NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : MASA DEPAN YANG CERAH

Hari sudah menunjukkan tanda-tanda akan memasuki musim penghujan ketika Lia menyelesaikan pekerjaannya di bagian cuci rumah sakit. Udara pagi yang segar masih terasa sejuk dengan sedikit embun yang menempel pada daun pepohonan di halaman belakang. Dia menyimpan deterjen yang sudah hampir habis ke dalam wadah plastik yang kuat, kemudian mengambil tas kerja yang selalu ada di sampingnya – di dalamnya ada buku catatan kecil, sapu tangan bekas, dan sebuah bingkai foto kecil yang selalu membuat hatinya terasa hangat setiap kali dilihat.

“Lia, kamu bisa istirahat sebentar ya sebelum melanjutkan pekerjaan sore,” ucap Pak Joko dengan suara yang khas, membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Kamu kerja terus dari pagi sampai sekarang kan? Tubuhmu juga perlu istirahat dong.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut. Dia menyimpan semua cucian yang sudah bersih ke dalam rak khusus yang sudah disiapkan, kemudian mengambil foto kecil yang selalu ada di mejanya. Wajah tiga bayi yang tertidur berdampingan di dalam bak mandi plastik selalu membuat hatinya terasa penuh dengan kenangan yang mendalam. Mal dengan lekukan di bibirnya yang mirip Lia, Rini dengan alis yang menyerupai ayahnya, dan Adit dengan bintik merah kecil berbentuk hati di punggung kanannya yang tidak akan pernah dia lupakan.

“Saya akan pulang sebentar ya, Pak Joko,” ucap Lia sambil mengambil tasnya yang sudah siap. “Anak-anak pasti sudah menunggu saya di kontrakan.”

Saat berjalan menuju kontrakan milik Bu Warsih, Lia menyapa setiap orang yang mengenalnya. Di sudut jalan, pedagang sayur sedang membuka kiosnya dan memberikan senyum hangat. “Hai Lia, mau sayur yang segar tidak? Untuk anak-anak kamu ya.”

“Terima kasih banyak, Bu,” jawab Lia dengan rasa senang yang mendalam. Dia membeli beberapa ikat kangkung dan bayam yang masih segar sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Udara pagi sudah mulai terasa hangat dengan suara burung yang berkicau di atas pepohonan.

Ketika sampai di kontrakan, Lia melihat Mal dan Rini sudah berdiri dengan rapi di depan pintu. Kedua anaknya masing-masing memegang buku tulis yang sudah diisi dengan cerita tentang harapan mereka untuk bertemu dengan kakaknya yang hilang. “Bu sudah datang!” teriak Mal dengan suara ceria. Rini segera berlari membawa segelas air putih hangat. “Bu sudah capek kerja ya? Minum dulu dong.”

Lia memeluk mereka berdua dengan erat. “Kamu berdua sudah mandi dan siap sekolah ya? Nanti kita makan bersama sebelum berangkat ya.”

Setelah sarapan bubur ayam yang disediakan Bu Warsih, Lia mengantar anak-anaknya ke sekolah dasar dekat kontrakan. Jalan kaki yang hanya butuh waktu sepuluh menit membuat mereka bisa menyapa banyak orang di sepanjang jalan – tukang parkir yang selalu memberikan senyum hangat hingga pedagang kecil yang selalu memberi mereka makanan tambahan.

Di sekolah, Lia menyapa guru kelas Mal dan Rini. “Anak-anak saya sudah siap belajar ya, Bu Guru. Mereka sangat senang bisa masuk sekolah ini.”

Guru tersebut mengangguk dengan senyum. “Keduanya anak yang cerdas dan rajin, Lia. Mereka pasti akan sukses kelak.”

Setelah mengantar anak-anak, Lia kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya. Di jalan, dia melihat sekelompok anak kecil sedang bermain dengan tanah liat di sudut jalan. Salah seorang anak laki-laki dengan rambut pirang sedang membuat bentuk hati dari tanah liat – sama dengan bintik di punggung Adit yang selalu ada dalam ingatannya.

Anak itu melihat Lia dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Bu mau lihat bentuk hati yang saya buat?” tanya dia dengan suara lembut.

Lia meraihnya dengan lembut. “Cantik sekali, nak. Kamu bisa membuatnya dengan baik ya.”

“Ya Bu, karena saya selalu ingat bentuk hati kecil di punggung saya yang dilihat ibu saya dulu,” jawab anak itu dengan suara lembut.

Lia merasa hati berdebar kencang. Dia melihat foto kecil yang selalu dibawanya dan menunjukkan pada anak itu. “Kamu tahu ini siapa, nak?”

Anak itu melihatnya dengan mata kagum. “Itu saya kan, Bu! Bareng sama dua kakak perempuan saya yang lain.”

“Ya sayang, itu kamu sama kakak perempuanmu Mal dan Rini,” ucap Lia dengan suara penuh emosi. “Saya adalah ibumu yang selalu mencari kamu.”

Anak itu melihatnya dengan mata penuh keheranan dan kehangatan. Dia meraih tangan Lia dengan erat. “Jadi saya punya keluarga lagi ya, Bu?”

“Kita semua adalah keluarga, nak,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluknya erat. “Kamu punya saya, punya Ayah Nina, dan kakak-kakakmu yang selalu merindukanmu.”

Di kejauhan, matahari mulai menyinari kota yang sibuk. Udara menjadi hangat dengan suara anak-anak yang bermain dan orang-orang yang menjalani hari mereka. Lia merasakan bahwa cinta yang diberikan tidak akan pernah padam, walau harus berbagi dengan orang lain yang juga mencintai anak itu dengan sepenuh hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!