Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19: Ultimatum
Tiga hari telah berlalu sejak kunjungan Nyonya Anjani. Tiga hari di mana Aluna dan Arsen hidup dalam keheningan yang menyakitkan bukan perang dingin seperti sebelumnya, tetapi sesuatu yang lebih berat. Keheningan yang dipenuhi pertanyaan yang tidak terjawab dan ketakutan yang tidak terucapkan.
Arsen mencoba segalanya membawa bunga setiap pulang kerja, memasak sarapan untuk Aluna (meskipun hasilnya tidak sempurna), bahkan mengurangi jam kerjanya agar bisa lebih banyak di rumah. Tetapi Aluna... Aluna ada di sana secara fisik, tetapi tidak secara emosional.
Ia masih tersenyum saat Arsen pulang. Masih tidur dalam pelukan Arsen di malam hari. Masih mengenakan gelang dan kalung pemberian Arsen.
Tetapi ada jarak di matanya. Jarak yang membuat Arsen merasa seperti kehilangan Aluna meski wanita itu masih berada tepat di sampingnya.
Malam ketiga, Arsen tidak tahan lagi.
Mereka baru saja selesai makan malam makan malam yang berlangsung dalam diam, hanya terdengar suara sendok dan garpu menyentuh piring. Aluna bangkit untuk membersihkan piring, tetapi Arsen menahan pergelangan tangannya.
"Aluna, kita harus bicara," ucapnya dengan suara yang berusaha tenang tetapi bergetar sedikit.
Aluna berhenti, menatap tangan Arsen yang memegang pergelangan tangannya pegangannya lembut, tidak memaksa.
"Baik," bisiknya. "Kita bicara."
Mereka pindah ke ruang keluarga. Arsen duduk di sofa, sementara Aluna duduk di sofa seberang jarak yang kecil secara fisik tetapi terasa seperti jurang bagi Arsen.
"Aku tahu kamu... berubah sejak Nyonya Anjani datang," ucap Arsen pelan. "Aku tahu kamu memikirkan apa yang dia katakan. Dan aku... aku ingin tahu apa yang ada di pikiranmu. Apa yang membuatmu menjauh dariku."
Aluna terdiam lama, tangannya memegang gelang di pergelangan tangannya gerakan gugup yang mulai menjadi kebiasaan.
"Saya berpikir," ucapnya akhirnya dengan suara pelan, "apakah saya akan berakhir seperti Anjani?"
Arsen tersentak seperti ditampar.
"Aluna, aku tidak akan..."
"Biarkan saya selesai," potong Aluna dengan lembut tetapi tegas. "Tolong."
Arsen menutup mulutnya, mengangguk.
Aluna menarik napas dalam.
"Saya mencintai Anda, Arsen. Sangat mencintai. Saya sudah menyerahkan diri saya pada Anda dengan tulus. Saya bahkan sudah mulai... menikmati cara Anda memiliki saya. Cara possessive Anda. Cara Anda menandai saya."
Ia menatap Arsen dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tetapi kata-kata Nyonya Anjani membuat saya menyadari sesuatu. Anjani juga mencintai Anda. Dia juga menerima sifat possessive Anda. Sampai suatu hari... itu menjadi terlalu banyak. Sampai dia merasa tercekik. Sampai dia ingin pergi."
Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Dan saya takut, Arsen. Saya takut suatu hari saya akan merasakan hal yang sama. Saya takut akan ada titik di mana cinta Anda menjadi terlalu berat untuk saya pikul. Dan saat itu terjadi... apa yang akan terjadi pada saya? Apakah saya akan berakhir seperti Anjani?"
Arsen merasakan dadanya hancur mendengar ketakutan dalam suara Aluna. Ia bangkit dari duduknya dan berlutut di depan Aluna, tangannya meraih tangan Aluna dengan lembut.
"Tidak," bisiknya dengan suara pecah. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku sudah belajar dari kesalahan dengan Anjani. Aku tidak akan..."
