NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Memotong Belenggu Masa Lalu

Minggu pagi itu, matahari bersinar lebih cerah dari biasanya, menembus celah-celah jendela kamar Colette. Gadis itu terbangun dengan jemari yang langsung menyentuh lehernya—merasakan dinginnya berlian dari "jimat" pemberian Caspian yang masih melingkar di sana. Entah karena kekuatan mistis atau sekadar sugesti, semalam adalah tidur ternyenyak yang pernah ia rasakan dalam hitungan tahun.

Colette berdiri di depan cermin retak di sudut kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya: seorang gadis dengan rambut hitam legam yang sangat panjang, menjuntai kusut hingga menutupi kedua matanya.

Selama bertahun-tahun, rambut ini adalah bentengnya. Tirai hitam ini adalah tempat persembunyiannya agar ia tidak perlu menatap dunia, dan yang lebih penting, agar dunia tidak perlu menatapnya. Trauma pelecehan saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar telah menanamkan ketakutan mendalam bahwa perhatian orang lain adalah ancaman. Baginya, menjadi "tak terlihat" adalah satu-satunya cara untuk tetap aman.

Di ruang tengah, Sinta sedang menyiapkan teh hangat sementara Aris duduk sedang menunggu teh buatan ibu nya. Suasana mendadak beku saat mereka melihat Colette keluar dari kamar dengan tas kecil di bahunya.

Sudah bertahun-tahun sejak kejadian kelam di masa sekolah dasar itu, Colette hampir tidak pernah mengeluarkan suara di rumah ini. Ia hidup seperti bayangan; berangkat kerja pagi buta, pulang larut malam, dan langsung mengurung diri. Trauma pelecehan itu telah merenggut suaranya, membuatnya merasa bahwa bicara adalah cara untuk menarik perhatian—dan perhatian adalah hal yang paling ia takuti.

"Colette? Mau... mau ke mana, Nak?" suara Sinta bergetar. Ia terkejut melihat putrinya sudah rapi di hari libur, sesuatu yang belum pernah terjadi selama bertahun-tahun.

Colette dan menjawab gadis itu melongos pergi membawa langkah kaki nya menuju tempat yang akan merubah nya.

Colette berjalan menyusuri gang dengan langkah yang lebih tegak. Ia tidak lagi menunduk sedalam biasanya. Tujuannya adalah sebuah salon di pinggiran kota yang cukup jauh agar tak ada satu pun orang yang mengenalnya.

Saat ia sampai di depan salon itu, ia melihat pantulan dirinya di kaca. Tirai rambut hitam yang selama bertahun-tahun ia gunakan untuk bersembunyi kini terasa sangat berat. Ia ingat bagaimana Caspian menatapnya semalam—seolah-olah pria itu tahu bahwa di balik rambut kusam ini, ada seseorang yang berharga.

Cukup, Colette. Jangan biarkan masa lalu terus mencekikmu, batinnya menguatkan diri.

Ia mendorong pintu kaca salon itu. Suara lonceng berdenting kecil. Seorang penata rambut menyambutnya dengan ramah.

"Ada yang bisa dibantu, Mbak?"

Colette menarik napas panjang, meremas jemarinya yang gemetar di balik saku jaket. "Tolong... tolong potong rambut saya. Pendek saja... sampai sebahu."

Penata rambut itu sempat tertegun melihat rambut Colette yang luar biasa panjang dan menutupi seluruh wajah, namun ia segera mengangguk. Saat kain penutup dilingkarkan di lehernya, Colette memejamkan mata rapat-rapat.

Colette mencengkeram kain penutup salon yang melingkari tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berpacu, berdentum keras di dalam dada seolah ingin melompat keluar. Bau cairan kimia salon dan suara bising hairdryer di latar belakang terasa begitu asing dan mengintimidasi.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, tidak berani melihat apa yang terjadi di depan cermin. Baginya, setiap helai rambut yang jatuh bukan sekadar potongan mati, melainkan runtuhnya benteng pertahanan yang selama belasan tahun ini melindunginya dari dunia luar yang jahat.

"Tenang saja, Mbak. Rambutnya bagus sekali, sayang kalau tidak dirapikan," ucap penata rambut itu dengan suara lembut, mencoba menenangkan kegelisahan Colette yang tampak jelas dari bahunya yang menegang.

Cekrik... cekrik...

Suara gunting itu terdengar sangat nyata di dekat telinganya. Colette merasa kedinginan. Saat rambut panjangnya yang biasanya menjuntai berat di pipi mulai berkurang bebannya, kulit wajahnya mulai merasakan terpaan angin dari pendingin ruangan secara langsung. Sensasi itu membuatnya merasa telanjang dan terekspos.

Bayangan masa kecil yang kelam—tatapan-tatapan menjijikkan dan perlakuan kasar yang membuatnya memutuskan untuk bersembunyi—kembali berkelebat. Namun, entah mengapa perasaan kelam itu hanya lewat saja selebih nya ia benar-benar percaya ia bisa bangkit dari trauma yang kelam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!