🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 | Penyelamat di Kelas Ekonomi
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Menjadi pramugari di maskapai internasional kelas elit bukan hanya soal senyum manis dan menyajikan sampanye. Bagi ku, Lin Xia, ini adalah tentang membaca orang. Dalam lima tahun terakhir terbang melintasi benua, aku telah melihat segalanya: pengusaha yang gemetar karena takut terbang, politikus yang mencoba meraba paha ku di balik selimut, hingga selebritas yang lebih rewel daripada bayi.
Namun, pria di kursi 24 A itu berbeda.
Dia naik ke pesawat dengan kemeja murah yang sedikit lembap, menyeret koper tua yang tampak seperti akan hancur jika tersenggol sedikit saja. Wajah nya lesu, lingkaran hitam di bawah mata nya menunjukkan kelelahan yang luar biasa, seolah-olah dia baru saja memikul beban seluruh dunia di pundak nya. Namun, saat mata kami bertemu untuk pertama kalinya ketika aku membagikan handuk hangat, aku merasakan sengatan listrik yang aneh.
Mata nya... Tuhan, mata nya tidak cocok dengan penampilan nya yang berantakan itu. Tajam, dalam, dan seolah-olah memiliki kilatan emas dan merah yang berpijar di kegelapan kabin.
"Siapa pria ini?" pikir ku sambil memberikan senyum standar maskapai. "Dia terlihat seperti gelandangan, tapi menatap ku seolah-olah dia tahu apa warna pakaian dalam ku."
Aku mencoba mengabaikan perasaan aneh itu. Aku berjalan menyusuri lorong, memastikan semua penumpang sudah mengenakan sabuk pengaman. Tapi setiap kali aku melewati baris 24, aku merasa dia sedang memperhatikan ku. Bukan tatapan mesum yang biasa ku dapatkan dari penumpang pria, tapi tatapan yang... penuh simpati? Seolah-olah dia mengasihani aku.
"Permisi, Nona," suara nya rendah, serak, namun memiliki otoritas yang tidak masuk akal.
Aku berhenti dan membungkuk sedikit. "Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin minum?"
Pria itu, Satya, begitu yang tertulis di manifes penumpang, tidak melihat ke arah menu. Dia menatap langsung ke mata ku. Jarak kami begitu dekat sehingga aku bisa mencium aroma hujan dan sisa pembakaran kayu dari baju nya.
"Namamu Lin Xia, bukan?" kata nya sambil membaca tag nama ku.
"Benar, Pak. Ada masalah?"
Dia terdiam sejenak, lalu mendekat ke telinga ku. Nafas nya yang hangat membuat bulu kuduk ku meremang. "Jangan pulang ke apartemen mu di Distrik Jing'an malam ini. Jangan pernah menginjakkan kaki di sana sebelum matahari terbit besok."
Aku tersentak mundur, hampir menjatuhkan nampan yang kupegang. Tawa ku pecah, sedikit gugup dan tersinggung. "Maaf? Apa ini semacam lelucon atau trik untuk mendapatkan nomor telepon ku? Karena jika iya, ini sangat menyeramkan, Pak."
Satya tidak tersenyum. Wajah nya tetap datar, sedingin es. "Apartemen nomor 402, benar? Di dekat toko roti Perancis itu."
Jantung ku rasa nya berhenti berdetak. Bagaimana dia tahu? Aku belum pernah melihat nya seumur hidup ku. Paspor nya menunjukkan dia dari Indonesia. Ini adalah penerbangan pertama nya ke Shanghai menurut catatan sistem. Bagaimana seorang asing bisa tahu alamat lengkap ku?
"Siapa kau sebenarnya? Penguntit?" suara ku mulai meninggi, menarik perhatian beberapa penumpang di sekitar.
"Aku hanya seseorang yang melihat benang merah takdir mu sedang terputus, Lin Xia," bisik nya lagi, kali ini dengan nada yang begitu serius hingga aku tidak bisa menganggap nya gila. "Pukul sepuluh malam nanti, dua orang pria dengan tato kalajengking di leher akan masuk lewat jendela balkon mu. Mereka tidak datang untuk merampok perhiasan mu. Mereka datang untuk mengambil nyawa mu karena kesalahan yang dilakukan kakak mu di kasino bawah tanah semalam."
Aku terpa ku di tempat. Kakak ku, Lin Dong, memang seorang penjudi kelas berat. Tapi bagaimana dia bisa tahu soal tato kalajengking? Itu adalah simbol dari geng Red Axe yang ditakuti di Shanghai.
"Pak, saya harus melaporkan Anda ke pihak keamanan bandara jika Anda terus membicarakan hal-hal yang mengancam seperti ini," kata ku dengan tangan gemetar, mencoba menjaga profesionalisme.
