Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masakan Istimewa
"Ini pasti enak," gumam ibu Naya di pagi hari, sambil menata piring di atas meja makan.
Pagi itu suasana rumah Naya terasa berbeda. Langit masih agak gelap ketika ibunya sudah bangun lebih dulu dari biasanya. Dari dapur terdengar suara wajan beradu pelan dengan sendok, disertai aroma masakan yang harum menyebar hingga ke ruang tengah.
Ibu Naya berdiri di depan kompor. Ia sesekali membuka tutup panci, memastikan masakannya matang sempurna.
Ibunya mondar mandir dari dapur ke meja makan, membawa piring demi piring dengan wajah yang terlihat sibuk namun penuh perhatian. Sesekali ia kembali ke dapur hanya untuk memastikan api sudah benar-benar mati.
Di meja makan, tersusun beberapa lauk, jauh lebih lengkap dari menu sarapan biasanya.
“Wah….sudah hampir siap.” Ucap Ibu Naya tersenyum ceria.
Tak lama kemudian, pintu kamar Naya terbuka pelan. Naya berjalan mengusap matanya yang masih mengantuk. Ia langsung menuju meja makan untuk mengambil minum.
“Pagi, Bu…” ucap Naya dengan suara serak.
“Pagi,” jawab ibunya tanpa menoleh, masih fokus pada masakannya yang sudah tertata.
Naya mengambil segelas air hangat, lalu berhenti sejenak. Ia menghirup udara pelan. Kemudian memperhatikan ibunya.
“Masak apa, Bu? Harumnya beda dari biasanya…” tanya Naya penasaran.
Ibu tersenyum kecil.
“Masakan biasa aja. Kamu cepat siap-siap, nanti telat ke kantor.”
Naya mengernyit sedikit. Ia tahu ibunya jarang memasak sebanyak itu di pagi hari, tapi tak ingin bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk.
“Iya, Bu,”
Naya kembali ke kamarnya untuk segera mandi.
Tak lama kemudian, ayah Naya keluar dari kamar dengan seragam kerjanya. Ia duduk di kursi ruang makan sambil merapikan jam tangannya.
“Wah, pagi-pagi sudah wangi begini,” kata ayahnya.
Ibunya membawa beberapa piring ke meja makan.
“Sesekali masak yang enak, Pak”.
Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di meja makan sederhana itu. Naya memperhatikan makanan di depannya. Semuanya tampak istimewa untuk ukuran sarapan.
“Ada acara apa sih, Bu?” tanya ayah Naya setengah bercanda.
Ibunya hanya tersenyum.
“Tidak ada. Makan saja dulu.” Ibu Naya menyendok nasi untuk suaminya.
Naya dan ayahnya mulai makan. Suasana pagi terasa hangat, hanya diisi suara sendok dan piring yang beradu pelan.
“Enak, Bu.” Kata Naya setelah beberapa suap.
Ibunya mengangguk puas.
“Iya? Kalau enak, makannya yang banyak, dong”
“Tiap hari begini aja ya, Bu” rayu ayah Naya.
“Emangnya, kalo biasanya masakan ibu engga enak?” tanya ibunya pura-pura cemberut.
Naya menyambung perkataan ibunya, "ihh... parah banget sih, Ayah."
Ayah Naya sedikit kaget, sendok di tangannya berhenti bergerak.
"Bukan begitu, Bu. Selalu enak kok, Bu. Tapi pagi ini sangat enak. Iya kan, Nay?"
Naya tersenyum sambil mengunyah pelan.
Setelah selesai makan, Naya berdiri dan meraih tas kerjanya yang tergantung di kursi.
“Ayah, aku berangkat dulu,ya” kata Naya sambil mencium tangan ayahnya.
Saat ingin pamit juga kepada ibunya, Ibu Naya langsung berdiri.
“Tunggu sebentar,” Ibu berlari kecil ke dapur.
Naya menunggu."Ada apa, Yah?"
Ayahnya mengangkat bahu sedikit.
