NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekan Unyu

 Hari Kedua Belas

06.00 WIB

Langit Jakarta masih enggan terang. Lampu-lampu TIM di Bundaran HI masih bertahan, kuning temaram di antara gedung-gedung yang mulai bangun. Dan Dewa—dengan motor butut warisan eyang ia larikan tanpa persetujuan Papanya, dua helm yang saling beradu di spion—sudah berdiri sejak lima menit lalu.

Apartemen Anggrek, Jalan Kramat Raya. Ini sudah hari keduabelas atau tiga belas dia gak ngitung menjemput Ibu Dosen. Dan keduabelas kali dia bangun jam setengah lima, mandi pakai air dingin biar melek, dan melawan macet agar tepat waktu.

Pintu kaca apartemen terbuka, Dewa hampir jatuh dari motor melihat Ibu dosen keluar. dengan gaya yang berbeda bukan memakai blazer hitam kaku seperti biasanya tapi navy blue lembut selembut rambut yang tetap di kuncir, pita matching: navy. Dan—Dewa mengerjap, memastikan matanya tidak kabur—lipstik tipis. Warna nude natural menghias bibirnya.

Tapi Dewa cuma tahu satu hal dia jarang memakai lipstik."Bu... hari ini ada rapat penting?"

Ia menaiki motor dengan gerakan kaku seperti biasa. Jarak 5 cm dari punggungnya jarak aman untuk dosen-mahasiswa.

"Nggak?"

 Dewa menoleh setengah. "Terus kok..."

"Emang kenapa?" Potongnya cepat

Dewa memilih bungkam. Tapi matanya—di spion motor—melihatnya memalingkan wajah ke arah TIM sekilas. Lalu tangannya—untuk pertama kali dalam 12 hari—tidak menggenggam tas terlalu erat.

08.00 WIB

Fakultas Ekonomi dan Bisnis,

Prof. Dr. Hadi Wijaya, 55 tahun, duda beranak dua yang sudah 10 tahun menjadi dekan—berdiri di koridor lantai dua, tubuhnya tambun dengan perut menggelembung hampir membuat celananya melorot - memegang Kopi dingin sejak 20 menit lalu tanpa pergerakan sempurna.

Dari sini, dari pojok koridor dia bisa melihat lobi dan salah seorang anak buahnya DR Dian Wulandari, MSi. Dan pagi ini, untuk pertama kalinya tubuhnya meriang demam.

Perempuan itu baru selesai mengobrol dengan salah seorang dosen, Pak Surya, bukan saingan berarti karena dia sudah punya bini dua. Tapi ....

Matanya tercekat dengan seorang mahasiswa menunggu di dekat tangga, sibuk membetulkan dasi yang sebenarnya sudah rapi—kegugupan standar anak muda yang nggak tahu diri ingin diperhatikan.

Lalu Dian berjalan ke arahnya. Ia menyipitkan mata melihat langkah kakinya lebih cepat dari biasanya? Dan berhenti tepat di depannya jarak boleh dikatakan dekat. Tangan kanannya—Pak Dekan bersumpah ini bukan imajinasi—terbang ke leher.

Tujuh detik.

Ia menghitung satu, dua, tiga, empat, lima. enam, tujuh, sembilan,dua belas, ups tujuh detik ia terlewat.

Dian merapikan, padahal—dia sendiri tahu, sebagai pria hampir 30 tahun memakai dasi—posisinya sudah sempurna, bukan dasi merah putih anak SD putus tali satu

"Maaf Bu, saya jarang memakai dasi, udah rapi Bu," katanya bingung, tapi di sudut bibirnya—Pria berambut botak separuh itu melihat dengan mata kepalanya sendiri, senyuman bodoh yang cuma bisa muncul kalau disentuh orang yang lo suka.

"Belum," balasnya suara lebih kecil. "Nggak... nggak simetris."

Delapan, sembilan, dua puluh, seratus.

Kopi di tangannya tanpa sadar tumpah membasahi celana dengan mata melotot ke bawah, ke pemandangan yang selama 10 tahun dia nggak pernah berani ia wujudkan.

Apakah dia cemburu? Cemburu dengan siapa ? Mahasiswa bocil yang mungkin baru mengenal Sempro ( seminar proposal) ?

---

12.00 WIB

Kantin

"BRO, TUJUH DETIK!"

Roby hampir menyemprotkan nasi campurnya ke seluruh meja. Dewa meringis, menyelamatkan mi instan

"Gue hitung dari meja seberang, njir! Tujuh detik penuh!" masih dengan napas ngos-ngosan. "Dia pegang leher lo, rapiin dasi lo, selama tujuh detik!"

"Dia bilang nggak simetris," gumam Dewa, wajahnya merah sampai ke telinga.

"Nggak simetris gigi lo?! Dasi lo tuh lurus kayak..." Roby mencari-cari analogi. "...kalkulator TI-84, bro! Lurus, simetris, nggak ada celah!"

