sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: RUANG BAWAH TANAH
Pintu besi terbuka dengan suara memekik.
Aldric melangkah masuk, matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Ruangan bawah tanah itu luas—mungkin bekas gudang anggur yang diubah fungsi. Dinding-dinding batu berlumuran darah, rantai-rantai besi bergelantungan dari langit-langit, dan di lantai, genangan darah mengering membentuk kolam-kolam hitam.
Tapi yang paling mengerikan adalah tiang-tiang penyiksaan di tengah ruangan.
Lima tiang, masing-masing dengan tubuh terikat. Dua sudah tidak bergerak—mungkin sudah mati. Satu masih merintih lemah. Dan satu lagi—di tiang paling tengah—adalah Mira.
Wanita itu tergantung dengan tangan terikat di atas kepala, tubuhnya hanya ditutupi kain robek. Luka-luka sayatan memenuhi sekujur tubuhnya—dari wajah, leher, dada, hingga kaki. Darah mengering di kulitnya, membentuk kerak merah kecoklatan. Rambutnya yang dulu rapi kini kusut masai, menutupi wajah yang membengkak.
Tapi ia masih hidup. Napasnya samar, tapi dada masih naik turun.
Di samping Mira, dua algojo berdiri. Pria-pria bertubuh kekar dengan otot menonjol, mengenakan celemek kulit berlumuran darah. Topeng besi menutupi wajah mereka—topeng dengan lubang mata kosong yang mengerikan. Di tangan mereka, cambuk berduri dan tangkai besi membara.
Di sudut ruangan, tiga penjaga bersenjata lengkap—pedang dan perisai—berjaga. Dan di belakang mereka, sesosok bayangan hitam mulai terbentuk—pemburu iblis, dengan aura gelap yang berbeda dari prajurit biasa.
"Tamu tak diundang," sambut salah satu algojo dengan suara serak. "Datang untuk bergabung?"
Aldric tidak menjawab. Ia melesat.
Kecepatan setengah iblis membuatnya seperti kilat. Dalam satu detik, ia sudah di depan algojo pertama—tinjunya menghantam wajah bertopeng itu dengan kekuatan penuh. Topeng besi penyok, pria itu terpental ke dinding dan tidak bergerak lagi.
Algojo kedua sempat mengayunkan cambuk—tapi Aldric menangkapnya di udara, menarik keras hingga pria itu terhuyung ke depan, lalu menendang dadanya hingga tulang rusuk patah.
Dua detik. Dua algojo tumbang.
Tiga penjaga bereaksi—pedang terhunus, menerjang. Tapi Aldric sudah bergerak lagi. Ia menghindari tebasan pertama, merampas pedang itu, membalikkannya ke leher pemiliknya. Yang kedua menusuk dari belakang—Aldric berputar, menangkis, membalas dengan tusukan di perut. Yang ketiga mundur, ketakutan, tapi terlambat—Aldric melemparkan pedang rampasan, menancap tepat di dadanya.
Lima detik. Lima musuh mati.
Bayangan hitam di sudut—pemburu iblis—mulai bergerak. Dari dalam kegelapan, sepasang mata merah menyala. Suara mendesis keluar, seperti ular raksasa.
"Kau... setengah iblis... menarik..."
Aldric tidak memberi kesempatan. Ia menerjang, tapi bayangan itu menghilang—menyatu dengan kegelapan, muncul di belakangnya. Cakar hitam menyambar, mengoyek punggung Aldric.
Rasa sakit—tapi cepat sembuh. Aldric berbalik, menebas dengan pedang yang masih di tangannya. Bayangan itu menghindar, tertawa.
"Kau cepat, tapi tidak cukup cepat."
Pertarungan berlangsung sengit. Bayangan itu bergerak seperti kabut, tidak pernah diam, selalu muncul di tempat tak terduga. Aldric semakin terluka—luka-luka menumpuk, regenerasi mulai kewalahan.
