Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 Retakan Kedua
Pagi berikutnya tidak membawa ketenangan. Lobi kantor sudah dipenuhi suara bisik sebelum Aruna turun dari mobil. Kamera berdiri seperti deretan mata yang tak pernah berkedip. Mikrofon terangkat. Nama perusahaan mereka disebut berulang-ulang, dipotong judul sensasional.
“Bu Aruna! Apakah benar ada direksi lain yang terlibat?”
“Apakah ini akan memengaruhi saham?”
“Apakah Anda akan mengambil alih penuh?”
Aruna berhenti satu detik sebelum melangkah. Angin pagi menyentuh wajahnya, dingin dan tajam. Ia tidak tersenyum lebar. Tidak juga menghindar.
“Perusahaan sedang dalam proses audit menyeluruh,” katanya tenang. “Kami akan transparan. Selebihnya, tunggu pernyataan resmi.”
Tidak lebih. Tidak kurang.
Ia masuk tanpa menoleh lagi. Pintu kaca tertutup, meredam riuh di luar. Tapi gaungnya masih terasa di dada.
Di dalam lift, hanya ada dia dan Calvin. Pantulan mereka terlihat di dinding baja mengkilap. Calvin berdiri tegak, tangan di saku, wajahnya lebih keras dari biasanya.
“Kita harus percepat pengumuman restrukturisasi,” katanya.
Aruna mengangguk kecil. “Dan tim internal?”
“Ada yang mulai gelisah.”
Aruna tersenyum tipis. “Bagus. Yang gelisah biasanya punya sesuatu yang disembunyikan.”
Lift berdenting. Pintu terbuka. Begitu mereka melangkah ke lantai utama, atmosfernya berbeda. Bukan lagi panik lebih seperti waspada. Beberapa staf langsung berdiri. Beberapa lainnya pura-pura sibuk, tapi mata mereka mengikuti setiap langkah Aruna.
Ia berjalan tanpa ragu ke ruang rapat kecil.
Di dalam, tiga kepala divisi sudah menunggu.
Tidak ada basa-basi.
“Saya tidak akan berputar-putar,” kata Aruna. “Audit belum selesai. Tapi sistem akses menunjukkan pola yang lebih luas. Jika ada yang ingin berbicara sebelum tim forensik menemukan sendiri, ini kesempatan terakhir.”
Sunyi.
Satu dari mereka Rizal menelan ludah. Keringat tipis di pelipisnya terlihat jelas di bawah lampu putih.
“Kami tidak terlibat,” katanya cepat.
Aruna tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Diamnya lebih berat dari interogasi.
Calvin membuka map tipis. “Server cadangan menunjukkan login dari perangkat pribadi Anda di luar jam kerja. Tiga kali.”
Wajah Rizal memucat.
“Itu hanya… pengecekan laporan.”
“Yang kebetulan bertepatan dengan transfer dana?” Aruna menyela pelan.
Rizal terdiam.
Retakan kedua.
Aruna bersandar ringan ke kursi. “Saya tidak tertarik menghancurkan karier siapa pun. Tapi saya juga tidak akan melindungi yang bersalah.”
Udara terasa semakin padat.
“Audit akan berbicara. Bukan saya.”
Ia berdiri. Pertemuan selesai tanpa keputusan dramatis. Tapi semua orang tahu lingkaran mulai mengecil.
...****************...
Siang hari, saham perusahaan sempat turun sebelum akhirnya stabil. Grafik di layar ruang monitoring bergerak naik turun seperti denyut jantung yang tidak tenang.
Calvin berdiri di belakang Aruna.
“Kamu tahu ini akan jadi perang reputasi juga,” katanya.
Aruna menatap layar tanpa berkedip. “Biarkan mereka menyerang.”
Calvin mengangkat alis tipis.
“Kita tidak akan defensif,” lanjut Aruna. “Kita akan transparan.”
“Transparansi menyakitkan.”
“Lebih baik sakit sekarang daripada busuk pelan-pelan.”
Calvin menatapnya. Ada sesuatu dalam cara Aruna berbicara hari ini lebih tegas. Lebih dingin. Seolah semalam ia memutuskan untuk berhenti takut kehilangan apa pun.
Ponsel Calvin bergetar. Ia membaca pesan itu, lalu mendongak.
“Hendra minta bertemu.”
Aruna tidak langsung bereaksi.
“Di mana?”
“Melalui kuasa hukumnya. Katanya ada informasi yang ingin dia ‘tukar’.”
Tukar.
Kata itu terasa kotor.
“Dia tidak dalam posisi menawar,” ujar Aruna datar.
Calvin mendekat sedikit. “Tapi kalau dia benar kalau ada nama yang lebih besar…”
Aruna menatap jendela. Langit siang cerah, kontras dengan badai internal yang mereka hadapi.