"Apaan sih lo?"

"Kalkulator ilmiah, bro. Punya gue pas SMA." Roby mengelap air mata—entah karena ketawa atau terharu. "Intinya: dia nyari alasan! mau pegang lo! Tujuh detik, Dewa!"

" Gak, By ...mungkin itu cuman gerakan reflek ibu Dian meliat penampilan gue cupu menghadap dosen."

"'Emang Lo mau kemana pake dasi segala ?"

" Gak ada."

" Eh kerupuk jengkol, apa itu alasan Lo memakai dasi biar diliat dosen killer?"

"Kenapa Lo yang meriang, Roby...Gue itu asisten nya, ya wajar aja memperhatikan penampilan."

" Tapi gak memegang dasi."

Dewa diam senyuman bodoh itu— yang sama seperti tadi pagi—muncul lagi. Navy blue. Lipstik tipis. Pita matching.

Buat gue

Buat Lo ?"

Ah Lo ke ge-eran, batin nya berbisik, Lo cuma asisten, cuma mahasiswa pengecut yang belum berani ngaku.

15.00 WIB

Ruang Dosen

Seperti kebiasaan sore Ibu dosen minum kopi, dewa selalu membawakan gelas kopi sachet untuk nya

ia membuka pintu setelah suara lembut itu menyuruhnya masuk. Matanya tercekat oleh sebuah pemandangan absurd Dian sedang menatap sebuah kotak kecil diatas meja mawar putih dua belas tangkai lebih banyak dari kemarin, mahal, elegan dan lebih...

Dewa menelan ludah. "Bu...dapat bunga lagi?"

Ia kaget seperti tersengat listrik, tangannya dengan refleks menutupi kotak itu. "Nggak tahu. Nggak ada nama. Cuma... cuma kartu."

Dewa mendekat melihat kartu kecil di samping bunga dengan tulisan tangan rapi:

"Untuk senyum yang jarang terlihat. — A"

"A?" Dewa menatapnya . "Siapa A, Bu?"

Ia menggeleng. Tapi matanya—Dewa belajar membaca matanya dalam 12 hari terakhir—tidak tulus. Atau jangan-jangan... dia sendiri juga nggak tahu?

"Nggak penting," kata nya nada terlihat kecewa seperti berharap A itu orang lain atau karena Dewa—orang yang berdiri di depannya, yang melihat cincinnya setiap hari, nggak pernah kirim apa-apa selain kopi sachet—bukan A.

Dewa menaruh kopi di meja sedikit takut

"Makasih," katanya pelan

Dewa mengangguk keluar dari ruangan kebingungan.

17.00 WIB

Parkiran

Dewa baru mau buka kunci motor ketika bayangan orang jatuh di depannya.

Pak Dekan.

Lagi.

Ini keempat kalinya minggu ini Pak Dekan "kebetulan" lewat pas Dewa mau pulang. Tapi kali ini beda beliau berhenti seperti menghalangi.

"Dewa, bisa... bicara sebentar?"

Ia menelan ludah berdua di parkiran dengan dekan yang celananya masih ada bekas tumpahan kopi?

"I-iya, Pak?"

Pria itu menatapnya dari atas ke bawah, kaos murah, jeans pudar, motor butut. Nggak ada yang spesial jika dibandingkan dengan dirinya, tentu pasti.

" Kamu mahasiswa ekonomi semester berapa?"

" Enam, Pak" jawabnya gugup.

"Apa hubungan mu dengan Ibu Dian?"

"Saya... asistennya, Pak."

" Asisten seperti apa?"

Dewa terdiam, asisten seperti apa yang menjemput mengantarkan pulang? " Saya lebih cocok dikatakan sebagai..."

" Pembantu, saya tidak melihat kamu menggantikan beliau mengajar jika berhalangan."

" Ya mungkin seperti itu Pak, saya hanya membantu beliau."

"Bukan nya kamu yang malah dibantu ?"

Dewa bingung mendapat pertanyaan beruntun tidak masalah akademik tapi personal, " Saya hanya asisten Ibu, Pak, tidak lebih."

Ia mengangguk kecil, bibirnya mengulas senyum tipis," Kamu tahu ...status? Ibu Dian adalah tenaga pengajar sementara kamu hanya seorang mahasiswa, seharusnya kamu harus menjaga attitude."

" Apa salah saya pak?"

" Kamu tidak salah tapi kurang norma."

Dewa terdiam sesaat lalu, kesalahan apa yang telah ia lakukan terhadapnya? " Baik pak, saya paham menjaga beliau sebagai orang yang dihormati."

" Mestinya begitu, jangan sampai gosip yang tidak tidak menerpa Bu Dian."

" Tapi Pak, saya hanya...."

" Saya tahu, mulai sekarang kamu menjaga itu, jelas?"

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!