Ibu Naya kembali sambil membawa sebuah kotak makan berwarna biru muda yang dibungkus rapi ke dalam tas kecil.
“Naya, ini dibawa ya,” menyodorkan tas kecil itu.
Naya menerimanya tapi dengan ekspresi bingung sambil mengangkat sedikit, memperhatikannya.
“Ini apa, Bu? Untuk siapa?”
“Itu didalamnya kotak bekal, makanan yang ibu masak, untuk temanmu yang menolong ibu kemaren.” jawab ibunya lembut.
"Hah? Untuk dia?" tanya Naya kaget.
“Sebagai ucapan terima kasih karna sudah menolong Ibu.”
Naya terdiam sejenak. Menatap kotak makan itu, lalu kembali menatap ibunya.
“Engga perlu repot-repot, Bu…” menyerahkan kembali tas kecil itu kepada ibunya.
Ibunya menggeleng pelan.
“Menolong orang bukan hal kecil. Kalo tidak ada dia kemaren yang menolong ibu? Jadi kita harus berterima kasih, Nak. ”
Ayah Naya ikut menimpali, “Betul, Nak. Itu bentuk ucapan terima kasih. Sampaikan juga salam dari Ayah, Ya."
Naya menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis dengan sedikit paksaan.
“Ya udah, nanti Naya kasih.”
Ibunya merapikan kerah baju Naya seperti saat masih kecil.
“Sayang, hati-hati di jalan, ya.....Semangat juga kerjanya”
“Iya ,Ibu.” mencium tangan ibunya.
Naya berjalan menuju pintu, memakai sepatu, lalu menenteng tas kecil itu.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Ibunya masih berdiri di dekat meja makan, memperhatikannya dengan wajah tenang.
“Bu….” Panggil Naya.
“Iya? Ada yang tinggal?” tanya Ibunya spontan.
“Masakannya enak banget,” Naya tersenyum lebar.
Ibunya membalas senyum itu.
“Pulang nanti jangan terlalu malam.”
Naya mengangguk, lalu melangkah keluar rumah.
Tak lama setelah Naya pergi, ayahnya ijin pamit kepada ibu Naya.
“Pak, jangan terlalu capek. Mata ayah terlihat kecapean loh,” kata ibu Naya khawatir.
“Enggak, Bu. Ini karna angin pagi aja.”
“Bapak harus tetap jaga kesehatan ya…” sambil merapikan ujung lengan baju Ayah.
“Siap, Bu bos.” Ayah Naya memberi hormat.
Ibu Naya tertawa. Ayahnya juga ikut tertawa
Dan segera berangkat.
_
Sesampai di depan gerbang kantornya, Naya turun dari angkot. Memegang tali tasnya erat-erat dan memastikan kotak bekal itu aman di dalam.
Berjalan menuju kantor.
Beberapa karyawan ada yang berjalan pelan sambil mengobrol ringan, sebagian lagi ada yang terlihat buru-buru.
Satpam yang berjaga mengangguk hormat, "Pagi, Mbak Naya."
"Pagi, Pak," Jawabnya singkat dengan senyum sopan.
Saat ingin memasuki pintu utama, Naya berjalan lebih pelan sambil melihat tas kecil yang dia tenteng.
“Dari dulu, ibu tak pernah sekalipun memberi bekal untuk Damar.”
Langkahnya berhenti, "Padahal ibu jelas tahu, aku dan Damar satu kantor, dan kami pacaran. Ibu kenal betul sama Damar. Tapi tak pernah seperhatian ini, sampai sekarang....Damar....” Mata Naya berkaca-kaca.
Dari belakang, Nadira melihat Naya.
“Nay, kok berhenti? Ada yang hilang?" tanya Nadira.
“Oh, Dir. Itu kamu.” Naya kembali tegar.
"Kenapa, Nay? Ada yang hilang," tanyanya lagi.
Naya menggeleng cepat, "engga kok, Dir. Ya udah, masuk yok." ajar Naya.
Mereka berdua masuk bersama ke dalam kantor.