NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Nama Baru, Luka Lama

Bab 12 — Nama Baru, Luka Lama

Lima tahun lalu, malam ketika Alisha Pratiwi menghilang, tidak ada penculikan paksa. Tidak ada pria bermotor yang menyeretnya ke dalam mobil. Yang ada hanya ketakutan dan pilihan sulit.

Saat Alvaro pergi ke luar kota, dua orang datang ke rumah kecil itu. Seorang perempuan paruh baya membawa map tebal. Seorang pria bersetelan rapi berdiri di sampingnya.

“Kami dari lembaga perlindungan saksi,” ujar pria itu sambil menunjukkan kartu identitas resmi. “Kamu dalam bahaya besar.”

Alisha mundur selangkah. “Kak Alvaro akan kembali.”

Perempuan itu membuka map. Ada foto rumah tersebut dari jarak jauh. Ada gambar pria-pria yang mengintai. Ada laporan kematian seorang saksi kasus lama yang berkaitan dengan konflik keluarga Mahendra.

“Kalau kamu tetap di sini, kamu bisa dibunuh,” lanjut pria itu tegas. “Orang-orang itu tidak main-main.”

Ibunya yang sejak tadi mendengarkan langsung menangis. “Lis… ikut saja. Mama nggak mau kehilangan kamu.”

Alisha gemetar. Ia ingin menunggu. Ia ingin memberi kabar. Ia ingin percaya semuanya akan baik-baik saja.

Kenyataan di depannya berkata lain.

“Kalau kamu tinggal, Alvaro juga ikut terancam,” tambah perempuan itu pelan.

Kalimat itu membuatnya terdiam.

Beberapa jam kemudian, tanpa sempat meninggalkan pesan, Alisha pergi dari rumah itu. Bukan karena tidak ingin menunggu. Ia pergi karena ingin tetap hidup.

Sejak malam itu, nama Alisha Pratiwi tidak lagi digunakan.

Di kota lain, ia dikenal sebagai Alya.

Identitas baru disiapkan. Dokumen kependudukan diganti melalui jalur resmi perlindungan saksi. Sekolah baru. Lingkungan baru. Tidak ada yang tahu masa lalunya.

Awal-awal terasa berat. Ia sering terbangun karena mimpi buruk. Ia selalu menoleh saat ada mobil melambat di dekatnya. Rasa waspada tidak pernah benar-benar hilang.

Waktu berjalan.

Kini Alya berusia dua puluh tahun. Wajahnya lebih dewasa. Caranya berbicara lebih tenang. Ia tinggal di kamar kos kecil dekat pusat kota.

Pagi hari ia bekerja paruh waktu di kafe. Sore sampai malam ia mengikuti kelas persiapan kuliah sambil menabung untuk pendidikan lebih tinggi.

“Al, kamu lembur lagi?” tanya salah satu temannya di kafe.

“Iya. Mau nabung buat daftar kuliah tahun depan.”

“Capek nggak sih hidup kamu?”

Alya tersenyum tipis. “Capek itu biasa.”

Ia tidak pernah menceritakan masa lalunya. Baginya, semakin sedikit orang tahu, semakin aman.

Meski begitu, ada satu hal yang tidak bisa ia hapus.

Nama Alvaro.

Ia sering bertanya dalam diam, apakah pria itu mencarinya. Apakah ia marah karena ia pergi tanpa pamit. Setiap malam, sebelum tidur, ia memegang kalung sederhana yang pernah diberikan Alvaro. Benda itu satu-satunya pengingat bahwa ia pernah punya kehidupan berbeda.

Di sisi lain kota besar, Alvaro berdiri di depan dinding kaca ruang kantornya. Lima tahun mengubahnya banyak.

Ia kini memimpin salah satu proyek besar perusahaan Mahendra. Keputusannya diperhitungkan. Rapat besar ia pimpin sendiri. Para direktur mulai memandangnya sebagai sosok penting.

Di balik semua itu, ia membentuk tim kecil yang tidak tercatat secara resmi di struktur perusahaan. Penyelidik swasta. Analis data. Orang-orang yang bisa mencari jejak tanpa menarik perhatian.

Tujuannya jelas: menemukan Alisha.

