Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab spesial 4 : Perjamuan di bawah langit
Dua tahun telah berlalu sejak botol kaca berisi janji masa depan itu terkubur di bawah akar beringin. Desa pesisir ini bukan lagi sekadar pelarian atau tempat persembunyian bagi kami; ia telah menjelma menjadi rumah yang bernapas, tempat di mana setiap deburan ombak terasa seperti detak jantung kami sendiri. Pagi ini, studio kami tidak hanya diisi oleh aroma kopi tubruk yang tajam, tapi juga oleh keriuhan kecil yang terasa begitu hidup dan menyenangkan.
"Na, apa menurutmu sambal mangganya terlalu pedas? Aku khawatir ini akan membakar lidah mereka," Biru bertanya dengan nada cemas yang jenaka, sambil mengelap keningnya yang berkeringat di dapur terbuka kami.
Aku melangkah mendekat, mencicipi sedikit saus berwarna jingga itu dari ujung sendok kayu. "Sempurna, Biru. Rasa pedasnya seperti amarahmu dulu saat kita baru sampai di sini—tajam dan meledak-ledak. Tapi bedanya, sekarang ada rasa manis yang tertinggal di akhir."
Biru tertawa, sebuah tawa lepas yang bersih, tanpa beban pretensi yang dulu selalu ia bawa di balik setelan jas mahalnya. Hari ini adalah hari syukuran kecil untuk terbitnya buku kumpulan foto dan narasi warga desa yang kami kerjakan selama setahun terakhir. Di sampul buku itu, tertera nama kami dengan bersahaja, tanpa gelar akademik, tanpa jabatan mentereng yang dulu kami puja. Hanya Biru Laksmana Langit dan Aruna Rembulan Maharani.
Dua nama yang dulu sering menghiasi kolom bisnis dan gaya hidup kelas atas Jakarta, kini bersanding dalam sebuah karya yang dicetak di atas kertas daur ulang bertekstur kasar, ditujukan khusus untuk warga yang menjadi napas dari buku tersebut.
Kami tidak mengundang kritikus seni dari ibu kota yang akan membedah komposisi foto dengan istilah teknis yang memusingkan. Kami tidak mengundang pemilik galeri yang hanya menghitung nilai investasi di balik sebuah frame. Kami mengundang para pemilik wajah di dalam buku itu.
Satu per satu mereka datang saat matahari mulai condong ke barat, mengubah permukaan laut menjadi hamparan sepuhan emas yang berkilauan. Pak Darma datang dengan kemeja batik yang sudah pudar warnanya namun disetrika dengan sangat kaku—sebuah tanda penghormatan yang tulus. Bu Siti membawa sebakul kue cucur hangat yang uapnya bercampur dengan wangi air laut. Halaman rumah kami, yang dulunya sunyi dan tertutup rapat, kini berubah menjadi ruang perjamuan yang organik, penuh dengan suara tawa dan dialek pesisir yang kental.
Kami menggelar tikar di bawah naungan galeri pagar kayu kami. Tidak ada susunan acara yang kaku, tidak ada mikrofon yang berdengung, tidak ada protokol. Biru berdiri di tengah-tengah mereka. Sosoknya yang dulu selalu terbalut kain pesanan penjahit ternama, kini tampak jauh lebih gagah dengan kemeja linen lokal dan sandal jepit yang berlumur pasir pantai.
"Buku ini bukan milik saya atau Na," suara Biru terdengar mantap, membelah desau angin laut yang sejuk. "Buku ini adalah bukti bahwa cerita kalian, tangan-tangan kalian yang kasar karena jaring, dan tawa kalian di pasar, adalah keindahan yang paling jujur di dunia ini. Terima kasih sudah mengizinkan saya, Biru Laksmana Langit, menjadi bagian dari hidup kalian. Bukan sebagai orang asing yang lewat, tapi sebagai tetangga yang ingin menetap."
Saat buku-buku itu dibagikan, sebuah keajaiban yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun terjadi tepat di depan mataku. Aku melihat Pak Darma mengusap foto dirinya dengan jempolnya yang pecah-pecah karena garam laut. Matanya berkaca-kaca melihat potretnya yang sedang tertawa lebar—sebuah sisi dirinya yang mungkin ia lupakan di tengah kerasnya perjuangan menghidupi keluarga.
Di sebelahnya, seorang anak kecil membacakan narasi yang kutuliskan tentang ibunya dengan suara lantang yang bangga, sementara sang ibu hanya bisa menunduk malu namun dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Di Jakarta, keberhasilan sebuah karya diukur dari angka penjualan, royalti, atau seberapa sering nama kita disebut dalam ulasan media nasional. Di sini, keberhasilan itu diukur dari binar mata seorang ibu yang merasa "dilihat" dan dihargai untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Malam harinya, setelah semua warga pulang dan hanya menyisakan tumpukan piring bersih serta sisa aroma bakaran ikan yang harum, kami duduk di teras. Langit begitu bersih malam ini, memamerkan galaksi Bimasakti dengan sombongnya. Nama Biru—Langit—seolah sedang bercermin di atas sana.
"Dulu aku merasa harus mengguncang dunia untuk merasa berarti, Na," bisik Biru sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, membiarkan kelelahan yang manis merayapi tubuhnya. "Aku pikir nama 'Laksmana Langit' itu harus besar, harus menjulang seperti gedung-gedung di Sudirman, harus ditakuti di setiap ruang rapat."
"Dan sekarang?" tanyaku sambil membelai rambutnya yang kini dibiarkan sedikit gondrong dan alami.
"Sekarang, dipanggil 'Pak Biru' oleh anak-anak nelayan saat mereka berlari membawa kamera tua untuk belajar memotret, itu jauh lebih membanggakan daripada dipanggil 'Direktur' oleh orang-orang yang hanya mengincar koneksiku. Aku merasa... akhirnya aku utuh."
Aku menggenggam tangannya erat, merasakan denyut nadinya yang tenang. Kami menyadari bahwa perjamuan ini bukan tentang makanan atau peluncuran buku, tapi tentang bagaimana kami, dua jiwa yang pernah retak dan hancur, akhirnya menemukan cara untuk menyatukan kembali potongan-potongan diri kami melalui hati orang lain.
Nama Aruna Rembulan Maharani tidak lagi merasa harus bersinar di bawah lampu panggung yang dingin dan palsu; ia kini cukup menjadi cahaya fajar yang hangat untuk laki-laki di sampingnya, dan rembulan yang tenang bagi desa yang telah menerimanya dengan tangan terbuka.
Di bawah langit pesisir yang luas, kami bukan lagi legenda yang jatuh. Kami adalah manusia yang baru saja lahir kembali.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...