Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis finis dan awal yang abadi
Satu bulan telah berlalu sejak raungan mesin di Sirkuit Sentul membongkar konspirasi gelap Skorpio Global. Langit Jakarta sore itu tampak lebih bersih, seolah badai yang selama ini menghantui keluarga Kencana telah benar-benar berlalu, meninggalkan pelangi ketenangan yang selama sepuluh tahun hanya menjadi mimpi bagi Cassia.
Markas Kencana Racing kini tidak lagi terasa seperti bunker persembunyian yang pengap. Ruangan itu telah bertransformasi menjadi laboratorium teknologi yang modern, dengan jendela-jendela kaca besar yang membiarkan cahaya matahari masuk menyentuh piala emas setinggi satu meter yang berdiri angkuh di atas meja utama. Namun, bagi Cassia, piala itu bukan pencapaian terbesarnya. Pencapaian terbesarnya adalah melihat kakaknya, Kalingga, tertawa lepas tanpa beban saat berdiskusi dengan Zelene di sudut ruangan.
"Aku sudah mendaftarkan hak paten The Valkyrie Core atas nama Ibu," ujar Kalingga sambil menghampiri Cassia. "Dan sesuai keputusan kita bersama, kita memberikan lisensi terbuka untuk penggunaan medis. Kursi roda pintar pertama dengan algoritma Ibu akan diproduksi bulan depan. Papa dan Mama pasti bangga sekali."
Cassia tersenyum, menyentuh permukaan motor Valkyrie-01 yang kini sudah dipensiunkan sebagai monumen sejarah di tengah markas. "Mereka tidak pernah ingin kita hidup dalam dendam, Kak. Mereka hanya ingin kita meneruskan apa yang mereka mulai."
Sore itu, Cassia memutuskan untuk pergi ke bukit yang menghadap ke arah kota—tempat yang dulu sering ia datangi saat ingin melarikan diri dari kenyataan sebagai "Bunga Sekolah" yang sempurna. Namun kali ini, ia tidak pergi sendirian.
Galaksi menghentikan motornya di tepi tebing, membiarkan mesinnya berderu pelan sebelum akhirnya sunyi. Ia melepas helm, memperlihatkan wajahnya yang kini tampak lebih rileks, meski luka gores tipis di pipinya dari malam balapan final itu masih meninggalkan bekas permanen sebagai tanda perjuangan mereka.
"Masih suka pemandangan di sini?" tanya Galaksi, berdiri di samping Cassia sambil menyandarkan punggungnya pada motor.
"Sekarang lebih suka," jawab Cassia pendek, melirik Galaksi dengan senyum tipis. "Dulu tempat ini terasa sepi. Sekarang terasa... penuh."
Galaksi terdiam sejenak, menatap kaki langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Ia merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang selama beberapa hari ini selalu ia bawa ke mana-mana.
"Cass," suara Galaksi memberat, kehilangan nada dinginnya yang biasanya. "Gue bukan orang yang pinter ngerangkai kata-kata manis. Lo tahu sendiri gimana gue. Gue lebih terbiasa pegang kunci inggris daripada pegang bunga."
Cassia menahan napas, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia memacu motor di kecepatan 300 km/jam.
Galaksi membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin perak dengan desain minimalis namun elegan, di tengahnya terdapat batu kecil berwarna biru safir—warna yang sama dengan lampu indikator pada motor Valkyrie mereka.
"Gue nggak mau cuma jadi mekanik lo, atau partner balap lo. Gue mau jadi orang yang selalu nunggu lo di garis finis, dan orang yang selalu ada di samping lo saat lo mau mulai garis start yang baru. Cassia Kencana... lo mau terus balapan sama gue selamanya?"
Air mata haru menggenang di mata Cassia. Ia tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Seluruh hidupnya telah diselamatkan oleh pria di depannya ini, bukan hanya dari ancaman Skorpion, tapi dari kesepian yang mendalam.
"Ya, Kak. Aku mau," bisik Cassia.
Galaksi menyematkan cincin itu di jari manis Cassia, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Di bawah langit senja yang magis, mereka seolah menjadi pusat dari alam semesta. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi pengejaran bayangan. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Dari kejauhan, suara klakson mobil yang berisik memecah suasana romantis itu. Kalingga, Zelene, dan Talishia muncul dari balik tanjakan dengan mobil pick-up yang penuh dengan peralatan barbecue dan kembang api.
"Woi! Udah selesai belum dramanya? Perut gue udah demo!" teriak Talishia sambil melambaikan spatula.
Zelene tertawa sambil memegang laptopnya (yang tampaknya tidak pernah bisa ia tinggalkan). "Aku sudah merekam momen tadi lewat satelit! Resolusi 4K, Cass! Mau aku unggah ke media sosial?"
Kalingga turun dari mobil, menatap Galaksi dengan tatapan mengancam yang dibuat-buat. "Ingat ya, Sheq! Cincin itu bukan berarti lo bisa bawa adik gue pergi jauh-jauh. Jarak minimal tetap berlaku kalau gue lagi lihat!"
Galaksi hanya tertawa kecil, merangkul bahu Cassia lebih erat. "Nggak janji, Ling!"
Malam itu, di atas bukit yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka, kembang api meluncur ke angkasa, meledak menjadi ribuan percikan cahaya yang indah. Cassia bersandar di bahu Galaksi, melihat kakak dan sahabat-sahabatnya tertawa di sekitar api unggun.
Ia menyadari bahwa garis finis dari sebuah masalah hanyalah sebuah garis start untuk kebahagiaan yang baru. Hidupnya bukan lagi tentang menjadi "Phantom" yang bersembunyi dalam kegelapan, melainkan menjadi "Valkyrie" yang terbang bebas menuju cahaya. Perjalanan mereka mungkin penuh tikungan tajam dan kerikil tajam, tapi selama mereka bersama, tidak ada lintasan yang tidak bisa mereka taklukkan.
TAMAT.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love....