Tuannya bisakan melemaskan rahang dan ekspresi wajahnya untuk menyapa mereka, apa Silva salah bicara malah tambah menyeramkan saat itu Tuannya.
Dalam ingatan anak panti yang Silva lihat sebelum pergi dari panti asuhan adalah ekspresi melihat monster atau orang jahat.
Menghela nafasnya kasar. Tatapan James membuatnya kembali menahan nafas.
Lihat Silva yang menghela nafas nya saja salah lagi.
"Sekarang, kemana lagi?" Pertanyaan ini rasanya membuat Silva terbebankan, alangkah baiknya ia mengerjakan tugas kantor dan tugas lain selain mencari panti asuhan yang belum mereka datangi.
"Apa saya boleh bicara Tuan?" Tanya sopir yang sibuk mengemudi seketika ikutan bicara dan itu mengalihkan James dan Silva yang kekurangan saran dan ide.
"Katakanlah." Izin James.
Sampailah mereka di salah satu panti asuhan terpelosok terpencil dan jalan yang mereka lewati dengan mobil biasa cukup sulit. Beruntung sekali mobil yang di gunakan itu besar seperti mobil yang cocok untuk medan yang sulit ini.
"Kuharap ini yang terakhir." Silva di tepuk pundaknya saat mengatakan itu. Sambil turun dari mobil yang tiba-tiba kaget karena Tuannya yang tiba-tiba menepuknya.
Masuk duluan dan saat pertama kali masuk James melihatnya bukan sebagai panti asuhan dan saat langkahnya lebih dalam masuk kedalam bangunan tak terurus ini. Pemandangan orang dewasa yang asik mengobrol dan bermain kartu terasa sangat merusak pemandangan matanya.
"Eh!" Semua terkejut dan salah satu dari mereka lebih kaget karena kenal siapa yang memperhatikan mereka.
"Tuan muda Oceanus!" Salah satunya menyebut nama belakang James membuat semuanya melongo karena yang mereka tau kalo keluarga Oceanus itu paling di segani di negara ini karena termasuk keluarga pejabat penting juga dan kekayaan yang memang berlimpah karena bank yang di kelola keluarga jauh nya membuat mereka juga tidak terlihat kelurga jauh. Intinya Oceanus itu tak bisa di remehkan karena uang yang bekerja untuk mereka bukan seperti yang lain dimana mereka bekerja untuk uang.
Di sambut langsung dengan baik dalam sekejap dan semua anak di panti asuhan itu di keluarkan bahkan ini tidak bisa di sebut pemandangan bagus dimana semua anak ini terlihat seperti gelandangan dan budak kecil.
Tempat kursi james duduk bisa melihat langsung keluar jendela kaca yang memperlihatkan sopirnya berdiri dekat mobilnya dangan tenang.
Sebenarnya James curiga dengan sopirnya yang menyarankan tempat ini apa ada alasannya atau hanya sekedar saran biasa karena ia tahu.
Tatapan James jatuh lagi pada anak-anak panti asuhan yang sangat mengenaskan dan kasihan ini.
"Cepatlah pergi kalian semua!"
Salah satu anak perempuan dengan pakaian yang terlihat lusuh hanya seperti kaos putih yang berubah warna kotor dan kebesaran, rambut anak perempuan itu panjang ikal dan warna mata yang cantik ya, coklat keemasan.
"Siapa kalian? Semuanya yang datang kemari hanya mau membawa kami untuk di jadikan budak bukan anak, kau yang duduk disana pasti salah satu nya kan?"
Tersenyum James serasa melihat hal menarik.
Silva sedikit takut jika James akan membakar tempat ini karena ucapan anak kecil itu tapi, kekehan dari James membuatnya sedikit merinding.
"Kecil dan berisik, siapa namamu? Berapa umurmu?"
Tersenyum miring sedikit membuat kerutan di dahi James. Silva malah melihat ekspresi Tuannya pada anak itu.
"Kau bercanda ya Pak Tua?"
Apa? Pak Tua dia bilang?
Hampir Silva kelepasan tertawa karena wajah Tuannya memang sudah dewasa dan wajah itu sudah memperlihatkan kematangan yang sempurna pantas jika di panggil pak tua tapi, wajah tuannya seperti benci dengan panggilan itu. Anak perempuan itu juga berani sekali menatap tuannya.
"Namaku Anisa, umurku sepuluh tahun tahu jangan meremehkan aku ya!"
Hampir James kelepasan tertawa membuat anak itu terkejut karena mungkin akan menakutkan.
"Pak tua kau tidak boleh menertawaiku begitu ya!"
Bangkit James dari tempat duduknya melangkah mendekat ke Anisa dan menggendongnya dengan membungkusnya.
"Jas anda?" Silva terkejut dengan tindakan tuannya yang mengambil anak itu begitu saja dan kini Silva yang harus berhadapan sendirian dengan orang panti.
di mobil sekarang duduk berdua didalam Anisa memegang jas yang wangi dan bersih juga bahannya sejuk.
"Aku belum mandi dan kotor aku juga.."
"Aku tahu kau tak perlu jelaskan, sangat bau dan jelek!" Balasnya seketika berdiri diatas kursi menatap wajah james secara jelas.
"Apa! Sialan kau ya pak Tua, kau tak boleh bicara begitu pada seorang perempuan tau, aku sakit hati."
"Berisik sekali kau?"
Seketika Anisa diam. James jadi ikut memperhatikan sikapnya yang berubah tiba-tiba.
"Terimakasih, Pak tua kau mau membawaku, bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Matre sekali, aku belum menganggap mu putriku tapi, sudah banyak maunya ya.." terkekeh geli, sama sekali tak lucu kedengarannya malah menyebalkan di telinga anisa.
"Aku serius tentang keadaan diriku tapi, mau kah anda membantu kami aku tahu kau pasti bukan orang jahat karena keluargamu tak pernah terkenal memiliki masalah dengan para penjahat."
Terkejut James dengan ucapan yang tidak seusianya.
Hening yang terasa bagi anisa adalah sebuah kegelisahan dimana ia merasa akan gagal dan akan percuma usahanya meminta bantuan.
"Baiklah jika kau mau menjadi putri yang baik dan penurut aku akan mengabulkan semua permintaanmu kecuali, itu tak masuk akal aku akan langsung membuangmu ke jurang."
"Anda duluan yang akan aku potong-potong dan ku berikan pada hewan liar disini."
James membeku dengan ucapan anak sekecil ini, yang terdengar psikopat sejak dini.
"Sepertinya kau butuh guru bahasa dan tata krama privat termasuk dokter kejiwaan."
Anisa memiringkan kepalanya, berdecih.
"Aku tidak gila ya, karena semua orang dewasa di panti asuhan itu kalo bicara begitu."
Sejak duduk bersama di mobil James memperhatikan Anisa ia seperti teringat sesuatu yang lama ia lupakan.