Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Sedang apa Bu Arcila di rumah saya?" tanya Dafsa, tajam karena kesal sama tingkah polah Arcila.
Arcila nggak jawab pertanyaan itu, malah natap Sri seakan minta pertolongan. Mata bulatnya bikin siapa aja ngerasa iba terus pengen bantu. Dafsa yang ngeliat itu beneran kaget. Soalnya baru kali ini Arcila nunjukin boba eyes-nya di depan orang lain. Biasanya 'kan perempuan itu dingin, teratur. Ngomongnya aja datar, kadang nggak ada intonasinya.
Karena itulah Dafsa jadi sadar, yang lagi dia hadapi bukan perempuan sembarangan. Arcila udah ngatur semuanya sematang mungkin.
"Jangan ketus begitu, Dafsa, bicara baik-baik," tegur Sri.
Aduh, baiklah. Dafsa nggak punya pilihan lain. Dia tarik tangan Arcila ke belakang rumah. Pintu belakang ditutup biar Sri nggak denger apa yang mau mereka omongin.
"Apa yang sedang Bu Arcila lakukan di sini?" Dafsa bertanya lagi, kali ini pake acara berkacak pinggang supaya Arcila gentar.
Akan tetapi, Arcila ya tetep Arcila. Perempuan itu masang senyum lebar. "Saya mau Mas Biro jadi pacar saya lagi."
Dafsa ternganga, padahal harusnya dia udah tahu maksud Arcila sampai segila ini dateng ke rumahnya. "Pacar?!"
"Pacar pura-pura," ralat Arcila supaya nggak ada kesalahpahaman. "Mas Biro nggak lupa 'kan, kalau saya mau sesuatu, maka saya harus dapetin itu? Dan kalau saya bilang Mas Biro harus jadi pacar pura-pura saya lagi, ya artinya Mas Biro harus mau. Toh saya bayar, kan?"
Wah ....
Dafsa geleng-geleng denger ocehan perempuan cantik di depannya. Sekarang Dafsa agak nyesel ngikutin apa maunya Arcila. Habis ini, Dafsa yakin hidupnya bakalan berubah. Dia lagi berhadapan sama perempuan setengah gila. Atau emang level gilanya udah di atas rata-rata.
"Silakan cari laki-laki lain, Bu, saya tidak punya waktu untuk itu!" tegas Dafsa, tapi masih berusaha nahan suara.
"Bukannya Mas Dafsa tau sendiri, nggak ada satu pun laki-laki yang cocok sama saya?"
"Emangnya saya cocok?" tanya Dafsa. Alis kanannya naik, saking emosinya dia sama Arcila.
"Cocok," jawab Arcila datar, berhasil nambah rasa kesel di hati mungil Dafsa. "Kalau nggak cocok, keluarga saya nggak akan suka sama Mas Dafsa."
Dafsa nggak bisa ngomong lagi.
"Kalau ada yang harus disalahkan, ya salahkan diri Mas Dafsa sendiri. Siapa suruh bikin keluarga saya suka?"
Hah?!
Dafsa melotot sambil ternganga lagi. "Apa Ibu amnesia, ya, yang mengharuskan saya bersikap sempurna di depan keluarga Astoria, adalah Ibu sendiri!"
"Saya nggak bilang harus sempurna. Saya cuma bilang Mas Dafsa harus jadi diri sendiri," timpal Arcila, pantang namanya untuk mengalah.
Sebutlah Arcila gila, tapi dia bakalan lakuin apa aja supaya Dafsa mau jadi pacar pura-puranya lagi, terus ketemu sama keluarganya di rumah Suseno. Harapan Arcila supaya karirnya berjalan mulus di keluarga Astoria ada di tangan Dafsa.
Sementara Dafsa bingung setengah mati. Sumpah demi Tuhan, Dafsa nggak pernah cari muka di depan keluarga Arcila waktu acara makan malam. Dia beneran jadi dirinya sendiri, jawab semua pertanyaan secara jujur, kecuali soal hubungannya sama Arcila. Dan sekarang, Arcila bilang semua kesalahan ada sama dia, gara-gara seluruh keluarga Astoria suka sama dia!
Waduh, otak perempuan di depan Dafsa kayaknya udah rusak.
"Satu hal yang harus Bu Arcila tahu, waktu itu saya beneran jadi diri saya sendiri. Saya nggak pura-pura!" Dafsa menegaskan lagi. Siapa tahu Arcila sadar kalau dia udah keterlaluan. Datang ke rumah Dafsa dan bilang sama Sri mereka ada hubungan, adalah satu hal yang nggak pernah Dafsa sangka bakalan kejadian.
"Oh, jadi itu beneran sifat Mas Dafsa yang sesungguhnya?"
Dafsa ngangguk. "Urusan kita sudah selesai sesuai kesepakatan. Saya jadi yang terbaik di depan keluarga Ibu, dan Ibu ngasih bayaran sesuai yang dijanjikan. Dan sekarang, ada baiknya Ibu pulang sebelum saya beneran marah!"
Arcila diem, lagi ngamatin Dafsa dari jarak mereka yang cuma kepisah satu meter. Dia jadi penasaran, bentuk marahnya si Mas Biro ini kayak apa, sih? Haruskah Arcila coba?
"Ibu denger saya?"
"Saya nggak tuli," kata Arcila memutar bola mata. Dia berbalik, ninggalin halaman belakang.
Dafsa pikir semuanya udah selesai. Tapi sayangnya nggak semudah itu bikin Arcila mundur dari rencana gilanya. Arcila duduk lagi di sebelah Sri.