“Setelah jam kerja,” katanya akhirnya. “Tempat netral.”
Malam datang lebih cepat dari biasanya. Kafe di sudut kota itu redup dan tenang. Lampu kuning menggantung rendah, memantulkan bayangan panjang di meja kayu. Hujan tipis turun lagi, mengetuk kaca dengan ritme pelan.
Aruna duduk lebih dulu. Tangannya terlipat di atas meja. Tidak gelisah. Tidak juga santai.
Pintu terbuka.
Hendra masuk dengan jas gelap dan wajah yang lebih tua sepuluh tahun dari kemarin. Ia duduk tanpa senyum.
“Kamu bergerak cepat,” katanya.
“Waktu saya tidak murah,” jawab Aruna.
Hendra terkekeh pelan. “Masih dingin.”
“Kamu tidak datang untuk nostalgia.”
Sunyi sejenak.
Hendra mencondongkan tubuh. “Kamu pikir saya aktor utama?”
Aruna tidak berkedip.
“Saya hanya bagian dari sistem,” lanjutnya. “Sistem yang sudah ada jauh sebelum kamu duduk di kursi itu.”
“Nama,” kata Aruna singkat.
Hendra tersenyum tipis. “Kamu terlalu percaya diri.”
“Dan kamu terlalu takut.”
Kalimat itu membuat rahang Hendra menegang.
“Kamu tidak tahu siapa yang kamu hadapi,” katanya lebih pelan.
“Kalau saya takut, saya tidak akan membuka data kemarin.”
Hendra mengamati wajah Aruna. Mencari celah. Tidak menemukannya.
“Ada satu nama,” katanya akhirnya. “Tapi kalau saya sebut, kamu tidak akan bisa mundur lagi.”
Aruna tersenyum tipis. “Saya tidak pernah berniat untuk mundur.”
Hendra menyebutkan nama itu.
Bukan direksi.
Bukan kepala divisi.
Nama itu lebih tinggi.
Lebih dalam.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, jantung Aruna berdetak sedikit lebih keras. Ia tidak menunjukkan apa pun.
“Buktinya?” tanyanya.
Hendra mengeluarkan flashdisk kecil dari sakunya. Meletakkannya di meja. Suara benda itu menyentuh kayu terdengar lebih keras dari seharusnya.
“Semua komunikasi. Persetujuan. Dan jalur dana.”
Aruna tidak langsung mengambilnya.
“Apa yang kamu mau?”
“Perlindungan.”
Ia tertawa pelan. “Kamu meminta perlindungan pada orang yang kamu coba jatuhkan dua tahun terakhir?”
Hendra tidak membalas senyum itu.
“Saya ingin keadilan yang seimbang.”
“Tidak ada yang seimbang dalam pengkhianatan,” kata Aruna.
Hujan di luar semakin deras. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Aruna mengambil flashdisk itu. Dingin. Ringan. Tapi terasa seperti beban besar di telapak tangannya.
“Kamu akan tetap menjalani proses hukum,” katanya tenang. “Kalau data ini benar, itu hanya memperluas penyelidikan. Bukan menghapus kesalahanmu.”
Hendra mengangguk pelan. Seolah ia sudah menduga. “Kamu berubah,” katanya sebelum berdiri.
“Tidak,” jawab Aruna. “Saya hanya berhenti diam.”
Hendra pergi tanpa menoleh.
...****************...
Di luar kafe, Calvin menunggu di mobil.
“Bagaimana?” tanyanya begitu Aruna masuk.
Aruna menyerahkan flashdisk itu tanpa kata.
Calvin melihatnya, lalu menatap Aruna. “Seberapa dalam?”
“Lebih dari yang kita kira.”
Hening menyelimuti mobil beberapa detik.
“Kita bisa berhenti di sini,” kata Calvin pelan. “Kita sudah membersihkan sebagian.”
Aruna menoleh. Mata mereka bertemu dalam cahaya lampu jalan yang redup. “Kalau kita berhenti,” katanya pelan, “kita jadi bagian dari sistem itu.”
Calvin menghela napas panjang. Bukan lelah. Lebih seperti menerima takdir. “Baik,” katanya akhirnya. “Kita buka semuanya.”
Aruna menatap jalan di depan. Hujan membelah kaca depan menjadi garis-garis tipis. Perang belum selesai.
Dan sekarang, musuhnya bukan lagi satu nama.
Melainkan fondasi yang selama ini dianggap kokoh.
Mobil melaju pelan meninggalkan kafe. Di belakang mereka, kota tetap menyala seperti biasa. Seolah tidak tahu bahwa besok pagi, satu nama besar lagi mungkin akan jatuh.
Dan kali ini, dampaknya tidak hanya mengguncang perusahaan. Tapi seluruh struktur kekuasaan di atasnya.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/