Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14
“Jangan gunakan pakaian resmi pengawal. Tidak ada jas hitam. Tidak ada earpiece mencolok. Mereka harus membaur sebagai warga sipil.”
Di kursi belakang, Drew yang setengah sadar menoleh lemah.
Jay melanjutkan dengan nada rendah namun tegas.
“Jadilah pengunjung kafe. Jadilah pelanggan tetap di minimarket. Jadilah tamu biasa di bar hotel tempat dia bekerja.”
Matanya menyipit.
“Jangan sampai ada yang tahu. Bukan Anna. Bukan orang-orang di sekitarnya. Terlebih lagi—bukan Jackman.”
Suara di seberang terdengar ragu.
“Bagaimana jika dia menyadari sedang diawasi, Tuan?”
“Dia tidak boleh merasa diawasi,” potong Jay. “Biarkan semuanya terlihat alami. Mereka tetap melakukan aktivitas seperti warga lain. Tapi jarak mereka tidak boleh lebih dari dua puluh meter dari Anna.”
Ia menarik napas panjang.
“Jika ada pergerakan mencurigakan, laporkan langsung padaku. Tanpa tindakan gegabah. Aku yang akan memutuskan.”
Panggilan ditutup.
Drew berusaha duduk lebih tegak meski tubuhnya bergetar.
“Tuan… Anda mempertaruhkan terlalu banyak.”
Jay menoleh padanya.
“Aku sudah mempertaruhkan segalanya malam ini.”
Keheningan kembali memenuhi mobil.
Di luar, kota tetap hidup seperti biasa. Orang-orang berjalan tanpa tahu bahwa seorang gadis bernama Anna kini berada di tengah pusaran perang dingin antara ayah dan anak.
Jay memejamkan mata sejenak.
Ia tahu satu hal pasti—
Selama ia masih bernapas,
tak seorang pun akan menyentuh Anna.
Mobil berhenti di halaman rumah aman milik Jay—bangunan modern tanpa papan nama, tersembunyi di antara deretan gudang tua.
Pintu belakang dibuka cepat.
Jay sendiri yang menopang tubuh Drew turun dari mobil. Darah yang mengering di pelipis Drew kembali merembes tipis akibat guncangan perjalanan.
“Buka ruang medis. Sekarang,” perintah Jay singkat.
Pintu otomatis terbuka. Bau antiseptik langsung menyambut.
Di dalam sudah menunggu dokter pribadi keluarga mereka—pria paruh baya yang telah bekerja dalam diam selama bertahun-tahun.
Dr. Frans mendekat tanpa banyak bicara.
“Letakkan di ranjang.”
Jay membantu Drew berbaring. Tangannya masih mencengkeram bahu Drew, seolah memastikan ia benar-benar selamat.
Dokter mulai memeriksa luka di wajah dan tulang rusuknya.
“Memar berat. Dua tulang rusuk retak ringan. Tidak ada pendarahan internal besar… tapi dia dipukul dengan teknik terukur.”
Sang dokter tidak perlu bertanya siapa pelakunya.
“Berapa lama pemulihannya?” Tanya Jay.
“Jika ia beristirahat total, dua minggu. Jika tidak…” dokter melirik sekilas, “…lebih lama.”
Drew terkekeh pelan meski terasa sakit.
“Dua minggu terlalu lama untuk dunia kami.”
Jay menatapnya dingin.
“Kau harus istirahat.”
Dokter mulai menjahit luka di pelipis Drew.
Ruangan sunyi, hanya terdengar bunyi alat medis dan napas berat Drew.
Setelah beberapa menit, dokter berbicara pelan.
“Tuan Jay… saya sudah lama mengenal ayah Anda.”
Nama itu tidak perlu disebut.
Jackman
“Dan saya tahu, malam ini bukan sekadar menyelamatkan bawahan. Hari ini Drew selamat adalah sebuah berkah. Tapi di lain kesempatan, Drew tidak akan lagi bisa selamat.”
Jay tidak menjawab.
“Konflik keluarga selalu lebih berbahaya daripada musuh dari luar,” lanjut dokter tenang.
Jay akhirnya berbicara, suaranya rendah.
“Dia akan menyentuh seseorang yang tidak seharusnya terlibat. Dan aku sudah bertekad akan melindungi orang-orang yang berdiri denganku. Untuk gadis itu, aku yang salah telah menyeretnya ke dalam keluarga O’connor dimana kehidupan keluarga itu di penuhi intrik
Dokter mengerti tanpa perlu penjelasan lebih jauh.
“Kalau begitu Anda harus siap dengan konsekuensinya.”
Jay berdiri tegak.
