Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADU PRINSIP
"Apa maksud Papa sama Mama dengan semua ini?"
Suara Vhirel memecah kesunyian, datar namun penuh tuntutan, usai Dirga dan putrinya itu akhirnya pulang.
Maudi menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu tanpa bunyi sedikit pun ke atas meja kaca ruang tamunya. Sementara, Surya bangkit, lalu berjalan mendekati Vhirel. Ia menepuk bahu putranya itu.
"Vhirel, di dunia ini, angin bisa berubah arah kapan saja," ujar Surya dengan nada bariton yang tenang namun dingin. "Dirga adalah aset. Luna adalah kunci. Kalau kami bersikap manis, itu karena kami sadar bahwa melawan arus hanya akan membuat kita tenggelam."
Vhirel membisu. Berusaha mencerna semua pernyataan sang ayah sambil mengingat-ingat semua apa yang telah mereka bahas, bukan hanya soal urusan bisnis. Detik berikutnya, Vhirel mendesis pahit.
"Papa nggak bercanda, kan?" Ucap Vhirel memposisikan duduknya lebih nyaman, sedikit menjauh dari Surya namun duduk menghadap ke arah keduanya. "Ini jaman modern, Pa... Ma! Mana ada orang waras yang masih pakai sistem perjodohan buat urusan bisnis?"
Glek!
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat di lantai atas, Dea mematung. Suara lantang Vhirel barusan bukan sekadar getaran udara di telinganya, melainkan hantaman godam yang menghancurkan seluruh pertahanannya. Tubuhnya menegang, jemarinya mencengkeram gagang pintu hingga memutih.
Ia terhuyung, kakinya mendadak terasa lemas seperti kehilangan tulang penyangga. Bagaimana bisa? Di tengah dunia yang sudah begitu modern, ia justru harus menghadapi kenyataan paling kuno dan menyakitkan, pria yang ia cintai—pria yang selama ini menjadi pusat dunianya meski dalam diam—akan dilempar ke pelukan orang lain demi angka-angka di atas kertas saham.
Sungguh, setiap kata "perjodohan" yang diucapkan Vhirel terasa seperti sembilu yang menyayat harapannya yang paling dalam. Baginya, Vhirel bukan sekadar kakak. Dan hari ini, di tahun ini, baginya terasa seperti kiamat kecil yang datang terlalu cepat.
"Ini bukan cuma soal bisnis, Vhirel," Sahut sang ayah tenang, tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Ini soal stabilitas keluarga kita. Keluarga Dirga punya apa yang kita butuhkan, sedangkan kamu... kamu adalah pewaris keluarga kita dan ini semua demi masa depan kamu juga, Vhirel."
Vhirel tersenyum sinis. "Secara gak langsung, aku ini cuma jembatan? Barang komoditas? Maaf, Pa. Kalau Papa mau kerja sama sama mereka, beli sahamnya, bukan jual anaknya."
"Vhirel," Ucap Maudi kemudian, setelah cukup lama ia diam. "Luna itu gadis yang baik, cantik, mandiri, juga pintar."
Vhirel membuang wajah sesaat. Dea juga memiliki itu semua. Bahkan segalanya!
"Meski awalnya kamu dan Luna asing, tapi lambat lun kamu bisa mencintai Luna." Sambung Maudi. "Setelah kamu menikah nanti, cinta itu bukan kebutuhan dan keinginan lagi, tapi soal kebiasaan, Vhirel."
Vhirel menggeleng. "Papa sama Mama sadar gak si kalau kalian itu sedang memainkan bidak catur, dan aku adalah salah satunya?"
Maudi dan Surya saling melirik.
"Kalau Mama berpikir cinta itu pada akhirnya soal kebiasaan, menurut aku itu salah." Kata Vhirel dengan nada kuat dan penuh penekanan. “Cinta itu pilihan...” lanjutnya, lebih pelan namun justru terdengar lebih berat.
Dea yang masih berusaha menguping, kini ia keluar dari pintu kamar dengan langkah yang berusaha tak bersuara. Telapak kakinya menapak hati-hati di lantai, seakan suara sekecil apa pun bisa memecahkan ketegangan yang menggantung di udara.
“... pilihan untuk tetap tinggal, meski lelah." Jelas Vhirel. "Untuk peduli, meski sedang ingin menyerah. Untuk setia, meski sedang merasa kesal dan marah. Kebiasaan bisa terbentuk dari cinta, Ma. Tapi cinta itu sendiri bukan lahir karena kebiasaan.”
"Vhirel, Mama cuma ingin kamu itu bahagia." Ucap Maudi. "Lihat, usia kamu sekarang ini sudah cukup matang untuk menikah."
Vhirel mengangguk kuat. Rahangnya mengeras, sorot matanya tak goyah sedikit pun. "Itu pasti, Ma. Aku pasti akan menikah. Papa sama Mama dengar baik-baik... Vhirel akan nikah tapi dengan wanita pilihan Vhirel sendiri!" Tandasnya. "Karena yang menjalani pernikahan nantinya itu aku, Ma. Vhirel. Anak kalian!"
Di lantai atas, Dea masih mematung diri. Namun, kali ini jantungnya berdegup tak karuan saat kata wanita pilihan yang diucapkan Vhirel sampai ke telinganya—terlambat, tapi telak. Ia menelan ludah. Ada lega yang aneh, bercampur takut yang tak kalah besar.
"Pilihan," ulang Dea.
Dan entah menapa… untuk pertama kalinya, kata itu terasa begitu dekat.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,