"Tetapi bagaimana saya bisa yakin?" potong Aluna dengan suara bergetar. "Bagaimana saya bisa yakin bahwa suatu hari Anda tidak akan kembali menjadi terlalu possessive? Terlalu mengontrol? Terlalu... mencekik?"
Ia menarik tangannya dari genggaman Arsen, berdiri dari sofa.
"Saya butuh kebebasan, Arsen," ucapnya dengan tegas meskipun suaranya gemetar. "Saya butuh tahu bahwa saya bisa bernapas. Bahwa saya bisa hidup bukan hanya sebagai 'milik Arsen Mahendra' tetapi juga sebagai Aluna Pradipta."
Arsen bangkit, menatap Aluna dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan.
"Apa... apa maksudmu?" tanyanya, suaranya hampir berbisik.
Aluna menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kata-kata yang sudah ia pikirkan selama tiga hari ini.
"Saya ingin kembali kuliah. Penuh waktu. Tanpa bodyguard mengikuti saya."
Arsen menggeleng cepat.
"Tidak. Darren masih di luar sana. Dia masih mengancam mu. Aku tidak bisa..."
"Saya ingin bertemu teman-teman saya tanpa harus lapor setiap lima menit," lanjut Aluna, mengabaikan protes Arsen. "Saya ingin bisa pergi ke kafe, ke perpustakaan, ke toko buku tanpa merasa diawasi."
"Aluna, tolong. Ini tentang keamananmu..."
"Saya ingin tidur di kamar saya sendiri," lanjut Aluna, suaranya semakin keras. "Setidaknya sesekali. Saya butuh... ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk mengingat siapa saya sebelum menjadi milik Anda."
Keheningan yang mengerikan turun di antara mereka.
Arsen menatap Aluna dengan tatapan yang hancur campuran ketakutan, penolakan, dan rasa sakit yang mendalam.
"Kamu... kamu ingin meninggalkanku," bisiknya, bukan pertanyaan tetapi pernyataan.
"Tidak," jawab Aluna cepat. "Saya tidak ingin meninggalkan Anda. Saya hanya ingin... keseimbangan. Saya ingin kita bisa mencintai tanpa saya merasa seperti kehilangan diri saya sendiri."
Ia melangkah lebih dekat pada Arsen, tangannya menyentuh pipi pria itu dengan lembut.
"Saya mencintai Anda, Arsen. Tetapi saya juga butuh mencintai diri saya sendiri. Dan saat ini... saya mulai kehilangan diri saya di dalam cinta kita yang gelap ini."
Arsen menutup matanya, air mata mengalir di pipinya dan membasahi tangan Aluna.
"Aku tidak bisa," bisiknya dengan suara pecah. "Aku tidak bisa melepas mu seperti itu. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi tanpa proteksi. Aku tidak bisa..."
"Maka ini ultimatum saya," potong Aluna dengan suara yang bergetar tetapi tegas.
Arsen membuka matanya, menatap Aluna dengan horor.
"Ultimatum?"
Aluna mengangguk, air mata mengalir deras di pipinya.
"Beri saya kebebasan yang saya minta. Belajar untuk melepas. Belajar untuk mempercayai saya bisa menjaga diri saya sendiri. Atau..."
Ia berhenti, suaranya tercekat.
"Atau saya akan pergi," lanjutnya dengan bisikan yang hampir tidak terdengar. "Saya akan pergi dan tidak pernah kembali. Karena saya tidak bisa hidup seperti ini selamanya. Saya tidak bisa menjadi Anjani kedua yang merasa tercekik sampai... sampai terlambat."
Dunia Arsen runtuh.
Ia jatuh berlutut di depan Aluna, kedua tangannya meraih pinggang Aluna, memeluk tubuh Aluna dengan putus asa.
"Jangan," isaknya di perut Aluna. "Jangan tinggalkan aku. Kumohon. Aku akan mati tanpamu. Aku akan..."
"Maka lepaskan saya," bisik Aluna sambil tangannya mengelus rambut Arsen dengan lembut meski air matanya sendiri terus mengalir. "Lepaskan saya cukup untuk membiarkan saya bernapas. Lepaskan saya cukup untuk membiarkan saya tetap menjadi diri saya sendiri."