Satya menyandarkan kepala nya ke kursi dan memejamkan mata, seolah percakapan itu telah menghabiskan seluruh energi nya. "Lakukan saja apa yang menurut mu benar. Aku sudah memberikan peringatan. Apakah kau ingin menjadi mayat yang cantik atau pramugari yang hidup untuk melihat hari esok, itu pilihan mu."
Sepanjang sisa penerbangan, aku tidak bisa fokus. Tangan ku dingin. Rekan kerja ku, Mei, bertanya apakah aku sakit, tapi aku hanya menggeleng. Di dapur pesawat, aku terus memikirkan kata-kata pria itu.
"Dia pasti gila. Mungkin dia hanya menebak-nebak," pikir ku dalam hati. "Tapi... bagaimana jika dia benar? Tato kalajengking... Lin Dong... itu terlalu spesifik untuk sebuah tebakan."
Begitu pesawat mendarat di Pudong, aku melihat Satya turun dengan tenang, menghilang di tengah kerumunan penumpang tanpa menoleh sedikit pun.
Pukul sembilan malam, Shanghai diguyur hujan rintik-rintik. Aku berdiri di depan lobi apartemen ku, memegang kunci dengan tangan yang gemetar. Lampu jalanan yang temaram membuat suasana terasa lebih mencekam dari biasa nya.
"Masuk saja, Xia. Jangan jadi bodoh. Pria di pesawat itu hanya penipu," aku mencoba meyakinkan diri ku sendiri.
Namun, saat aku hendak melangkah masuk, aku melihat sebuah van hitam terparkir di seberang jalan. Kaca nya gelap, namun saat lampu van itu menyala sesaat, aku melihat pantulan di kaca spion samping: seorang pria di dalam van itu memiliki tato kalajengking yang menjalar hingga ke rahang nya.
Darahku mendesak ke kepala. Dunia seolah berputar.
Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju hotel murah di ujung jalan. Aku memesan kamar dengan nama palsu dan mengunci diri di dalam. Aku duduk di lantai, memeluk lutut ku, menunggu dengan jantung yang berdegup kencang.
Pukul sepuluh sepuluh malam.
Tiba-tiba, suara sirine polisi meraung-raung dari arah apartemen ku. Aku tidak tahan lagi. Aku keluar dan berlari kembali ke sana. Di depan gedung, kerumunan orang sudah berkumpul. Garis polisi dipasang.
"Apa yang terjadi?" tanya ku pada tetangga ku, Ny. Wang, yang tampak pucat pasi.
"Perampokan maut, Xia! Untung kamu tidak ada di rumah!" seru Ny. Wang sambil memegang dada nya. "Dua orang pria masuk ke unit mu. Mereka membawa parang panjang. Saat polisi datang karena laporan tetangga yang mendengar suara kaca pecah, mereka mengamuk. Unit mu berantakan... mereka menyayat tempat tidur mu hingga hancur seolah-olah mencari seseorang di sana."
Aku jatuh terduduk di aspal yang basah. Air mata mulai mengalir, bercampur dengan air hujan.
"Dia benar... Pria itu benar-benar menyelamatkan ku."
Aku teringat wajah Satya. Wajah yang lesu namun memiliki mata yang bisa menembus waktu. Siapa dia? Malaikat? Iblis? Atau sesuatu yang lebih dari itu?
Aku merogoh saku ku dan menemukan selembar tisu yang sempat diletakkan Satya di nampan ku saat dia turun dari pesawat. Di sana tertulis sebuah alamat hotel di kawasan kuno Shanghai, dan sebuah kalimat pendek:
"Jika kau ingin hidup lebih lama, datanglah besok pagi. Aku butuh seseorang yang tahu seluk beluk kota ini."
Aku menatap tulisan tangan yang tajam dan tegas itu. Di tengah ketakutan ku, muncul sebuah rasa penasaran yang luar biasa. Pria ini bukan hanya penyelamat ku. Dia adalah kunci dari sesuatu yang jauh lebih besar.
"Satya Samantha..." aku membisikkan nama nya. "Siapa pun kau, kau baru saja membeli kesetiaan ku dengan nyawa ku sendiri."
Malam itu, di tengah kehancuran apartemen ku dan bayang-bayang maut yang baru saja lewat, aku menyadari satu hal: hidup ku tidak akan pernah sama lagi. Aku bukan lagi sekadar pramugari yang melayani penumpang. Aku adalah orang pertama yang menyaksikan kebangkitan seorang pria yang akan mengguncang daratan China.
Dan aku akan memastikan, aku berada di samping nya saat itu terjadi.
...----------------🍁----------------🍁----------------...