Grak!
Cakar bayangan itu menusuk bahunya—dalam. Aldric meraung, tapi justru menggunakan momen itu. Ia menangkap tangan bayangan itu, menahannya, lalu menusukkan pedang ke "wajah" makhluk itu dengan sekuat tenaga.
Bayangan itu menjerit—jeritan panjang, melengking, memekakkan telinga. Tubuhnya bergetar, lalu meledak dalam kepulan asap hitam.
Hilang.
Aldric terhuyung, napas tersengal. Lukanya parah, tapi masih bisa sembuh. Ia berbalik ke arah Mira.
Mira membuka mata saat Aldric mendekat.
Matanya—tua, lelah, tapi masih bersinar—menatapnya dengan tak percaya. Dari bibirnya yang pecah-pecah, bisikan keluar.
"Pangeran... kau... kau datang..."
Aldric segera memotong rantai yang mengikatnya. Mira jatuh ke pelukannya, tubuhnya ringan—terlalu ringan. Ia memangku wanita itu, membersihkan darah di wajahnya dengan lembut.
"Aku di sini, Mira. Aku akan membawamu keluar."
Mira tersenyum—senyum lemah yang membuat hati Aldric hancur. "Aku tahu... kau akan datang... aku selalu tahu..."
"Aku harus cepat—mereka akan kirim lebih banyak."
Mira menggeleng perlahan. "Tidak... jangan bawa aku... aku hanya akan memperlambat..."
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Kau harus." Mira meraih wajah Aldric dengan tangan gemetar. "Dengar... aku sudah tua... lukaku parah... aku tidak akan selamat... tapi kau... kau harus teruskan perjuangan..."
"Aku tidak peduli—"
"Dengar!" Mira memotong dengan sisa tenaga. "Soulrender... ada di bawah patung naga... di ruang tahta... tapi ada jebakan... mantra pengikat... hanya darah Veynheart yang bisa membukanya..."
Aldric terdiam.
"Dan..." Mira terbatuk-batuk, darah keluar dari mulutnya. "Kael... Kael tidak sendiri... ada tiga lagi... mereka disebut... Four Horsemen... Kael yang pertama... yang kedua... Malak the Corruptor... sudah bangkit... di timur..."
"Ini terlalu banyak informasi—"
"Kau harus tahu." Mira menggenggam tangannya erat. "Kau harus siap... dan Ren... jaga anak itu... dia... dia kunci..."
Napas Mira mulai tersengal. Matanya sayu.
"Mira!" Aldric menepuk pipinya. "Mira, bertahanlah!"
"Maaf... Pangeran... aku... aku gagal... jaga mereka..." Bisikan terakhir. "Aku... mau bertemu... Ratu... lagi..."
Mira tersenyum—untuk terakhir kalinya. Matanya terpejam. Tangannya lemas.
Dan ia pergi.
Aldric terdiam.
Ia memangku tubuh Mira yang sudah tidak bergerak, tidak tahu harus berbuat apa. Di dalam hatinya, kekosongan menganga—luka baru, di atas luka-luka lama.
Dari lorong, langkah kaki bergema—banyak, mendekat.
Ia harus pergi.
Dengan hati-hati, ia membaringkan Mira di lantai, memejamkan matanya yang terbuka. Ia mengambil boneka kelinci Liana dari sakunya—boneka yang dititipkan Lila—dan meletakkannya di dada Mira.
"Jaga dia, Mira," bisiknya. "Sampaikan salamku pada Ibu... pada Liana... pada Ayah..."
Ia bangkit, menatap mayat-mayat di sekitarnya. Lalu, dengan sisa tenaga, ia berlari ke arah lain—bukan ke pintu masuk, tapi ke lorong yang lebih dalam. Lorong menuju ruang tahta.
Langkah kaki pengejar semakin dekat. Tapi Aldric tidak peduli.
Mira sudah pergi. Tapi perjuangan belum selesai.
