Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2) ADA YG HILANG, JIWA TAK TENANG
PERUBAHAN YANG TIDAK DIINGINKAN
Seiring berjalannya waktu, Sea mulai sering muncul di sekitar Rayyan. Ia tidak pernah mengganggunya ketika ia sedang sibuk dengan pekerjaan BEM atau studi, tapi selalu ada di sana ketika ia memiliki waktu luang – seperti saat makan siang di kantin kampus, atau ketika ia sedang berjalan pulang ke asrama.
Pada awalnya, Rayyan merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Tapi lama kelamaan, ia mulai terbiasa. Sea adalah orang yang ceria, positif, dan selalu punya cerita menarik untuk dibagikan. Ia juga sangat cerdas dan selalu siap membantu jika ada mahasiswa yang membutuhkan bantuan. Bahkan beberapa anggota BEM mulai menyukainya, terutama ketika Sea membantu mengatur acara bakti sosial yang digelar oleh BEM beberapa minggu yang lalu.
Hari itu, Rayyan sedang berada di ruang kerja BEM bersama beberapa anggota lainnya untuk merencanakan acara Dies Natalis fakultas yang akan datang. Mereka sedang mendiskusikan konsep acara ketika pintu ruangan terbuka dan Sea masuk dengan membawa beberapa gelas jus buah segar.
"Hai semua! Aku melihat kalian sedang sibuk berdiskusi, jadi aku bawa jus untuk menyegarkan tubuh," ucapnya dengan senyum ceria.
Beberapa anggota BEM menyambutnya dengan senang hati, mengambil gelas jus yang dibawanya. Rayyan yang sedang melihat draft konsep acara hanya mengangguk sebentar sebagai sapaan.
"Kak Rayyan, ini jus mangga kesukaanmu," ucap Sea sambil memberikan gelas jus ke arah Rayyan.
Rayyan melihatnya dengan sedikit terkejut. Ia tidak pernah mengatakan bahwa ia suka jus mangga padanya. "Bagaimana kamu tahu aku suka jus mangga?"
Sea tersenyum lembut. "Kamu pernah bilang saat kita masih kecil. Kamu bilang jus mangga adalah minuman terbaik di dunia karena rasanya manis dan segar."
Rayyan terdiam sejenak, kemudian mengambil gelas jus dan meminumnya. Rasanya memang sangat enak, membuatnya merasa sedikit lebih rileks setelah berjam-jam mendiskusikan konsep acara.
Setelah Sea pergi, salah satu anggota BEM yang bernama Dinda mendekat ke Rayyan dengan senyum licik. "Kak Rayyan, ternyata kamu punya teman masa kecil yang cantik dan baik hati ya. Bukankah kamu bilang dulu tidak mengenalnya?"
Rayyan mengerutkan keningnya. "Itu karena aku benar-benar tidak ingat padanya dulu. Tapi sekarang aku mulai mengingat beberapa hal tentang masa kecil kita."
"Kalau aku melihatnya, dia tidak hanya ingin jadi teman masa kecil kamu lho," ucap Dinda dengan nada yang menyiratkan sesuatu. "Lihat saja bagaimana dia memperhatikan kamu – selalu mengingat apa yang kamu suka, selalu ada di sana ketika kamu membutuhkan bantuan. Aku rasa dia punya perasaan lebih pada kamu, Kak Rayyan."
Rayyan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Itu tidak mungkin, Dinda. Dia hanya ingin menjaga hubungan teman yang pernah kita miliki."
"Tapi kamu sendiri bagaimana, Kak Rayyan? Apakah kamu merasa sesuatu pada dirinya?" tanya Dinda dengan penasaran.
Rayyan terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan Dinda. Ia mulai merenungkan perasaan yang muncul di hatinya setiap kali melihat Sea. Benar saja, ada sesuatu yang berbeda pada gadis itu – ia membuatnya merasa nyaman dan tenang, sesuatu yang jarang ia rasakan dari orang lain. Tapi ia mencoba untuk mengabaikannya. Ia punya banyak tanggung jawab dan tidak ingin terlibat dalam hubungan asmara yang bisa mengganggu fokusnya.
"Tidak ada apa-apa, Dinda," jawabnya dengan tegas. "Sekarang kita harus kembali fokus pada persiapan acara Dies Natalis. Jangan lagi membicarakan hal yang tidak penting."
