Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket ke Tokyo
Deru mesin mobil memecah pagi yang masih lembap. Dirga menggenggam setir terlalu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Jalanan kota sudah mulai padat, klakson bersahutan, tapi semua itu seperti hanya latar samar bagi pikirannya yang jauh lebih bising.
Amarahnya belum reda. Bayangan semalam kembali menghantam. Pintu kamar utama yang dikunci, ketukan yang tak dijawab, tubuhnya yang sempoyongan, dan harga dirinya yang terasa diinjak.
Dirga mend*sah kasar.
“Sebenarnya kamu anggap aku ini siapa, Celine?” gumam Dirga pelan, rahangnya mengeras.
Jujur saja, bukan hanya soal pintu yang dikunci, itu tentang batas, tentang penolakan, dan tentang bagaimana Celine begitu mudah mengambil keputusan pergi ke Cambridge, mengatur hidupnya sendiri, tanpa merasa perlu berdiskusi.
Dia tahu itu penting bagi karier Celine, dan tahu istrinya selalu ambisius, selalu mengejar prestasi. Namun, apakah hubungan suami istri, itu tak lagi dianggap?
Mobil melaju lebih cepat dari biasanya. Lampu merah memaksanya berhenti mendadak. Dirga mengembuskan napas panjang, mencoba meredam dadanya yang terasa sesak.
Dia kembali teringat meja makan pagi tadi. Sikap Celine yang santai, senyumnya yang jumawa, dan Amira .…
Dirga memejamkan mata sesaat, Amira sangat berbeda dengan Celine. Cara gadis itu menyapanya. Cara dia menyiapkan sarapan, dan cara dia bersikap padanya.
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju, kali ini lebih stabil. Namun di dalam dada Dirga, badai belum juga reda.
Sepuluh menit kemudian, mobil Dirga berhenti tepat di halaman kantor.
Gedung itu tidak terlalu tinggi, hanya beberapa lantai, tapi berdiri kokoh dengan papan nama perusahaan keluarga mereka terpampang jelas di depan. Bukan sebuah perusahaan raksasa, tapi juga bukan usaha kecil.
Beberapa cabang tersebar di kota lain, cukup untuk membuat nama keluarga mereka dikenal di bidangnya.
Dirga masuk dengan langkah cepat. Beberapa karyawan menyapa, tapi dia hanya membalas dengan anggukan singkat. Pikirannya masih penuh.
Dirga mendorong pintu ruangannya, dan seketika berhenti mendadak.
“Mama?”
Di sofa dekat jendela, ibunya sudah duduk dengan anggun. Tas mahalnya terletak rapi di samping, kacamata baca bertengger di ujung hidung.
Rina Hartono menutup map yang tadi dibacanya, lalu menatap putranya tajam namun penuh perhitungan.
“Kamu baru datang?"
Dirga menghela napas pendek. “Mama ngapain ke sini pagi-pagi?”
“Ini kantor keluarga, Mama berhak datang kapan saja.”
Dirga berjalan ke meja kerjanya, meletakkan kunci mobil sedikit lebih keras dari biasanya. Ibunya memperhatikan gerak-geriknya.
“Kamu kok kelihatannya tidurnya nggak nyenyak."
Dirga tak menjawab.
“Hubungan kamu sama Celine gimana?” tanya sang ibu tiba-tiba, nada suaranya terdengar biasa, tapi penuh selidik.
Dirga langsung menjawab cepat, “Baik-baik aja.”
Ibunya memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Baik-baik saja?” ulangnya pelan.
Dirga mengangguk singkat. “Iya.”
Sang ibu tidak langsung menanggapi. Dia justru membuka tasnya, lalu berkata santai, “Mama cuma merasa kalian akhir-akhir ini jarang datang ke rumah. Celine juga kelihatan sibuk terus.”
Dirga tidak menyahut. Lalu pertanyaan berikutnya datang.
“Sudah hampir lima tahun kalian menikah.”
Dirga menegang sedikit.
“Belum kepikiran punya anak?”