"Aku tidak bisa," isak Arsen, tubuhnya gemetar di pelukan Aluna. "Setiap kali aku melepas, aku merasa akan kehilanganmu. Setiap kali aku tidak bisa melihatmu, aku merasa kamu akan menghilang. Setiap kali..."
"Maka Anda harus memilih," potong Aluna dengan suara yang sangat lembut tetapi tegas. "Antara memiliki saya sepenuhnya dengan cara yang salah, atau membiarkan saya bernapas dan memiliki saya dengan cara yang benar."
Ia berlutut di hadapan Arsen, mengangkat wajah pria itu agar menatapnya.
"Saya memberi Anda satu minggu," bisiknya sambil kedua tangannya memegang wajah Arsen. "Satu minggu untuk memutuskan. Satu minggu untuk memikirkan apakah Anda bisa memberikan saya kebebasan yang saya minta."
"Dan jika aku tidak bisa?" tanya Arsen dengan suara yang hancur.
Aluna tersenyum sedih senyum yang penuh cinta tetapi juga penuh rasa sakit.
"Maka saya akan pergi," bisiknya. "Karena saya mencintai Anda terlalu banyak untuk membiarkan cinta kita membunuh saya perlahan. Dan saya mencintai diri saya sendiri cukup untuk tidak berakhir seperti Anjani."
Ia mencium kening Arsen dengan lembut ciuman yang terasa seperti perpisahan.
"Satu minggu, Arsen. Pikirkan baik-baik."
Dengan itu, Aluna bangkit dan berjalan menuju tangga menuju kamar tamu di ujung koridor, bukan kamar yang biasa mereka bagi.
Arsen tetap berlutut di lantai ruang keluarga, menatap kepergian Aluna dengan tatapan yang kosong, tubuhnya gemetar, dan hatinya... hancur berkeping-keping.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen Mahendra menghadapi pilihan yang mustahil:
Melepaskan kontrol dan mengambil risiko kehilangan Aluna pada dunia luar atau mempertahankan kontrol dan pasti kehilangan Aluna dari dalam.
Dan ia tidak tahu tidak tahu sama sekali pilihan mana yang bisa ia ambil tanpa menghancurkan dirinya sendiri sepenuhnya.
Malam itu, Arsen tidak tidur.
Ia duduk di tepi tempat tidur kosong tempat tidur yang terasa terlalu besar, terlalu dingin tanpa Aluna menatap pintu dengan harapan Aluna akan kembali.
Tetapi pintu itu tetap tertutup.
Dan untuk pertama kalinya, Arsen merasakan kesendirian yang benar-benar menghancurkan.
Kesendirian yang membuatnya mengerti bahwa memiliki seseorang secara fisik tanpa memiliki hatinya adalah neraka yang lebih menyakitkan daripada kehilangan sepenuhnya.
Tangannya meraih ponselnya, jemarinya mengetik pesan untuk Aluna,
Aku mencintaimu. Terlalu mencintai. Dan mungkin itu masalahnya.
Ia menatap pesan itu lama sebelum menekan kirim.
Di kamar tamu, Aluna merasakan ponselnya bergetar. Ia membaca pesan itu dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir sejak ia meninggalkan Arsen tadi.
Jemarinya melayang di atas keyboard, ingin membalas, ingin berlari kembali ke pelukan Arsen, ingin mengatakan ultimatum itu adalah kesalahan.
Tetapi ia tahu ia tahu jika ia menyerah sekarang, ia akan kehilangan dirinya selamanya.
Jadi dengan hati yang hancur, ia meletakkan ponselnya tanpa membalas.
Dan menangis dalam kegelapan kamar tamu yang dingin.
Dua jiwa yang saling mencintai, terpisah oleh dinding yang tipis tetapi terasa seperti jurang yang tidak bisa diseberangi.
Karena kadang, cinta saja tidak cukup.
Kadang, harus ada kebebasan.
Dan kadang, harus ada keberanian untuk melepaskan sesuatu yang paling sulit dilakukan oleh orang yang paling takut kehilangan.