Dinda hanya mengangguk sebentar, meskipun ia tahu bahwa Rayyan sedang mencoba menyembunyikan perasaannya. Ia memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi dan kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan diskusi.
Namun, ketika malam hari tiba dan Rayyan sedang berada di kamarnya sendiri, ia tidak bisa menghindari untuk memikirkan Sea. Ia mengambil foto kecil yang pernah diberikan Sea darinya dari laci meja tulisnya, melihat wajah mereka berdua yang masih kecil dengan senyum ceria. Rasa penyesalan mulai muncul di hatinya – mengapa ia harus melupakan kenangan indah itu? Mengapa ia harus bersikap cuek padanya ketika mereka bertemu lagi?
Ia menghela napas dalam-dalam, menyadari bahwa perasaan yang ia coba sembunyikan mulai muncul ke permukaan. Dan ia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
KETERPAKUAN YANG TAK TERHINDARKAN
Hari H acara Dies Natalis Fakultas Ilmu Komunikasi tiba dengan penuh semangat. Seluruh kampus dipenuhi dengan dekorasi yang menarik, dan banyak mahasiswa yang berkumpul untuk menyaksikan rangkaian acara yang telah direncanakan dengan matang oleh BEM.
Rayyan sebagai ketua BEM berada di belakang panggung, memastikan semua acara berjalan dengan lancar. Ia sudah tidak tidur cukup selama beberapa hari terakhir karena fokus pada persiapan acara. Meskipun merasa lelah, ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik.
Setelah beberapa acara pertama berjalan lancar, saatnya untuk acara utama – pentas musik yang akan dibawakan oleh grup band dari dalam kampus. Rayyan sedang memeriksa sound sistem ketika seseorang menyentuh bahunya dengan lembut.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Sea yang berdiri di belakangnya dengan membawa sebuah kotak makan.
Rayyan menggelengkan kepalanya. "Belum sempat. Aku terlalu sibuk memastikan semua acara berjalan lancar."
Sea menghela napas lembut. "Kamu tidak bisa bekerja tanpa makan, Rayyan. Ini aku bawa makanan untukmu. Makan dulu sebentar saja."
Rayyan ingin menolaknya, tapi melihat wajah Sea yang penuh kekhawatiran membuatnya tidak tega. Ia mengambil kotak makan dan membukanya. Di dalamnya ada nasi putih hangat dengan lauk yang lengkap – ayam bakar, tumis kangkung, dan tahu tempe. Semuanya adalah makanan kesukaannya.
"Kamu memasaknya sendiri?" tanyanya dengan terkejut.
Sea mengangguk dengan senyum lembut. "Ya. Aku ingat kamu suka makanan yang aku masak saat kita masih kecil. Aku berharap rasanya masih sama seperti dulu."
Rayyan mengambil satu suap makanan dan memakannya. Rasanya memang sangat enak, membuatnya merasa lebih kuat dan bersemangat. Ia melihat Sea dengan rasa terima kasih yang dalam. "Terima kasih, Sea. Rasanya sangat enak."
Sea tersenyum senang. "Senang rasanya kamu menyukainya. Sekarang makanlah sampai habis ya. Kamu butuh energi untuk menyelesaikan acara ini."
Rayyan mengangguk dan melanjutkan makanannya. Sementara itu, Sea berdiri di sebelahnya, membantu membersihkan beberapa peralatan yang berantakan di belakang panggung. Ketika Rayyan selesai makan, ia melihat Sea yang sedang mengatur kabel sound sistem dengan hati-hati.
"Sea, kamu tidak perlu melakukan ini," ucap Rayyan dengan lembut. "Aku bisa mengatasinya sendiri atau meminta bantuan anggota BEM lainnya."
Sea mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Rayyan. Aku ingin membantu kamu. Kamu sudah bekerja sangat keras untuk acara ini. Semua orang melihatnya, termasuk aku."
Rayyan terdiam sejenak, melihat wajah Sea yang penuh perhatian. Rasa yang sudah lama ia coba sembunyikan mulai muncul dengan kuat. Ia merasa ingin menjaga gadis ini, melindunginya dari segala sesuatu yang buruk, dan selalu ada di sisinya. Tapi ia masih ragu. Ia takut bahwa hubungan asmara akan mengganggu segalanya.