Kalimat itu seperti menekan titik yang selama ini dia hindari.
Dirga terdiam. Bayangan rumah yang sepi, meja makan yang sunyi, dan kamar yang terkunci semalam.
Ibunya menghela napas pelan. “Mama nggak memaksa. Tapi usia kalian juga jalan terus.”
Dirga menatap meja kerjanya. Dia dan Celine memang pernah membicarakan soal anak, tapi selalu tertunda. Karier, proyek, penelitian, waktu yang belum tepat, dan entah sejak kapan pembicaraan itu berhenti sama sekali.
Ibunya lalu menyodorkan sebuah amplop.
“Apa ini?” tanya Dirga.
“Liburan, Mama udah beliin tiket buat kalian. Urusan perusahaan bisa di-handle adik kamu sementara.”
Dirga membuka amplop itu. Dua lembar tiket pesawat dengan tujuan Tokyo. Dirga terdiam sesaat.
“Pergilah seminggu. Jauh dari kerjaan. Jauh dari rutinitas. Siapa tahu suasana berubah. Kadang yang kalian butuhkan cuma waktu berdua.”
"Waktu berdua?" gumam Dirga dalam hati, sungguh rasanya ironis, saat baru menyadari jika dia dan Celine memang tidak punya waktu untuk berdua.
Lantas, bagaimana jika ibunya tahu situasi sebenarnya di rumah? Dirga menutup kembali amplop itu.
“Makasih, Ma,” ucapnya pelan.
Namun dalam hatinya, pikirannya kembali berkecamuk. Celine akan ke Cambridge tiga hari lagi, dan kini ada tiket ke Tokyo untuk mereka berdua.
Ibunya berdiri, merapikan tasnya.
“Mama cuma mau lihat kamu bahagia, Dirga.”
Kalimat itu terdengar tulus. Namun Dirga sendiri tak yakin, dia masih tahu seperti apa bentuk kebahagiaan yang seharusnya dia kejar, atau tidak.
"Mama pulang dulu."
"Iya Ma, hati-hati."
Bu Rina berjalan keluar. Pintu ruangan lalu tertutup pelan setelah wanita paruh baya itu pergi.
Dirga kini sendirian. Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya. Dia menatap dua lembar tiket di atas mejanya cukup lama.
Tujuan: Tokyo.
Tanggal keberangkatan: empat hari lagi.
Tepat satu hari setelah Celine bersiap terbang ke Cambridge. Dirga menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Jika dia tak pergi, ibunya pasti curiga.
"Mama bukan tipe orang yang mudah dibohongi. Sekali aku menolak, pertanyaan demi pertanyaan akan datang. Dan saat itu, kebohongan kecil tentang rumah tanggaku bisa runtuh begitu saja."
Dirga mengusap wajahnya dengan kasar, tak ingin mengecewakan niat tulus ibunya. Wanita itu sungguh percaya liburan bisa memperbaiki rumah tangganya, dan tentu berharap banyak dengan kehadiran seorang cucu.
"Pergi dengan Celine? Sangat mustahil."
Lalu pikiran Dirga beralih pada satu nama, Amira. Secara status, Amira adalah istrinya sekarang. Secara logika, tak ada yang salah jika dia mengajaknya. Namun secara hati?
Dirga terdiam lama. Dia memutar kursinya menghadap jendela kaca besar, memandangi lalu lintas kota di bawah sana. Hidupnya terasa seperti simpang jalan yang tak ia rencanakan.
Tiket di meja bukan hanya sekadar perjalanan, tapi itu sebuah pilihan.
Dirga meraih amplop kembali, membukanya, menatap nama yang tercetak di sana, Dirga dan Celine. Nama yang masih berdampingan. Jarinya menekan kertas itu pelan.
“Amira? Haruskah aku pergi dengan Amira?”
NOTE : Assalamu'alaikum wr wb, terima kasih bagi pembaca yang udah mampir ke karya ini. Kalau kalian suka, jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, atau vote ya.
Sekali lagi terima kasih 🙏💕
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..