Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Kenzie merapikan kerah seragamnya dengan gerakan yang cepat dan kaku, jemarinya sedikit bergetar saat menyentuh kulit lehernya yang masih terasa panas akibat kecupan Julian. Kenzie menarik napas dalam, membiarkan udara panas Arcandale masuk dan membekukan kembali desiran aneh yang sempat meluap di dadanya.
Kenzie mendongak, menatap Julian dengan tatapan yang kini kembali menjadi porselen dingin, tak tersentuh dan tak terbaca.
"Cukup, Julian." ucap Kenzie, suaranya kini datar dan tajam, memotong keheningan yang menyesakkan di antara mereka. "Anggap saja ini adalah kegilaan sesaat karena tekanan yang kau hadapi. Tapi jangan pernah mengulanginya lagi. Ini adalah yang pertama dan ini harus menjadi yang terakhir."
Julian masih berdiri mematung, napasnya perlahan mulai stabil namun matanya mencerminkan kehancuran yang amat dalam. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa itu bukan sekadar kegilaan, tapi lidahnya terasa kelu saat melihat binar penghakiman di mata Kenzie.
"Kau baru saja mengkhianati istrimu yang sedang bertaruh nyawa di rumah." lanjut Kenzie tanpa ampun. Kata-katanya seperti belati yang menghujam tepat di ulu hati Julian. "Dan kau melakukannya dengan aku, seseorang yang bahkan tidak bisa memberikanmu masa depan yang normal. Kau sedang mencari pelarian di tempat yang salah, Julian."
Julian menunduk, menatap lantai beton atap yang kusam. "Aku tahu, aku tahu aku bersalah, Kenzie. Tapi berada di dekatmu, itu satu-satunya obat saat di mana aku tidak merasa harus menghitung mundur hari kematian orang yang kucintai."
"Itu egois namanya." potong Kenzie dingin. ia melangkah mundur, menciptakan jarak yang lebar di antara mereka. "Keabadian kita bukan alasan untuk menghancurkan kemanusiaan yang masih tersisa padamu. Pulanglah. Elena mungkin sedang menunggumu. Jangan biarkan dia mencium aroma pengkhianatan ini saat kau memeluknya nanti malam."
Kenzie membalikkan badan, rambutnya berkibar tertiup angin sore yang kian kencang. "Segera kembali ke rumah sebelum kau kehilangan sisa kemanusiaanmu yang paling berharga, Julian. Jika kau tidak bisa setia pada istrimu, bagaimana kau bisa setia pada tugasmu untuk melindungi keluargamu?"
Tanpa menunggu jawaban, Kenzie melangkah pergi menuju pintu atap. Langkah kakinya terdengar tegas, meninggalkan Julian sendirian di bawah langit yang mulai berubah kebiruan. Julian hanya bisa berdiri diam, menatap punggung Kenzie yang menghilang di balik pintu, menyadari bahwa ia baru saja menukar integritasnya demi sekejap rasa memiliki yang kini justru meninggalkannya dalam kehampaan yang lebih menyiksa.
...•••...
Di bawah, di koridor kelas yang mulai sepi karena sebagian besar siswa berada di kantin untuk makan siang, Kenzie berjalan dengan langkah cepat. Napasnya masih terasa berat dan desiran aneh di dadanya menolak untuk tenang. Kenzie merasa marah pada Julian, tapi yang lebih menyakitkan adalah ia marah pada dirinya sendiri karena sempat menikmati sentuhan laki-laki itu.
"Kenzie! Tunggu!"
Hallen berlari kecil mengejarnya. Wajah laki-laki itu masih menampakkan bekas kemerahan di leher akibat cengkeraman Julian tadi, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang tulus.
Kenzie berhenti, tapi ia tidak berbalik. "Pergilah, Hallen. Aku sedang tidak ingin diganggu."
"Kau menangis?" tanya Hallen, suaranya melembut saat ia berhasil berdiri di depan Kenzie. Ia melihat mata jernih gadis itu sedikit berkaca-kaca, sebuah pemandangan langka bagi sosok sedingin Kenzie. "Kau baru saja menemui Julian kan? Apa yang dilakukan Julian padamu di atas sana? Dia menyakitimu? Katakan padaku, Kenzie. Aku tidak akan membiarkan dia—"
"Dia tidak menyakitiku, Hallen!" potong Kenzie dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya. Energi murni di sekitarnya bergetar halus, membuat dedaunan kering di sekitar halaman koridor berputar kecil seperti tornado mini. "Berhentilah bersikap seolah kau pahlawanku. Kau tidak tahu apa-apa tentang dia, tentang aku atau tentang apa yang baru saja terjadi."