Sebuah peta digital terpampang di layar ruang rapat kecil miliknya. Titik-titik merah menunjukkan data perempuan usia sekitar dua puluh tahun yang pindah kota lima tahun lalu dengan riwayat dokumen yang minim.

“Sisir ulang wilayah timur,” perintahnya singkat. “Fokus pada data pindahan yang tidak punya riwayat sekolah jelas sebelum lima tahun lalu.”

“Baik, Pak,” jawab salah satu anggota tim.

Ia tidak lagi bergerak dengan emosi. Semua dihitung. Semua dianalisis.

Di tempat lain, Bram Santoso menerima laporan dari anak buahnya.

“Alvaro membentuk tim pencari, Pak. Target pencarian mengarah ke gadis yang sama.”

Bram duduk santai di kursinya. “Biarkan.”

“Tidak kita hentikan?”

“Tidak perlu.” Suaranya tenang. “Semakin dia dekat, semakin mudah kita atur langkah berikutnya.”

“Bagaimana dengan gadis itu?”

“Kalau dia masih hidup, cepat atau lambat dia akan muncul di hadapannya.”

Bram percaya permainan panjang selalu memberi hasil lebih besar.

Suatu sore hujan turun deras. Alya menutup pintu kafe lebih lambat dari biasanya. Jalanan basah. Lampu kendaraan memantul di aspal.

Ia berjalan cepat menuju kos. Sebuah mobil hitam melambat di belakangnya. Insting lama muncul. Napasnya berubah tidak teratur.

Mobil itu tetap di jarak yang sama.

Ia mempercepat langkah. Jantungnya berdegup keras. Kenangan lima tahun lalu kembali terasa nyata.

Tiba-tiba seseorang memanggil dari belakang.

“Al!”

Ia menoleh refleks.

Seorang pria tinggi berdiri beberapa meter darinya di bawah hujan. Wajahnya samar karena cahaya lampu jalan.

Dadanya terasa berhenti sesaat.

“Alvaro…?” bisiknya hampir tak terdengar.

Pria itu mendekat sedikit lalu mengernyit. “Maaf, saya kira kamu teman saya. Ternyata salah orang.”

Alya menelan ludah. “Iya… nggak apa-apa.”

Ia berbalik cepat dan melangkah pergi. Air hujan menyamarkan air matanya. Harapan yang muncul sesaat tadi runtuh begitu saja.

Mobil hitam yang sempat mengikutinya kini berhenti lebih jauh. Seseorang di dalamnya mengangkat ponsel.

“Pak Bram, target terkonfirmasi. Identitas baru: Alya. Lokasi sudah pasti.”

Jawaban di seberang singkat.

“Jangan sentuh dulu.”

Malam itu Alya duduk di kamar kosnya. Ia membuka laci kecil dan mengambil kalung tersebut. Logamnya sudah sedikit pudar.

“Aku harap kamu baik-baik saja,” gumamnya pelan.

Ia tidak tahu jarak antara dirinya dan Alvaro kini hanya beberapa kilometer.

Di kantor, laporan terbaru masuk ke meja Alvaro.

“Bos, ada satu kandidat kuat. Perempuan usia dua puluh. Pindah lima tahun lalu lewat jalur perlindungan saksi. Bekerja di kafe. Data masa lalunya hampir kosong.”

Alvaro membaca detail yang dikirim ke tablet. Foto terlampir memperlihatkan seorang gadis dengan rambut lebih panjang dan ekspresi lebih dewasa.

Wajah itu tidak asing.

Jantungnya berdegup keras.

“Alamat,” katanya tegas.

“Sudah kami kirim.”

Ia berdiri dari kursinya. Lima tahun pencarian terasa seperti mengerucut pada satu titik.

“Kalau ini kamu…” ucapnya pelan.

Ia meraih jasnya dan berjalan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban siapa pun.

Di kamar kos kecilnya, Alya mematikan lampu dan berbaring. Ia memejamkan mata tanpa tahu seseorang sedang bergerak menuju alamatnya.

Permainan yang dirancang orang lain perlahan mendekati babak baru.

kali ini, tidak ada yang tahu apakah pertemuan mereka akan membawa keselamatan… atau justru perang yang lebih besar.

#Bersambung 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!