“Aku sudah siap sejak aku melangkah masuk ke Mansion malam ini.”
Drew menoleh lemah.
“Tuan… jangan sampai karena saya… Anda kehilangan segalanya.”
Jay menatapnya tajam.
“Kau bukan satu-satunya alasan.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi kau pengingat.”
Pengingat bahwa garis antara perlindungan dan pemberontakan sudah terlampaui.
Dokter selesai merapikan perban.
“Dia harus tinggal di sini malam ini. Tidak aman jika kembali ke tempat biasa.”
Jay mengangguk. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti.
“Perketat keamanan di sekitar tempat ini. Tidak ada yang boleh masuk tanpa se izinku.”
Sebelum keluar, ia menoleh pada Drew sekali lagi.
“Besok pagi, kita mulai menyelidiki arsip lama. Semua tentang March Barthley.”
Nama itu menggantung berat di udara.
Permainan bukan lagi tentang emosi.
Kini tentang kebenaran.
Dan Jay baru saja memutuskan—
ia tidak hanya akan melindungi Anna.
Ia akan membongkar masa lalu keluarganya sendiri.
Drew mengangguk pelan. Kemudian Jay pergi meninggalkan mereka.
———
Ruang kerja Jay gelap. Hanya cahaya layar monitor yang menyala. Jay duduk diam, menatap deretan tampilan CCTV. Bukan kamera publik. Bukan laporan pengawal. Kamera yang ia pasang sendiri.
Di sudut kafe.
Di seberang minimarket.
Di tiang lampu dekat gang menuju rumah kecil Anna.
Layar memperlihatkan satu sosok yang berjalan lelah, membawa tas usang.
Anna Barthley.
Jay memperbesar tampilan. Wajahnya pucat. Langkahnya goyah. Rahang Jay mengeras. Salah satu pengawal melapor melalui earpiece kecil di meja.
“Area aman. Tidak ada pergerakan mencurigakan.”
Jay tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada layar. Ia tahu jam berapa Anna bangun. Ia tahu menu favoritnya di kafe tempat ia bekerja. Ia tahu berapa kali ia berhenti untuk mengusap pelipisnya karena lelah. Ia tahu semuanya. Dan ia menyukainya.
Di ruang kerja yang tak tercatat dalam denah mana pun—tersembunyi dari semua orang, bahkan dari Jackman—Jay berdiri dalam kesunyian yang pekat.
Ruangan itu dingin. Tidak berjendela. Hanya diterangi cahaya lampu redup yang menggantung rendah, menciptakan bayangan panjang yang merayap di dinding.
Dan di hadapannya—
Satu dinding penuh foto. Bukan satu. Bukan puluhan. Ratusan. Semua menampilkan wajah yang sama.
Anna Barthley.
Foto ketika ia menunduk lelah di halte. Foto saat ia tersenyum tipis melayani pelanggan. Foto saat ia memeluk dirinya sendiri di depan rumah kecilnya.
Bahkan foto ketika ia tertidur di meja kafe, tanpa sadar dunia sedang memperhatikannya.
Setiap gambar diberi tanggal. Jam. Titik lokasi.
Benang-benang tipis berwarna gelap menghubungkan beberapa foto—membentuk pola. Rutinitas. Kebiasaan. Titik lemah.
Jay melangkah mendekat.
Ujung jarinya menyentuh salah satu foto terbaru—Anna yang sedang menatap kosong ke arah jalan, matanya tampak rapuh namun bertahan.
Tatapan Jay tidak lagi sekadar protektif. Itu bukan lagi rasa ingin menjaga. Itu kebutuhan. Napasnya terdengar berat dalam ruang sempit itu.
“Aku melihatmu lebih jelas daripada siapa pun,” gumamnya pelan.
Ia tahu jam berapa Anna bangun. Ia tahu kapan langkahnya mulai melambat karena lelah. Ia tahu siapa saja yang pernah berdiri terlalu dekat dengannya. Dan ia menghapus satu per satu orang yang ia anggap terlalu dekat.
Perlahan. Diam-diam.
Obsesi itu tidak tumbuh seperti api. Ia tumbuh seperti racun— merayap pelan, masuk ke dalam darah, lalu menetap. Jay menatap seluruh dinding itu. Bukan seperti seseorang yang mengagumi. Tapi seperti seseorang yang sudah memiliki.
Dan di ruangan gelap itu, satu kebenaran mulai terbentuk dengan jelas—
Anna mungkin tidak tahu sedang diawasi.
Namun hidupnya, perlahan sudah berada dalam genggaman Jay.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
udh masuk part dar der dorrr