Hallen terdiam, tersentak oleh ledakan emosi Kenzie. Namun, bukannya mundur, ia justru melangkah maju. "Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi kau harus tahu satu hal, aku menyukaimu. Dan aku benci melihatmu tampak sekacau ini karena laki-laki seperti dia. Julian itu aneh, Kenzie. Dia punya rahasia yang tidak masuk akal dan aku tidak mau kau terseret ke dalamnya."
Kenzie menatap Hallen dengan tatapan lelah. "Kau menyukaiku karena kau hanya melihat permukaannya saja, Hallen. Jika kau tahu siapa aku sebenarnya, kau akan lari ketakutan. Jadi tolong, jauhi aku sebelum kau benar-benar terluka."
Kenzie berbalik dan pergi dengan langkah yang tidak bisa dikejar oleh manusia biasa, meninggalkan Hallen yang terpaku di tengah koridor yang mulai ramai, merasakan dingin yang tidak wajar menyelimuti hatinya.
...•••...
Sementara itu, Julian sudah sampai di rumah bahkan sebelum jam pelajaran di sekolahnya berakhir. Suasana rumah begitu tenang, hanya terdengar detak jam dinding yang seolah menghitung mundur waktu yang tersisa. Julian melangkah menuju kamar Elena dengan hati yang remuk.
Begitu pintu terbuka, ia melihat Elena sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya yang pucat tampak sedikit lebih segar hari ini. Begitu melihat Julian, sebuah senyum tulus merekah di bibir keriputnya, senyum yang selalu menjadi rumah bagi Julian selama empat puluh tahun.
"Kau pulang cepat, Sayang." bisik Elena lembut. "Ada masalah di sekolah?"
Julian tidak sanggup menjawab. Ia berjalan mendekat dan langsung berlutut di samping tempat tidur, menyembunyikan wajahnya di pangkuan Elena. Aroma lavender dari pakaian Elena menusuk hidungnya, sangat berbeda dengan aroma mawar Kenzie yang masih tertinggal di indra penciumannya. Rasa bersalah itu meledak seketika.
"Elena... maafkan aku." isak Julian. Bahunya bergetar hebat. "Aku adalah suami yang buruk. Aku tidak pantas mendapatkan cinta darimu."
Elena mengelus rambut pirang Julian dengan jemarinya yang gemetar. Ia tidak bertanya mengapa suaminya menangis. Sebagai wanita yang telah mendampingi seorang Aethern, ia bisa merasakan ada beban baru yang dibawa Julian pulang, beban yang berbau pengkhianatan namun juga penderitaan.
"Julian, lihat aku." ucap Elena tenang.
Julian mendongak, matanya merah dan basah oleh air mata.
"Aku sudah memberikan restuku, bukan?" Elena tersenyum pahit namun penuh kasih. "Jangan menangis karena kau merasa bersalah padaku. Menangislah jika kau merasa kau kehilangan dirimu sendiri. Aku mencintaimu dan aku ingin kau bahagia sebelum aku menutup mata. Jika itu berarti kau harus membagi hatimu, maka lakukanlah dengan jujur."
Julian membenamkan wajahnya di antara lipatan gaun tidur Elena yang lembut. Kata-kata istrinya bukan sekadar pengampunan, itu adalah pembebasan yang dipaksakan, sebuah kebaikan yang terasa seperti besi panas yang ditekankan ke lukanya. Julian merasa dikuliti. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa, yang hidupnya terikat oleh waktu yang sangat singkat, memiliki hati yang jauh lebih luas daripada dirinya yang adalah seorang Aethern yang tingkatnya jauh lebih tinggi?
"Aku tidak ingin membagi hatiku, Elena." rintih Julian dengan suara parau. "Aku ingin tetap menjadi Julian yang kau kenal. Julian yang berdansa denganmu empat puluh tahun lalu. Tapi saat aku melihatnya, aku merasa seperti ditarik kembali ke kegelapan masa lalu yang tidak pernah tuntas. Aku membencinya. Aku membenci diriku sendiri karena membiarkan dia menyentuh bagian dari diriku yang seharusnya hanya milikmu."
Elena hanya diam, jemarinya terus menyisir rambut Julian dengan ritme yang menenangkan. "Kita tidak bisa melawan apa yang sudah tertulis dalam darah, Julian. Kau adalah seorang Aethern. Kau diciptakan untuk keabadian, sementara aku hanyalah sebuah persinggahan sementara. Aku tidak marah. Aku justru takut jika kau terus menyangkalnya, kau akan hancur sebelum tugasmu selesai."
Kata-kata Elena justru membuat Julian merasa semakin hancur. Ia menangis lebih keras di pangkuan istrinya, menyadari bahwa kemuliaan hati Elena adalah hukuman yang paling berat bagi pengkhianatannya di atas atap sekolah tadi.
...•••...