Dari dalam kegelapan, suara Kael bergema—hanya di kepalanya, mungkin karena luka atau karena koneksi iblis.
"Kau semakin kuat, Aldric Veynheart. Tapi juga semakin lemah."
Aldric mengabaikannya. Terus berlari.
"Setiap orang yang kau cintai akan mati. Itu takdirmu. Kau bisa lari, kau bisa sembunyi, tapi pada akhirnya, kau akan sendirian."
Tidak.
"Mira mati karena kau. Liana mati karena kau. Ayahmu, ibumu—semua karena kau."
DIAM.
"Kael... aku akan membunuhmu."
"Tentu. Tapi berapa banyak lagi yang harus mati sebelum kau sampai padaku?"
Aldric menggertakkan gigi, memacu lari lebih cepat. Ia meninggalkan lorong bawah tanah, naik ke tangga-tangga batu, mendekati permukaan.
Di belakangnya, teriakan pengejar semakin samar.
Satu jam kemudian, Aldric tiba di pintu air—keluar dari sistem pembuangan, terhuyung-huyung ke tepi sungai.
Elara melihatnya lebih dulu. Ia berlari, memeluknya erat.
"Aldric! Kau terluka—"
"Aku baik-baik saja." Tapi suaranya serak, matanya kosong.
Sera mendekat dengan Ren. "Mira?"
Aldric menggeleng.
Elara menutup mulut, menahan tangis. Sera memeluk Ren erat, air mata mengalir.
Mereka diam untuk waktu yang lama, berkabung untuk wanita setia yang telah mengorbankan segalanya.
Ren tiba-tiba berkata, "Tante Mira sudah sama Liana sekarang."
Semua menatapnya.
"Varyn bilang," lanjut Ren polos. "Di dunia bawah, Tante Mira ketemu Liana. Mereka main bareng."
Aldric tersenyum—senyum getir, tapi hangat. "Ya, Nak. Mereka main bareng."
Mereka berkemah di tepi sungai malam itu, jauh dari pantauan penjaga. Api unggun kecil menyala, menerangi wajah-wajah lelah dan sedih.
Elara duduk di samping Aldric, memegang tangannya. "Kau mau cerita?"
Aldric menghela napas. Lalu perlahan, ia menceritakan semuanya—ruang penyiksaan, algojo, pemburu iblis, kematian Mira, pesan-pesan terakhirnya.
Elara mendengarkan dengan diam. Ketika Aldric selesai, ia berkata, "Mira pahlawan."
"Dia lebih dari itu." Aldric menatap api. "Dia keluarga."
Malam itu, mereka tidur dengan hati berat. Tapi di dalam kegelapan, api tekad Aldric masih menyala—lebih besar dari sebelumnya.
Mira sudah pergi. Tapi ia tidak akan mati sia-sia.
Soulrender akan diambil. Varyn akan dibebaskan. Kael akan mati.
Itu janjinya.
Pagi harinya, mereka bersiap untuk masuk ke istana—kali ini dengan satu tujuan: mengambil Soulrender dari kuil bawah tanah. Berbekal informasi dari Mira, Aldric tahu persis di mana patung naga itu berada.
Tapi untuk mencapai ruang tahta, mereka harus melewati lorong-lorong istana yang penuh penjaga, melewati ruang-ruang yang mungkin sudah berubah, dan menghadapi jebakan-jebakan baru.
Dan yang paling berbahaya: Darius mungkin sudah tahu mereka datang.
Di puncak menara istana, Kael tersenyum menatap bola kristalnya. "Biarkan mereka datang," bisiknya. "Biarkan mereka mengambil pedang itu. Itu hanya akan mempercepat rencanaku."
Di sampingnya, sesosok bayangan lain mulai terbentuk—lebih besar, lebih gelap, dengan aura yang lebih mematikan.
"Malak," sapa Kael. "Selamat datang di pesta."