Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insecure
Selama empat bulan berlalu Erlangga belum menjenguk Kevin di lapas remaja. Itu karena saat terakhir kali Erlangga menjenguk, hari itu Kevin tidak bisa di temui karena sedang berada di tahanan individu.
Sipir mengatakan jika Kevin terlibat perkelahian serius, hingga membuat kepala sipir luka parah dan dua tahanan tewas. Tapi anehnya tidak ada perpanjangan masa tahanan, entah apa yang sudah Kevin lakukan di dalam sana hingga tidak bisa di kunjungi.
"Erlan!!! Erlangga!!!." Caramel berteriak nyaring dari lantai satu.
"IYAAAAAA." Saut Erlangga berlari dari lantai dua.
Erlangga turun dengan tergesa, di bawah sudah ada Caramel dan Arga yang sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan tenang. Ada sebuah surat yang di kirim kantor pos, dan juga beberapa berkas lainnya.
"Ada apa?." Tanya Erlangga.
"Ada surat dari penjara, hari ini Kevin sudah bisa di jenguk." Ucap Arga.
"Yang benar?!." Erlangga berbinar-binar.
"Tapi, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu lebih dulu." Ucap Caramel, suaranya terdengar misterius.
"Apa itu?." Erlangga duduk dengan penasaran.
"Kamu ingat kasus Kevin saat di penjara beberapa bulan lalu kan? sejak hari itu Ibu Kevin mendapatkan laporan dari kepala sipir yang terluka di lokasi kejadian." Caramel menyerahkan amplop coklat pada Erlangga.
Erlangga menelan ludah nya susah payah, dia jadi berdebar karena takut mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia ketahui.
Begitu amplop di buka, terlihat banyak foto mengerikan dari para korban yang di serang oleh Kevin. Erlangga syok, tidak menyangka jika Kevin akan sampai seganas itu. Bahkan Erlangga merasa sudah tidak lagi mengenal Kevin, rasa takut menyeruak dalam dirinya tanpa sadar.
"I-ini.. apa-apaan ini." Syok Erlangga.
"Tapi itu semua hanya tuduhan." Ujar Arga, dia terlihat tenang.
"Apa? jadi maksudnya bukan Kevin pelaku nya?." Erlangga penasaran.
"Kevin memang yang melakukan penyerangan itu, tapi bukan karena perkelahian antar tahanan. Melainkan karena kepala sipir selama ini bekerjasama dengan orang luar, untuk mengedarkan narkoba di penjara. Sebagai tahan baru, Kevin di paksa untuk mengonsumsi itu. Kevin menolak, Kepala sipir merasa marah dan hendak melakukan tindakan asusila yang tidak pantas pada Kevin. Merasa terancam Kevin tidak memiliki pilihan lain untuk menyerang kepala sipir, begitu kepala sipir sudah di tumbangkan dua tahanan yang berada di bawah kendali kepala sipir ikut datang menyerang dengan membawa pistol. Kevin terkena luka tembak tapi berhasil membunuh dua tahanan itu, Kevin di bawa ke perjara individu setelah kejadian itu." Arga menjelaskan secara runtut.
"Lalu?." Erlangga mendengar dengan syok.
"Di sana Kevin mendapatkan intimidasi dan ancaman. Jika Kevin tidak mengaku jika semua terjadi hanya karena perkelahian biasa, maka masa tahanannya akan di perpanjang seumur hidup. Kevin akhirnya setuju untuk mengaku, tapi dia juga mengancam balik. Jika selama di penjara dia mendapatkan serangan, maka dia akan melakukan tindakan yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Dan tentu saja dia akan membocorkan informasi tentang Kepala sipir yang mengedarkan narkoba di penjara." Jelas Arga.
Erlangga terdiam, entah kenapa dia justru merasa iri. Iri karena menurutnya Kevin sangat keren, begitu berani melawan banyak orang sendirian di tempat tertutup seperti penjara. Erlangga jadi merasa tertinggal, dia merasa waktu yang dia habiskan selama empat bulan terakhir tidak membuahkan hasil apa-apa.
"Tapi darimana Papa dan Mama mengetahui semua ini?." Tanya Erlangga.
"Ibu Kevin datang pada Mama untuk meminta bantuan. Mama memberikan bantuan pengacara yang bisa diandalkan untuk Kevin, berkat itu akhirnya Kevin bisa keluar dari penjara individu dan kembali ke sel tahanan sebelum nya." Ujar Caramel.
"Begitu, syukurlah." Ujar Erlangga.
"Kenapa? kamu terlihat tidak senang?." Caramel merasa Erlangga aneh.
