"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan terbesar
"Pelan-pelan mas dokter! Sakit tahu!" Ara meringis kesakitan kala sesuatu yang keras terasa memenuhi miliknya yang masih sempit.
"Aku tidak bisa pelan. Milikmu terlalu nikmat..." ucap Dokter Jacob diakhiri erangan panjang. Rintihan Ara sama sekali tak didengarkan oleh pria 35 tahunan itu. Jacob malah semakin bersemangat untuk memompa tubuh Ara lebih cepat lagi.
Ara hanya bisa pasrah, jemari lentiknya menelusup diantara rambut Dokter tampan itu, bahkan sesekali menjambaknya. Namun Dokter Jacob sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Tingkah Ara malah membuatnya semakin menggemaskan.
2 jam kemudian, tubuh polos Dokter Jacob dan wanita bernama lengkap Mutiara itu mulai terkulai lemas di ujung sofa. Tubuh keduanya sama-sama sudah dibasahi oleh keringat. Janji hanya satu kali yang Jacob ucapkan pada dirinya sendiri, nyatanya hanya bualan semata.
Tubuh Ara terasa remuk redam setelah melayani pria dewasa itu sampai 3 ronde. Apa lagi ini yang pertama kalinya untuk Ara. Tapi Ara tidak menyesal, karena diam-diam Ara sudah menyimpan rasa terhadap Dokter Jacob sejak pertama kali mereka bertemu beberapa bulan yang lalu.
***
Keringat masih membasahi tubuh Ara, meskipun AC di ruang kerja dokter Jacob berfungsi dengan baik. Rasanya seperti mimpi, gadis biasa seperti dirinya bisa bercinta dengan salah satu pewaris rumah sakit terbesar di negara ini.
"Ambil cek ini, kau bisa mengisinya dengan nominal yang kau inginkan."
Ucapan dokter Jacob membuat bunga-bunga yang bermekaran dalam hati Ara, layu dalam sekejap.
Mata Ara menatap lembaran kertas putih yang tergeletak di atas meja, sebuah cek kosong yang baru saja dilempar oleh Dokter Jacob pada dirinya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku tahu wanita sepertimu datang menawarkan diri hanya demi uang bukan?" Ucap dokter Jacob dengan nada kasar, dingin. Seakan tidak ada sisa rasa apapun yang menyisakan bayangan dari apa yang baru saja terjadi pada mereka beberapa saat yang lalu.
Di ruang dokter Jacob yang besar dan nyaman layaknya hotel bintang 5 itu, mereka baru saja menyatu. Melebur bersama dalam indahnya surga dunia. Ara yang datang untuk menawarkan diri, dan Dokter Jacob yang menerima dirinya tanpa ragu.
Tapi sekarang, Dokter Jacob tampak seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenalnya. Hati Ara berdenyut nyeri.
"Aku ingin kau melupakan semuanya! Tutup mulutmu. Jangan pernah ceritakan pada siapapun tentang apa yang telah terjadi di antara kita. Terutama pada Yasmin, istriku." Lanjut dokter tampan itu, matanya memancarkan ancaman yang membuat tubuh Ara gemetar.
Sebenanya Ara juga mengenal dokter Yasmin. Istri dari dokter Jacob yang cantik dan lembut. Ara pernah melihat mereka bersama, saling tersenyum satu sama lain, saling menatap dengan penuh cinta. Tapi Ara tidak peduli, karena rasa cintanya pada Dokter Jacob lebih besar dari rasa takutnya akan dosa.
"Jika kau berani membantah, aku akan membuat hidupmu menderita! Percayalah, aku bisa melakukannya!" Ancam dokter Jacob.
"Baik, Dokter. Anda tenang saja, semua yang terjadi hari ini, aku akan melupakannya begitu keluar dari ruangan anda." Ara hanya bisa mengangguk pasrah. Badannya terasa lemas, seakan semua kekuatan telah keluar dari tubuhnya.
Ara tahu, Ia tidak punya keberanian untuk melawan Dokter Jacob. Pria yang dihormati semua orang, pria yang punya kekuasaan, jabatan dan juga uang. Lebih lagi, Ara yang pertama kali menawarkan diri pada pria itu. Wajar jika Dokter Jacob menganggap dirinya wanita murahan yang tidak layak untuk dicintai.
"Saya permisi dokter, terima kasih atas semuanya." lirih Ara. Wanita itu meraih cek di hadapannya dengan jari-jari yang gemetar. Di balik cek itu, Ara bisa melihat bayangan Dokter Jacob yang berdiri tegak, wajahnya tetap dingin tanpa emosi. Semua yang terjadi di antara mereka beberapa saat yang lalu, tidak berarti apa-apa bagi pria itu.
Ara membungkuk memberi hormat, menyembunyikan wajah yang mulai basah oleh air mata. Cek kosong itu terlipat rapat di tangannya, menjadi bukti dari kesalahan terbesar yang pernah Ara lakukan dalam hidupnya.
Bersambung.