"Mas Dafsa tetep mutusin aku, Bu," adunya di luar ekspektasi Dafsa.
Sekarang bukan cuma Dafsa yang makin kesel, tapi ada juga Diva yang ikut nutup mulut. Yang lagi ngomong lembut pake nada manja dengan mata berlinang itu ... sungguh Arcila?
Mereka bertanya-tanya, apa semasa sekolahnya dulu, Arcila sempat mengikuti ekstrakulikuler jadi pemain teater? Kalau iya, aktingnya beneran jago!
"Aku udah bilang baik-baik sama Mas Dafsa, kalau keluargaku nggak masalah sama kerjaan sampingan Mas Dafsa yang punya biro jodoh. Tapi Mas Dafsa tetep nggak mau denger, Bu," keluh Arcila yang senyatanya adalah keluhan palsu.
"Duduk, Daf," titah Sri usai membuang napas. Tangan kanannya mengusap pelan lengan Arcila, meminta perempuan itu nggak nangis lagi, karena dia bakalan turun tangan.
"Bu—"
"Jangan bantah Ibu!" potong Sri melotot galak.
Muka Dafsa langsung pias, persis kayak orang lagi kurang darah. Dafsa nggak bisa bantah. Dia duduk di depan Sri dan Arcila.
"Ibu udah tau, kalau kamu mutusin pacar kamu ini setelah acara makan malam di rumahnya kemarin! Arcila udah cerita semuanya sama Ibu!" Sri jadi berapi-api. Sebenernya dia nggak gampang marah, bahkan bisa dibilang hampir nggak pernah marah, baik itu sama Dafsa maupun sama Diva. Tapi berhubung urusannya genting begini, taring Sri terpaksa harus keluar.
Kepala Dafsa keliyengan. Sumpah deh, kalau dia nggak ada di posisi harus bela diri, dia udah pingsan dari tadi!
"Semua yang dibilang perempuan di sebelah Ibu, nggak lebih dari kebohongan, Bu! Aku sama dia nggak pernah ada ikatan apa-apa!" Dafsa makin emosional.
Arcila yang ngeliat itu cuma masang senyum tipis. Dia suka bikin Dafsa marah-marah begini. Soalnya, Dafsa jadi keliatan ... sedikit beda.
Oke, biar Arcila perjelas. Permainan makin menarik karena Dafsa yang biasanya sabar ngadepin apa maunya, sekarang jadi misuh-misuh sendiri.
"Aku nggak paham, kenapa Mas Dafsa bisa sejahat ini," ratap Arcila menutup wajah. Air mata emang turun, tapi bibirnya juga tetep senyum. "Padahal keluargaku nggak pernah nuntut apa-apa."
"Cukup, Bu Arcila!" bentak Dafsa pada akhirnya. "Seperti apa yang saya bilang tadi, urusan kita sudah selesai!"
"Ya Allah, Daf, jangan teriak-teriak begitu sama perempuan!" Sri kembali menegur.
"Wajar aku teriak-teriak begini, Bu, karena semua yang diomongin sama Bu Arcila nggak bener! Kita nggak pernah pacaran! Oke, biar aku jelaskan supaya Ibu nggak bingung." Dafsa hampir tarik urat kalau nggak sadar masih ngomong sama ibunya sendiri. Dia ngatur napas, berusaha tenang, terus dia ceritain semuanya, soal siapa Arcila dan kenapa dia bisa makan malam di rumah perempuan itu.
"Arcila bukan orang sembarangan, Bu. Dia sanggup bayar 200 juta dengan syarat aku harus jadi pacar pura-puranya!" ucap Dafsa di ujung cerita.
Barulah Sri ternganga, hampir aja percaya kalau aja Arcila nggak nangis lagi. Tangisnya lebih pilu, lebih menyayat hati, seolah omongan Dafsa udah keterlaluan.
"Udah, Nak, maafin Dafsa," kata Sri merasa bersalah.
"Sakit hatiku, Bu." Arcila bicara patah-patah. Dengan matanya yang merah terus berair itu, siapa pun nggak bakalan nyangka kalau dia cuma lagi akting. "Aku nggak pernah nuntut apa-apa sama Mas Dafsa. Bahkan aku nurutin maunya Mas Dafsa, yang selalu bilang aku nggak boleh ketemu Ibu dan bahas soal pernikahan. Tapi ... kenapa balasan ini yang harus aku terima?"
"Tolong jangan percaya dia, Bu," pinta Dafsa hampir gila. Dia udah tahu bakalan kalah, kalau nggak ada pihak yang turun tangan buat bantuin dia.
Dafsa noleh ke kiri, ke arah Diva yang dari tadi cuma diem aja nyimak semuanya. "Ibu bisa tanya sama Diva, hubungan apa yang sebenarnya terjalin antara aku sama Arcila. Kami murni cuma partner bisnis, nggak lebih dari itu. Iya 'kan, Div?"
Diva malah bengong. Matanya mengerjap sebentar, mengalihkan pandangan dari Arcila yang masih nangis-nangis, beneran persis kayak cewek yang lagi merjuangin cintanya supaya nggak diputusin gitu aja.
Aduh, Diva jadi baper sendiri.
"Diva?" panggil Dafsa, natap adiknya supaya mau cerita sejujurnya sama Sri. Cuma Diva harapan yang dipunya Dafsa.
"Oh, anu ... iya, Bu. Mas Dafsa sama Mbak Arcila emang pacaran," kata Diva, yang bikin Dafsa beneran pengen kejang-kejang di lantai!