"Eh.. bukan apa-apa." Ujar Erlangga mengelak.
"Kenapa?." Arga menepuk pundak Erlangga.
"Tidak ada, hanya merasa tertinggal jauh." Lirih Erlangga.
"Erlangga, kamu itu sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Semuanya butuh proses__
"Aku tau, tapi aku memang payah. Saat aku tertodong pistol waktu itu saja aku sudah ketakutan, tapi Kevin berhasil menyerang tiga orang hingga terluka parah dan tewas. Dia memang genius, dia tidak bisa di bandingkan dengan ku yang payah." Erlangga sedang insecure parah.
"Hei, mana mungkin anakku payah." Arga menatap Erlangga tajam.
"Tapi memang itu kenyataan nya." Sungut Erlangga.
Erlangga berlari kembali ke kamarnya, Caramel dan Arga terdiam. Mereka tau di umur pubertas laki-laki memang gampang insecure, mereka merasa harga diri terluka jika tertinggal jauh dari anak seusianya.
"Apa seharusnya aku tidak bicara seperti itu?." Arga berpikir dia salah bicara.
"Tidak apa, biarkan dia tenang dulu." Ucap Caramel.
"Ini di luar dugaan, tapi menurut ku karakter Kevin saat ini sudah berubah dari protagonis menjadi antagonis. Dia jauh lebih layak di sebut antagonis di banding Erlangga, apa karena lingkungan memang mempengaruhi tumbuh kembang anak?." Ucap Arga.
"Itu benar. Erlangga tumbuh dalam lingkungan yang aman, karena itu dia memiliki sedikit pengalaman bertarung langsung. Berbeda dengan Kevin, dia sudah rusak secara mental jadi setelah bebas dia pasti menemukan dunia yang selama ini dia cari." Caramel mendekat pada Arga.
"Apa sebaiknya aku tidak terlalu memanjakan Erlangga? apa aku harus menjadi Ayah yang keras?." Arga masih merasa bingung.
"Tidak perlu. Erlangga tetap bisa kuat meskipun mendapatkan kasih sayang orangtuanya, dia hanya kekurangan pengalaman. Mulai besok, biarkan dia berangkat sekolah sendiri dan amati dari jauh." Ucap Caramel.
"Baiklah, ngomong-ngomong aku berpikir untuk membuat sebuah club tinju di dekat sini." Ucap Arga.
"Tiba-tiba?." Heran Caramel.
"Karena tidak mungkin Yohan tinggal di rumah ini terus, kita memiliki privasi yang tidak bisa di ketahui orang luar. Bahkan Erlangga tidak tau apapun tentang kita, karena itu aku berpikir Yohan tinggal di club itu saja." Ujar Arga.
"Sebagai master?." Tanya Caramel.
"Dia belum layak memiliki murid. Aku akan mencari orang yang cocok sebagai master di club itu, Yohan hanya akan menjadi murid di sana. Karena ada asrama jadi dia bisa tinggal di sana, bagaimana menurut mu?." Arga meminta pendapat.
"Bukan ide yang buruk, justru bagus jika Yohan mendapatkan guru di bidangnya. Dia juga harus berkembang di sisi Erlangga seperti Kevin." Caramel setuju.
"Baiklah, jadi bagaimana cara kita membujuk si manis yang merajuk?." Arga melirik ke lantai dua.
Caramel hanya tersenyum, dia bangkit berdiri dan naik ke lantai dua di ikuti Arga. Mereka datang ke kamar Erlangga, meksipun awalnya tidak mau membuka pintu akhirnya Arga mendobrak pintu dengan mudahnya.
"AKU KAN SUDAH BILANG INGIN SENDIRI____
BUGHH
BRAAKKKKK
"Ukhhh...."
Arga menendang Erlangga dengan keras hingga terpental ke lemari. Erlangga terduduk merasa sakit, dia menatap Arga tidak menyangka.
"Bangun." Ucap Arga dingin.
"A-apa ini." Erlangga tidak percaya.
"Kenapa diam? bukankah kau merasa tertinggal jauh dari Kevin?. Bangun dan lawan kami, kau akan berkembang setelahnya." Ucap Caramel, dia juga menatap dengan tajam.
Erlangga berdiri, dia merasakan hawa membunuh dari Arga dan Caramel. Seketika dia merinding, apa seperti ini sosok asli dari orangtuanya? Erlangga merasa takut.
"Apa mereka masih orang yang sama? mereka tidak mungkin membunuh ku kan?." Batin Erlangga ketar-ketir.